
Kafe menjadi pilihan Laura untuk membicarakan masalah itu, dia duduk di samping Mika sementara Mario hanya berdiri di sisi meja. Terlihat enggan berada di dekat Mika, tatapan itu Laura bisa melihatnya dengan jelas.
Kebencian yang mengakar kuat.
Laura berdehem untuk mengambil perhatian mereka dan tindakan itu menyebabkan keduanya menatapnya serius.
"Apa kalian sudah menikah?" tanya Laura memastikan dengan nada bicara yang dibuat setenang mungkin.
"Tidak!" ucap Mario tegas.
"Kami sudah bertunangan dan menurut para tetua, kami sudah menikah hanya belum diresmikan secara hukum." ucap Mika.
"Sesama perempuan aku memahami perasaan Mika, aku tanya satu hal padamu Mario," Laura menatap laki-laki itu sepenuhnya. "Apa kau tidak peduli dengan perasaannya?" tanya Laura.
"Dia sendiri yang membuatku kehilangan rasa peduli, duniaku hancur karena perempuan ini."
"Lalu apakah duniamu sempurna saat bersamaku dan menjadikan aku orang ketiga dalam hubungan kalian?" tanya Laura memojokkan.
"Laura, aku mengerti kau terganggu dengan ucapan Jean, tapi Mario melakukannya karena dia sangat mencintaimu. Tidak ada gunanya membicarakan hal ini, sampai kapanpun Mario membenciku dan aku semakin terluka melihatnya bersikap seperti ini. Kita akhiri saja pembicaraan ini sebelum aku kehilangan kendali karena kepergian Jason menyebabkan emosiku tidak stabil. Sejak kecil aku diajarkan untuk bersikap tenang, tapi kehilangan Jason aku lupa dengan prinsip itu. Laura, terimakasih sudah membantuku untuk berdamai dengan Mario. Namun aku tidak membutuhkan hal ini lagi, aku sudah merelakannya. Semoga pernikahan kalian lancar dan Jason sudah menyelesaikan design gaun pernikahan kalian. Laura, kau orang yang baik dan memang pantas bersanding dengan Mario, masalah Jean biar aku saja yang mengurusnya kau bisa menjalani hidupmu dengan tenang."
Mika meninggalkan tempat itu dengan seulas senyum dipaksakan, Laura hanya melihat kepergian Mika dari balik kaca bening yang mengarah pada jalanan.
"Mika orang yang baik." gumam Laura pelan.
"Kau lebih baik darinya."
Laura tersenyum getir lalu menatap Mario yang juga tersenyum getir, ada banyak luka dalam senyuman mereka. Namun dia terpaksa menyimpan luka itu untuk menghormati Jason di hari kepergian laki-laki itu.
"Sekarang kita berdua tidak memiliki rahasia lagi." ucap Laura.
"Aku lebih bahagia dengan keadaan kita saling menyimpan rahasia, karena saat itu aku bisa memilikimu tanpa rasa khawatir seseorang akan merebutnya. Namun hari ini aku harus melihat kenyataan, Gino seseorang yang selama ini kau rindukan. Laura, kita sudah dewasa, tapi belum cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah. Termasuk mengungkapkan perasaan kita yang sebenarnya, saat itu aku tidak memahamimu dengan baik dan kali ini aku akan mencobanya. Kau bisa bersama dengan seseorang yang kau cintai, aku rela melepasmu karena aku tahu, kau tidak pernah mencintaiku."
Mereka saling menyakiti dengan cara masing-masing, dan berusaha tegar meskipun luka itu semakin terasa.
"Gino akan menikah dengan orang lain." ucap Laura.
"Jadi, apakah kita saling menyakiti?" tanya Mario diiringi tawa palsu, terdengar dipaksakan.
"Mario, kau pernah menjadi orang terpenting di hidupku dan aku belum membalas kebaikanmu. Aku tidak ingin berhutang dan akan membalasnya dengan cara berada di sampingmu hingga lenganmu pulih." ucap Laura.
Mario menggeleng. "Dengan cara itu, aku semakin terluka dan tidak rela melepasmu. Mari kita akhiri lalu menjadi dua orang asing yang tidak saling mengenal. Terimakasih sudah hadir di hidupku dan menjadikan hari-hariku berwarna setelah kepergian ayahku. Selain Gino, kau pasti menemukan orang yang tepat. Anggap saja jodohmu sedang berada di tempat lain dan kau hanya perlu menunggunya datang."
Ucapan Mario menyiratkan kekecewaan yang mendalam, Laura menghargai keputusan itu jika menurut Mario adalah cara terbaik untuk melupakan.
"Dan simpan gaun pengantin itu, Jason menghabiskan banyak waktu untuk membuat design-nya. Kau bisa memakainya saat hari pernikahnmu, entah bersama siapa pun itu. Aku berharap kau menemukan laki-laki yang baik dan tidak akan melakukan kekerasan sepertiku dan ayahmu. Maaf, sudah melukaimu dan kau pantas membenciku." Mario bangkit dari duduknya lalu tersenyum getir, memantapkan hatinya untuk segera berlalu dari tempat itu. "Jangan pernah terluka lagi atau kau akan kehilangan seseorang yang sangat mencintaimu seperti Lucy." ucap Mario kemudian meninggalkan tempat itu.
Perpisahan itu jauh lebih menyakitkan daripada Laura mengalami kesulitan ketika pertama kali datang ke New York.
Akhirnya dia dan Mario mengambil jalan berbeda menuju kebahagiaan masing-masing meskipun saling menyakiti karena tidak mendapatkan kebahagiaan itu.
Memang dunia yang penuh kepalsuan.
***
Barang-barang milik Mario telah diambil oleh sekelompok orang berjas hitam hingga tidak ada satu pun tersisa. Laura merasakan keheningan di apartemennya dalam diam, mengingat banyak kenangan yang dilewatinya bersama Mario dan kenyataan mereka pernah tinggal satu atap selama empat tahun. Awalnya dia mengira keputusan Mario di kafe itu tidak akan mempengaruhi hidupnya dan menjalani hari-harinya seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang berbeda setelah Mario memutuskan untuk berpisah. Laura terbiasa dengan kehadiran laki-laki itu, baik pagi hari ataupun malam hari menjelang tidur. Meskipun mereka disibukkan dengan pekerjaan masing-masing, perbedaan itu bukan masalah dalam hubungan mereka. Sebelum Laura tahu tentang Mika, Mario selalu bersikap lembut dan tidak ingin melihatnya menangis. Memeluknya lalu memberikan kalimat penenang sehingga Laura merasa lebih baik.
Kini, dia telah kehilangan orang itu.
Seminggu setelah pertemuan terakhir mereka di kafe itu, Laura kehilangan orang-orang yang dulu memperhatikannya, Lucy yang larut dalam kesedihan pasca kehilangan Jason dan Mario yang menganggapnya sebagai orang asing. Lalu Jason yang sudah tenang di alamnya.
Harapan Laura tersisa pada Gino, tapi setelah pemakaman itu, Gino tidak menghubunginya dan David tidak memberi kabar apa pun tentang pernikahan itu. Kini, Laura mengerti dengan artinya penyesalan datang terlambat.
Ponselnya berbunyi dan sebuah nomor asing menghubunginya. Panggilan yang berasal dari luar negeri, Laura mengaitkan hal itu dengan Ajeng atau Rahma. Dengan ragu dia menempelkan ponselnya di telinga, menunggu hingga seseorang dari seberang sana mengeluarkan suara.
"La, ini aku Ajeng."
Ternyata benar, Laura hanya menanggapi ucapan itu dengan senyuman meskipun Ajeng tidak bisa melihatnya.
"Tahun depan aku nikah, kamu pulang harus ke Jogja. La, aku kangen banget sama kamu, udah lama kita nggak ketemu. Terakhir ketemu pas ngantar kamu ke bandara habis itu kita lost contact."
Laura hanya menanggapi ucapan itu tanpa berkomentar mengenai Ajeng yang antusias dengan pernikahannya. Dia menjadi pendengar yang baik tentang calon suami idaman dan tipe ideal Ajeng sejak duduk di bangku sekolah. Laura bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya tentang calon suami sahabatnya itu.
"Namanya siapa sih?" tanya Laura setelah mendapatkan kesempatan untuk bertanya.
"Rahasia, makanya kamu balik ke Jogja biar nggak penasaran."
__ADS_1
Tebakan Laura hampir mendekati Gino calon suami Ajeng, undangan itu ternyata memang benar sahabatnya akan menikah dengan Gino.
"Aku lagi di rumah tante Mira sekalian mampir habis belanja dari Malioboro, kamu mau ngomong nggak?"
Tante Mira adalah ibu dari Gino dan Ajeng berada di sana, artinya hubungan mereka sangat dekat. Laura tidak bisa menyembunyikan perasaannya dan menolak berbicara dengan orangtua Gino. Lalu mematikan ponselnya agar tidak ada orang lain yang menghubunginya.
Pukul dua belas siang, perutnya terasa lapar dan Laura tidak bisa memasak. Seminggu ini dia memesan pizza dan makanan cepat saji lainnya karena enggan untuk bepergian keluar mencari makanan lain. Laura ingin sekali menyantap sup ayam di cuaca dingin itu, tapi dia tidak bisa memasak selain membuat burger.
Terpaksa memesan pizza daripada membiarkan perutnya terus berbunyi. Tidak lama kemudian pizza pesanannya sudah tiba, Laura menatap makanan itu tanpa selera, lidahnya bosan merasakan makanan itu. Namun untuk menyantap makanan lain selain pizza membosankan itu, Laura tidak bisa merasakannya karena Mario tidak akan menyiapkan sup ayam kesukaannya.
Seperti dulu.
***
"Bagaimana keadaan Lucy?"
Gino melempar jasnya ke sofa dengan kasar, dia tidak menanggapi pertanyaan David karena pikirannya tertuju pada Laura. Seminggu yang lalu setelah pemakaman, gadis itu menolak pulang bersama dan memilih bersama Mario, menyebabkan Gino mengerti akan satu hal. Laura sungguh tidak ingin berpisah dengan Mario dan perasaan gadis itu bukan miliknya lagi. Meskipun tahu kebenarannya, Gino tetap tidak senang dengan membiarkan Laura bersama orang lain.
Sial.
"Gino, apakah Lucy baik-baik saja?" tanya David belum menyerah.
"Lihat saja sendiri, aku bukan bodyguard ibunya!" ucap Gino kesal.
"Emosimu ini tidak seperti orang yang sedang berkabung, aku keluar sebentar melihat Lucy."
David tampak kesal dan Gino tidak pernah melihat ekspresi laki-laki itu sebelumnya, kehilangan Jason tidak ada hubungannya dengan David selain peduli pada Lucy. Kebodohan seseorang memang sudah sampai pada level terendah!
Seminggu ini Gino sengaja tidak menghubungi Laura agar gadis itu mencarinya. Namun, yang terjadi Laura justru tidak mengabarinya atau datang ke apartemen. Gino tidak peduli dengan apartemen yang kotor dan berantakan, dia hanya peduli pada perasaan Laura. Setelah kepergian Jason, meskipun hubungan mereka tidak terlalu dekat karena kebetulan saling terikat melalui Lucy, tapi Gino paham dengan kepribadian Laura jika menyangkut tentang orang lain. Terlebih seseorang yang pernah berjasa dalam hidup gadis itu.
Beruntung perhatiannya teralihkan dengan kasus yang sedang ditanganinya sehingga Gino tidak larut dengan perasaannya. Namun setelah kembali ke apartemen, bayangan Laura justru semakin jelas seolah gadis itu berada di sana, sedang membersihkan apartemennya, atau berada di ruang baca melihat koleksi buku-bukunya.
Emosi Gino semakin tidak terkendali dan memutuskan untuk bertemu Laura. Dia kembali menaiki angkutan umum menuju apartemen gadis itu, musim dingin keengganan membawa mobil semakin meningkat. Sehingga Gino memilih menaiki angkutan umum dan berjalan kaki menuju apartemen Laura.
Tiba di depan pintu unit apartemen Laura, Gino tidak langsung menekan bel justru berdiri di sana dalam diam. Menimbang-nimbang keputusan bertemu Laura dan melihat gadis itu bersama Mario. Kerinduan memuncak terpaksa Gino kesampingkan daripada melihat Laura bersama orang lain berada di ruangan yang sama. Dengan langkah berat, Gino menjauh dari unit apartemen Laura. Akibat langkahnya yang tergesa-gesa, Gino tidak sengaja menabrak seseorang dan menyebabkan orang itu terjatuh sehingga barang-barang bawaan orang itu berceceran di lantai. Gino terlambat menyadari kejadian itu dan hanya mematung dalam diam. Membiarkan orang itu memunguti bahan sayuran dengan umpatan lirih, tapi Gino masih mendengar dengan jelas suara itu.
"Lala?" ucap Gino tidak percaya.
Laura mendongak. "No, kamu jalan nggak pakai mata ya?"
"Kamu kenapa La?" tanya Gino penasaran.
"Daripada nanya terus, kenapa kamu nggak bantu aku beresin sayuran ini?"
Gino kembali pada kesadarannya lalu memunguti sayuran yang sudah menggelinding entah kemana di lorong apartemen itu. Dia mengerutkan kening heran, Laura tidak mungkin memakan semua sayuran itu kecuali ada seseorang yang menunggunya pulang. Tiba-tiba Gino mengerti dengan situasi itu dan mempercepat memunguti sayuran di lantai lalu memasukannya ke dalam kantong belanjaan.
"Aku balik dulu La." ucap Gino.
"Bukannya kamu mau ke apartemenku?" tanya Laura heran.
Gino mengusap lehernya salah tingkah. "Aku nggak mau ganggu waktu kalian."
Hening.
Gino tidak ingin terjebak dalam keheningan itu, dia menepuk bahu Laura sekilas lalu melangkahkan kakinya menuju lift. Membiarkan gadis itu tetap berada di sana hingga lift itu membawanya turun ke lantai bawah.
Setelah berada di dalam angkutan umum, Gino baru menyadari jika ponselnya tidak berada di saku celananya. Dia teringat dengan kejadian di lorong apartemen tadi, mungkin saat mengambil sayuran tidak sengaja ponsel itu terjatuh di sana. Karena seingatnya Gino tidak meninggalkan ponselnya di apartemen, benda penting seperti ponsel tidak boleh ditinggalkan begitu saja.
Gino kembali ke apartemen Laura lalu menekan bel, menguatkan perasaannya jika Mario yang membuka pintu itu. Dan, Gino bernapas lega saat Laura yang menyambutnya dengan raut wajah heran.
"Kenapa balik lagi No?" tanya Laura.
"Kamu lihat ponselku?" Gino balas bertanya.
Laura menggeleng. "Nggak."
"Si jablay itu pasti ngamuk kalau aku nggak angkat panggilannya." ucap Gino lirih.
"Kamu bilang apa No?"
"Bukan apa-apa," geleng Gino cepat, dia melihat dari balik bahu Laura seperti ada orang lain di dalam sana. Tidak salah, gadis itu sedang bersama Mario, menyadari hal itu Gino menyembunyikan perasaannya dengan memasang senyum dipaksakan. "Kalau gitu aku balik dulu La, enjoy your time." ucap Gino cepat.
"No, kamu nggak sekalian mampir?"
Gino menggeleng dan melangkahkan kakinya secepat mungkin meninggalkan apartemen itu. Ponsel sialan itu menjadi tidak penting setelah melihat Laura bersama Mario.
__ADS_1
***
Laura menutup pintu apartemennya dan kembali menemui David di dapur. Laki-laki itu datang setelah mengetahui Lucy berada di apartemennya dan menawarkan diri untuk memasak.
"Si mesum itu sudah pulang?" tanya David.
Laura mengangguk lalu menyerahkan ponsel milik Gino pada David, dia tidak ingin melihat benda itu menampilkan nama Ajeng.
"Kau teman yang merepotkan." ucap Laura lalu meletakkan barang belanjaannya di atas meja.
"Dia memang harus diberi pelajaran, aku ingin melihat ekspresinya saat melihatmu bersama orang lain. Gino yang bodoh itu tidak pernah memahami situasi, kebodohan dibalik nama besarnya, Argino Mahendra, pengacara berbakat dari law firm terkenal di New York. Ternyata jenis orang idiot yang tidak peka terhadap lingkungan sekitar."
Laura tersenyum kecil, tidak tahu bagaimana menanggapi ucapan David dengan ekspresi laki-laki itu yang menyimpan dendam. Sahabat yang sering bertengkar, Laura bisa melihatnya dari hubungan persahabatan Gino dan David, bukan hanya tentang perbedaan musik, tapi cara berpikir yang bertolak belakang. Namun bukan itu yang Laura pikirkan sekarang, tapi Lucy yang datang ke apartemennya dengan tangisan menyayat hati. Perempuan itu langsung masuk ke kamar Mario begitu tiba dan belum keluar hingga akhirnya Laura menghubungi David. Meminta laki-laki itu membujuk Lucy dan usahanya juga tidak membuahkan hasil, Lucy masih bertapa di dalam sana dan menganggap bujukan mereka hanya angin lewat.
"Biarkan Lucy sendiri." ucap Laura pada David, dia sudah lelah menghadapi Lucy yang tidak tergoyahkan itu.
"Aku mengerti dengan perasaan Lucy," ucap David lirih.
"Sudahlah, aku tidak ingin menghabiskan waktuku untuk hal ini." Laura menyerahkan kantong belanjaannya pada David. "Masak sesuatu yang enak dimakan, kau bisa memasak sup kan?" tanya Laura memastikan.
"Hahaha, tentu saja tidak bisa."
Laura meredam kekesalannya dengan mengikuti permintaan David berbelanja sayuran dan mendengar laki-laki itu tidak bisa memasak. Dia mengambil pisau daging lalu mendekatkan pisau itu pada wajah David dan memasang senyum penuh ancaman telah membuatnya kerepotan di musim dingin itu.
"Masak sekarang atau kau mati!" ucap Laura yang sukses membuat David mengeluarkan sayuran itu dari tempatnya.
Bunyi pintu terbuka mengalihkan perhatian Laura dari keinginan membunuh David, dia terkejut melihat kehadiran Mario dengan pakaian yang dipenuhi salju. Laki-laki itu terkejut melihat David di dapur dan posisi Laura berdiri cukup dekat dengan David seolah mereka hendak berpelukan.
"Maaf, aku mengganggu waktu kalian." ucap Mario, dia mengalihkan tatapannya pada kamarnya. "Apa Lucy di sini?" tanyanya.
"Jangan mengganggu Lucy!" ucap David keras.
Laura mencegah David menodongkan pisau daging itu pada Mario, dia bahkan tidak sadar sejak kapan David merebut pisau itu dari tangannya. Suasana diantara mereka layaknya medan perang dengan David yang siap melempar pisau itu ke arah Mario.
"Lucy adikku, aku tidak tahu jika orang asing memiliki hak melarang kakak kandungnya melihat adiknya sendiri." ucap Mario tenang tidak terpengaruh provokasi David.
"Lucy ada di kamar, dia datang sambil menangis dan tidak membiarkan kami melihatnya." ucap Laura.
"Lala, tolong jaga Lucy selama beberapa hari ini, ibu hampir membunuhnya jika aku tidak datang tepat waktu. Jangan tanyakan apa pun tentang Jason, dia sangat kacau setelah kepergiannya, aku tidak bisa membujuknya dan percaya kau bisa melakukannya. Aku permisi, maaf sudah mengganggu waktu kalian."
"Mario tunggu!" cegah Laura hampir menjatuhkan pisau daging dari tangan David.
"Lala, ada apa?"
"Jangan pergi."
"Kenapa aku tidak boleh pergi?" tanya Mario dengan kening berkerut.
"Aku merindukanmu."
Pisau daging itu sukses mendarat di lantai dan David yang berteriak kesakitan karena kakinya terkena goresan pisau.
"Maaf, aku lupa kau masih di sini." ucap Laura menyesal, dia memasang perban di kaki David dengan tangan gemetar.
"Lala, biar aku saja." Mario mengambil alih pekerjaan Laura membalut luka David.
"Aku tidak menyangka ternyata hubungan kalian sangat kuat dan menganggapku seperti makhluk invisible. Luka yang tidak seberapa ini tidak akan membuatku mati, tapi terimakasih kalian peduli padaku." ucap David terharu dan hampir meneteskan air mata.
"Brengsek, jangan menangis di sini!"
Lucy muncul dengan wajah merah padam, hampir menelan mereka semua yang ada di ruangan itu.
"Lucy kenapa?" tanya David setengah berbisik.
"Jangan ganggu Lucy." ucap Laura lirih.
"Lukamu sudah selesai dibalut, biar aku tangani Lucy, aku sudah paham dengan karakternya. Lala, aku bawa Lucy keluar sebentar."
Setelah kepergian Mario dan Lucy, hanya ada mereka berdua di apartemen itu. Laura membereskan kekacauan yang dilakukan David dan merasakan laki-laki itu sedang memperhatikannya.
"Laura, apa kau setuju jika aku bersama Lucy?"
Laura berpura-pura tidak mendengar pertanyaan itu, belum lama kepergian Jason rasanya aneh jika Lucy bersama orang lain dalam waktu dekat.
***
__ADS_1