
Menghabiskan waktu untuk merawat Mario bukan hal mudah, Laura mengakuinya. Dia membawa Mario ke apartemennya dengan alasan enggan mendengar ocehan Lucy. Setelah kecelakaan itu, Mario mengalami cidera di lengan sehingga laki-laki itu tidak bisa bergerak bebas. Jason menjelaskan tentang kecelakaan yang hampir menewaskan Mario. Sebuah mobil melintas dari arah berlawanan dan menabrak pembatas jalan sehingga Mario terpaksa membanting kemudi untuk menghindari mobil itu. Naasnya dari arah belakang terdapat sebuah truk dan Mario tidak bisa menghindar lagi. Kecelakaan beruntun itu memakan korban jiwa, setidaknya ada dua orang tewas di tempat kejadian. Laura tidak bisa membayangkan jika Mario yang menjadi salah satu korban itu. Dia bersyukur laki-laki itu masih hidup meskipun lengannya terluka. Jason juga menjelaskan Mario bisa pulih jika melakukan pengobatan tradisional Tiongkok. Dokter terbaik pilihan Jason akan membantu Mario hingga laki-laki itu sembuh. Laura mengucapkan banyak terimakasih ketika Jason meninggalkan apartemennya. Dia berhutang banyak hal pada Jason setelah Mario dan Lucy.
Laura berpamitan pada Mario untuk kembali bekerja, sudah satu bulan berlalu sejak kecelakaan itu Laura tidak datang bekerja. Entah Gino masih membutuhkan jasanya atau tidak, Laura harus menerima kemungkinan Gino akan memecatnya.
Laura tiba di apartemen itu dan melihat jasa pengangkut barang pindahan berada tidak jauh dari unit apartemen milik Gino. Sepertinya ada penghuni baru yang akan tinggal di sana. Laura hanya melihat sekilas lalu memasuki apartemen. Dia terbelalak kaget melihat kondisi apartemen itu, tampaknya Gino sengaja tidak membersihkannya selama satu bulan. Laura mengikat rambutnya lalu melepaskan mantelnya. Dia menggulung bajunya sebatas siku dan mulai membersihkan apartemen itu. Dua jam kemudian pekerjaannya berakhir, Laura menghempaskan tubuhnya di sofa sambil mengatur napasnya yang berantakan. Pekerjaan itu seolah membunuhnya, Gino patut diberi pujian telah menyiksanya di hari pertama Laura kembali bekerja.
Bunyi pintu terbuka mengalihkan perhatiannya. Gino tidak sendiri, seorang perempuan cantik mengekor di belakang laki-laki itu. Laura memperhatikan keduanya dengan seksama. Jadi, Gino sudah memiliki perempuan lain dan ucapannya hari itu hanya lelucon. Laura bangkit dari duduknya lalu meraih mantelnya sebelum Gino menyadari keberadaannya. Namun terlambat, Laura merasakan pergelangan tangannya dicekal dengan kuat.
"Jangan pergi La."
Laura berbalik menatap Gino. "Kenapa?" tanyanya.
__ADS_1
"Tuan tampan sepertinya kedatanganku tidak tepat lain kali aku datang kemari. Terimakasih sudah mengajakku berkunjung dan salam kenal dari tetangga baru."
Perempuan cantik itu ternyata tetangga baru, Laura berpikir berlebihan karena hal itu. Dia melepaskan tangan Gino lalu kembali duduk di sofa membiarkan laki-laki itu berbicara lebih dulu. Cukup lama hingga keheningan itu membuatnya tidak nyaman, Laura mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan singkat pada Mario.
"Orangtua Rahma sakit keras dan udah dua minggu ini dirawat di rumah sakit. La, aku mau ngasih tahu kamu soal penyakit pamanmu tapi aku takut kalau kamu malah menghindar." ucap Gino.
"Oh,"
Laura tersenyum kecil, entah khawatir karena hal apa mengingat hubungannya dan Rahma memburuk setelah kejadian itu. Laura tidak tahu bagaimana menghadapi Rahma jika memutuskan untuk pulang ke Jogja meskipun alasannya menjenguk pamannya. Dia bisa berdamai dengan Gino dan bersikap biasa saja pada laki-laki itu. Namun, berbeda dengan Rahma. Laura tidak bisa menahan diri untuk menyimpan emosinya sementara ingatan masa lalu tersimpan dengan baik di kepalanya.
"Udahlah No, aku nggak mau bahas soal mereka." ucap Laura.
__ADS_1
"Maaf La,"
"Kamu bahas masalah ini apa kamu mau balik ke Jogja?" tanya Laura memastikan.
"Mungkin, udah lama aku nggak balik."
"Buat ketemu Rahma?"
"Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Rahma, kenapa kamu nggak pernah ngasih aku kesempatan buat jelasin hal itu?"
***
__ADS_1