Seventh Blood Vampire

Seventh Blood Vampire
Bersama dan Menyatu


__ADS_3

Ariana menangkup wajah Evander di kedua tangannya, menatap dengan penuh cinta. Matanya berkilat hijau ibarat zamrud cair, indah dan selalu bisa menenggelamkan Evander dalam dunia khayalan. Ia mengeratkan pelukan lagi dan berjinjit untuk memberikan satu ciuman penuh kerinduan pada suaminya.


“Kau merasakannya?” tanya Evander di sela-sela ciuman yang semakin panas. Ia paling tidak bisa digoda Ariana. Bagian bawah tubuhnya berdenyut senada dengan jantungnya. “Aku tidak bisa menahannya, Evan junior terlalu merindukanmu!”


“Aku tidak bergetar selama satu bulan yang panjang, Evan! Dia juga merindukanmu!” sahut Ariana sambil melirik ke bagian bawah tubuhnya. Hatinya memang bergetar, bibirnya bergetar dan yang utama … ia sangat bergetar di bagian tubuh lain yang tidak bisa disebut.


Evander tersenyum lebar, ia mendorong daun pintu dengan kakinya, lalu menarik Ariana masuk ke perpustakaan kecil. Mereka bergerak bersama menuju meja. Ariana duduk di salah satu sisi meja. Evander menunduk di atas wajahnya, mencium lagi dengan gairah yang meledak-ledak.


Evander mengulurkan satu tangan ke belakang tubuh Ariana, menyapu semua kertas, buku, pulpen dan apapun yang ada di atas meja kayu tersebut hingga jatuh berantakan ke lantai. Ia lalu mengangkat kedua kaki Ariana agar bisa berbaring di atas meja.


Untungnya vampir bisa mengubah apa saja yang ada di sekitarnya menjadi ranjang jika naf-sunya sudah tak terbendung. Jangankan hanya di atas meja, beberapa pangeran kegelapan di Transylvania malah melakukannya di atas pohon atau di atas atap kastil mereka.


Dalam ketergesaan, Evander tidak mau repot-repot melucuti gaun pengantin yang dikenakan Ariana. Ia hanya menarik celana sutra mini pemberiannya hingga ke lutut dalam satu gerakan, lalu melepasnya dengan mudah karena Ariana membantu dengan cara mengangkat bokongnya.


Kancing baju Evander beterbangan karena ia meloloskan pakaian dengan cara serampangan, dengan kekuatan dan kecepatan vampirnya. Gesper dan kaitan celana jeansnya juga terbuka terlalu cepat. Dalam sekejap mata saja, Evander sudah tak berpakaian dan memposisikan diri di atas Ariana.


Konon, meja yang keras bisa membuat lutut memar pria yang bercinta dengan situasi seperti Evander. Tapi itu hanya terjadi pada manusia biasa. Evander justru merasa beruntung karena ia bukan manusia. Ia vampir yang kuat, yang tidak akan terluka oleh rasa sakit karena percintaan yang liar di atas meja.


Ariana mengernyitkan dahi sambil menyipit curiga. “Kau tidak bergetar di tempat lain selama satu bulan ini, kan?”


Evander ingin tertawa terbahak, tapi ia akhirnya hanya tersenyum bodoh. “My Love … kalau aku bergetar oleh wanita lain selama empat minggu ini, biarkan petir menyambar tubuhku sekarang! Lagi pula, apa kau tidak melihat keliaranku? Aku meng-ge-rayangimu seperti remaja ingusan yang sangat bernaf-su dan ingin segera ada di dalam tubuhmu!”


Ariana tersenyum manis, ia memeluk Evander di leher dan membiarkan suaminya mengambil posisi untuk memasukinya. Hingga menyebabkan gelombang kenikmatan menghempas kuat seperti ombak yang sedang pasang.


Kemudian, Evander menggerung di bawah telinga Ariana … terberkatilah dirinya! Ia akhirnya kembali ke rumah. Ke tempat yang seharusnya, ke dalam tubuh istrinya yang panas dan menggairahkan.


Di antara desakan yang semakin rapat, Evander mencium dahi, kelopak mata, ujung hidung, pipi, dagu dan leher bawah telinga Ariana. Di antara ciuman, mereka saling berbisik kata-kata indah, kata cinta dan juga rayuan gombal. Men-de-sahkan rindu yang menyiksa selama empat minggu, dan juga bersyukur karena bisa kembali bersama dan menyatu.


“Aku hampir mati karena rindu,” desis Ariana.

__ADS_1


“Kau menyiksaku dengan cinta!” balas Evander.


“Kau membuatku pingsan di dermaga karena kehilangan! Hatiku hancur berkeping-keping ketika kau pergi, Evan!”


“Maka aku akan menyatukan kembali kepingan hatimu yang hancur itu, aku janji!”


Ariana mengerang kuat, “Jangan pernah berani meninggalkan zaman ini lagi! Apalagi meninggalkanku!”


“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu!”


“Aku mencintaimu, Evan!”


“Aku lebih mencintaimu, Ana!”


Lantai bergerak seperti akan terjadi gempa bumi. Ariana yang sedang bergetar karena mendapatkan pelepasan sungguh mengguncang tempat mereka berada, atau sebenarnya itu hanya kaki meja yang menggesek permukaan lantai karena hentakan Evander yang terlalu cepat dan kuat?


Entahlah, karena mereka kini saling memeluk dengan binar-binar kepuasan dan sangat bahagia. Takdir memang tidak menginginkan mereka terpisah, apapun alasannya.


Ariana terus menatap Evander, menyentuh tangan suaminya berulang kali hingga akhirnya mereka masuk ke dalam mobil. Ia melambaikan tangan pada Steven dan Cecil yang melaju lebih dulu meninggalkan pondoknya.


“Kau sakit? Wajahmu memerah!” Evander langsung mengecek suhu tubuh Ariana dengan meletakkan telapak tangan di dahi.


“Tidak sama sekali. Mungkin ini efek setelah bercinta,” jawab Ariana seraya terkikik malu.


“Jangan berani sakit sebelum kita bercinta setidaknya sepuluh kali, atau dua puluh kali dalam seminggu ini!” ancam Evander dengan seulas senyum nakal.


Ariana semakin cekikikan, “Aku janji tidak akan sakit minggu ini.”


“Hm bagus! Ngomong-ngomong, kau masih saja menyimpan mobil ini, aku pikir kau akan menjual semuanya!” kata Evander senang.

__ADS_1


“Aku menjaga semua hal yang berhubungan denganmu! Kau sudah lihat taman bunganya? Bukankah terlihat sangat indah di pagi hari?”


“Yeah, aku baru mau mengatakan itu, kau merawat taman bungamu dengan baik,” ujar Evander sambil memakaikan kacamata hitam untuk Ariana. Ia juga menyingkirkan anak rambut Ariana ke belakang telinga dan memberikan kecupan singkat di pipi.


“Sekarang ceritakan padaku bagaimana kau bisa hidup di bawah cahaya matahari!” ujar Ariana.


“Aku adalah vampir yang bisa berjalan di siang hari. Seorang daywalker. Sepertinya aku mendapatkan kelebihan ini dari Count Drakula generasi pertama. Kau sudah tau kalau aku tidak bisa mengendalikan cuaca atau berubah menjadi serigala ….”


“Sejak kapan?” tanya Ariana semakin antusias. Ia juga ingin bercerita mengenai perubahan dirinya selama Evander tak ada. Tapi Ariana akan membiarkan Evander berkisah lebih dulu.


Ariana penasaran dengan perjalanan menjelajah waktu. Ia juga ingin mendengar apakah misi Evander telah selesai, dan bagaimana suaminya itu bisa kembali ke zamannya dengan sangat mudah?


“Sejak satu bulan yang lalu!” jawab Evander santai. Sedikit menjelaskan keuntungan sebagai daywalker.


“Lalu kemana jubah vampirmu?”


“Aku menjualnya di London!”


“London?” Ariana mengernyitkan dahi, menoleh ke arah Evander sambil memicingkan mata. Membuka kacamata hitamnya.


“Ya, London! Penjelajahan waktuku gagal!” Sedetik kemudian Evander langsung menyesal, ia sudah salah bicara.


“Apa? Penjelajahan waktumu tidak berhasil? Lalu kemana saja kau selama satu bulan ini?”


Evander menjawab dengan raut bersalah, “Aku di London!”


“Bisa-bisanya kau tidak mengabariku, Evan! Kau juga berani pergi ke London tanpa menemuiku lebih dulu! Kau pria yang sangat brengsek, Evan! Kau tidak tau bagaimana menderitanya aku di sini karena kepergianmu!” pekik Ariana berapi-api. Marah dan kecewa diluapkan dengan memaki Evander habis-habisan.


“Ana … kau salah paham!” kata Evander berusaha menenangkan.

__ADS_1


“Turun dari mobilku sekarang! Kau tidak bisa dipercaya, pecundang, menjijikkan, aku benci kau, Evan!”


***


__ADS_2