
Bagi yang mampir tinggalkan jejak ya karena dukungan dari kalian sangat berarti.
happy reading~
***
Seminggu berada di Queen's seolah berada di penjara. Jean melarangnya bepergian. Lucy juga bersekongkol dengan Mario sehingga Laura terpaksa berdiam diri di rumah dengan pelayan melayaninya. Dia bukan nyonya besar, tapi pelayan-pelayan itu menganggapnya sebagai tamu spesial. Jean yang dulunya bermulut pedas berubah begitu lembut dan Laura lebih menyukai perempuan itu menghinanya.
Suara ribut menarik perhatian Laura. Di halaman Jessica menangis keras sementara para pelayan tidak berhasil membujuk anak itu. Laura menghampiri Jessica lalu menggendongnya.
"Bibi akan membawamu keluar." ucap Laura.
Di temani pelayan pribadi Jessica, Laura memasuki sebuah kafe tidak jauh dari kediaman Jean. Untungnya, Jean tidak ada di rumah sehingga Laura bisa bebas keluar tanpa larangan.
"Ibumu memang gila." Laura mengusap pipi Jessica yang belepotan terkena kue. "Dia pergi sesuka hatinya tanpa mengurusmu."
Pelayan yang berdiri di belakang Jessica berdehem mengingatkan Laura untuk tidak berbicara buruk di belakang Lucy. Namun, Laura tidak terpengaruh dan meminta pelayan itu menunggu di mobil karena tidak nyaman bepergian di temani oleh seorang pelayan. Suasana berubah santai setelah pelayan itu meninggalkan kafe. Jessica meminta tambahan kue, kelihatannya anak itu menyukai makanan manis. Jika Lucy melihat Jessica menghabiskan dua potong kue sekaligus, perempuan itu akan membunuhnya.
"Jangan takut, ibumu tidak tahu." ucap Laura pelan, dia menyuapi Jessica agar tidak belepotan. "Selama bibi di sini, ibumu tidak bisa berbuat apa-apa."
Mendengar ucapannya, Jessica semakin lahap menghabiskan kue. Laura melarang anak itu menambah sepotong kue lagi. Makanan manis tidak baik untuk kesehatan apalagi Jessica masih kecil untuk menghabiskan tiga potong kue sekaligus.
Laura menggendong Jessica menuju kasir, tapi suara seseorang di sampingnya membuatnya terkejut.
"Russel?!"
Russel melirik Jessica. "Dia putrimu?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
Laura tidak memiliki kewajiban menjelaskan hal itu. Setelah membayar pesanannya, dia melangkahkan kaki meninggalkan kafe. Russel mengikutinya dari belakang seolah membutuhkan jawaban dari pertanyaan tadi. Hingga Laura tiba di mobil dan menyerahkan Jessica pada pelayan. Russel tidak kunjung pergi dari hadapannya.
"Pulanglah, aku tidak bisa merawat dua anak kecil sekaligus." sindir Laura.
"Hei, aku bukan anak kecil!" Russel tidak terima dengan sebutan itu. "Aku sudah dewasa untuk mengejarmu."
Laura enggan berdebat. Dia membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam. "Jalan." pintanya pada sopir.
Mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan kafe, sekilas Laura bisa melihat ekspresi kecewa di wajah Russel. Zaman sekarang mudah sekali mengatakan kalimat seperti itu di depan umum. Laura bahkan menjadi pusat perhatian dan pelayan yang duduk di sampingnya itu terlihat penasaran, tapi tidak berani bertanya melihat wajah Laura yang masam.
Begitu tiba di kediaman Jean, beberapa pelayan menyambutnya. Laura menggendong Jessica mengabaikan ucapan selamat datang yang menurutnya tidak penting. Di dalam, Mario sedang menggantung sebuah lukisan. Laura berdiri di samping Mario dengan rasa penasaran. Lukisan perempuan dengan seekor kucing. Kening Laura berkerut, Mario bukan penyuka lukisan.
"Kau sudah pulang?" Mario mengambil alih Jessica dari gendongan Laura. "Ibu yang membeli lukisan itu." ucapnya memberitahu.
"Jean?"
Laura tersenyum canggung tidak percaya Mario berbicara terang-terangan. Memiliki dua anak mengubah kepribadian Mario berbicara tanpa berpikir panjang.
"Maaf, aku terlalu blak-blakan." ucap Mario.
Laura menggeleng lalu tersenyum. "Lukisan itu sangat indah seolah pelukisnya menuangkan perasaannya di sana. Aku tidak tahu dunia seni, tapi aku percaya ibumu memilih orang yang tepat."
"Lukisan ini hanya pameran. Terkadang seseorang butuh pengalihan agar dunianya tidak terlalu hancur. Setelah kematian ayah, hidup ibu kacau, dia sering meminum obat anti depresi persis sepertimu beberapa tahun yang lalu." Mario mengusap punggung Jessica yang terlelap dalam gendongannya. "Kebiasaan ibu tidak berubah sementara kau sudah meninggalkan obat itu sejak lama."
Laura menggeleng. "Tidak sepenuhnya."
"Gino masih membuatmu kacau?" Mario menatap Laura sekilas. "Benarkan?"
__ADS_1
Mario suka sekali mengungkit masa lalunya padahal kenangan tentang Gino sudah terkubur. Namun, menyangkal akan menambah kecurigaan Mario. Untuk menutupinya, Laura berpura-pura memperhatikan lukisan itu.
"Laura, ternyata kau di sini!"
Russell menghampirinya dengan napas tersengal sementara keamanan berpakaian serba hitam berusaha menangkap laki-laki itu.
"Biarkan dia di sini, kalian keluar." perintah Mario dengan segera para penjaga keamanan bubar.
"Mereka hampir membunuhku, ternyata kau tinggal di rumah sebesar ini." ucap Russell lega.
"Kau tidak melihat suami dan anakku?" tanya Laura kesal sementara Mario mengawasinya dalam diam. "Aku sudah menikah, jadi berhenti menggangguku."
Russel menggeleng. "Tidak mungkin."
"Itu benar." Mario memeluk pinggang Laura dari samping. "Jangan harap kau bisa merebutnya dariku, kejadian di apartemen aku sudah melupakannya. Jika ingin hidup lebih lama, tinggalkan Laura sebelum keamanan mengusirmu."
"Aku mencintai Laura dan tidak akan melepasnya!" ucap Russell yang dihadiahi pukulan keras oleh Mario.
"Aku tidak akan meninggalkan keluargaku demi orang luar sepertimu." Laura memandang Russel tajam. "Karena mereka sangat berarti bagiku."
Sandiwara itu cukup untuk mengusir Russel yang menyebalkan.
"Aku bahagia jika kita menjadi satu keluarga."
Ucapan Mario membungkam Laura.
***
__ADS_1