Side The Away

Side The Away
Ungkapan cinta


__ADS_3

Laura melupakan satu hal tentang Miranda. Dia belum mendengar kabar apa pun dari rumah sakit mengenai perempuan itu. Sehingga Laura memutuskan mengunjungi Miranda. Tiba di sana, dia segera melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan Miranda. Laura berpapasan dengan dokter dan bertanya mengenai kondisi perempuan itu yang dijawab oleh dokter itu jika Miranda baik-baik saja. Laura bernapas lega kemudian menghampiri Miranda yang menyambutnya dengan senyum mengembang.


"Miss Laura, lama tidak bertemu." ucap Miranda.


"Maaf, aku sibuk mengurus beberapa hal." ucap Laura jujur.


"Aku terkejut kau datang kemari, tapi terimakasih karena kau satu-satunya orang yang mengunjungiku selain dokter."


"Apa kau sungguh tidak memiliki kerabat?" tanya Laura terkejut.


Miranda menggeleng. "Aku tidak pernah menikah dan aku anak satu-satunya di keluargaku. Lebih tepatnya anak ibuku karena aku tidak tahu siapa ayah kandungku. Miss Laura, jangan bertanya tentang hal ini. Aku merasa sangat menyedihkan."


"Mengapa kau tidak menikah?" tanya Laura.


"Dulu pernah ada keinginan untuk menikah. Namun, orang yang aku cintai menikahi orang lain. Aku mencintainya seumur hidupku oleh sebab itu, aku tidak akan menikah dengan orang lain. Seandainya aku merebutnya dari orang itu, aku tidak akan menyesal seperti hari ini. Miss Laura, jangan sepertiku menahan perasaan untuk orang yang kau cintai. Jika kau mencintainya, kejarlah sampai kau tahu dia juga tidak menginginkanmu. Kau tidak akan merusak hubungan orang lain jika orang itu juga mencintaimu."


Akibat ucapan Miranda, ingatan tentang Gino berkelebat di pikirannya. Laura berpamitan pada perempuan itu lalu melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit. Dengan tangan gemetar, Laura mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Gino. Pada detik berikutnya suara laki-laki itu menyapa telingannya.


"Kenapa La?"


Laura menarik napas dalam-dalam. "Aku cinta sama kamu No."


Sambungan itu berakhir dan Laura tidak bisa menghentikan air matanya menetes. Dia sungguh mencintai Gino, tapi sekarang sudah terlambat karena laki-laki itu akan menikah dengan orang lain.


Laura kembali ke apartemennya dengan wajah sembab. Dia belum sempat mencari apartememen lain karena kehadiran Gino hari itu. Kardus-kardus masih berserakan di lantai menyebabkan kondisi apartemennya berantakan. Namun, tatapannya justru mengarah pada foto Mario yang berada di atas meja ruang tamu. Dia meraih foto itu dengan pikiran melayang pada kejadian kemarin, ketika Gino tidak sengaja menjatuhkan pigura itu ke lantai.


Apakah Gino salah paham terhadap foto itu?


Tiba-tiba Laura mengerti dengan sikap Gino setelah menanyakan tentang perasaannya pada Mario. Dia mengutuk dalam hati karena tidak memahami maksud dari pertanyaan itu. Mustahil Gino menganggap Laura masih menjalin hubungan dengan Mario. Seingatnya, laki-laki itu tidak terlalu peduli kecuali pertanyaan berapa lama dia dan Mario menjalin hubungan. Dan Laura tidak pernah memberi jawaban karena menurutnya tidak penting. Ralat, sebenarnya dia sendiri tidak memahami perasaannya pada Mario disebut cinta atau hanya simpati.


Ternyata benar, Laura termasuk jenis manusia yang tidak peka terhadap lingkungan sekitar. Pantas saja Gino meninggalkan apartemennya dengan sikap aneh. Laki-laki itu mungkin berpikir Laura masih menjalin hubungan dengan Mario. Memang, kesalahannya mengakibatkan Gino salah paham. Namun, apakah pantas menjelaskan hal itu sementara Gino akan menikah?


Keraguan itu semakin kuat ketika ponselnya berbunyi dan Ajeng mengirimkan pesan singkat.


Habis tahun baru, kamu pulang ke Indonesia ya La. Jangan sampai nggak datang di acara pernikahanku, kamu juga pasti kangen sama Rahma kan?


Laura membaca pesan itu dan tidak berniat untuk membalasnya. Ajeng menyebut nama itu tanpa dosa sementara dia harus menahan emosinya saat mengingat kejadian lima tahun lalu. Enggan, meratapi kejadian menyakitkan itu, Laura meletakkan ponselnya di meja dan membawa foto Mario ke kamarnya. Dia memasukkan foto itu bersama dengan benda-benda pemberian Mario yang lain. Sudah saatnya Laura membuang kenangan itu ke tempat sampah.


Selesai membuang sampah di lantai bawah, Laura dikejutkan oleh kehadiran David di depan unit apartemennya. Laki-laki itu melambaikan tangan begitu melihatnya berdiri di lorong. Laura menghampiri David dengan langkah lebar.


"Kenapa kau datang?" tanya Laura memastikan kedatangan David tidak menimbulkan kekacauan seperti malam itu.


"Aku tidak memiliki kegiatan setelah mengantar Gino ke bandara. Laura, ayo temani aku makan siang."


Belum sempat Laura membuka mulutnya, David lebih dulu menyeretnya menuju lift. Dia melepaskan tangan David begitu lift mulai bergerak.


"Gino mencintaimu." ucap David serius.


"Aku juga mencintainya."

__ADS_1


"Kau mencintainya?!" tanya David keras, dia mengguncang bahu Laura kasar. "Kenapa kau tidak mengatakannya?!"


"Aku sudah mengatakannya." Laura melepaskan tangan David dari pundaknya. "Tapi percuma karena Gino akan menikah dengan orang lain."


"Aku juga belum bertanya tentang pernikahan itu." David menghela napas berat, dia menatap angka-angka yang berubah dari setiap lantai. "Gino tidak pernah membahasnya dan aku tidak ingin tahu kehidupan pribadinya kecuali tentang kau. Dia tidak mungkin menikah dengan orang lain sementara kau pilihannya. Dan dia menyerah bukan karena perasaannya, tapi karena kau mencintai Mario. Malam itu setelah dia melihatmu bersama laki-laki itu, Gino menyerah dengan perasaannya dan merelakan kau bersama orang lain. Namun, aku tahu Gino tidak akan melepaskan perasaan itu dengan mudah mengingat dia mencintaimu sejak kecil." ucap David.


"Aku dan Mario sudah berakhir."


"Benarkah?!"


Antusiasme David melebihi seseorang yang baru saja menemukan harta karun. Laura hanya menanggapi ucapan itu dengan senyuman. Lift terbuka dan keduanya berjalan meninggalkan gedung apartemen. Mobil David diparkir di sisi jalan dan ada yang berbeda dari mobil itu.


"Kau membeli mobil baru?" tanya Laura.


"Ayahku mencairkan kartu debitku dan aku ingin menghabiskan uang itu." ucap David lalu melajukan mobilnya di jalanan yang licin.


Cara berpikir orang kaya memang berbeda dengan orang biasa seperti Laura. Menghabiskan uang untuk membeli mobil hanya bagian dari halusinasinya. Pekerjaan paruh waktu dengan gaji pas-pasan seumur hidup, Laura tidak akan mampu membeli mobil. Jangankan mobil, dia bahkan tidak memiliki rangkaian skincare seperti kebanyakan perempuan. Hidupnya yang pahit itu, Laura bersyukur memiliki banyak orang yang peduli.


"Kau suka sekali melamun."


Ucapan David menyadarkan Laura dari lamunan. Mobil itu sudah berhenti di sebuah bangunan bergaya kuno. Dia mengikuti David memasuki bangunan itu dengan banyak pertanyaan di benaknya terlebih ketika pasangan paruh baya melambaikan tangan ke arah mereka.


"Laura, kali ini aku harus minta maaf pada Gino." ucap David lirih.


"Apa maksudmu?" tanya Laura curiga.


"Kau akan mengetahuinya nanti." ucap David misterius dan menarik tangan Laura mendekati pasangan paruh baya itu.


***


Pesan singkat yang dikirim David menyebabkan kegembiraan Gino menghilang. Setelah Laura mengatakan cinta, dia sudah berada di ruang tunggu dengan boarding pass miliknya. Dan pemberitahuan untuk memasuki pesawat terdengar nyaring di telinganya. Gino mengabaikan hal itu dan berjalan meninggalkan bandara. Dia menaiki taksi menuju apartemen Laura. Namun, pesan singkat yang dikirim David membuatnya kesal. Dia teringat dengan cerita David sebelum mengantarnya ke bandara. Cerita tentang perjodohan dan berakhir jika David memiliki kekasih, tapi laki-laki itu melibatkan Laura. Gino akan membunuh David saat melihatnya membawa Laura dalam acara keluarga yang dipenuhi drama palsu.


Namun, ada hal yang lebih penting. Bersamaan dengan ponselnya berbunyi dan nama ibunya muncul di layar.


"Hati-hati di jalan le, jangan lupa berdoa sebelum naik pesawat. Ibu nggak sabar mau ketemu sama kamu."


Gino tidak bisa berbohong pada ibunya, tapi menyangkut tentang Laura tidak boleh dilewatkan begitu saja.


"Gino masih ada urusan, seminggu lagi semoga urusannya selesai. Bu, jangan kecewa kalau Gino nggak jadi pulang. Masih ada waktu sebelum mas Malik nikah sama Ajeng. Urusan ini penting banget, maaf kalau ibu kecewa karena mendadak ngasih kabarnya." ucap Gino.


"Urusan sama Laura diselesaikan baik-baik. Kalau pun kalian nggak jodoh ya jangan dipaksa. Ibu tunggu kabar dari kamu le."


Berbicara dengan ibunya terasa menenangkan, Gino mendapatkan kekuatan baru setelah mendengar wejangan khas orang tua tentang mengejar seorang gadis. Dia mengakhiri sambungan itu dengan banyak ungkapan rindu. Terutama gudeg buatan ibunya. Setelah kembali ke Indonesia, Gino akan menyantap masakan ibunya sebanyak-banyaknya.


Taksi itu berhenti di gedung apartemen dan Gino menyerahkan uang tanpa menunggu kembalian. Dia berjalan menuju bangunan itu dan menunggu hingga David membawa Laura kembali. Gino masih menyimpan kunci apartemen milik Laura dan selalu membawanya kemana pun.


Pukul tujuh malam, Gino mendengar suara pintu terbuka. Suara David terdengar nyaring seperti biasanya dan suara Laura yang lembut. Dia tidak bisa menyembunyikan kemarahannya lebih lama. Gino menghampiri David dan mendorong laki-laki itu menuju dinding. Laura hendak mencegah, tapi Gino lebih dulu melayangkan pukulan di wajah David.


"Kau tahu, aku mencintai Laura. Kenapa kau membawanya menemui keluargamu?!" tanya Gino marah.

__ADS_1


"No, jangan pukul David."


Mendengar ucapan itu, Gino melepaskan David dan menghempaskan laki-laki itu ke lantai. Dia memeluk Laura dengan erat, takut jika suatu hari David akan merebut gadis itu.


"Gino, sialan!" umpat David menyentuh wajahnya yang kaku. "Aku membawa Laura karena dia sahabat Lucy. Aku meminta bantuan Laura untuk menghubungi gadis itu. Jean juga ada di sana dan bertemu orangtuaku. Kau pikir aku teman macam apa?" tanya David kesal.


"Minta maaf sama David, kamu udah pukul dia tanpa alasan. Jangan kekanakan No." bujuk Laura dalam pelukan Gino.


"Minta maafnya kapan-kapan aja La. Sekarang aku maunya kamu." ucap Gino lalu memberikan tatapan tajam pada David.


"Kalian lanjutkan saja, aku pergi sekarang."


Bagus. Akhirnya hama itu sudah menyingkir dan membiarkan Gino menikmati waktunya bersama Laura. Mereka masih berpelukan hingga mendengar detak jantung masing-masing. Dia mencium aroma yang dirindukannya selama bertahun-tahun ini. Perasaan Laura adalah miliknya dan Mario tidak boleh mendapatkan gadis itu.


"La, jangan nikah sama Mario. Aku nggak rela kamu nikah sama orang lain."


"Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Mario."


Gino melepas pelukannya. "Serius La?"


"Padahal kamu yang mau nikah sama Ajeng. Kenapa malah nggak jadi balik?"


Menikah dengan Ajeng?


Hampir saja Gino tertawa jika tidak melihat ekspresi Laura yang serius. Entah siapa yang mengatakan omong kosong itu, menikah dengan Ajeng lebih baik Gino tetap melajang seumur hidup. Dia hanya ingin menikahi Laura, tidak ada orang lain yang bisa menggantikan gadis itu.


"Kamu ngomong apa sih La?" tanya Gino geli, dia tidak bisa menahan senyumnya melihat Laura yang kesal. "Sepupuku yang mau nikah sama Ajeng, kamu pasti kenal sama mas Malik. Orang yang suka gangguin kita waktu kecil. Kamu juga pernah dikerjain sama dia sampai nangis. Ingat nggak La?"


"Terus maksud undangan itu apa?"


"Undangan apa sih La?" tanya Gino bingung.


"David pernah ngasih tahu undangan itu. Di sana ada nama kamu sama Ajeng." ucap Laura.


"Oh itu," Gino terkekeh melihat Laura yang cemberut. "Nggak tahu kerjaan siapa ngirim undangan malah nama aku yang jadi mempelai pria. Kemungkinan besar, mas Malik pelakunya, tapi Ajeng kemungkinan tersangka utama. David sering pinjam ponselku mungkin dia nggak sengaja lihat undangan itu."


"Kamu buat aku salah paham No."


"Sekarang semua udah jelas, tinggal satu hal aja yang belum jelas." Gino menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Laura. "Jadi istriku ya." ucap Gino serius.


"Tapi,"


"Aku nggak akan mukul kamu seperti Mario. Jangan takut, aku ini pengacara jadi nggak akan buat kamu seperti kasus klienku. Dan sekarang cuma kamu satu-satunya klien di hidupku. Aku bakal fokus ngurus kamu sampai tua. Jadi, nikah sama aku ya La."


"Aku nggak mau tinggal di Jogja." ucap Laura lirih.


"Nggak masalah mau tinggal di mana pun, asal cuma aku yang tinggal di hati kamu." ucap Gino lalu mencium bibir Laura sekilas.


"Gombal banget No!"

__ADS_1


Gino tertawa lalu memeluk Laura. Dia tidak akan melepaskan gadis itu seperti lima tahun lalu.


***,


__ADS_2