
Setelah beberapa waktu habis diperjalanan menuju kediaman keluarga Wijaya. Akhirnya pun mereka sampai. Alfa yang merasa lelah masuk begitu saja meninggalkan Anjani yang masih mematung terpesona dengan taman yang indah di kediaman keluarga Wijaya itu. Tidak hanya itu, matanya pun terarah pada sebuah rumah kaca yang tidak terlalu besar namun sangat cantik dilihat dari luar.
"Ngapain masih disitu? masuk." kata Alfa menyadarkan Anjani.
"E eh, iya." jawab Anjani kagok karena merasa terciduk tengah menikmati keindahan kediaman keluarga Wijaya.
Di ruang tamu terlihat satu set sofa mewah dan beberapa perabot yang menghiasi ruangan itu. Alfa yang melihat Anjani terdiam berdiri di ruang tamu pun segera menarik lengan baju Anjani agar mengikutinya ke ruang makan.
"Mama, ini pesenannya udah Al bawain." kata Alfa menyodorkan Anjani pada mamanya.
"Ya ampun, mas. Mulut kamu itu lho, emangnya calon mantu mama itu barang apa." kata mama Alfa sembari menarik Anjani dalam pelukannya.
"Apa kabar tante?" tanya Anjani dalam pelukan mama Alfa.
"Baik, sayang. Mama rindu sekali sama kamu." jawab mama Alfa sembari melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Masak apa, ma?" tanya Alfa yang seketika merusak moment bercengkrama antara mamanya dan Anjani.
"Oh, itu mama masak gurame asam manis, capcay, fuyunghai sama bihun goreng." jawab mama Alfa.
Mereka pun duduk bersiap di meja makan untuk memulai acara makan. Alfa sedikit keheranan melihat mamanya yang begitu antusias mengambilkan berbagai macam lauk untuk Anjani. Anjani yang tidak terbiasa di perlakukan demikian pun malah ikut berebut sendok untuk mengambil makanannya sendiri. Disaat moment manis seperti ini justru pikiran jahil Alfa pun keluar.
Dia ingat, jika memiliki mainan kecoa di dalam saku celananya. Yah, memang seaneh itulah Alfa. Dimanapun dia selalu membawa barang-barang tak berfaedah hanya untuk sekadar memuluskan kekadalannya.
Melihat Anjani dan mamanya masih saja sibuk dengan obrolan manis antar wanita, diam-diam Alfa meletakkan kecoa mainannya di dekat lengan Anjani. Anjani yang tidak sadar masih saja menikmati makanannya sembari mengobrol dengan calon ibu mertuanya.
Anjani POV
"Tante, biar jani ambil sendiri ya. Tante jangan repot-repot sama jani. Harusnya malah jani yang melayani tante." kataku pada Tante Wina.
"Ah, sayang. Mama sangat senang karena adanya kamu membuat mama bahagia, karena mama dari dulu sangat ingin punya anak perempuan. Oh iya sayang, kapan kamu akan mengubah panggilanmu itu? Sampai kapan kamu akan panggil tante? Mama sungguh sedih mendengarnya." Tanya mama Alfa dengan memasang wajah menyedihkan.
__ADS_1
"Ma, mama. Jani mohon jangan sedih. Maaf, karena Jani belum terbiasa. Jadi, mulai sekarang bolehkah Jani benar-benar memanggil dengan sebutan mama?" tanyaku
"Tentu sayang, kamu itu calon menantu mama. Yang pasti juga akan jadi anak mama kan? Ah, mama sungguh bahagia. Kapan-kapan mari kita hang out bareng." Ajak mama Alfa yang ku balas dengan anggukan.
Sesaat aku menikmati makananku, terasa ada sesuatu yang mengganjal di lenganku tidak nyaman. Ku kibaskan lenganku, dan tiba-tiba kecoa jatuh tepat di atas piringku.
"Aaaaaaaaaaaa. Kecoa, ada kecoa." teriakku yang tidak kusadari, akuntelah melemparkan badanku pada Alfa yang memang duduk di sebelahku. Aku pun menangis, menjerit. Karena jujur saja, aku sangat takut dengan kecoa.
Anjani POV end
------------------------------
Alfa POV
Anjani menangis sangat kencang, tubuhnya bergetar. Dia menjatuhkan tubuhnya ke gue. Sumpah, gue gak menyangka kejahilan gue sangat berakibat fatal seperti ini. Gue melihat mama yang panik, menghampiri Anjani yang masih berada dipelukan gue. Mama melihat piring lalu menatapku meminta penjelasan. Gue hanya tersenyum nakal menampakan senyum pepsod*nt sembari memberi kode untuk mama diam. Mama pun meminta salah satu ART di rumah untuk menyingkirkan piring Anjani. Kemudian mama menarik Anjani dalam pelukannya. Sekarang, tangisnya sudah agak mereda.
__ADS_1
"Ah, sial. gue jadi merasa bersalah." gumam dalam hati.
Di sisi lain, mama masih menatap tajam gue meminta penjelasan. Dan, apalagi yang perlu gue jelaskan. Inilah sifat kadal gue, dan untuk jadi istri gue dia harus terbiasa dengan ini.