Seventh Blood Vampire

Seventh Blood Vampire
Makanan Manusia Normal


__ADS_3

Pada abad kesepuluh, hampir setiap kastil bangsawan memiliki taman bunga. Kebanyakan berisi mawar, karena bunga itulah yang paling disukai oleh para lady. Putri-putri bangsawan banyak menghabiskan waktu di taman untuk membaca, atau minum teh bersama teman.


Kalau saja Ariana memberi izin untuk membangun kastil di dekat tebing, Evander pasti sudah melakukannya. Lahan yang dimiliki Ariana sangat luas, dengan pemandangan laut yang sangat eksotis. Rasanya Evander tidak cukup jika hanya memberikan Ariana taman bunga.


“Kau menyukainya?” tanya Evander. Mereka berdiri di tengah taman yang seharusnya sudah selesai, karena sudah dikerjakan selama seminggu lebih.


“Ya.” Ariana tersenyum kecut, keindahan yang diberikan Evander tak membuatnya bahagia. Taman bunga pemberian Evander pada akhirnya hanya akan dinikmati sendiri olehnya, hanya akan meninggalkan luka setelah pemberinya pergi.


“Aku akan menambahkan pendopo kecil di sini agar kau bisa berteduh dari matahari atau hujan ketika menikmati taman ini di waktu yang tidak tepat. Apa ada yang kau inginkan untuk taman bungamu ini, My Lady?” Evander memegang dua tangan Ariana, lalu mencium punggungnya bergantian.


“Tidak, ini sudah terlalu bagus untuk aku nikmati sendiri. Yang aku inginkan bisa berteduh di bawah hujan, di pendopo ini bersamamu. Menurutku itu jauh lebih romantis,” jawab Ariana sembari menatap sendu pada Evander yang justru tersenyum tak bersalah padanya.


“Ayolah, Ana! Kita akan melalui waktu berkualitas selama dua bulan ini. Itu akan menjadi waktu terbaik kita, mengganti seluruh waktu paling tidak menyenangkan yang kau habiskan bersama … Jonathan?”


“Oh Evan!” desis Ariana tak berdaya. Ia tidak mungkin membebani semangat pulang Evander dengan kepentingan hatinya.


Evander menarik Ariana dalam pelukan, ia tak kuasa melihat wanita yang disukainya bersedih. “Kau akan memiliki seluruh diriku selama aku tinggal di zaman ini, Ana! Tidak perlu merisaukan apa yang akan terjadi nanti. Kenapa kau tak bahagia untukku?”


Ariana tersenyum manis, berusaha tegar dan menerima keputusan Evander. Mereka hanya dua orang asing yang tak sengaja bertemu dan saling menyukai. Jika takdir hanya mempertemukan mereka untuk sesaat saja, Apa yang bisa dilakukan Ariana selain menerima dengan lapang dada?


“Baiklah, udara di luar semakin dingin, Evan! Aku mau istirahat, kau akan tetap di sini atau ikut masuk ke pondok untuk menemaniku … makan?” Entah bagaimana Ariana bisa salah menempatkan susunan kata hingga memiliki makna ambigu.


Tapi memang tidak salah, Evander yang hanya memakai kaos dengan celana santai rumahan, dengan rambut peraknya yang berbias sinar bulan purnama menjadi sangat tampan dan menggairahkan. Udara dingin mungkin membekukan otak Ariana yang sedang butuh kehangatan.


“Apa ini undangan?” tanya Evander penuh maksud. Ia tau Ariana menginginkannya, hanya saja gadis itu memiliki batasan yang dipegang kuat tanpa alasan jelas.


“Ehm, bukan! Maksudku tidak … aku hanya merasa lapar karena udara menjadi terlalu dingin. kau mau makan sesuatu? Maksudku mencoba makanan manusia normal? Aku akan memasak ….”

__ADS_1


Ariana merasakan pipinya panas di bawah tatapan mata hazel Evander. Terlalu kikuk dan malu karena kedapatan memperhatikan Evander, lalu diam-diam terpesona dan memiliki pikiran liar naik ke atas ranjang bersama Sang Count.


“Bagaimana? Aku tidak keberatan jika kau ingin ditemani tidur, Ana!” goda Evander dengan tatapan penuh damba. Bibirnya mengulas senyum nakal yang sangat sensual.


Pernyataan Evander sungguh membuat Ariana salah tingkah. Godaan untuk bercinta dengan vampir yang selalu bersikap hangat padanya menjadi sangat menggoda! Ya ampun!


“Jangan terlalu percaya diri, Evan! Aku sama sekali tidak mengundangmu! Baiklah, aku sebaiknya masuk ke pondok untuk memasak, aku ada di dapur jika kau perlu sesuatu!” Ariana melangkah cepat meninggalkan taman bunga di samping pondoknya. Ia tidak tahan melihat Evander yang menggodanya dengan tatapan nakal dan bibir basah sensual.


"Buatkan makan malam untukku juga, Ana!" Evander terkekeh-kekeh. Ia lapar, ingin memakan Ariana untuk memenuhi kebutuhannya. Tapi perawan sucinya masih belum siap.


Evander akan menyenangkan Ariana dengan belajar mengkonsumsi makanan manusia. Ya, Evander bisa melakukan hal kecil seperti itu tanpa masalah, meski itu bukanlah sesuatu yang disukainya.


Bukankah cinta selalu butuh pengorbanan?


Evander menyusul Ariana ke dapur, berdiri tak jauh di belakang wanitanya hanya untuk menatap bokong dan juga kaki Ariana yang jenjang. Memperhatikan setiap gerak gesit Ariana dalam mengolah masakan dan tentu saja menghirup wangi tubuh Ariana yang digilainya.


“Pasta mie,” jawab Ariana singkat.


Ariana mengangkat dua piring berisi pasta mie dan membawanya ke meja makan. “Ini enak dimakan selagi hangat, Evan! Kemarilah, ayo kita makan!”


Evander duduk di hadapan Ariana, menatap datar piring di depannya. Pasta mie masih mengeluarkan uap panas ketika Evander mulai menggulungnya dengan garpu. “Ini terlihat seperti cacing, Ana! Aku tidak ingin memakannya.”


“Cobalah! Rasanya enak, kau pasti akan menyukainya. Aku bahkan berani bertaruh kalau mie adalah salah satu makanan yang ingin kau bawa ke masa lalu!” kata Ariana tanpa sedikitpun keraguan.


Mendengar kalimat Ariana yang begitu yakin, Evander memasukkan gulungan mie ke dalam mulutnya. Mengunyah sebentar lalu menelannya dengan ekspresi tersiksa.


“Bagaimana rasanya? Enak?”

__ADS_1


“Aku butuh terbiasa dengan rasa ini, tidak buruk … tapi jujur aku belum menyukainya,” jawab Evander menahan mual.


“Kau harus terbiasa dengan kehidupan orang Amerika, Evan! Kehidupan manusia normal itu seperti ini, jika kau menikah dengan manusia kau juga harus beradaptasi dengan makanan istrimu, bukan hanya urusan ranjang saja!” Ariana merona tak jelas.


Evander tidak menghabiskan isi piringnya, ia memilih menyesap darah segar dalam gelas besar yang disediakan Ariana. Dan Evander langsung bisa membedakan rasa asing di lidahnya. Ia lalu mengernyit seperti orang sedang berpikir keras.


“Darah apa yang kau berikan padaku, Ana?” Evander menyeringai tak senang. Wajahnya masam dan mendadak dingin.


Ariana tegang dan sedikit panik, “Itu … itu memang bukan darah manusia, Evan! Maksudku itu hanya darah sapi!”


“Hanya darah sapi?” tanya Evander geram. Ia sungguh tidak menyukai rasanya. Lebih tidak suka lagi karena Ariana menyebut kata 'hanya' pada makanan utamanya.


“Kau tidak akan mati karena meminum darah binatang, Evan! Metabolisme tubuh vampir hampir sama dengan manusia, kau cuma perlu terbiasa dengan dengan makanan minuman barumu! Darah manusia harganya sangat mahal, stoknya pun tidak banyak!”


“Bukankah aku bisa membayar semua kebutuhanku sendiri, Ana?”


“Ya, tapi aku ingin kau mengganti minumanmu dengan darah binatang. Selama tinggal di pondokku kau harus menurut pada pengaturanku, baik soal tidur ataupun makan!”


Evander hampir ternganga mendengar jawaban Ariana. Ada rasa ingin menggigit gadis itu untuk memuaskan dahaganya yang masih tersisa.


Namun, Alih-alih marah atau mengancam, Evander justru menyetujui semua keinginan Ariana tanpa banyak bertanya. Ia tidak butuh alasan Ariana memberikan peraturan untuknya. Evander hanya tau alasannya menurut karena tidak ingin mengecewakan Ariana.


Apapun bisa dilakukan Evander untuk mendapatkan cinta Ariana.


“Kau baik-baik saja, Evan?”


“Ya … tentu saja, My Lady!” jawab Evander dengan seulas senyum manis. Ia undur diri ke kamar mandi untuk membuang mualnya. Muntah.

__ADS_1


***


__ADS_2