
Alfa POV
Akhirnya selesai sudah masa empat tahun perkuliahan. Satu pintu terbuka lagi, di depan mungkin akan lebih banyak hal yang harus gue lalui untuk bisa menjadi lebih dewasa lagi. Di tempat ini, selama lebih dari enam tahun gue sama para sohib gue mengukir cerita. Dan pada akhirnya hari ini datang juga. Mungkin kami akan berpisah disini, mengambil jalan masing-masing demi mencapai masa depan yang kami inginkan dan keluarga kami harapkan.
Alfa POV end
"Jadi, sampai disini ya akhirnya." kata bayu mengawali perbincangan.
"Gak kerasa ya, tau-tau udah lebih dari enam tahun aja kita bareng." kata Alfa.
"Hah, Gue jadi bingung mau ngapain lagi di waktu luang kalau gak main sama kalian." kata Abbas menghembuskan nafasnya kencang.
"Mami gue nyuruh lanjut kuliah di Australi. Gue bakalan lebih susah buat ketemu kalian. hiks." kata Fafa menahan tangisnya.
__ADS_1
"Dan gue sendiri, bulan depan udah mulai sibuk koas di luar kota." kata Bayu.
"Kalau gue sih udah pasti mulai ambil proyek bokap gue sebelum gantiin bokap di perusahaannya." kata Abbas.
"Kalau loe gimana, dal? langsung ambil alih Wijaya Group?" tanya Bayu pada Alfa.
"Gue mau mencoba dari bawah dulu. Gue sadar, gue baru lulus. Dan selama ini juga gue belum pernah bener-bener bantu bokap dengan terjun langsung di perusahaan. Gue belum percaya diri kalau langsung ambil alih perusahaan. Lagian, gue juga harus buktiin sama orangtua gue, om Edwin dan Anjani kalau gue bisa di andalkan. Terlebih untuk menjaga dan menafkahi Anjani dengan kemampuan gue." kata Alfa menjelaskan.
"Apa gue minta di nikahin aja ya sama mami. Biar gue gak di suruh lanjut kuliah di Ausy." kata Fafa polos.
"Fa, loe kira nikah itu gampang? Gak yakin gue kalau loe nikah sekarang. Yang ada nanti bini loe yang ngejaga loe, bukan loe yang jaga dia. Loe apa-apa aja masih manggil mami loe." kata Abbas.
"Lagian ya, dal. Loe udah yakin mau cepet-cepet nikah sama Anjani?" tanya Bayu.
__ADS_1
"Kayaknya iya, deh. Lagian, gue bakalan lebih tenang kalau udah ngesahin dia. Dia itu satu-satunya dan gue gak mau kehilangan." kata Alfa tersenyum menunduk. Dia benar-benar merasa sudah jatuh dalam pesona Anjani. Dia ingin segera memiliki gadis itu dan mengatakan pada dunia bahwa gadis itu adalah miliknya seorang.
"Bucinnya Anjani loe sekarang, dal. Hahaha." ejek Abbas.
"Iya kali. Gue bener-bener gak bisa menolak pesona Anjani. Dia itu beda, dia selalu bisa membawa ketenangan di hati gue dengan wajah teduhnya." kata Alfa.
"Dah, buruan Sah'in lah. Secepatnya, kalau bisa sebelum kita-kita pada sibuk." kata Bayu.
"Iya, bener. Cepetin, dal. Nanti gue bakal ngasih kado yang pasti bakalan loe suka." kata Fafa.
"Tunggu aja undangannya yaa. Hahahaha." kata Alfa.
Mereka berempat pun menghabiskan waktu seharian ini untuk mengenang masa-masa sekolah dan bertukar pikiran tentang rancangan masa depan masing-masing.
__ADS_1