Seventh Blood Vampire

Seventh Blood Vampire
Harga Diri dan Kehormatan


__ADS_3

“Dengarkan penjelasanku, Ana!” pinta Evander lirih. Tangannya yang hendak menyentuh bahu Ariana ditepis dengan kasar.


“Kau bodoh dan sangat tega padaku, Evan! Apa lagi yang akan kau jelaskan? Bagaimana mungkin kau bisa dengan mudah melakukan hal itu padaku?” Ariana berbicara dengan suara gemetar, dadanya sesak mengingat penderitaan yang dilalui selama empat minggu sendirian.


“Ana … aku bisa menjelaskan semua!”


Ariana menggeleng keras kepala, ia belum puas meluapkan marahnya. “Aku tidak mengira kau bisa sekejam ini! Kupikir kau mencintaiku, tidak ingin berpisah denganku, tapi kau justru membiarkan aku mati, sendiri menangisi kepergianmu. Ini hal terburuk yang dilakukan pria padaku, kau bahkan lebih sialan daripada Jonathan!”


Evander tidak heran jika Ariana akan sangat marah, tapi ia tidak sudi dibandingkan dengan mantan Ariana yang bajingan itu. Ia memiliki alasan kenapa tidak kembali pada istrinya terlebih dulu.


“Aku punya alasan pergi ke London, Ana! Semua berhubungan dengan misiku. Cobalah untuk mendengarkan aku sebentar saja!” ujar Evander mulai serius.


“Tidak! Aku tidak sudi mendengar kebohongan dari mulutmu. Misimu ada di tahun 1023. Tidak ada hubungannya dengan zaman ini. Kau sengaja mempermainkan perasaanku! Turun dari mobilku, aku ingin sendiri! Pergilah sesuka hatimu, Evan!” usir Ariana dengan suara parau.


“Kemana aku harus pergi, My Love?” tanya Evander panik.


“Aku tidak peduli kau akan pergi kemana, kau bisa pergi ke Eropa lagi atau mungkin ke Kutub Utara! Aku tidak peduli … kau dengar?”


Evander menatap Ariana lembut, berbicara dengan ekspresi dingin dan menekan. “Ana, kau tidak bersungguh-sungguh mengusirku, kan? Aku akan pergi jika memang sudah tidak diinginkan sebagai suami. Berhati-hatilah dengan kalimat kasarmu, kadang beberapa hal yang sudah diucapkan tidak bisa ditarik lagi dengan mudah! Kau tidak lagi peduli padaku, benar begitu?”


“Aku peduli, Evan! Aku sangat peduli padamu, tapi ada beberapa hal yang lebih penting dalam hidup selain rasa peduli.”


“Lebih penting daripada cinta?” tanya Evander serius.


Ariana menjawab dengan suara yang masih meledak-ledak, “Ya, ada yang lebih penting daripada cinta, yaitu rasa percaya dan komitmen. Kau menghilangkan kedua hal terpenting dalam hubungan pernikahan kita!”


“Aku tidak tau kau bisa memahami alasanku dengan baik atau tidak, tapi jika kau memberi kesempatan … aku akan bercerita semuanya dari sejak kapalku disambar petir pada malam bulan iblis di tengah laut satu bulan lalu.”

__ADS_1


Evander memejamkan mata, berpikir jernih tanpa emosi. Kepercayaan dalam pernikahan datang dari dua arah, jika Ariana sekarang tidak memiliki kepercayaan padanya, Evander bisa apa?


Ia juga lelah mencari cara untuk bisa menyelesaikan misi agar bisa kembali pada Ariana. Evander sudah memberikan keseluruhan dirinya selama pernikahan singkat sebelum malam bulan iblis agar Ariana bahagia. Bahkan, ada kejutan manis untuk istrinya di kota yang akan menjadi tempat tinggal mereka.


Tapi apakah Ariana mau mendengarnya, sedikit menghargainya? Tidak! Ariana mengedepankan emosi untuk menyalahkannya.


“Aku ingin memikirkan ini sendiri,” jawab Ariana dengan air mata yang mulai bercucuran. Ia sungguh tidak bisa mempercayai pria yang sudah begitu kejam dan bersikap buruk padanya. Kehamilan membuat emosinya sulit distabilkan.


Well, Evander tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Ia tidak akan merendahkan harga dirinya pada wanita yang sedang marah karena salah paham. Ia pria bermartabat, istrinya tidak boleh menghina atau melukai kehormatannya.


Jika Ariana sudah tidak menginginkan dirinya, maka Evander juga harus menghormati keputusan itu. “Baiklah, terserah kau saja, My Love!”


Evander turun dari mobil tanpa pamit, ia berjalan menyusuri jalan keluar area pondok Ariana. Ia perlu mencari taksi atau mungkin tumpangan untuk pergi ke bandara.


Hm, ini bukanlah kepulangan yang ia harapkan! Berbahagia hanya untuk satu jam lamanya, lalu berakhir dalam neraka rumah tangga. Entah setan cinta dari mana yang mempengaruhi pikirannya waktu itu hingga ia memutuskan menikahi Ariana!


Ariana membunyikan klakson beberapa kali, juga berteriak pada suaminya yang pura-pura tuli. Sikap yang membuat emosinya naik ke ubun-ubun. Sungguh ia ingin menabrak kekasih hati yang tidak memiliki kepekaan pada istri yang sedang hamil!


“Dasar bodoh! Apa kau tidak bisa berjalan di pinggir? Kau ingin aku menabrakmu?” seru Ariana dari dalam mobil.


Dengan tak sabar, Ariana akhirnya menghentikan mobil, ia turun terburu-buru. Berlari mengejar Evander dan mencegatnya dengan tangan berkacak pinggang. “Jadi kau memang berniat meninggalkanku selamanya?”


Evander menghentikan langkah, tersenyum lembut sebelum menjawab. “Aku hanya menuruti kemauanmu, Ana! Aku pergi jika kau tidak menginginkan aku lagi menjadi seorang suami. Aku mencintaimu … bagiku tidak ada yang lebih penting dari pada perasaan indah itu.”


“Setidaknya kau minta maaf dan merayuku karena sudah berbuat kejam, Evan! Bukan malah pergi tanpa penjelasan!” pekik Ariana kesal. Ia sampai harus menghentakkan kaki ke tanah.


Evander sadar kalau pekikan Ariana terlalu keras, bahkan bisa membangunkan vampir yang sedang tidur. “Apa kau ingin mendengar bagaimana menderitanya aku, yang hanya bisa menghabiskan setiap malam di pinggir danau, untuk mengingatmu? Apa kau pikir hanya kau saja yang merindu?”

__ADS_1


“Kau bisa menjelaskan padaku di mobil!” Ariana mengedikkan kepala ke arah mobil jingga yang mesinnya masih menyala.


“Kau mau mendengarkan?” tanya Evander dingin. Ia mulai bersikap defensif terhadap Ariana.


Evander adalah bangsawan abad kesepuluh, dimana pria sangat dominan terhadap wanita di beberapa situasi. Sebagai wanita, Ariana seharusnya diam dan mendengarkan prianya. Sebagai istri, seharusnya Ariana tidak menghina, mengumpat apalagi menjatuhkan kehormatan dan harga dirinya. Ia bukan bajingan.


“Ya, aku akan mendengarkan! Maafkan aku, Evan! Seharusnya aku tidak bertingkah kekanakan, aku hanya … sangat marah karena merasa tak berarti, hingga harus ditinggalkan dan diabaikan. Ayo masuk ke mobil sekarang! Sebentar lagi ayahku datang!” Ariana mendorong dada Evander agar masuk ke dalam mobil. Suaranya sedikit mengendur, tidak lagi berteriak emosional.


Evander mengulum senyumnya ketika masuk ke dalam mobil. “Cerita ini akan panjang, bisakah kita mengobrol sambil makan pizza? Aku lapar setelah bercinta!”


Ariana men-desa-h setuju, tapi ia akan memilih tempat makan pizza yang jauh dari kota. Ia harus menghindari semua kemungkinan bertemu ayahnya.


“Apa wanita juga mengomeli suami vampir mereka di abad kesepuluh?” tanya Ariana tiba-tiba.


“Tidak! Baru kau yang berani melakukannya! Kau memang luar biasa, Ana!” Evander membiarkan Ariana menyetir, membawanya jauh dari pondok yang beberapa waktu lalu sudah menjadi rumahnya.


“Apa kau keberatan jika aku mengomel di masa depan?”


“Selama tidak merusak harga diri suami, kau boleh mengomel selama 24 jam penuh, Ana!”


Ariana terkikik, entah bagaimana ia selalu saja bisa tertawa jika bersama Evander. Huh, bukankah pria yang selalu bisa membuat wanita tersenyum adalah jenis yang paling tidak bisa ditolak?


“Kau memang gila!”


“Kau juga bisa melampiaskan emosimu dengan melayaniku di atas ranjang! Sepertinya mengubah omelanmu menjadi rintihan nikmat adalah tugasku! Kau sudah berjanji untuk tidak sakit, Ana! Karena aku juga sudah berjanji, kalau kita akan bercinta sebanyak 20 kali dalam minggu ini sebagai … hukuman!”


***

__ADS_1


__ADS_2