Side The Away

Side The Away
7


__ADS_3

Hening. Tidak biasanya Lucy diam untuk waktu yang lama. Ternyata bukan hanya Mario yang menyembunyikan rahasia itu. Lucy juga tidak ingin Laura mengetahuinya.


"Sudahlah Lucy. Aku akan bekerja hari ini."


Laura memutuskan sambungan itu lalu menyimpan ponselnya. Dia melewatkan pemberhentian pertama dan membiarkan kereta itu membawanya entah kemana.


***

__ADS_1


Pukul empat sore Laura memutuskan untuk bekerja. Dia tidak memiliki kegiatan dan enggan bermalas-malasan di apartemen seorang diri. Seharusnya besok dia mulai bekerja. Namun, Laura memutuskan bekerja lebih cepat. Selain mendapatkan uang, dia ingin mencari kesibukan. Mungkin dia perlu mencari pekerjaan lain agar waktunya tidak terbuang sia-sia.


Kini Laura sudah berada di apartemen milik David. Dia mengambil sampah-sampah yang berserakan di atas meja dan memasukkannya ke dalam plastik besar. Lalu membuangnya ke tempat sampah yang berada di lantai bawah. Laura kembali ke apartemen dan mulai mengepel lantai. Dia membersihkan seluruh ruangan hingga mengkilap. Merasa lelah Laura duduk di sisi ranjang sambil mengusap keringat di keningnya. Pendingin itu seolah tidak berfungsi dan udara musim di gugur itu Laura merasa kepanasan. Dia melepas pakaiannya dan hanya menyisakan tank top. Tidak ada siapa pun di ruangan itu seharusnya tidak masalah.


"Aku tidak mengambil kasus itu. Cari pengacara lain, aku sudah bilang sejak aku meninggalkan perusahaan. Klien itu bermulut besar dan aku tidak sanggup mendengar omong kosongnya. Aku tidak keberatan jika kau memecatku. Banyak perusahaan lain yang membutuhkan jasaku. Terserah lakukan apa saja, aku tetap menolaknya!"


Laura menoleh ke arah pintu kamar. Dan di sana dia melihatnya. Argino Mahendra. Laki-laki itu sedang menatapnya melupakan ponsel yang terjatuh di lantai. Laura terkejut lalu bangkit dari duduknya. Dia tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini. Benci, kecewa, atau bahkan merasa rindu pada sosok itu. Perasaan campur aduk itu Laura benci merasakannya. Dia mundur ketika Gino mendekatinya. Laura menepis tangan Gino kasar. Dia tidak percaya Gino bersikap biasa saja setelah kejadian itu!

__ADS_1


Tenaga Laura habis. Dia tidak bisa mendorong Gino menjauh. Dan pelukan itu semakin erat seolah Gino tidak ingin kehilangannya.


"Kamu masih suka menghindari sesuatu tanpa mendengar penjelasan. Kamu pergi dan melupakan semuanya. Kamu nggak tahu rasanya ditinggalkan dan berusaha untuk melupakan. Kamu berhasil tapi aku nggak. Aku masih berada di tempat yang sama. La, kamu udah berpindah menuju zona nyaman, tapi aku masih nunggu kamu di belakang. Menurutmu apa itu adil?" tanya Gino.


Laura tidak bisa mencegah air matanya menetes. Gino tidak pernah mengatakan apa pun. Dan sekarang muncul secara tiba-tiba. Laura tidak mungkin melukai Mario. Laki-laki itu tidak boleh terluka.


"Kamu pernah tanya. Siapa orang yang paling aku pedulikan. Dan aku cuma bilang dalam hati. La, aku nggak mau simpan apa pun lagi. Aku suka sama kamu dari kecil. Mungkin saat kamu nangis dan aku gendong kamu di tengah hujan. Aku mulai jatuh cinta sama kamu. Diam-diam tanya soal Rahma buat mastiin perasaan kamu. Dan keputusanku saat itu salah besar. Kamu salah paham hanya karena Rahma."

__ADS_1


Laura mendorong Gino sekuat tenaganya dan berhasil melepaskan diri. Laura mengambil pakaiannya lalu keluar dari ruangan itu. Dia bertemu David di ruang tamu dan laki-laki itu tampak terkejut. Namun, Laura mengabaikannya dan terus berjalan meninggalkan tempat itu.


***


__ADS_2