
Lucy memang gila. Menjelang petang datang ke apartemennya dengan omelan panjang. Semenjak menikah, Lucy selalu merepotkan Laura. Meskipun mengurus Jessica merupakan keinginannya, tapi berbeda kalau Lucy mulai berceloteh tanpa henti. Entah kerasukan setan apa, Lucy terus menyebut nama Gino sejak Laura membuka pintu apartemennya.
Satu jam berlalu tidak ada tanda-tanda Lucy mengakhiri percakapan. Laura menyumpal kedua telinganya dengan headset lalu memutar sebuah lagu.
Akhir-akhir ini Laura suka sekali mendengarkan lagu Jepang. Meski, tidak tahu artinya, dia tetap mendengarnya.
Hingga Lucy menarik headset dari telinganya. Kesenangan Laura pun berakhir.
"Gino kembali ke New York."
"Bukan urusanku." ucapnya singkat.
"Dia meminta David melakukan sesuatu, semoga bukan rencana gila."
Laura menggeleng. "Aku tidak tertarik."
"Mulut dan hati berbeda, kau masih mencintainya, benar kan?" tanya Lucy.
"Aku lelah mendengar omong kosong ini." Laura melangkah menuju dapur. Dia menyeduh dua cangkir kopi dan membawanya kembali ke ruang tamu. "Minumlah supaya otakmu kembali normal."
"Aku tidak gila!" sangkal Lucy.
__ADS_1
Laura mengangguk. "Tidak gila jika orang buta yang melihatnya."
"Aku tahu kau masih mencintainya."
Laura menyesap kopinya. Dia tidak sedang menyimpan rahasia, tapi enggan menjelaskan lebih detail. Lucy dan David berpikir bayangan Gino masih melekat di benaknya. Sayangnya, pemikiran mereka salah besar.
"Mario kembali ke Aussie," Lucy meraih cangkir kopi. "Dia akan bercerai."
Kabar itu lebih mengejutkan ketimbang mendengar Gino kembali ke New York.
Kenapa laki-laki suka sekali bercerai?
***
Laura mempercepat langkahnya saat mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Setelah insiden penembakan, Laura tidak ingin mengalami hal menakutkan. Dengan tangan gemetar, dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Lucy. Meminta perempuan itu menjemputnya di lobi. Beruntung, Lucy menginap di apartemennya sehingga Laura bisa menghilangkan sedikit ketakutannya.
Sosok Lucy terlihat dari kejauhan. Laura bernapas lega lalu menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun di sana. Tidak mungkin langkah kaki yang mengikutinya bagian dari halusinasinya.
"Tubuhmu memang kurus, tapi tidak baik tengah malam menyantap makanan instan. Kau bisa mati sebelum menikah!"
Omelan panjang Lucy mengiringi langkah Laura melewati lorong apartemen. Hingga berada di dapur, Laura belum bisa melupakan kejadian tadi.
__ADS_1
"Ada apa denganmu?" Lucy memeriksa wajah Laura yang pucat. "Kau tidak mungkin melihat hantu."
"Seseorang mengikutiku."
"Ya Tuhan, aku harus menghubungi polisi!" Lucy hampir menekan tombol hijau siap melakukan panggilan. Namun, Laura dengan cepat merebut ponsel itu. "Kenapa?" tanyanya.
Laura menggeleng. "Aku tidak yakin, tapi aku sempat melihatnya berjalan di belakangku. Memakai sepatu boots dan jelas orang itu laki-laki dewasa."
"Apa maksudmu laki-laki dewasa?" Lucy memicingkan mata. "Apa kau berharap anak ingusan itu pelakunya?"
"Russell berada di Queen's."
"Aku hubungi David sekarang."
Jika seseorang menguntitnya, Laura tidak cemas saat David datang ke apartemennya. Dan, sosok di belakang David membuatnya terpaku.
Bukankah orang yang bersama David adalah penguntit?
Jantung Laura hampir meledak saat penutup wajah orang itu dibuka.
"Gino?!"
__ADS_1
***