Side The Away

Side The Away
Analogi kopi


__ADS_3

Terlambat untuk menyesal.


Laura menyisir rambutnya dengan gerakan lambat, dia menatap pantulan wajahnya di cermin. Gino berdiri di belakangnya dengan ekspresi sulit diartikan. Kejadian malam itu, di luar perkiraannya. Sesuatu yang dijaganya dengan baik akhirnya hilang begitu saja. Entah siapa yang patut disalahkan. Dia atau Gino, sementara cinta tidak akan merusak harga dirinya.


"Maaf La."


"Kenapa kamu lakuin hal itu No?" tanya Laura kecewa.


"Aku cinta kamu La. Dan aku mau nikah sama kamu."


"Aku pikir, kamu memang tulus cinta sama aku. Ternyata aku salah," Laura meletakkan sisirnya di meja, dia menatap Gino melalui cermin dengan ekspresi kecewa. "Kamu brengsek No." ucapnya.


"La, aku tahu kamu kecewa, tapi aku bukan orang brengsek. Dibandingkan Mario, aku memang bukan apa-apa."


Laura berbalik kemudian menatap Gino dengan kemarahan mencapai puncaknya.


"Jangan bawa-bawa Mario, ini tentang aku sama kamu. Bukan orang lain No!" ucap Laura keras hampir seperti teriakan.


"La, sebesar apa kesalahanku?" tanya Gino frustasi.


"Kamu udah ngambil sesuatu yang berharga, sesuatu yang aku jaga dengan baik. Sesuatu yang nggak seharusnya kamu ambil No!"


"Maaf La."


"Pergi, aku nggak mau lihat kamu."


"La, kenapa kamu bersikap seperti ini?" tanya Gino.


"Keluar No!"


Lemparan peralatan kosmetik mengenai wajah Gino menyebabkan goresan di pipi laki-laki itu. Laura menyentuh kepalanya yang terasa berat, bayangan masa lalu itu kembali menghantuinya. Dia terjatuh dari kursinya dengan ketakutan luar biasa.


"Argh!" teriak Laura keras, dia duduk memeluk lututnya dengan tubuh gemetar.


Suara-suara di kepalanya bersahutan menyebabkan Laura menggigil. Dia membutuhkan obat, dengan gerakan kasar dia membuka laci meja riasnya. Obat itu tidak berada di sana.


"Obat." ucap Laura lirih.

__ADS_1


Mencari seluruh ruangan di apartemen tetap tidak menemukan obat itu. Laura bahkan membongkar kardus yang tersusun rapi di sudut ruangan. Namun, nihil. Obat itu menghilang seperti di telan bumi. Tubuhnya bertambah dingin dengan keringat mengalir di keningnya, dia benar-benar membutuhkan obat itu.


Pandangannya teralihkan pada pisau buah yang berada di atas meja. Laura meraih benda itu, kemudian menempelkannya di pergelangan tangannya. Sebelum pisau itu menyentuh kulitnya, sebuah teriakan keras memenuhi ruangan itu.


"Berhenti La!"


Pisau itu terhempas ke lantai dan berikutnya Gino memeluknya dengan erat. Laura tidak merasakan apa-apa selain suara di kepalanya yang terus melekat.


Suara itu berubah menjadi tawa mengerikan yang menghantui tidurnya. Laura tidak bisa menopang berat tubuhnya hingga pandangannya berubah gelap.


***


Goresan di pipi terasa pedih. Gino menyeka lukanya menggunakan telapak tangannya. Entah kenapa emosi Laura mendadak tidak stabil dan hampir melakukan tindakan gila jika dia tidak mencegahnya. Pertama kalinya Gino melihat Laura seperti itu. Lima tahun, ternyata mampu mengubah karakter seseorang.


Gino mengusap lukanya sambil tersenyum getir. Dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi David. Saat ini, Gino membutuhkan seseorang dan pilihannya jatuh pada David.


"Berikan alamat rumah sakitnya, aku kesana sekarang." ucap David dari seberang.


Setengah jam kemudian, Gino melihat David berlari menghampirinya dengan napas tersengal. Laki-laki itu menepuk pundaknya lalu mengawasi ruangan di mana Laura berada.


Gino menggeleng. "Tidak tahu, dia seharusnya baik-baik saja setelah meminum obatnya."


"Laura tidak mungkin," David menahan kalimatnya lalu menatap Gino khawatir. "Kau membuatnya seperti itu?" tanyanya.


"David, aku ingin mencari udara segar, tolong jaga Laura sebentar."


Mengikuti kata hati membawa langkahnya menyusuri jalan berbaur bersama pejalan kaki lainnya. Gino memasukkan tangannya pada saku mantelnya menunggu lampu berubah hijau. Di tempat yang ramai itu, Gino merasa kesepian. Dia seperti orang tidak berguna karena hanya menyaksikan gadis itu berteriak ketakutan tanpa melakukan apa-apa. Gino, sang pengacara berbakat kalah pada kenyataan pahit yang ada di depan matanya.


Laura sedang mengalami masa sulit.


Jika dibandingkan Mario, laki-laki itu lebih memahami kesulitan Laura. Namun, Gino tidak ingin bertanya bagaimana menangani Laura saat gadis itu mengalami depresi. Dia sudah melarang Mario menghubungi Laura bahkan menghapus nomor kontak laki-laki itu tanpa berpikir panjang.


Sial.


Bunyi klakson mobil menyadarkan Gino bersamaan dengan lampu berubah hijau. Dia kembali meneruskan langkahnya hingga berhenti di sebuah kafe. Gino memasuki kafe itu setelah memesan secangkir kopi hitam tanpa gula. Dia tidak menyukai kopi. Namun, suasana hati yang buruk menyebabakan seleranya berubah.


Secangkir kopi itu diletakkan di atas meja. Uap panas mengepul, bagi kebanyakan orang penyuka kopi, rasanya lebih nikmat jika diminum dalam kondisi seperti itu. Bagi Gino, tidak ada yang istimewa dari kopi yang mengepulkan asap. Entah apa yang istimewa dari minuman tinggi kafein itu. Dia sendiri tidak memahaminya.

__ADS_1


Mungkin analogi kopi lebih tepat ditujukan pada perasaannya untuk Laura.


Gino menyesap kopinya. Rasa pahit itu cukup membuatnya tersadar, kepahitan dari indra perasanya hanya sementara. Setelah jeda tegukan pertama dan kedua, dia akan terbiasa dengan rasa pahit itu. Kini, Gino sudah menemukan jawabannya. Dari secangkir kopi tanpa gula, dia mengerti tentang mencintai Laura dengan caranya sendiri.


"Kalau aku nggak cukup baik buat kamu, aku akan berusaha jadi yang terbaik untuk kamu La." ucap Gino lirih.


Setengah jam menghabiskan waktunya di kafe itu. Gino kembali ke rumah sakit dan melihat David sedang berbicara dengan dokter. Dia menghampiri mereka dengan rasa khawatir.


"Gino, kau sudah kembali." ucap David lalu menarik Gino menjauh dari dokter itu. "Sesuatu terjadi pada Laura saat kau pergi."


"Apa yang terjadi?" tanya Gino cemas.


"Laura terus berteriak dan menangis. Gino, apa kau melakukan sesuatu yang membuatnya takut?" tanya David serius.


"Semalam kami baik-baik saja. Maksudku sebelum kami," Gino menghentikan kalimatnya, dia tidak bisa memberitahu David tentang kejadian itu. "Aku akan melihatnya." ucap Gino.


"Laura baru saja tertidur, dokter memberikan obat penenang. Sementara ini biarkan dia sendiri, kau harus merawat lukamu."


"Tidak apa-apa, ini hanya luka ringan." ucap Gino lalu duduk di kursi ruang tunggu. Dia menyentuh pipinya yang terasa pedih, darah itu sepertinya sudah berhenti mengalir. Entah benda apa yang mengenai wajahnya, Gino sama sekali tidak mengingatnya. "Aku ingin tidur sebentar." ucapnya pada David.


"Gino, aku mengenalmu selama bertahun-tahun. Dan ini pertama kalinya aku melihatmu seperti ini. Aku yakin, ada sesuatu yang kau sembunyikan. Katakan saja agar aku bisa memberikan saran, kita sahabat sudah seharusnya saling menguatkan."


Gino membuka matanya dan menatap David enggan. "Aku sudah bilang, semuanya baik-baik saja." ucapnya sedikit kesal.


"Kau tidak baik-baik saja. Gino, aku tidak bodoh untuk memahami situasi. Apa kau sudah melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar berciuman?" tanya David memastikan.


"David, pulanglah." ucap Gino mengabaikan pertanyaan itu.


"Aku tetap di sini hingga Laura bangun." ucap David keras kepala.


"Terserah kau saja."


***


Hai buat kalian yang udah mampir diceritaku terimakasih banyak. Like dan komen dari kalian sangat membantu dalam proses menulis. Karena dukungan dari pembaca sangat berarti bagi saya. Mengingat saat ini, saya kehilangan pendukung terbesar dan mungkin kedepannya saya mengandalkan respon dari kalian. Kritik dan saran juga saya harapkan untuk cerita ini.


Terimakasih🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2