Side The Away

Side The Away
Cincin terlepas


__ADS_3

Gerakan Laura membuka pintu apartemennya tertahan ketika seseorang menyebutkan namanya. Dia melihat Lucy yang berdiri di belakangnya, perempuan itu tampak kacau dengan riasan wajah luntur. Merasa tidak enak, Laura akhirnya membiarkan Lucy memasuki apartemennya. Meskipun untuk saat ini, dia ingin menyendiri tapi kekacauan


Lucy mungkin ada hubungan dengan Mario. Laura


Sejak Laura memutuskan tinggal di apartemennya, Gino sedikit merubah kebiasaannya. Dulu sebelum Laura berada di sana, dia terbiasa bangun pagi-pagi buta hanya mengenakan celana pendek tanpa pakaian. Lalu melakukan senam ringan sebelum akhirnya berangkat bekerja. Namun setelah kehadiran Laura, Gino tidak lagi melakukan kebiasaan itu. Dan orang yang paling bersyukur melihat perubahan itu adalah David. Laki-laki itu terus menatapnya ketika Gino keluar dari kamarnya memakai pakaian lengkap dengan aroma parfum menguar dari tubuhnya.


"Lihat raut wajah mesum dan bahagia itu." ucap David begitu Gino menginjakkan kakinya di dapur.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Gino curiga laki-laki itu membuat kekacauan di dapurnya. "Apa kau memasak bubur hangus lagi?"


"Apa kau tidak melihat kepiting sebesar itu?" tanya David kesal.


"Tidak biasanya kau memasak kepiting, apa karena Laura?" tanya Gino memastikan keanehan itu.


"Gadismu ingin makan seafood, kau justru mengabaikannya."


Selain bermulut kotor terkadang David bisa diandalkan pada saat-saat tertentu. Gino meninggalkan dapur lalu mengetuk pintu kamar Laura, gadis itu tidak meninggalkan kamar sejak insiden kemarin. Dia tidak memaksa Laura untuk melupakan kejadian itu, namun David yang lebih memahami gadis itu membuatnya cemburu. Tentang keinginan Laura menyantap hidangan laut itu, Gino bahkan tidak mengetahuinya.

__ADS_1


Pintu kamar itu terbuka, menampilkan wajah Laura yang sembab. Kesedihan itu menyayat hatinya namun Gino tidak memiliki keberanian untuk menghilangkan kesedihan gadis itu.


"La, kamu mau makan seafood?" tanya Gino memastikan.


Laura mengangguk sebagai jawaban.


"Aku ragu sama masakan David, kalau kamu nggak keberatan. Kita bisa makan di restoran langgananku, makanannya enak dan udah pasti halal." ucap Gino canggung melihat Laura tidak bereaksi dengan ajakannya.


"Di mana?" tanya Laura.


"Nggak jauh dari sini kok."


Gino mencengkram erat kemudinya dengan pandangan fokus pada jalanan. New York di musim dingin, tahun ke dua dia berada di negara itu rasanya seperti seabad karena Laura tidak pernah melihatnya. Perasaan yang disimpannya bertahun-tahun lalu sudah sampai pada batasnya dan Gino tidak berani untuk melepaskannya.


Laura, gadis yang dicintainya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kini berubah menjadi gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun dan tidak berada dalam jangkauannya.


Gino mulai melantur hingga melewati tujuannya, dia terpaksa berbalik arah menuju restoran itu.

__ADS_1


"No, apa hubungan kamu sama Mika?"


Gino menatap Laura sekilas lalu kembali melihat keramaian di depannya. Dia kesulitan mengemudi di jalanan licin yang dipenuhi salju.


"Kenapa kamu tanya soal itu?" Gino balas bertanya.


"Sejak awal kamu pasti tahu hubungan Mario dan Mika, kenapa kamu sembunyikan hal ini No?"


Beruntung mobil itu sudah berada di parkiran restoran sehingga Gino tidak menginjak rem secara mendadak. Pertanyaan itu membuatnya merasa bersalah, tidak seharusnya Gino menyimpan rahasia itu. Dan berimbas pada kekecewaan Laura.


"Maaf La," ucap Gino tidak berani bersinggungan dengan mata gadis itu.


"Aku kira kamu bakal berubah ternyata kamu masih orang yang sama. No, apa nggak cukup kamu buat aku kecewa dan terluka?"


"Maaf."


"Kalau dari awal kamu ngasih tahu perempuan itu adalah Mika, mungkin aku bisa ngerti alasan Mario bersikap aneh. Sekarang aku nggak bisa ngelakuin apa-apa selain terjebak sama hubungan ini. No, kenapa kamu bantu Mika simpan rahasia ini? Apa karena kamu jatuh cinta sama dia?" tanya Laura beruntun.

__ADS_1


***


__ADS_2