Side The Away

Side The Away
Pertanyaan serupa dengan maksud berbeda


__ADS_3

Keluar dari rumah sakit merupakan hal membahagiakan bagi Laura. Dia tersenyum lebar setelah berada di luar gedung rumah sakit. Udara luar lebih menyegarkan daripada aroma rumah sakit yang dibencinya itu.


"Laura."


"Russell?" ucap Laura tidak percaya kembali bertemu dengan petugas polisi itu. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.


"Aku ingin mengantarmu pulang."


Terlambat menolak karena Russell sudah menyeretnya menuju mobil dan memasang sabuk pengaman di tubuh Laura. Sekilas dia bisa melihat wajah Russell dari jarak dekat. Kulit wajah putih mulus dan bibir tipis berwarna merah itu sesaat menghipnotis Laura. Jika dilihat secara keseluruhan, Russell sangat tampan. Ini pertama kalinya setelah dua tahun, Laura tidak pernah memperhatikan rupa seseorang.


"Laura?"


Laura tersadar dari lamunannya. "Ada apa?" tanyanya.


"Apakah lukamu sudah membaik?"


Laura mengangguk. "Sudah."


"Bukan luka tembakan itu,"


"Apa maksudmu?" tanya Laura curiga.


"Luka di hatimu."


Laura terdiam membiarkan jeda menghiasi pembicaraan mereka. Sebagai orang asing yang baru beberapa hari ditemuinya bisa melihat tentang luka masa lalunya, tidak mungkin Russell memperhatikannya secara berbeda. Laura tidak akan mencintai siapa pun dan tidak akan mengizinkan seseorang memasuki hatinya setelah Gino.


"Kau suka ikut campur urusan orang lain." Laura menoleh ke samping memperhatikan Russell yang fokus mengemudi. "Berapa usiamu?"


"Sembilan belas tahun."


Sembilan belas tahun sudah menjadi seorang polisi, apakah orang itu bercanda? Namun, Laura memilih menyimpan pertanyaan itu di benaknya.


"Ayahku kepala polisi dan aku sering melihatnya jika tidak sibuk kuliah. Dan hari itu, aku tidak sengaja melihatmu di culik. Aku hampir di penjara karena menembak penjahat itu, tapi ayahku berusaha mencari bukti jika tindakanku tidak melanggar hukum. Tidak adil bagi sebagian orang, tapi aku bersyukur kau baik-baik saja. Luka tembakan pasti sakit dan kau menahannya." ucap Russell.


Laura menggeleng. "Aku tidak apa-apa."

__ADS_1


"Aku hanya memastikan lukamu sudah sembuh, lalu aku bisa pergi tanpa rasa bersalah."


"Aku sudah sembuh." ucap Laura enggan berdebat.


"Aku tahu kau berbohong."


"Russell, kau masih anak kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa."


"Aku sudah dewasa untuk mengejar seseorang." ucap Russell yakin.


"Kejarlah dia." Laura memejamkan matanya saat merasakan Russell menggenggam tangannya.


"Aku sedang mengejarmu, Laura."


Ini sedikit berbeda dengan tebakan Laura jika Russell menyukai gadis belia berambut cokelat. Bukan perempuan berusia seperempat abad sepertinya.


"Aku tidak tertarik." Laura melepaskan tangannya dari genggaman Russel. Dia membuka matanya lalu menatap Russell serius. "Aku tidak akan mencintai siapa pun." ucapnya tegas.


"Aku akan membuktikan bahwa perkataanku serius nona Laura."


Sekarang Laura paham dengan pertanyaan, apakah lukamu sudah membaik? Pertanyaan yang sama, tapi Russell mengartikan dengan maksud berbeda.


***


"Aku bisa sendiri." ucap Laura kesal.


"Kau tidak boleh banyak bergerak. Aku akan memasak untukmu."


Laura hanya ingin minum air putih, tetapi kenyataannya Russell justru memasak aneka hidangan Asia. Bahkan laki-laki itu membuat sushi, padahal Laura sama sekali tidak menyukai makanan Jepang.


"Percobaan pertama memasak, silakan dinikmati nona Laura."


Laura belum sempat menolak karena Russell lebih dulu menyuapinya. Satu sendok sup ayam kesukaannya disodorkan ke mulutnya.


"Sup ini bagus untuk masa pemulihan." ucap Russell disertai senyum manis. "Jika kau tidak menerimanya, aku akan menyuapinya dengan caraku."

__ADS_1


Laura mengambil alih sendok dari tangan Russell. "Aku bisa makan sendiri."


"Malam ini ayahku tidak pulang dan kunci rumah di bawa ibuku. Mereka berdua melupakan putranya dan bersenang-senang di Eropa. Aku juga meminjam mobil temanku untuk menjemputmu di rumah sakit. Beberapa hari ini aku tidak tidur dengan baik, aku juga tidak datang ke kampus karena menjagamu. Laura, bisakah kau memberikan sedikit perhatian?"


Lupakan tatapan puppy eyes untuk membujuk seseorang. Russel justru meletakkan Laura di atas meja makan dan berbisik di telinganya.


"Aku ingin kau."


Russel menarik wajah Laura hingga mereka saling bertatapan. Cahaya lampu dapur yang terang semakin menambah ketampanan Russel. Laura mengakui bahwa laki-laki itu memang tampan. Daya tarik Russell terlalu besar, tapi dia tidak boleh membiarkan hatinya terjatuh.


"Hentikan." ucap Laura.


"Setiap malam aku selalu memikirkanmu, kejadian itu membuatku takut kau akan menyerah dengan kehidupan. Laura, aku tahu kau hampir menyerah dengan hidupmu. Jika aku tidak menembak orang itu, apa kau masih di sini sekarang? Aku ingin melihatmu hidup dengan baik, apa kau tidak bisa membiarkan aku mengejarmu?" tanya Russell.


"Kita baru mengenal." ucap Laura berusaha melepaskan diri.


"Aku tidak suka memendam perasaan. Laura, aku serius ingin mengejarmu. Beri aku kesempatan untuk mengejarmu meskipun akhirnya kau tidak memilihku."


"Aku...."


Ucapannya terhenti saat Russel mencium bibirnya. Laki-laki itu terus menciumnya dan membaringkan Laura di atas meja makan. Dia sudah gila dengan membiarkan Russell mencium bibirnya. Laura lupa dia pernah dikecewakan oleh Gino dan laki-laki itu mengambil sesuatu yang paling berharga di hidupnya. Bayangan masa lalu serta rasa sakit itu memaksa Laura untuk melihat kenyataan. Hidupnya tidak akan kembali seperti dulu.


"Hentikan!" ucap Laura keras.


"Aku minta maaf, tapi aku tidak ingin berhenti."


Russell menggendong Laura menuju sofa dan kembali menciumnya. Dia tidak tahu cara menolak tindakan Russel yang sudah berada di bawah kesadaran. Akal sehatnya menurun saat Russel mulai menyentuh bagian tubuhnya dan melepaskan pakaiannya dengan paksa. Laura tidak sempat menutupi bagian atas tubuhnya karena Russel telah menciumnya di sana. Memainkan dengan lidah dan Laura semakin kehilangan kesadaran. Mulutnya menolak, tapi tubuhnya lebih jujur dan menikmati sentuhan itu.


"Aku sedang mengejarmu. Laura, kau tidak boleh menolakku." ucap Russel.


Suara benda terjatuh menyadarkan Laura. Dia mendorong Russel lalu meraih pakaiannya. Lalu melihat Mario berdiri di ambang pintu dengan ekspresi wajah kaku bercampur kekecewaan.


"Lala, kalian?"


Laura belum menjawabnya saat di belakang Mario muncul Lucy dan David. Mereka sama terkejutnya dengan Mario sementara Russel justru mengalungkan lengannya di pundak Laura.

__ADS_1


"Aku akan menikahinya."


***


__ADS_2