
Berdiri di balkon pada tengah malam ditemani secangkir kopi tidak cukup mengusir hawa dingin. Mungkin di masa lalu, Laura bahagia dengan kehadiran Gino di sisinya, tapi semuanya sudah berakhir.
Dua tahun lalu.
Gino tidak berbicara justru asyik menikmati kopi buatannya. Laura menahan kantuknya setelah setengah jam menemani Gino berdiri di balkon. Entah untuk alasan apa, dia sendiri tidak membutuhkan penjelasan. Kehadiran Gino lebih mengganggu dari kedatangan Lucy sore tadi.
"La,"
Panggilan Gino terdengar berbeda. Atau mungkin Laura tidak ingin mendengar laki-laki itu memanggilnya seperti dulu.
"Aku nggak tahu mulai dari mana. Kesalahanku sangat besar, aku nggak pantas berharap lebih sama kamu." Gino tertawa getir. "Aku merasa lucu sama diri aku sendiri."
Gino masih terjebak di masa lalu padahal Laura sudah melangkah ke depan. Menyimpan kenangan mereka di tempat lain.
Pikirannya berjalan, seperti hidupnya yang tidak mungkin berhenti di titik Gino menyerah dengan perasaannya. Melepasnya tanpa ragu lalu kembali dengan penjelasan. Apa katanya? Berharap lebih? Laura akan tertawa keras seandainya tidak ada orang lain di apartemennya. David dan Lucy masih di sana, barangkali mencuri dengar percakapannya dengan Gino. Sayangnya Laura memilih bungkam alih-alih membalas ucapan laki-laki itu.
Dua tahun tidak mengubah kepribadiannya, hanya hatinya yang berubah. Seharusnya Gino tahu, Laura bukan gadis remaja yang buta karena cinta atau perempuan bodoh dengan prinsip cinta pertama di atas segalanya.
__ADS_1
Kegilaannya mencintai Gino sudah habis. Masa bucinnya pun sudah reda, seperti tanaman di musim kemarau layu kemudian mati. Tidak tumbuh meski bersikeras menyiramnya.
"Tadi pagi," Gino menahan napasnya selama beberapa detik. "Aku lihat kamu sama Mario. Kamu masih punya hubungan apa sama dia?"
Kesabaran Laura menipis, memangnya Gino punya hak apa?
"Bukan urusan kamu!"
"Iya La." Gino mengangguk. "Aku nggak berhak ikut campur kehidupan kamu."
"Aku mau istirahat, kamu pulang aja." usir Laura.
Tanpa perasaan.
***
"Jadi, Gino tinggal di lantai bawah unitku?"
__ADS_1
Laura melipat tangannya di depan dada sambil menatap Lucy tajam. David berpamitan setengah jam lalu disusul Gino dan Lucy nyaris kabur jika Laura tidak menghadangnya di pintu.
"Cepat katakan!" ucap Laura dengan nada tinggi. Kesabarannya habis setelah kedatangan Gino dan percakapan mereka di balkon.
"Aku tidak tahu." Lucy menggeleng lemah. "David pelakunya. Lala, aku sungguh minta maaf."
Kemudian mengalir penjelasan Lucy mengenai Gino yang menghubungi David dan menanyakan keberadaannya. Pagi tadi, Laura memang baru kembali dari Queen's dan Mario yang mengantarnya pulang. Dia tidak menyangka Gino senekat itu datang ke apartemen bahkan menguntitnya. Rupanya, mereka tinggal di gedung apartemen yang sama. Laura terlalu bodoh jika David sudah menyerah menjodohkannya dengan Gino. Pertemuan akhir pekan David tidak pernah absen membahas tentang Gino. Menanyakan perasaannya seolah Laura masih terjebak di masa lalu. Kebodohannya tidak akan terulang lagi, meski Gino mengejarnya seperti dulu. Laura ingat laki-laki itu sudah menikah, tapi bersikap seolah-olah tidak pernah ada pernikahan.
Mungkin lebih baik jika menjalin hubungan dengan orang baru sehingga tidak ada orang yang merecokinya.
"Lala, kau melamun."
Laura bosan mendengar kalimat yang sama.
"Pulanglah, aku lelah." Laura mendorong Lucy keluar dari apartemennya. "Untuk sementara jangan hubungi aku."
Blam!
__ADS_1
Laura menutup pintu dengan keras, dia tidak peduli akan merusak akses apartemennya. Saat ini, dia hanya ingin memejamkan mata.
***