Seventh Blood Vampire

Seventh Blood Vampire
Lapar Yang Lain


__ADS_3

Ariana sontak menjatuhkan palu yang masih dipegangnya. Tangan kirinya berdenyut sakit. Tapi jeritannya tertahan oleh suara serak Evander. Rasa takut mendera, dan tentu saja sangat terkejut karena Evander terbangun. Ariana langsung lemas kehilangan tenaga.


"Ev-Evan?" desis Ariana tak percaya.


Evander membuka matanya yang berwarna merah seperti darah, lalu menatap Ariana beku. Kedua gigi taringnya nyata terlihat ketika Evander menyeringai dingin dan kejam. Persis seperti iblis yang baru bangkit dari neraka.


Satu tangan Evander mencengkram erat tangan Ariana yang sebelumnya memegang belati perak. "Apa yang kau lakukan, Ana?"


"A-ku …?" Suara Ariana tersekat di tenggorokan.


Evander menarik tangan Ariana agar menyentuh dadanya, tepat di atas jantung. "Di sini letak jantungku, Ana! Kau meleset … dan itu sangat fatal."


"Maafkan aku Evan, tapi kau ingkar janji. Aku harus membunuhmu untuk menepati janji, bukankah aku sudah mengatakan demikian? Jika kau masih menghisap darah tetanggaku, aku tak akan segan melenyapkanmu!"


Evander mengerjap hingga matanya berubah berwarna hazel, ia juga tersenyum tipis. "Aku sudah melihat usahamu, kau jelas gagal di percobaan pertama! Kau tidak begitu cocok menjadi pemburu vampir, tanganmu terlalu halus! Hatimu juga terlalu lembut."


Ariana berdecak marah karena Evander mengejeknya, "Aku tidak akan berhenti berusaha, jadi berhati-hatilah! Aku masih tidak terima kau mengunjungi pasienku di rumah sakit."


"Oh gadis itu?" tanya Evander pura-pura lupa.


"Memangnya siapa lagi? Tidak ada kasus orang kehilangan darah dalam tubuhnya secara misterius selama tiga puluh tahun terakhir, kau satu-satunya tersangka yang paling mungkin bisa membuka kembali luka yang seharusnya sudah mulai sembuh."


"Aku pergi ke rumah sakit karena ingin tau tempat kerjamu, Ana! Kau tau, di rumah sangat membosankan! Awalnya aku ingin minta makan padamu karena lapar, tapi aku menunggu selama dua jam di depan kamar gadis itu dan kau tidak muncul! Ya, pada akhirnya aku memang mencuri darimu."


Ariana mengingat malam dimana ia harus melakukan operasi bedah selama tiga jam di rumah sakit dengan wajah semakin geram. "Aku sedang bekerja menyelamatkan nyawa lain, Evan! Seharusnya kau menahan laparmu setidaknya satu jam lagi!"


"Kau mengatakan aku harus menunggu dua jam di hari sebelumnya, Ana! Aku sudah memundurkan jadwal makan dan menunda laparku, kau benar aku tidak mati karena terlambat makan malam, tapi aku hampir mati karena tersiksa!"


"Kau memang bayi besar merepotkan! Lepaskan tanganku, aku membawa tujuh kantong darah untukmu, aku harap kau tidak menghisap darahku karena dendam melihatku berusaha membunuhmu!"


"Aku bisa menunda makan malam hingga dua jam lagi, aku ingin melakukan sesuatu terlebih dulu!" Evander melepaskan tangan Ariana dan keluar dari lemari. "Tapi aku mencium bau bawang!"

__ADS_1


"Kenapa kau tidak pingsan? Bukankah vampir tidak menyukai bawang?"


"Aku hanya tidak menyukai baunya, tapi hal itu tidak bisa membunuhku! Orang tidak akan mati hanya karena bau busuk bangkai tikus di rumahnya! Begitulah perumpamaannya." Evander tiba-tiba memanggul Ariana seperti karung beras dan melompati bunga bawang yang bergeletakan di depan pintu.


Ariana memekik kaget, "Brengsek! Apa yang kau lakukan!"


"Kau belum mandi, Ana!"


"Tidak ada hubungannya denganmu!"


"Ada! Aku sudah mengatakan kalau aku akan menggigitmu jika kau meleset saat menikam jantungku! Aku ingin kau wangi agar aku lebih bergairah, jadi aku berniat memandikanmu lebih dulu!"


Ariana memukul punggung Evander sekuat mungkin, menyumpah dan mengutuk kasar. "Turunkan aku, Bodoh! Aku bisa mandi sendiri."


"Aku juga ingin mandi, Ana! Kita akan mandi bersama," ujar Evander datar.


"Evan, tolong turunkan aku! Aku tidak bersedia mandi bersama, kau bisa memakai kamar mandi lebih dulu, aku tidak keberatan jika kau meminjam bathtub untuk berendam lagi," pekik Ariana setengah histeris.


Ariana memejamkan mata sekilas, bayangan kemarin ketika Evander sedang berendam layaknya pria dalam iklan sabun sungguh membuat Ariana meremang. Terkutuklah otaknya yang juga membayangkan berada di tempat yang sama dengan Evander, menjadi busa sabun yang akan membersihkan seluruh tubuh Sang Count.


"Ada masalah? Apa yang sakit? Aku ambilkan minum!" Evander langsung pergi dengan kecepatan maksimalnya untuk meraih botol minum.


Ariana tertegun, "Kau cepat sekali, Evan!"


"Minumlah!" Evander membuka tutup botol dan mendekatkan ke mulut Ariana. "Aku belum menggigitmu, Ana! Jangan mati dulu!"


Spontan Ariana mendelik, meletakkan botol di atas meja makan lalu bersiap pergi ke kamarnya. Tapi Evander lebih gesit, ia menarik Ariana masuk ke dalam kamar mandi, mengunci pintunya dan menyimpan kunci tersebut di kantong baju.


Evander menyiapkan air hangat dan menuang bubble bath, juga minyak mandi beraroma lembut. Menabur sedikit garam mineral lalu menyalakan lilin aromaterapi. Setelah semua selesai, Evander membuka seluruh pakaiannya.


"Ev-Evan?" tanya Ariana tergagap. Wajahnya yang bersemburat merah melengos ke arah lain.

__ADS_1


"Kau mau aku membantu melepas pakaian doktermu? Sebenarnya kau sangat cantik dengan setelan itu, tapi aku sangat yakin kau lebih cantik saat tidak mengenakan apa-apa." Evander terkekeh-kekeh melihat Ariana yang bertingkah seperti perawan suci.


Ya, Ariana memang perawan suci yang membuat Evander merasa lapar ketika mereka berdekatan. Lapar dalam arti lain. Namun, Evander ingin memakan Ariana dalam suasana romantis.


Ariana melempar Evander dengan handuk mandi, "Tutupi tubuhmu, Evan!"


Evander menangkap handuk yang dilempar Ariana dan memakainya di bawah pinggul. Ia mendekat dan memaksa Ariana menanggalkan pakaian dengan bantuan kedua tangan besarnya. "Kau sangat tegang, Ana! Kau butuh mandi untuk merilekskan tubuh dan pikiran. Aku akan memijatmu sebagai bayaran atas tujuh kantong darah yang kau bawa hari ini."


Ariana menepis tangan Evander yang akan menurunkan tali bra-nya. "Tidak! Aku tidak mau dipijat!"


"Tentu saja kau mau, kau tidak punya tenaga untuk menolak kebaikanku," Evander mengangkat tubuh setengah telanjang Ariana dan memasukkannya ke dalam bathtub. Perawan sucinya masih memakai penutup dada, senada dengan segitiga merah seksi yang dipertahankan Ariana sekuat tenaga keberadaannya.


Suka atau tidak, Ariana sudah berada di dalam bak yang sama dengan Evander. Telapak kakinya sedang menikmati pijatan lembut dari tangan Evander, dan sampai tiga puluh menit kemudian, mereka ternyata hanya mandi.


"Tanganmu masih sakit?" tanya Evander.


"Tidak, ternyata aku tidak memukul belatinya dengan keras!"


Ariana mengeringkan tubuhnya dengan handuk lalu melesat ke kamar lebih dulu ketika Evander membuka pintu kamar mandi. Ia memakai piyama tidur dan membuang semua bunga bawang ke tong besar di belakang rumah agar Evander tak terganggu dengan baunya. Jujur, Ariana sendiri tidak menyukai baunya.


Hasratnya untuk membunuh Evander akan dipikirkan ulang, mungkin harus dengan cara yang lain. Huh, kenapa juga ia masih percaya dengan janji Evander yang tidak akan pernah mengusik tetangganya lagi saat mandi tadi?


"Kau sudah lapar?" tanya Ariana datar. Evander memakai celana olahraga dan kaos yang lebih kecil dari ukuran tubuhnya. Sungguh pemandangan yang membuat Ariana sakit kepala karena tubuh pria itu tercetak sempurna.


Evander jelas butuh pakaian yang lebih layak jika akan tinggal di pondoknya lebih lama. Ariana menghitung jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk belanja keperluan Sang Count.


Evander mendekati Ariana dan langsung memeluk, lalu berbicara sensual di telinga Ariana. "Ya aku lapar sekali, Ana! Terima kasih sudah mengingatkan. Hm, aku sudah mengatakan akan menggigit jika kau gagal membunuhku, bukan?"


"Apa maksudmu? Kau akan menghisap darahku? Aku sudah menyediakan banyak darah di lemari pendingin, Evan!" tanya Ariana sedikit takut. Cara Evander menatapnya sungguh berbeda dari sebelumnya.


Evander menyudutkan Ariana di dinding, menghimpit rapat, lalu menunduk dan mulai mengecupi bibir Ariana dengan hangat sekaligus erotis.

__ADS_1


"Apa aku sudah mengatakan kalau kau sangat seksi, Ana?"


***


__ADS_2