Side The Away

Side The Away
19


__ADS_3

Sejak Laura memutuskan tinggal di apartemennya, Gino sedikit merubah kebiasaannya. Dulu sebelum Laura berada di sana, dia terbiasa bangun pagi-pagi buta hanya mengenakan celana pendek tanpa pakaian. Lalu melakukan senam ringan sebelum akhirnya berangkat bekerja. Namun setelah kehadiran Laura, Gino tidak lagi melakukan kebiasaan itu. Dan orang yang paling bersyukur melihat perubahan itu adalah David. Laki-laki itu terus menatapnya ketika Gino keluar dari kamarnya memakai pakaian lengkap dengan aroma parfum menguar dari tubuhnya.


"Lihat raut wajah mesum dan bahagia itu." ucap David begitu Gino menginjakkan kakinya di dapur.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Gino curiga laki-laki itu membuat kekacauan di dapurnya. "Apa kau memasak bubur hangus lagi?"


"Apa kau tidak melihat kepiting sebesar itu?" tanya David kesal.


"Tidak biasanya kau memasak kepiting, apa karena Laura?" tanya Gino memastikan keanehan itu.


"Gadismu ingin makan seafood, kau justru mengabaikannya."


Selain bermulut kotor terkadang David bisa diandalkan pada saat-saat tertentu. Gino meninggalkan dapur lalu mengetuk pintu kamar Laura, gadis itu tidak meninggalkan kamar sejak insiden kemarin. Dia tidak memaksa Laura untuk melupakan kejadian itu, namun David yang lebih memahami gadis itu membuatnya cemburu. Tentang keinginan Laura menyantap hidangan laut itu, Gino bahkan tidak mengetahuinya.


Pintu kamar itu terbuka, menampilkan wajah Laura yang sembab. Kesedihan itu menyayat hatinya namun Gino tidak memiliki keberanian untuk menghilangkan kesedihan gadis itu.

__ADS_1


"La, kamu mau makan seafood?" tanya Gino memastikan.


Laura mengangguk sebagai jawaban.


"Aku ragu sama masakan David, kalau kamu nggak keberatan. Kita bisa makan di restoran langgananku, makanannya enak dan udah pasti halal." ucap Gino canggung melihat Laura tidak bereaksi dengan ajakannya.


"Di mana?" tanya Laura.


"Nggak jauh dari sini kok."


Selama perjalanan menuju restoran, Laura tidak bersuara dan Gino merasa keheningan itu membuatnya bersimpati pada gadis itu. Namun sesuatu yang saat ini mengganggunya bukan keheningan itu. Tetapi cincin yang masih berada di jari manis Laura, ternyata gadis itu tidak melepaskan benda itu. Apakah artinya Laura belum merelakan hubungan itu?


Laura, gadis yang dicintainya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kini berubah menjadi gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun dan tidak berada dalam jangkauannya.


Gino mulai melantur hingga melewati tujuannya, dia terpaksa berbalik arah menuju restoran itu.

__ADS_1


"No, apa hubungan kamu sama Mika?"


Gino menatap Laura sekilas lalu kembali melihat keramaian di depannya. Dia kesulitan mengemudi di jalanan licin yang dipenuhi salju.


"Kenapa kamu tanya soal itu?" Gino balas bertanya.


"Sejak awal kamu pasti tahu hubungan Mario dan Mika, kenapa kamu sembunyikan hal ini No?"


Beruntung mobil itu sudah berada di parkiran restoran sehingga Gino tidak menginjak rem secara mendadak. Pertanyaan itu membuatnya merasa bersalah, tidak seharusnya Gino menyimpan rahasia itu. Dan berimbas pada kekecewaan Laura.


"Maaf La," ucap Gino tidak berani bersinggungan dengan mata gadis itu.


"Aku kira kamu bakal berubah ternyata kamu masih orang yang sama. No, apa nggak cukup kamu buat aku kecewa dan terluka?"


"Maaf."

__ADS_1


"Kalau dari awal kamu ngasih tahu perempuan itu adalah Mika, mungkin aku bisa ngerti alasan Mario bersikap aneh. Sekarang aku nggak bisa ngelakuin apa-apa selain terjebak sama hubungan ini. No, kenapa kamu bantu Mika simpan rahasia ini? Apa karena kamu jatuh cinta sama dia?" tanya Laura beruntun.


***


__ADS_2