
Katanya waktu obat terbaik untuk melupakan, tapi teori tersebut tidak berlaku untuk Argino Mahendra. Dengan tidak tahu malu, anggap saja bermuka tembok, Gino memberanikan diri menekan bel unit apartemen Laura.
Sepuluh menit berlalu, pintu apartemen tak kunjung terbuka. Sepertinya Laura tidak berada di apartemen. Akhir pekan pada pagi hari tidak mungkin Laura bekerja karena seingatnya, restoran itu tutup saat weekend. Gino mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi David, detik ketiga sambungan itu terhubung sebuah teriakan menyapa telinganya.
"Brengsek! Lebih baik kau mati!"
Telinganya hampir tuli mendengar teriakan Lucy, kebodohan David sudah sampai tingkat akhir. Menikahi Lucy seperti bunuh diri karena temperamen buruk perempuan itu menyebabkan seseorang mati di usia muda. Dan David buta karena cinta.
"Aku ingin bicara pada David." ucap Gino setelah teriakan Lucy reda. "Aku tidak ingin bicara pada perempuan aneh sepertimu."
"David tidak akan bicara."
Oke, Lucy lebih dari sekadar keras kepala. Kesabaran Gino kembali di uji.
"Just five minutes." pinta Gino halus.
"Tidak!"
"Satu menit."
__ADS_1
"Kau tidak boleh mengganggu Lala, dia bukan orang yang kau kenal. Gino, aku tidak ingin melihatnya terluka setelah kau melepasnya dua tahun lalu. Dia pulang dengan beban berat andai kau melihat wajahnya saat itu."
"Lala sudah menghapus namamu, dia tidak akan jatuh cinta pada orang sepertimu. Sebagai sahabatnya, aku orang pertama yang menentang niatmu."
Ocehan Lucy seperti lullaby song hampir saja Gino tertidur jika tidak mendengar suara David.
"Maaf, Lucy memang berlebihan."
Gino menarik napas panjang. "Aku heran kau tahan dengan sikapnya."
"Karena aku mencintainya. Kau tidak memerlukan alasan saat kau menyukai seseorang. Aku bukan membahas hubunganku dan Lucy, tapi hubunganmu dan Laura. Dia sudah berubah, aku melihatnya hampir setiap akhir pekan. Dalam pertemuan kami, dia tidak pernah menyebut namamu. Gino, kau sudah melepasnya dan perasaan seseorang juga berubah. Gadis yang kau cintai bukan lagi orang yang sama."
Samar-samar Gino mendengar suara Lucy dan beberapa detik kemudian David kembali bersuara.
"Laura berada di Queen's. Jean menahannya di sana."
Queen's? Jean?
Kedua hal tersebut berhubungan dengan Mario, tapi Gino mencoba berpikir positif barangkali Jean membutuhkan bantuan Laura.
__ADS_1
"Mario mengantarnya pulang. Gino kau tunggu saja di sana."
Ucapan David menyebabkan kedua kakinya lemas seketika.
***
Masih terlalu pagi untuk kembali ke hotel. Sejak tiba di New York, Gino belum mencari tempat tinggal, meski David dengan ramah menawarkan apartemen miliknya—dulu. Namun, Gino tidak bisa menerima tawaran itu. Sebuah ide tiba-tiba melintas di kepalanya. Dia kembali menghubungi David dan mendengar nada kesal dari seberang. Meski tampak keberatan, David bersedia membantu dan merahasiakan hal tersebut dari Lucy. Jika perempuan barbar itu mengetahui rencananya, maka misi mengejar Laura gagal sebelum Gino bertindak.
"Terima kasih, kau memang sahabatku." ucap Gino mengakhiri percakapan.
Tepat setelah Gino meninggalkan gedung apartemen, sekilas dia melihat sebuah mobil berhenti di sisi jalan.
Mobil milik Jean.
Gino tidak perlu bertanya siapa yang mengendarai mobil itu saat melihat Laura dan Mario. Keduanya tidak menyadari, Gino memperhatikan interaksi mereka dalam diam. Namun, tangannya terkepal kuat di kedua sisi pahanya.
Mario memeluk Laura.
***
__ADS_1