Side The Away

Side The Away
2


__ADS_3

Jika tidak suka katakan dengan terus terang, jangan mempermainkan perasaan orang lain yang tidak bersalah." ucap Mika.


"Jika kau melakukan sesuatu pada Laura, aku akan membunuhmu!"


"Gino, ada apa denganmu?" tanya Mika geli. "Aku hanya bercanda saja, reaksimu ini seperti aku melukai gadismu. Aku bahkan tidak mengenalnya, jangan mengancam nyawa seseorang terlebih kau pengacara. Gino, kau harus mengejarnya jika sungguh mencintainya."


"Aku sedang mengejarnya, Mika, kau terlalu ikut campur urusanku. Pikirkan saja suamimu dan masalah mertuamu itu." ucap Gino mengingatkan.


"Keduanya adalah orang brengsek, kau lebih memilih mati jika mengalami hidup sepertiku."


***


Langit sudah gelap, Laura melihat pemandangan disekitarnya dalam diam. Dia berada di atap gedung bersama Mario dan Jason. Pekerjaan terbengkalai itu melibatkan Jason untuk menulis naskah sementara Mario mengatakan secara lisan. Keduanya terlihat serius dan Laura seperti orang ketiga di tempat itu. Dia teringat dengan Gino yang ditinggalkannya tanpa pesan, mungkin laki-laki itu panik mencarinya. Laura tersenyum kecil mengingat sikap gugup Gino hari itu. Tentang masker timun, telur gosong dan juga insiden tanaman hias. Semua kenangan itu tersimpan dengan baik di kepalanya, Laura tidak pernah melupakannya bahkan rahasia terkecil Gino, Laura pun mengetahuinya.


"Lala?"

__ADS_1


Laura menoleh ke samping, ternyata Jason, Mario tidak ada di sana sepertinya Mingye membawa laki-laki itu pergi.


"Aku melihatmu di pesta Jean, kau bersama Argino Mahendra. Pengacara muda berbakat dan kalian berasal dari negara yang sama. Lala, apakah dia orang itu?" tanya Jason.


Laura menarik napas dalam-dalam, Jason sangat peka dan hal sekecil itu bisa menebaknya dengan benar.


"Jason, aku tidak akan melukai Mario." ucap Laura lirih.


"Mika sepupuku, kami tumbuh besar bersama dan usia kami terpaut satu tahun. Dia lebih tua dan aku sangat menghormatinya. Dia mengalami masa-masa sulit saat kehilangan orangtuanya dan mempertahankan perusahaan seorang diri. Di usia semuda itu Mika berhasil membuktikan bahwa kemampuan seseorang bukan berdasarkan usia. Namun kerja keras dan keinginan untuk bertahan. Dia cantik dan pintar tapi juga sangat bodoh. Satu-satunya hal yang membuatnya bodoh adalah menerima perjodohan keluarga. Lala, aku tidak ingin membahas tentang Mika dan membuatmu terganggu. Aku hanya menjelaskan hubunganku, Mario, Lucy, dan Mika sudah dimulai sejak kecil. Bisa dikatakan kami teman masa kecil dan terpisah saat orangtua Mario pindah ke New York."


"Jadi apakah kau menerima lamaran Mario?"


Laura mengangguk. "Mario membutuhkan seseorang dan aku tidak bisa mengabaikannya. Dia pernah menjadi orang terpenting dalam hidupku. Jason, jangan beritahu Mario tentang Gino, hubunganku dengan dia hanya teman sekolah. Kenangan-kenangan itu hanya euforia masa remaja."


"Aku merasa jahat tapi aku akan menyimpannya demi Mario." ucap Jason.

__ADS_1


"Jason, apa kau benar-benar mencintai Lucy?"


"Tentu saja, Lucy satu-satunya orang di hatiku."


Laura mengangguk, tidak berani membahas lebih jauh tentang Lucy dan antusias perempuan itu pada David. Bagaimana pun Lucy memiliki privasi, tidak pantas Laura mengatakan hal itu meskipun demi kebaikan Jason.


"Lala semoga kau tidak menyesali keputusanmu."


Laura tersenyum tipis, merasa Jason mengingatkan tentang keputusan yang dipilihnya.


"Mario orang yang baik, aku tidak mungkin menyesal."


"Baik hanya alasan saat seseorang mencapai titik jenuh. Lala, kau tidak bisa menyukai seseorang hanya dari kebaikannya. Jika suatu hari orang itu menjadi jahat maka perasaanmu akan menghilang dengan sendirinya."


"Jason terimakasih, tidak apa-apa asalkan Mario bahagia."

__ADS_1


***


__ADS_2