
Ragu itu kembali merasuki pikiran Gino ketika harus menginjakkan kakinya di unit apartemen Laura. Dia tidak menerobos masuk seperti kejadian semalam dan memilih menunggu hingga pintu itu terbuka dan cukup lama dia menunggu, Laura tidak kunjung membukanya. Merasa gadis itu tidak berada di apartemen. Gino mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Laura. Namun, panggilan dari Ajeng mengurungkan niatnya. Dengan cepat, dia menerima panggilan itu sambil bersandar pada dinding, melihat lorong apartemen yang sepi.
“Kenapa Jeng?” tanya Gino.
“Awas kalau kamu nggak nongol di acaraku. Aku nggak mau nikahanku buyar gara-gara tante Mira panik anak semata wayangnya nggak balik. Acara sekali seumur hidup harus lancar, awas aja kamu No.”
“Yakin banget kamu bakal nikah sekali seumur hidup.” ejek Gino.
“Parah banget kamu No!”
Gino tertawa mendengar Ajeng mencak-mencak dari seberang sana. Omong kosong mengatakan perempuan jawa itu kalem dan anggun, buktinya Ajeng pengecualian. Gino heran sepupunya bisa tertarik dengan perempuan barbar seperti Ajeng. Seingatnya, sepupunya itu tipe pemilih, apalagi menyangkut pasangan seumur hidup.
Ternyata jodoh memang rahasia Tuhan.
“Tenang aja, aku bakal balik kok.” ucap Gino menenangkan, dia menggoyangkan sebelah kakinya merasa pegal karena terlalu lama berdiri. “Kita kan udah jadi keluarga.”
“Bawain oleh-oleh ya, sekalian Ferrari punya kamu juga boleh.”
Gino memutuskan sambungan itu saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Namun, sebelum itu Gino masih sempat mengolok Ajeng hingga mendengar umpatan perempuan itu dari seberang sana.
“Dasar Ajeng.” ucap Gino disertai kekehan pelan.
Gino menyimpan ponselnya ke dalam saku lalu menatap Laura yang berdiri tidak jauh darinya. Ekspresi wajah gadis itu sulit ditebak dengan sedikit emosi di sana.
“La?” panggil Gino pelan.
“Masuk dulu No.”
Gino mengekor di belakang Laura masuk ke dalam apartemen itu. Namun, kondisi apartemen yang berantakan menyebabkan Gino bertanya-tanya. Apakah Laura ingin pindah?
“Kenapa sama kardus-kardus ini La?” tanya Gino tidak bisa membendung rasa penasarannya.
Laura menggeleng. “Cuma mau beresin barang yang nggak penting."
“Aku bantu.” Gino menggulung lengan kemejanya lalu mengambil salah satu kardus dan mengangkatnya. Namun, sebuah pigura terjatuh membuatnya terkejut saat Laura dengan cepat mengambil pigura itu. “Hati-hati La, tangan kamu bisa terluka.” ucap Gino mengingatkan.
Terlambat mengingatkan saat melihat darah menetes di lantai. Gino meletakkan kembali kardus itu lalu mengambil alih pigura itu dari tangan Laura. Dia membawa gadis itu menuju sofa kemudian mengambil sapu untuk membersihkan pecahan kaca di lantai. Dengan hati-hati Gino mengambil pigura itu dan jantungnya berdesir melihat foto Mario. Laura rela terluka untuk menyelamatkan benda penting itu. Gino tersenyum pahit dan kembali meneruskan pekerjaannya menyapu lantai setelah mengeluarkan foto Mario dari bingkai yang pecah itu.
Selesai membersihkan kekacauan itu, Gino menghampiri Laura sambil membawa kotak obat. Tinggal di apartemen itu selama beberapa hari sudah cukup baginya menghapal letak kotak obat yang disimpan gadis itu. Dia meraih tangan Laura dan mulai membersihkan darah yang masih mengalir. Gino meniup luka itu saat mendengar gadis itu merintih kesakitan dengan suara pelan.
“Tahan La, bentar lagi selesai kok.” ucap Gino lalu membalut luka Laura.
“Makasih No.”
Gino mengangguk. “Sama-sama La.”
Suasana berubah hening karena keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Gino teringat dengan kejadian malam itu dan juga foto Mario yang tidak sengaja dia jatuhkan. Dengan napas berat, Gino menarik bahu Laura agar menghadapnya, dia membutuhkan penjelasan tentang kejadian itu. Namun, untuk apa?
Laura sudah mencintai orang lain.
“La, aku mau balik ke Indonesia.” ucap Gino serius.
“Oh,” sahut Laura pendek.
Gino melepaskan tangannya dari bahu Laura, merasa kecewa dengan ekspresi datar yang ditunjukkan gadis itu. Dia berharap Laura akan memeluknya dan menahannya agar tidak kembali ke Indonesia, tapi yang terjadi Laura bersikap biasa saja.
Sepertinya memang Gino yang terlalu berharap. Perasaan itu sudah seharusnya dia buang jauh-jauh.
“Kalau gitu, aku balik dulu La.” ucap Gino lalu bangkit dari duduknya.
“No,”
__ADS_1
Gino menahan langkahnya saat merasakan lengannya dicekal dengan kuat.
“Kenapa La?” tanya Gino berusaha untuk menahan diri agar tidak memeluk gadis itu.
“Jangan pergi.”
Pertahanan diri Gino runtuh saat mendengar kalimat itu, dia berbalik lalu memeluk gadis itu. Membiarkan keheningan di apartemen itu menjadi saksi tentang perasaannya yang tidak bisa dibendung lagi.
Apakah tidak boleh mencintai seseorang yang sudah memiliki kekasih?
Gino tidak peduli dan semakin erat memeluk Laura.
***
Awalnya Laura ingin membiarkan Gino pergi dan bersikap biasa saja mendengar laki-laki itu ingin kembali ke Indonesia. Dia juga mendengar jelas percakapan Gino dengan Ajeng karena sejak awal Laura berada di sana dan memperhatikan laki-laki itu berbicara sambil tertawa. Sahabatnya bisa membuat Gino bersikap riang kemungkinan besar mereka saling mencintai.
Maka, jangan salahkan Laura bersikap egois dengan meminta Gino menginap di apartemennya. Dia ingin melihat laki-laki itu seutuhnya sebelum menikah dengan orang lain. Dan dengan gilanya Laura menawarkan diri untuk tidur di kamar yang sama, untungnya Gino menolak dan kejadian itu tidak terjadi. Dia seperti perempuan jalang yang menjerat laki-laki yang dicintainya dengan cara murahan.
Menjalin hubungan selama empat tahun dengan Mario, tidak sekali pun Laura menginginkan seseorang tidur di sampingnya seperti dia menginginkan Gino.
Gila!
Ketukan di pintu kamarnya menyadarkan Laura dari lamunan. Dia membuka pintu dan melihat Gino berdiri di sana hanya mengenakan handuk yang dililit di pinggang. Laura terkejut melihat tubuh Gino yang atletis, berbeda sekali saat laki-laki itu mengenakan pakaian lengkap.
“Kenapa No?” tanya Laura setelah kesadarannya kembali.
“Aku tarik omonganku yang nggak mau tidur sama kamu.”
Eh?
Sebelum Laura menguasai rasa terkejutnya, Gino sudah menarik tangannya dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Dia menatap wajah Gino di bawah lampu kamarnya yang redup dan aroma sabun dari tubuh laki-laki itu menyebabkan Laura tidak bisa berpikir jernih. Mungkin terbawa suasana, perlahan bibir Gino mendarat di bibirnya. Laura tidak menolak ciuman itu dan membiarkan Gino terus menciumnya, kali ini ciuman lembut itu berubah agresif disertai sentuhan ringan di kepalanya.
“Maaf La,”
Laura mengangguk lalu memeluk Gino, dia tidak ingin melakukan sesuatu yang lebih selain berciuman. Meskipun Gino seseorang yang dicintainya. Prinsip itu tidak boleh hilang hanya karena perasaannya.
“Kenapa kamu balik ke Indonesia?” tanya Laura mencoba mencari kebenaran dari design undangan itu.
“Aku udah pernah cerita, kamu lupa?”
“Selain itu.”
“Buat acara nikahan.” ucap Gino.
Laura tidak bertanya lagi dan membiarkan Gino terus memeluknya, tidak apa-apa jika laki-laki itu akan menikah dengan Ajeng. Dia sudah cukup bahagia bersama Gino saat ini.
“No, kamu jadi ngajak aku ke Observatorium?” tanya Laura teringat dengan ajakan itu.
“Musim dingin salju turun tiap hari, perkiraan cuaca makin buruk dan akan ada badai di beberapa negara bagian. Mungkin ditunda sampai salju berhenti. Maaf, La belum bisa ajak kamu kesana.”
“Oh, mungkin lain kali.” ucap Laura kecewa.
"Tapi ini janjiku sama kamu, kalau pun nggak di New York, aku tetap bakal ngajak kamu lihat bintang. Tenang aja La, aku bukan orang yang suka ingkar janji."
Laura mengangguk. "Kalau gitu, apa kamu nggak balik lagi ke New York?" tanya Laura.
"Masalah itu aku belum yakin, tapi aku udah buat planning. Semoga Allah mengizinkan."
Nada bicara Gino menyiratkan tentang masa depan yang diimpikan sejak lama dan Laura tidak rela jika Ajeng pilihan Gino. Dia semakin erat memeluk Gino agar laki-laki itu mengerti tentang perasaannya.
"La, aku mau buat perumpamaan."
__ADS_1
"Apa No?" tanya Laura.
"Kalau suatu hari kita nggak jodoh, apa kamu masih berhubungan sama aku?"
Laura menggeleng. "Nggak tahu No, jangan buat perumpamaan yang aku sendiri nggak tahu jawabannya."
"La, aku cinta sama kamu, tapi malam ini aku mau buang perasaan itu. Jangan tanya alasannya, aku udah paham sama situasinya. Aku harap setelah ini, kamu hidup bahagia karena aku bahagia lihat kamu bahagia."
"Terserah kamu No," ucap Laura putus asa, sudah cukup mendengar penjelasan itu dan mengenai perasaannya mungkin sudah seharusnya dia lupakan.
***
Tangan Gino terasa pegal karena semalaman Laura tidur dalam pelukannya. Dia mengusap wajah Laura yang terlelap di sampingnya, dalam kondisi tidur gadis itu terlihat jauh lebih tenang. Berbeda dari Laura yang Gino lihat selama ini. Dia mencium kening Laura sekilas lalu kembali memeluk gadis itu merasakan kebersamaan mereka yang mungkin saja tidak bisa Gino dapatkan.
Bunyi ponsel menyebabkan Laura terbangun dan Gino terpaksa beranjak dari ranjang untuk mengambil benda itu. Tidak perlu bertanya siapa yang menghubunginya, Gino sudah mengerti ketika Laura menyebut nama Mario dengan suara lirih. Tidak ingin merusak suasana, Gino memilih keluar dari kamar menuju dapur. Menyiapkan sarapan sederhana berupa roti tawar dan selai blueberry. Dia tidak memasak omelette seperti terakhir kalinya datang ke apartemen itu. Kemampuan memasak yang sangat buruk, Gino khawatir berakibat pada gangguan pencernaan.
Tidak membutuhkan waktu lama, sarapan itu sudah diletakkan di atas meja, sementara Gino menunggu hingga Laura keluar dari kamar. Namun, gadis itu tidak kunjung menemuinya menyebabkan Gino khawatir. Tanpa mengetuk pintu, dia membuka kamar itu dan terkejut melihat Laura hanya mengenakan pakaian dalam dan nyaris terlepas dari tubuh gadis itu.
"Keluar No!" teriak Laura keras.
Gino menutup pintu itu dengan kasar, pikirannya tertuju pada pemandangan tadi. Dia menatap tubuhnya dan sialnya hanya mengenakan handuk. Semalaman Gino tidak berpakaian dan tidur dalam ruangan yang sama dengan Laura.
Sial.
Merasa otaknya tidak bisa berpikir jernih, Gino segera mengambil pakaiannya lalu menuju kamar mandi. Dia perlu menenangkan diri. Mandi air dingin di musim dingin hampir membunuhnya dan Gino terpaksa melakukannya agar bayangan itu memudar.
Setengah jam kemudian Gino menghampiri Laura di dapur. Berulangkali dia bersin karena air dingin itu membuatnya terserang flu. Kepalanya terasa berdenyut menyebabkan langkahnya tidak stabil dan hampir terjatuh jika Laura tidak menahannya.
"Hati-hati No." ucap Laura mengingatkan.
"Aku pusing La."
Laura menyentuh dahi Gino. "Kamu demam, aku nggak punya obat penurun panas. Sebaiknya kamu ke dokter No."
"Aku nggak mau ke dokter." tolak Gino cepat.
"Aku keluar cari obat, kamu istirahat dulu No."
Melihat raut wajah Laura yang cemas, Gino mengucapkan terimakasih pada virus yang menyerangnya itu. Jika tubuhnya sehat, Laura tidak mungkin bersikap seperti itu. Ternyata penyakit yang dibencinya itu membawa keberuntungan tersendiri.
"La, aku nggak mau obat." Gino menyentuh pundak gadis itu. "Aku maunya kamu." ucap Gino serius.
"Jangan bercanda No, aku keluar sebentar."
"La, apa kamu cinta sama Mario?" tanya Gino memastikan, rasa pusing di kepalanya menyebabkan ingatan malam itu melintas di benaknya.
Seperti biasa Laura tidak menjawab pertanyaan itu. Rahasia tentang Mario ditutup rapat dan tidak boleh membiarkan orang luar mengetahuinya meskipun Gino ingin mendengar jawaban Laura.
"Masalah ini nggak ada hubungannya sama kamu No."
Ucapan itu menyebabkan Gino terpaku, tidak seharusnya menanyakan hal itu. Dia melepaskan tangannya dari pundak Laura dan melangkah meninggalkan tempat itu. Mungkin keputusan melepaskan perasaannya pada Laura adalah pilihan yang benar.
Salah siapa menyukai seseorang yang menyukai orang lain?
Dulu Laura memang menyukainya, tapi dulu sebelum gadis itu bertemu dengan Mario.
Sekarang, tidak ada tempat untuk Argino Mahendra menetap di hati Laura. Dia hanya persinggahan sebelum akhirnya gadis itu menemukan tempat ternyaman untuk menetap.
Namun, Gino masih tetap tidak rela melepaskan Laura.
***
__ADS_1