
Suasana malam yang tenang di tepi danau bukanlah apa-apa dibandingkan Mario yang diam membisu di sampingnya. Makan malam yang disiapkan laki-laki itu dibiarkan menjadi hiasan di atas meja. Selera makan Laura menguap, rasa lapar yang dirasakannya sejak siang tadi menghilang entah kemana. Dia hanya diam memperhatikan Mario yang bersikap aneh. Laura tidak sabar melihatnya. Namun, mencoba untuk menangguhkan rasa sabar itu. Jika dia kesal maka pertengkaran itu akan terjadi. Dan Laura tidak ingin bertengkar hanya karena seseorang bernama Mika.
Satu jam berlalu sup ayam itu mulai mendingin. Laura kehilangan kesabaran, dia beranjak dari duduknya. Mencari udara segar sepertinya ide yang bagus untuk menenangkan pikirannya. Dia menyusuri hutan dalam keremangan cahaya bulan. Suara hewan malam terdengar nyaring di telinganya. Laura bergidik, dia takut bertemu hewan buas. Namun, untuk kembali dan melihat Mario bersikap dingin. Laura lebih memilih untuk bertemu serigala meskipun harus mengorbankan nyawanya.
Laura semakin jauh masuk ke dalam hutan. Cahaya bulan tidak menembus pepohonan menyebabkan suasana gelap itu semakin terasa. Merasa lelah, Laura memutuskan duduk pada salah satu pohon. Dia menyandarkan tubuhnya pada sisi batang pohon lalu mengeluarkan ponselnya.
Tidak ada pemberitahuan apa pun. Ponselnya tidak bisa digunakan di tempat itu. Laura mendesah pelan lalu memejamkan matanya. Merasakan suasana malam mencekam itu dengan pikiran kosong. Cukup lama dia melakukan hal itu. Tetesan air menyadarkan Laura dari perbuatannya. Gerimis turun rintik-rintik, tidak ada cahaya bulan. Laura tidak bisa melihat apa pun di tempat itu. Sekelilingnya berwarna hitam pekat. Dengan susah-payah, Laura mengeluarkan ponselnya dan menghidupkan flash. Gerimis berubah menjadi hujan deras. Laura melindungi ponselnya dari guyuran hujan. Dia duduk di bawah pohon sambil memeluk lututnya. Tubuhnya menggigil, udara semakin dingin dan Laura hanya mengenakan pakaian tipis. Dia tidak menyangka, hujan turun secara tiba-tiba sehingga Laura melupakan jaketnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Kini dia menyesali kebodohannya.
Dua jam lamanya Laura berada di tempat itu. Dari kejauhan, samar-samar dia mendengar suara teriakan. Mungkin Mario mencarinya. Laura mendekati asal suara itu dengan berjalan sambil meraba sekitarnya. Semoga saja dia tidak menyentuh ular atau hewan melata lainnya.
__ADS_1
Cahaya terang menyilaukan mata. Sekelompok orang mendekat lalu menanyakan keadaannya. Laura hanya mengangguk, ternyata orang-orang itu regu penyelamat yang dipanggil Mario. Dan diantara mereka, Laura tidak melihat laki-laki itu. Mungkin Mario sedang mencarinya di tempat lain. Laura mengucapkan terimakasih ketika berhasil tiba di rumah. Dia berbasa-basi menawarkan orang-orang itu untuk singgah. Namun, mereka menolak. Laura hanya melihat mobil yang membawa mereka berlalu meninggalkan tempat itu.
Mario kemana?
Pertanyaan itu memenuhi otaknya. Laura mencari keberadaan laki-laki itu di kamar. Namun, tidak ada siapa pun di sana. Dia menuju dapur dan melihat makan malam itu masih berada di sana. Sama seperti terakhir kali Laura melihatnya, tampak rapi dan tidak tersentuh.
Mario tampak kacau dengan pakaian basah. Sisa air hujan terlihat di lantai kayu itu. Laura mengambil handuk lalu mengeringkan rambut Mario. Dia juga belum mengganti pakaiannya.
"Lala aku pikir kau melakukan sesuatu yang berbahaya." ucap Mario cemas.
__ADS_1
"Aku keluar mencari udara segar."
"Lala aku ingin mengatakan sesuatu."
"Katakan saja." ucap Laura berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Aku akan pulang ke rumah ibuku. Aku ingin membahas masalah pernikahan Lucy dan Jason. Lala, aku membawa mereka pulang. Tapi maaf, aku tidak bisa membawamu." ucap Mario.
***
__ADS_1