
Bunyi ponsel membangunkan Laura dari tidurnya. Ponsel itu milik Gino dan samar-samar dia mendengar laki-laki itu sedang berbicara dengan suara rendah. Laura kembali memejamkan matanya saat Gino mendekatinya dan berbaring di sampingnya. Hembusan napas laki-laki itu membelai wajahnya, tanpa sadar Laura meneteskan air matanya. Dia tidak berniat melukai Gino dan depresi itu kembali datang. Ketakutan dengan kejadian malam itu menyebabkan Laura tidak bisa membedakan ilusi dan kenyataan. Seharusnya, dia bisa mengendalikan emosinya sehingga hubungan mereka membaik seperti dulu.
Dulu, sebelum Gino mengambil sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
"La, aku minta maaf." ucap Gino serius.
"Aku juga minta maaf No." Laura membuka matanya dan menatap Gino.
"Minggu depan aku harus balik ke Jogja, pernikahan Ajeng dilangsungkan bulan depan. La, apa kamu baik-baik aja aku tinggal sendirian?" tanya Gino hati-hati.
"Aku mau ikut kamu."
"Tapi Rahma?"
"Nggak apa-apa, aku harus berdamai sama masa lalu No." ucap Laura.
"Syukurlah." Gino menarik napas lega.
"No, aku mau nikah sama kamu."
Hening.
Sepertinya ajakan pernikahan itu terlalu cepat, buktinya Gino hanya diam dan tidak menanggapi ucapannya. Laura membalikkan tubuhnya lalu menatap dinding di ruangan itu dengan pikiran kosong.
"Kamu yakin mau nikah sama aku?" tanya Gino setelah cukup lama mereka terdiam.
"Kamu ragu?" Laura balas bertanya.
"Aku nggak pernah ragu La, tapi kamu yang nggak bisa lupa sama bayangan masa lalu kamu. Ini nggak adil buat aku, tapi aku nggak bisa ikut campur terlebih dia pernah berjasa dalam hidup kamu. Kalau aku ada di posisi dia, mungkin aku nggak akan lepasin kamu."
Laura menarik napas dalam-dalam.
"Udahlah No, aku nggak mau bahas apa pun. "
"La, kenapa kamu nggak pernah bahas tentang Mario secara nyata?"
"Hubungan ini tentang aku sama kamu. Kenapa kamu bawa-bawa Mario?" tanya Laura.
"Karena dia masih hadir dalam mimpi kamu. Percuma La, kamu pacaran sama aku, tapi pikiran kamu tertuju ke orang lain. Dan dia mantan kamu."
__ADS_1
"No, kalau kamu nggak terima, atau kamu capek mahami aku. Lebih baik kita break sementara sampai kamu percaya kalau aku nggak pernah cinta sama Mario." ucap Laura.
"Jadi intinya kita harus pisah supaya aku percaya sama perasaan kamu?" tanya Gino memastikan, dia hampir kehilangan kesabaran mendengar ucapan itu.
"Kamu udah dewasa buat pahami ucapanku No. Hal ini harusnya kamu tanya sama diri kamu sendiri. Apa perasaan kamu bukan obsesi cinta pertama?"
"Aku cinta kamu La, dari dulu sampai sekarang. Aku cuma mau kamu seutuhnya, bukan untuk orang lain."
"Aku udah sama kamu No. Kurangnya di mana lagi?"
"Aku mau kamu buang jauh-jauh nama Mario dalam hidup kamu."
Perdebatan itu sepertinya tidak akan berakhir jika Laura terus mengeluarkan pendapatnya. Gino tidak ingin dibantah dan Laura tidak bisa menerima keputusan itu. Dia turun dari ranjang lalu meraih obatnya, kepalanya terasa berat dan Gino tidak mengerti dia baru saja mengalami depresi. Berada di rumah sakit dalam waktu lama, Laura tidak menyukainya. Namun, dokter melarangnya pulang lebih awal karena kondisinya tidak stabil. Dan Gino tidak memahami hal sederhana itu.
"Aku nggak akan sebut nama Mario lagi No." ucap Laura lirih sekaligus mengakhiri perdebatan itu.
***
Dua hari berada di rumah sakit rasanya seperti berada di neraka. Laura bersyukur berhasil keluar dari neraka itu, dan bisa menghirup udara bebas. Dia menatap salju yang turun dengan lebat melalui kaca mobil. Beberapa kendaraan membunyikan klakson dan tampak kesulitan mengemudi di jalanan yang licin. Termasuk Gino yang fokus mengemudi di sampingnya. Seandainya Laura bisa menyetir, dia akan menggantikan Gino agar laki-laki itu bisa beristirahat. Selama berada di rumah sakit, Gino terjaga setiap kali Laura berteriak dan laki-laki itu panik memanggil dokter. Mengingat pengorbanan Gino dan pertengkaran mereka malam itu. Laura diliputi oleh rasa bersalah.
"No, aku mau makan sup ayam." ucap Laura memecah keheningan itu.
"Coba aku bisa nyetir." gumam Laura pelan.
"Apa La?" tanya Gino.
"Bukan apa-apa." jawab Laura singkat.
"David mungkin udah sabotase apartemen kamu deh La. Anak itu mau cari informasi tentang Lucy. Aku kehilangan kunci apartemenmu setelah dia pamitan, tapi aku yakin dia balik ke apartemenmu."
"David mau curi foto Lucy?" tanya Laura.
"Nggak tahu, mungkin lebih dari foto. David kan otaknya kotor banget, udah mirip sama tempat pembuangan sampah. Limbah industri kalah jauh dibandingkan isi kepalanya David. Hal-hal ajaib bisa muncul di otaknya yang nggak seberapa tinggi IQ-nya itu."
"Aku punya banyak foto Lucy, tapi kebanyakan dari foto itu hasil jepretan Mario. Biasanya dia yang simpan foto-foto itu."
Tidak banyak percakapan di antara mereka hingga tiba di apartemen. Laura membuka pintu apartemennya lalu menyalakan lampu, tidak ada siapa pun di sana.
"Mungkin David udah balik No." ucap Laura lalu masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian Laura kembali menemui Gino setelah mengganti pakaiannya. Laki-laki itu sedang berdiri dalam diam sambil memperhatikan sebuah album foto. Laura mendekat dan meraih album foto itu dari tangan Gino.
"Aku mau kirim ke Lucy." ucap Laura.
"La, aku capek banget. Aku mau istirahat bentar ya."
Gino masuk ke dalam kamarnya sebelum Laura menjelaskan tentang album foto yang berisi foto Lucy dan Mario. Sepertinya Gino kesal dan memilih untuk menghindar.
Dasar laki-laki pencemburu.
***
Sejak kemarin, Gino merasa tidak nyaman ketika melihat ponsel Laura dan isi pesan gadis itu bersama Mario. Dia tidak berniat membuka ponsel Laura dan melanggar privasi gadis itu. Namun, kecemburuan itu tidak bisa disembunyikan terlebih Laura terus menyebutkan nama Mario. Baik dalam mimpi atupun di rumah sakit ketika gadis itu berada di bawah pengaruh obat penenang.
Kenapa nama Gino tidak pernah disebutkan?
Wajar Gino bertanya tentang perasaan Laura untuk Mario. Namun, ekspresi Laura dan keengganan gadis itu membahas tentang Mario semakin membuatnya curiga. Hubungan harus dilandasi kepercayaan, tapi hubungannya dan Laura entah dasar apa bila bayang-bayang masa lalu masih menghantui hubungan mereka. Gino terbiasa menghabiskan waktunya membaca buku-buku tebal berisi pengetahuan tentang hukum. Dia bisa mempelajari ilmu itu dengan baik. Namun, menyangkut tentang Laura, dia menjadi sangat bodoh.
Awalnya, Gino tidak ingin memperpanjang masalah itu, dan berusaha mempercayainya jika Laura telah melupakan laki-laki itu. Namun, melihat foto-foto Mario di dalam album tersebut. Gino mulai ragu dengan perasaan Laura. Pilihan gadis itu dan juga perasaannya terhadap Laura disebut cinta atau hanya obsesi. Dia lelah berasumsi dengan perasaannya sendiri dan jawabannya tetap sama.
Mario.
Kemungkinan sejak awal, Gino sudah kalah dengan laki-laki itu. Dan tidak seharusnya Gino memaksakan perasaannya dan hubungan mereka semakin renggang. Dia lebih bahagia melihat Laura sebelum menjadi kekasihnya. Mendengar tawa gadis itu saat mengingat masa kecil mereka. Kini, jangankan tawa, Laura bahkan tidak pernah tersenyum setelah resmi menjadi kekasihnya. Kencan pertama mereka gagal karena Laura pergi tanpa pamit, meninggalkan Gino dalam kebingungan.
Sekarang Gino sudah memahaminya. Album foto yang tidak sengaja dia lihat menampilkan foto pasta di atas piring dan Mario tersenyum ke arah kamera. Sementara Laura juga tersenyum lebar dalam rangkulan laki-laki itu.
Foto itu tampak buram termakan usia dan kelihatannya Laura menjaga foto itu dengan baik karena tidak ada debu yang menempel di sana. Ternyata, Laura belum sepenuhnya melupakan Mario dan Gino tidak bisa mendapatkan hati gadis itu secara utuh.
Cinta dibagi-bagi, Gino tidak pernah menerimanya. Sejak kecil, dia sudah mendominasi tentang apa yang menjadi miliknya dan tidak membiarkan orang lain menyentuhnya. Apalagi Laura, gadis yang dicintainya sejak remaja.
Orang lain seperti Mario tidak boleh merebut Laura darinya.
Pukul sepuluh malam, Gino menemui Laura di kamarnya. Gadis itu sedang bercermin seperti rutinitas para gadis sebelum tidur. Dia meletakkan kepalanya di bahu Laura untuk mencium aroma gadis itu. Aroma lavender menyerbu hidungnya bercampur dengan parfum miliknya. Pikiran Gino mulai kacau, dia melihat Laura dengan tatapan menilai.
Wajah Laura memiliki daya pikat tersendiri. Bibir mungil yang Gino rindukan suaranya malam itu. Hingga tanpa sadar, dia mendekatkan wajahnya hingga menyentuh kening Laura.
"La, aku kangen kamu."
Rindu yang Gino katakan seperti rindu terselubung, dia tidak peduli dengan penolakan Laura. Malam itu, dia ingin gadis itu seutuhnya.
__ADS_1
***