Side The Away

Side The Away
12


__ADS_3

"Emosi Mario tidak stabil, Lala aku ingin kau menemui kakakku dan memberikan dukungan. Dia tidak bisa bekerja dengan kondisi lengannya seperti itu, film sebentar lagi ditayangkan dan Mario belum menyelesaikan naskahnya. Lala, kejadian malam itu jangan dimasukkan ke hati. Mario sangat mencintaimu dan keputusannya menyakiti hatinya. Jika Jason tidak bersamanya mungkin Mario sudah tenang di alam kubur.'"


Permintaan Lucy terdengar seperti pemaksaan dan Laura tidak bisa menolaknya mengingat Mario pernah membantunya melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Kini, Laura berada dalam perjalanan untuk bertemu Mario sementara Jason yang berada di sampingnya hanya diam memperhatikan jalanan. Dia tidak nyaman berada satu mobil dengan Jason dan laki-laki itu seolah menghindarinya. Setelah kecelakaan itu Jason terlihat berbeda. Laura tidak ingin menebak jika laki-laki itu mengetahui hubungannya dengan Gino. Mengingat Jason memiliki banyak koneksi masyarakat kelas atas, bisa jadi Jean salah satunya.


Laura menyimpan ponselnya setelah percakapannya dengan Lucy berakhir. Perempuan itu terus mengingatkan untuk bersikap biasa saja di depan Mario. Mungkin Laura bisa melakukannya jika Jason tidak bersamanya dan melihat interaksi mereka. Laki-laki itu dengan mudah menebak isi hatinya, kali ini Laura juga tidak bisa menyembunyikan apapun.


Mobil itu tiba di sebuah gedung pencakar langit. Laura mengikuti Jason menuju bangunan itu dalam keheningan. Mereka  hanya diam selama berada di lift hingga tiba di ruangan serba putih, lantai dua puluh gedung itu. Laura tersenyum tipis ketika Mario memeluknya melupakan keberadaan Jason dan dokter bermata sipit itu di sana. Dia mendorong Mario agar pelukan itu terlepas, selain lengannya yang terluka, laki-laki itu terlihat baik-baik saja. Laura duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan itu setelah Mario meminta Jason dan dokter bernama Mingye itu keluar. Kini hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Laura tersenyum kaku saat Mario mencium keningnya.


"Lala aku merindukanmu."

__ADS_1


"Bagian mana yang sakit?" tanya Laura mengalihkan pembicaraan.


"Hatiku yang sakit."


Laura diam ketika Mario menggenggam tangannya dan meletakkan di dada laki-laki itu. Dia bisa merasakan detak jantung Mario, cepat dan tidak stabil menandakan Mario sedang gugup atau bahkan cemburu.


"Jason melihatmu datang ke sebuah pesta bersama seorang laki-laki. Kalian terlihat mesra dan laki-laki itu mencium keningmu di depan umum. Lala, aku tidak rela melihatmu bersama laki-laki lain. Aku ingin kau memberiku satu kesempatan lagi, aku berjanji tidak akan menyakitimu."


"Lala, menikahlah denganku."

__ADS_1


Jika Mario dalam kondisi sehat mungkin Laura akan melempar cincin itu ke lantai dan mengatakan, kenapa saat itu memutuskan untuk menyerah? Tapi saat ini Laura tidak bisa melakukannya selain membiarkan Mario memasang cincin itu di jari manisnya. Kemudian laki-laki itu mencium bibirnya, tindakan sepihak itu Laura benci mengakuinya. Namun, dia tetap tidak memiliki pilihan.


Mario membutuhkannya!


Orang bilang kebaikan harus dibalas dengan kebaikan serupa, tapi Laura justru terjebak dengan kalimat itu. Seandainya Mario tidak pernah menjadi dewa penyelamatnya yang rela mengorbankan apa saja. Laura tidak akan mengizinkan orang lain mencampuri urusan pribadinya. Sekarang Laura tidak memiliki pilihan karena Mario membutuhkan seseorang untuk menguatkan.


"Lala aku mencintaimu."


Ciuman itu berakhir dan Mario mengucapkan kalimat itu, Laura hanya mengangguk lalu membiarkan Mario memeluknya. Dia tidak bisa membalas kalimat itu dan membiarkan keheningan itu menjadi pembatas diantara mereka.

__ADS_1


Mungkin sudah saatnya Laura mengambil keputusan.


***


__ADS_2