Side The Away

Side The Away
11


__ADS_3

Ruangan bernuansa lembut dengan aroma lavender itu adalah kamar Laura. Gino tidak tahu harus menyalahkan David atau memuji laki-laki itu telah membantunya merebut perhatian Laura. Dia duduk di ranjang empuk itu sambil mengawasi seluruh ruangan. Lemari pakaian berukuran sedang dan meja rias serta peralatan kosmetik milik Laura tersusun rapi. Dia tidak menemukan sampah berserakan di lantai, sebagai gantinya Laura meletakkan tempat sampah di sudut kamar. Dulu, Laura bukan tipe gadis yang suka membereskan kamar. Terkadang saat Gino datang berkunjung, dia mengalah dengan membantu gadis itu menyapu lantai. Kini Laura berubah menjadi perempuan mandiri dan waktu yang merubah semuanya.


Gino menghempaskan tubuhnya di ranjang, menatap langit-langit kamar itu dengan pikiran melayang. Pertanyaan tentang kekasih, Laura tidak menjawabnya dan menghindarinya dengan sengaja. Gino penasaran namun tidak bisa melakukan apa-apa melihat Laura enggan membahas hal itu. 


Ketukan di pintu kamar menyadarkan Gino dari lamunan. Dia terkejut melihat Laura memasuki kamar itu membawa sprei dan selimut. Gadis itu mengenakan gaun tidur terusan berwarna pink pucat. 


Gino bersandar pada dinding, melipat kedua tangannya di depan dada memperhatikan Laura yang sibuk mengganti sprei. Gino tidak bisa berbuat apa-apa selain memperhatikan Laura dari tempatnya berdiri. Dia bergumam dalam hati agar Laura tidak menghampirinya karena gaun tidur itu menyebabkan Gino tidak bisa berpikir jernih.


"Aku udah ganti spreinya No."


Gino tersenyum kecil untuk menutupi kegugupannya. "Makasih La, kamu nggak perlu repot-repot lagian sprei itu masih bersih." ucap Gino.


"Kamu nyindir aku?" tanya Laura memastikan.

__ADS_1


"Serius La, sprei itu masih bersih karena ada aroma kamu di sana," Gino menutup mulutnya sadar dengan apa yang diucapkannya. "Maksudnya aku nggak keberatan pakai sprei bekas kamu."


Sial, Gino justru mengatakan omong kosong. Mulutnya tidak terkontrol dan tertular kebiasaan David mengatakan sesuatu tanpa berpikir panjang. 


"Santai aja No."


Gino tersenyum kaku mungkin Laura sudah memahami ucapannya.


"Aku ada di kamar sebelah kalau kamu butuh sesuatu panggil aja. Biasanya aku tidur agak malaman." ucap Laura.


"Aku suka nonton film kalau kerjaan," Laura menahan kalimatnya.


"Kerjaan apa La?"

__ADS_1


Laura mengalihkan pembicaraan dengan membahas perempuan bernama Lucy. Sejauh itu Lucy menjadi topik pembicaraan, tidak ada tanda-tanda Laura menyinggung tentang kekasihnya. Cukup lama gadis itu berbicara dan Gino tidak menyadari Laura sudah berdiri di dekatnya. Aroma bunga lavender dan gaun tidur itu membuatnya gila. Gino tidak bisa mengendalikan diri jika Laura tetap berada di sana.


"No?"


Panggilan disertai tepukan halus di bahunya membuatnya tersadar. Gino mendorong Laura keluar dari kamar itu. 


"Aku mau tidur lebih awal, selamat malam La." 


Gino mengunci pintu kamar itu lalu terduduk di lantai, dia memejamkan matanya berusaha untuk menenangkan diri. Laura hampir saja membuatnya kehilangan kendali, beruntung Gino masih bisa menahannya.


 ***


Gino mengunci pintu kamar itu lalu terduduk di lantai, dia memejamkan matanya berusaha untuk menenangkan diri. Laura hampir saja membuatnya kehilangan kendali, beruntung Gino masih bisa menahannya.

__ADS_1


Gino mengunci pintu kamar itu lalu terduduk di lantai, dia memejamkan matanya berusaha untuk menenangkan diri. Laura hampir saja membuatnya kehilangan kendali, beruntung Gino masih bisa menahannya.


Gino mengunci pintu kamar itu lalu terduduk di lantai, dia memejamkan matanya berusaha untuk menenangkan diri. Laura hampir saja membuatnya kehilangan kendali, beruntung Gino masih bisa menahannya.


__ADS_2