Side The Away

Side The Away
Renggang


__ADS_3

"La."


Laura terkejut ketika Gino memeluknya dan bersandar di bahunya. Dia mengusap rambut Gino dengan gerakan lembut, merasa laki-laki itu sedang mengalami masa sulit. Laura tidak ingin bertanya mengenai urusan Gino dan keluarganya. Sebagai orang luar rasanya tidak nyaman bertanya mengenai urusan itu.


"Kamu lapar No?" tanya Laura.


"Aku udah makan bareng mas Malik." Gino menatap Laura dengan tatapan muram. "Kesehatan ayah menurun dan aku terpaksa ngambil alih perusahaan. La, kalau aku nggak bisa nuruti keinginan kamu tinggal di luar Jogja, gimana?" tanya Gino.


Laura tidak langsung membalasnya, dia tidak memberitahu Gino tentang ajakan Rahma hari itu. Dan keinginan selain bersama Gino adalah tinggal di luar Jogja. Bagaimanapun juga Laura terlanjur jatuh cinta pada keramaian New York. Hidupnya ada di tempat itu, bukan Jogja. Namun, kesulitan Gino bukannya Laura tidak mengerti, dia tahu jika Gunawan menginginkan putranya mewarisi bisnis keluarga. Hanya saja, Laura ingin Gino menjalani kehidupan bebas bersamanya.


"La, kalau kamu nggak mau tinggal di Jogja. Kamu bisa balik ke Amerika, tapi aku mau kita nikah dulu. Aku tahu, Jogja punya banyak kenangan menyakitkan dan aku berusaha ngerti. Cuma, aku nggak punya pilihan selain nuruti keinginan ayah. Dia punya riwayat penyakit jantung, aku khawatir terjadi sesuatu kalau nolak permintaannya. La, kali ini apa kamu bisa ngerti?"


"Aku nggak tahu No." ucap Laura jujur.


"Setelah masalah ini selesai kita bisa bangun keluarga kecil di luar Jogja dan punya banyak anak."


Percakapan itu terasa berat. Menjadi kekasih Gino ternyata tidak semudah yang dia bayangkan.


"Aku belum siap nikah No. Maaf, tentang lamaran itu, aku belum bisa nikah dalam waktu dekat."


"Aku ngerti La."


Seandainya Gino mengerti, wajah laki-laki itu tidak akan muram setelah Laura mengatakan hal itu. Dia merasa bersalah dan berusaha menghibur Gino dengan cara memeluk laki-laki itu. Kebiasaan menolak lamaran seseorang sepertinya sudah menjadi kebiasaan Laura. Sulit sekali menghilangkan kebiasaan buruk itu. Apalagi Gino seseorang yang dicintainya, perasaan bersalah itu semakin menghantuinya.


"Kalian kok pelukan siang-siang gini?!"


Ucapan Ajeng menyebabkan Laura mendorong Gino dengan kasar hingga laki-laki itu terjatuh di lantai. Dia hampir membunuh Gino jika Malik tidak menahan guci keramik yang berada di atas meja. Laura mendekati Gino dengan napas tertahan.


"Kamu nggak apa-apa kan No?" tanya Laura cemas.


Gino menggeleng. "Aku mau istirahat bentar. Kamu temani Ajeng sama mas Malik."


"Gino lagi butek banget La. Semalaman nggak pulang ke rumah karena ngurusin kerjaan. Ayahnya harus ke Singapura cek kesehatan, tante Mira juga ikut. Penyakit paman makin parah karena Gino nolak ngambil alih perusahaan. Malik cerita mereka bertengkar di ruang rapat terus om pingsan dan tante Mira terpaksa nampar Gino. Situasi tambah sulit, perusahaan juga butuh pemimpin, tapi kesehatan om makin buruk. Gino egois banget, cuma nggak sesuai passion, dia nolak keras jadi penerus. Seandainya Malik saudara kandungnya, dia nggak keberatan jadi pemimpin. Masalahnya, Malik cuma sepupu dan Gino lebih pantas jadi pemimpin perusahaan." ucap Ajeng. Keduanya duduk di gazebo taman belakang sambil memberi makan ikan. Malik bersama Gino karena merasa tidak enak dengan kejadian tadi.


Laura menatap ikan-ikan yang berebut makanan. Dia termenung cukup lama memahami ucapan Ajeng. Beban Gino semakin berat sedangkan Laura hanya diam tanpa memberikan kekuatan. Memikirkan perasaannya sendiri tanpa mendengar pendapat Gino. Hubungan mereka seperti racun cepat atau lambat bisa membunuh siapa saja. Dan Laura tidak memahami Gino karena masa lalunya dengan Rahma. Bayangan kematian orang tuanya serta perlakuan kasar setelah pernikahan, Laura tidak pernah melupakannya.


Bagaimana jika kekerasan fisik terjadi setelah mereka menikah?


Laura tahu, Gino bukan ayahnya dan tidak semua laki-laki melakukan kekerasan. Namun, perlakuan Mario membuatnya takut jika suatu hari Gino akan bersikap seperti laki-laki itu. Dia tidak memahami Gino sepenuhnya, baik sikap maupun sifat. Kecuali teman masa kecil sekaligus cinta pertamanya.


Kehidupan seperti ini, apakah keinginan Laura?


Jelas-jelas dia mencintai Gino. Namun, untuk berbagai keluh kesah, rasanya bukan keputusan tepat. Dan memilih menyimpan masalahnya sendiri termasuk pertemuannya dengan Rahma.

__ADS_1


"Kamu cinta sama Gino kan La?" tanya Ajeng memecah keheningan.


"Cinta nggak cukup dalam sebuah hubungan Jeng." jawab Laura lirih.


"Aku tahu, kamu pernah jalin hubungan sama orang lain selama di New York. Mungkin alasan kamu belum nerima Gino sepenuhnya karena laki-laki itu masih ada di dalam hati kamu. Bukan aku judge, tapi menurut sudut pandangku kamu memang nggak seantusias itu sama Gino. Kadang sesuatu yang nggak kamu sadari orang lain bisa melihatnya. Mirip sama perasaan kamu sekarang ini. Aku kenal kamu dan aku tahu kalau kamu masih ragu sama lamaran Gino. Bahkan keberatan soal pernikahan. Memang, ada alasan bagi seseorang nggak mau menikah, tapi pernikahan juga bukan sesuatu yang menakutkan. Aku ngomong gini karena aku udah ngerasain kehidupan pernikahan. La, kamu pernah ngalamin kehidupan sulit dan aku paham sama keputusan kamu, tapi Gino juga berhak dengar pendapatmu. Saat kamu percaya dengan seseorang, kamu paham artinya sebuah hubungan. Interaksi antara pasangan bukan cuma tentang cinta, tapi juga kepercayaan. Benar yang kamu bilang, cinta nggak cukup untuk sebuah hubungan. Kamu harusnya paham sama hal ini La."


Laura menoleh. "Kamu mirip sama psikolog."


"Kamu jadi irit ngomong sih La." ucap Ajeng kesal. "Padahal aku mau curhat soal designer favoritku. Aku rela lho nonton sampai tengah malam pas run away design terbarunya. Gila, keren banget sumpah. Aku mau pakai gaun rancangannya pas nikahan, tapi dia malah ninggal duluan."


Laura mengerutkan kening. "Kamu ngomong apa sih Jeng?" tanya Laura tidak mengerti.


"Kamu kenal Jason Allen kan?" tanya Ajeng serius.


"Jason Allen?" ulang Laura.


"Designer berbakat di Amerika bahkan terkenal ke seluruh dunia. Namanya juga masuk urutan Forbes lho La. Kamu tinggal di negara asalnya kok malah nggak tahu sih!"


Laura berpikir keras barangkali pernah membaca nama itu di suatu tempat. Jason Allen, Jason....


Tiba-tiba dia teringat dengan Jason yang telah meninggal. Ternyata Ajeng salah satu penggemar fanatiknya, Laura lupa sahabatnya itu memiliki cita-cita menjadi designer. Dan berujung kandas karena Ajeng berpindah haluan menjadi reporter. Kini mendengar Ajeng menyebutkan nama Jason, dia merasa prihatin dengan laki-laki itu. Seandainya dunia tahu, Jason yang hebat menyerah karena cinta. Kehidupan yang diimpikan banyak orang memiliki rahasia terbesar karena kehilangan salah satu ginjal demi menyelamatkan nyawa seseorang yang dicintainya. Dan orang itu justru mencintai orang lain. Mungkin mereka membuang jauh kehidupan seperti Jason. Harga yang dibayar terlalu tinggi untuk sebuah pengorbanan dengan embel-embel balas budi.


"Kamu pernah ketemu dia nggak La?" tanya Ajeng penasaran.


"Nggak baik bahas orang yang udah meninggal." ucap Laura kemudian bangkit dari duduknya. "Aku mau mandi habis itu kita keluar makan siang."


"Ya ampun anak gadis jam segini belum mandi!" Ajeng menumpahkan makanan ikan saking kagetnya.


***


Pukul dua siang Laura menginjakkan kakinya di sebuah warung makan sederhana tidak jauh dari rumah Gino. Dia datang seorang diri karena Ajeng dan Malik berpamitan dengan alasan pekerjaan. Sedangkan Gino tertidur lelap di kamarnya. Laura tidak ingin menunggu Gino bangun dan membiarkan perutnya kelaparan. Malam tadi dia melewatkan makan malam dan siang ini akan makan sepuasnya.


Nasi ayam goreng kremes menjadi menu andalan Laura. Tidak lupa teh manis sebagai pelengkap. Dia makan dengan lahap mengabaikan ponselnya yang berbunyi dari balik saku.


Setengah jam kemudian, Laura telah menghabiskan dua piring nasi dan dua gelas teh manis. Perutnya hampir meledak karena kekenyangan, selera makannya akhir-akhir ini meningkat.


Ponselnya kembali berbunyi mengingatkan Laura untuk melihat seseorang yang menghubunginya.


Ternyata Lucy. Sepertinya perempuan itu berhasil menjalani terapi pemulihan pasca kehilangan Jason.


"Lala!"


Lucy sudah kembali menyebabkan Laura harus menutup sebelah telinganya akibat teriakan itu. Bahkan beberapa orang di warung itu menoleh karena Laura lupa mengurangi volume suara. Dia segera membayar pesanannya kemudian meninggalkan tempat itu. Tidak nyaman berbicara di bawah pengawasan orang lain. Dia berjalan kaki melihat kendaraan yang melintas sambil mendengarkan Lucy berbicara dari seberang sana.

__ADS_1


"Aku merindukanmu. Kapan kita bertemu?"


"Aku juga merindukanmu. Entahlah, aku berada di Indonesia sekarang." ucap Laura jujur.


"Kau bersama Gino?"


"Iya." jawab Laura singkat.


"Mario sangat sedih saat mendengar kau bersama Gino. Dia hampir gila dan terjaga sepanjang malam. Kau tahu Mario sangat mencintaimu, dia masih tidak rela melihatmu bersama orang lain. Mario tidak pernah mencintai seseorang begitu dalam sebelumnya, kehilangan ini seperti mimpi buruk di hidupnya. Lala, kenapa kau tidak bicara dengannya sekali lagi?"


"Mario bisa bicara kapan pun."


"Sekarang Mario tidak memiliki keberanian melakukan hal itu. Dia menghargai hubunganmu dan Gino."


"Lucy, apa maksudmu?" tanya Laura memastikan.


"Gino melarang Mario mengganggu kehidupanmu. Saat itu, Gino yang menjawab panggilannya dan berkata kalian sudah bersama. Mario tahu perbedaan waktu dan saat itu New York malam hari artinya Gino menginap di apartemenmu. Dia tahu kau dan Gino sudah melakukannya. Dan dia tidak tahu jika hal itu membuatnya gila. Mario hampir tertabrak mobil jika tidak ada seseorang yang menolongnya. Aku khawatir Mario sengaja berjalan di tengah lalu lintas. Meskipun dia menyangkal dengan keras, tapi aku tahu karena dia kakakku." ucap Lucy.


Laura memeriksa nomor kontak Mario dan tidak menemukan nama Mario di sana. Sepertinya Gino menghapus kontak Mario dan tidak memberitahu Laura mengenai hal itu. Perlahan, rasa kecewa itu muncul. Kenapa Gino harus melakukan hal itu?


"Kau juga melamun saat kita sedang berbicara."


Laura kembali menempelkan ponselnya di telinga. "Gino tidak memberitahu hal ini. Lucy, aku minta maaf atas namanya."


"Kau bisa mengatakannya pada Mario. Aku tidak ada hubungannya dengan masalah ini."


"Lucy, aku sedang berada di jalan. Nanti aku hubungi lagi." ucap Laura lalu memutuskan sambungan itu ketika melihat sebuah mobil berhenti di sampingnya.


Dengan gerakan cepat, Laura membuka pintu mobil dan duduk di samping Gino dalam diam. Wajah laki-laki itu terlihat jauh lebih segar. Namun, pikiran Laura tertuju pada ucapan Lucy. Dia hendak bertanya, tapi tertahan karena laki-laki itu lebih dulu berbicara melalui ponsel. Dan Gino menyebutkan nama Rahma, ternyata orang yang berbicara dengan Gino adalah perempuan itu.


"Rahma mau balik ke Aussie. Dia minta maaf tentang kejadian itu. Dan makan malam kalian tempo hari." ucap Gino setelah sambungan itu berakhir. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, memperhatikan jalanan yang dipadati kendaraan. "Aku nggak tahu kamu ketemu Rahma dan makan malam bareng dia."


"Aku juga nggak tahu kamu hapus kontak Mario."


"La, apa kamu belum bisa lupain Mario?" tanya Gino mengepalkan tangannya di kemudi mobil kuat-kuat.


"Pertanyaan ini harusnya kamu udah tahu jawabannya No." ucap Laura lirih.


"Aku nggak tahu apa pun soal kamu sama Mario karena kamu nggak pernah bahas tentang dia."


"No, aku nggak mau bertengkar. Emosi kamu nggak stabil lebih baik kita nenangin pikiran." Laura menutup matanya enggan membahas hal itu.


Mobil melaju melewati jalan tol. Sepertinya Gino tidak berniat membawanya pulang ke rumah. Namun, Laura tidak bertanya dan membiarkan perjalanan itu diisi dengan keheningan.

__ADS_1


***


__ADS_2