
“Benarkah kau akan menikah dengan Evander dua atau tiga hari lagi?” tanya dr. Steven.
“Tidak!” jawab Ariana terburu-buru dan berapi-api. Wajahnya sontak memerah karena rasa marah.
“Evander mengatakan aku harus mencari pendeta yang bisa menikahkan kalian. Dia juga memintaku menjadi saksi, maksudnya pendamping pengantin pria. Aku akan menemuinya sekarang di rumahmu karena dia mengundangku, Kau tidak keberatan?”
Ariana mengeluh sambil melambaikan tangan sebagai isyarat ajakan, “Lalu siapa yang akan mendampingiku, Steven?”
“Tentu saja istriku, ehm … kami sudah membicarakannya dan mendapatkan kesepakatan. Aku sebenarnya sudah menghubungi pendeta dan juga menyiapkan kebutuhanmu yang lain seperti hadiah dan tentu saja gaun pengantin! Istriku mengurus semuanya dengan baik, kau tenang saja!” jelas dr. Steven tak mampu menahan tawa.
Ariana mengerang, “Pria sinting itu … benar-benar sangat sinting!
“Dia meminta aku memanggil ahli taman dan dekorasi, dia ingin memperindah bagian pendopo. Kalian akan menikah di taman begitu matahari terbenam. Evander ingin kau mengingat momen manis itu selamanya!” Dokter Steven menyemangati Ariana yang kehilangan antusiasme pernikahannya. “Pria-mu memang sedikit gila, Ariana! Tapi aku akui dia sangat romantis.”
“Aku sudah memutuskan hubungan dengannya, aku tidak bersedia dinikahi hanya dalam waktu beberapa minggu, Steven! Jangan buat aku semakin gila dengan semua ini. Evander akan kembali ke negerinya!”
“Sepertinya Evander tidak peduli dengan penolakanmu. Entah bagaimana dia begitu yakin kalau kalian akan menikah dua hari lagi,” tutur dr. Steven. “Apa Evander mengatakan kalau dia akan mengundang Jonathan dan juga ayahmu?”
“Ya Tuhan, bisakah kau hentikan vampir gila satu itu? Ayahku bisa mati kena serangan jantung jika sampai datang ke pondokku dan melihat aku menikah dengan vampir, Evan! Dan Jonathan? Singkirkan pria itu dari kawasan rumahku, Steven! Aku sama sekali tidak ingin melihat wajahnya!” seru Ariana dengan ekspresi geram.
Dokter Steven melanjutkan mengobrol hal-hal yang lebih ringan untuk menenangkan Ariana yang tampak gusar karena rencana-rencana yang dibuat Evander.
Hari menjelang gelap ketika dr. Steven dan Ariana sampai pondok. Lampu-lampu teras sudah menyala, dan jauh lebih banyak penerangan di taman, sangat meriah dan tentu saja ramai orang. Beberapa sedang sibuk mengatur taman dan beberapa lainnya membenahi depan pondok Ariana.
“Steven, aku bisa gila karena semua ini. Kenapa Evander tidak memberitahu lebih dulu kalau akan ada pengerjaan persiapan pernikahan malam ini? Ya Tuhan ….” Ariana memijat pangkal hidungnya untuk mengurangi pening.
__ADS_1
Dokter steven terkekeh ringan, “Kau harus menikmati hari bahagia ini, Ariana. Kau akan menjadi ratu!”
“Bagaimana aku harus menjelaskan padanya kalau aku tidak bersedia menikah dengannya?”
“Katakan sendiri padanya! Lihat … Evander sudah menunggumu!” Dokter Steven menunjuk Evander yang berdiri tak jauh dari pintu pondok. Ia turun lebih dulu, tapi Ariana berjalan ke rumah lebih cepat karena merasa terganggu dengan orang-orang yang bekerja di sekitar pondoknya.
Ariana enggan melihat Sang Count yang hanya memakai kaos oblong putih dan celana pendek kotak-kotak di depannya. Yah … Ariana harus mengakui kalau Evander sangat tampan dengan setelan rumahan seperti itu. Ariana bahkan sampai sakit gigi karena mendapat senyum menawan Evander yang ditujukan hanya untuknya itu.
“Kau baru pulang? Bagaimana pekerjaanmu? Mau mandi air hangat sebelum makan malam?” tanya Evander manis. Ia mencegat Ariana yang sengaja ingin mengabaikannya.
Evander menarik tangan Ariana, mencium punggungnya lembut sebelum kembali berbicara. “Kau cantik sekali, My lady. Aku akan menemanimu berendam, aku sudah menyiapkan semuanya. Mandi busa dengan aroma terapi kesukaanmu.”
Ariana merasa sedikit bersalah setelah mendengar penuturan Sang Count. Evander terlihat santai dan tidak tersinggung dengan sikap dinginnya. Pria itu tetap romantis dan hangat meski mereka sedang bertengkar. Ariana merasa sangat takjub!
Lalu bagaimana Ariana bisa hidup setelah Evander kembali ke masa lalu? Sanggupkah ia pulang ke pondok itu tanpa ada lagi yang menyambut kedatangannya seperti sekarang?
Evander menaikkan Ariana ke dalam gendongan dalam satu kali sentak, “Aku sedang belajar menjadi suami terbaik untukmu! Aku pikir kau akan menyukainya.”
Ariana spontan merangkul Evander untuk menyeimbangkan tubuhnya yang mendadak kehilangan pijakan, “Kau sungguh membuatku sakit kepala, Evan! Banyak sekali orang di sini dan kau bertingkah seolah mereka semua tidak melihat kita?”
Evander menyeringai. Langkah kakinya ringan seperti tak membawa beban. Sampai kamar mandi, ia dengan nakal melucuti pakaian Ariana dan memaksa wanita-nya masuk ke dalam bathtub. Evander duduk menunggui Ariana berendam di samping bathtub, sambil memandangi wajah kesal calon istrinya itu.
Evander lalu merogoh sakunya dan menyelipkan cincin ke jari Ariana yang sedang memegang pinggiran bathtub. “Aku cinta padamu, Ana!”
“Evan … aku tidak bisa menerima semua ini, tolong hentikan semua kekonyolan ini! Kita tidak akan menikah!” ujar Ariana lelah. Evander menghujaninya banyak hadiah pasti demi mendapatkan hati dan persetujuannya. Tapi, sebagian hati Ariana sudah patah lebih dulu karena memikirkan perpisahan yang akan terjadi nanti.
__ADS_1
“Ini bukan cincin pernikahan, Ana! Aku mendapatkannya ketika sedang jalan-jalan dengan Steven. Aku ingin kau memakainya, ini serasi dengan kalungmu! Steven juga setuju kalau cincin ini cocok untukmu,” tegas Evander sambil membelai jari-jari Ariana.
“Ya aku tau ini indah, tapi aku tetap tidak akan menikah denganmu, Evan! Sebanyak apapun hadiah yang kau berikan, aku tetap pada keputusanku!” ucap Ariana parau. Ia menyelesaikan mandinya lebih cepat agar bisa segera menghindar dari Evander.
“Aku juga tetap pada rencanaku, Ana! Kita akan menikah dua hari lagi.”
Sayangnya, begitu Ariana selesai memakai bathrobe, Evander memerangkapnya pada dinding kamar mandi yang dingin, dalam ciuman panjang, dalam dan … basah menyeluruh.
Seperti sebuah kebiasaan, Evander selalu melakukan hal itu sejak mereka berikrar sebagai kekasih. Tak peduli Ariana suka atau tidak. Tak peduli dimana mereka berada. Tak peduli ada orang yang akan melihat.
“Evan …!”
“Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhmu, My Love!”
Ariana terlalu lelah untuk berdebat. Ia tidak lagi melawan ataupun menolak. Setidaknya ciuman-ciuman Evander selalu bisa menenangkannya. Seperti saat ini, dalam kondisi marah pun, Ariana bisa menikmati sentuhan Evander di tubuhnya, betapa ia mudah tergoda oleh Sang Pangeran Kegelapan.
“Bisakah kau berhenti sebentar, Evan? Aku tidak bisa bernafas!” Ariana men-desa-h keras ketika Evander melepas bibirnya. Udara di dalam paru-parunya seolah kosong, menuntut untuk diisi.
“Aku punya hadiah pengantin untukmu,” bisik Evander penuh godaan. "Mau melihatnya?"
“Aku baru tau kalau vampir sangat suka memberi hadiah,” cibir Ariana. Ia tidak bisa tetap kesal, ia justru merasa tersanjung dan mendadak bahagia. Sang Count selalu bisa meruntuhkan hatinya, membuatnya tersenyum dan melupakan segala masalah.
“Berpakaianlah, kejutannya ada di taman!” Evander mencium pipi Ariana hingga ke leher sebelum benar-benar melepasnya. “Aku sangat menyukai bau sabun ini, sungguh bisa membuatku mabuk dan bergairah.”
Ariana mengerang, “Bagaimana aku bisa pergi ke kamar kalau kau terus menggerayangiku seperti ini, Evan?!”
__ADS_1
***