Side The Away

Side The Away
9


__ADS_3

"Lala aku minta maaf."


Laura menoleh ke samping memperhatikan Lucy yang fokus mengemudi. Perempuan itu terlihat menyedihkan dengan mata panda dan rambut berantakan. Sepertinya masalah pernikahan itu penyebab kekacauan Lucy.


"Seharusnya kau minta maaf pada David." ucap Laura.


"Bukan dia tapi Mario."


Lucy mungkin ada hubungan dengan Mario.


Lucy mungkin ada hubungan dengan Mario.


***

__ADS_1


Demam itu datang secara tiba-tiba. Laura tidak bisa menolak ketika Gino mengompresnya. Dia hanya diam memperhatikan Gino yang sibuk dengan baskom dan serbet. Di meja juga ada beberapa obat dan bubur. Gino sengaja memesan bubur itu dan Laura justru menolak makanan itu. Perutnya penuh, Laura tidak selera melihat makanan lembek itu.


"Pas itu kamu juga pernah demam. Aku yang jaga kamu semalaman. Begitu pulang ke rumah, ibu langsung bilang aku harus tanggung jawab sama kamu. La, kalau pas itu aku setuju mungkin sekarang kita udah jadi suami istri." ucap Gino.


Laura ingat dengan kejadian itu. Kesalahpahaman orang tua dan berakhir setelah tidak terjadi apapun. Laura tersenyum kecil mengingat kemarahan ibunya dan mengatakan sebentar lagi Laura akan memiliki bayi.


"Tante malah senang kalau aku yang jadi menantunya. Tapi muka seremnya om, aku nggak bisa bayangin. Persis seperti aku curi tanaman hias di rumahmu. Dan om marah sambil bawa tongkat rotan. Dia masih pakai sarung terus ngejar aku keliling kompleks perumahan. Pas itu kamu malah provokasi dia dan akhirnya aku nyungsep di bunga bongsai. Naasnya tanaman hias itu masuk got. Potnya hancur dan om malah tambah marah. Belum habis kesialanku, ibu datang sambil narik telingaku. Katanya aku mirip anjing yang suka nyuri barang tetangga. Kalau nggak salah umurku sepuluh tahun. Dan aku di bilang mirip anjing sama ibu kandungku sendiri. La, pasti kamu nggak lupa sama kejadian itu."


Laura tertawa. Mana mungkin dia melupakan kejadian menghebohkan itu. Gino menjadi trending topik di lingkungan kompleks perumahan. Dan selain Gino ayahnya juga menjadi perbincangan menarik. Laura menghapus sudut matanya yang berair. Dia tidak bisa menahan tawanya.


Cukup lama Laura tertawa dan berhasil mengatasinya ketika Gino meletakkan serbet di keningnya.


"Aku suka lihat kamu yang begini La."

__ADS_1


Laura tersenyum kecil. "Makasih No."


"Sebenarnya aku suka, maksudku, aku suka sama kamu La. Udah lama, aku bilang pas turun hujan dan gendong kamu,"


"Kamu udah pernah bilang." potong Laura cepat. Dia memperhatikan Gino yang bersikap gugup. "Kamu nggak perlu ngomong dua kali."


"Iya biar lebih jelas. Aku nggak mau kamu lupa sama,"


"Aku nggak pernah lupa No."


Bunyi ponsel menginterupsi percakapan itu. Gino menjauh dan samar-samar Laura mendengar Gino meminta maaf. Sepertinya berhubungan dengan pekerjaan. Laura tidak bisa menyusahkan laki-laki itu. Dia mengirim pesan singkat pada Lucy dan berharap perempuan itu bisa membantunya keluar dari kesulitan itu. Beruntung Lucy segera membalasnya dan berkata akan menjemputnya. Laura menyimpan ponselnya saat Gino kembali menghampirinya.


"La, tadi aku beli gudeg. Kita makan ya, biar aku suapi kamu." ucap Gino.

__ADS_1


Laura tidak sempat menolak ketika Gino sudah meletakkan makanan itu di piring. Dan laki-laki itu berusaha untuk menyuapinya. Laura mengambil alih sendok dari tangan Gino lalu menyantap makanan itu dalam diam. Rasanya enak, dia merindukan masakan ibunya. Tanpa sadar air matanya menetes dan Laura terus memasukkan makanan itu ke mulutnya. Hingga Gino memeluknya dari samping dan Laura tidak bisa menahan kesedihannya. Cukup lama mereka terdiam dan Laura merasa tidak nyaman jika Gino terus memeluknya. Dia mencoba untuk melepaskan diri namun Gino menahannya. Laura menoleh ke samping dan di sanalah dia melihatnya. Mata Gino yang indah dengan bulu mata yang panjang itu. Laura pernah menyukainya.


__ADS_2