Side The Away

Side The Away
Melepas


__ADS_3

"Kenapa kita datang ke sini?" tanya Laura.


"Biar kamu ingat sama kenangan masa kecil kita." jawab Gino.


Mengenang masa kecil mereka bukan lagi kesukaan Laura. Dia cukup dewasa untuk memahami sesuatu termasuk tentang hubungannya dengan Gino. Apalagi rumah itu memiliki banyak kenangan menyakitkan.


"Kamu capek No?" tanya Laura memastikan.


Gino mengangguk. "Capek banget. Kerjaan nggak ada habisnya."


"Bukan tentang pekerjaan." Laura menoleh ke samping memberanikan diri mengucapkan kalimat itu. "Tapi tentang hubungan kita."


"Hubungan kita baik-baik aja La."


"Seandainya begitu No." ucap Laura lirih, tapi perbedaan cara berpikir mereka terkadang membuatnya jenuh. Namun, melihat emosi Gino, pemikiran itu dia buang jauh-jauh. "Aku mau balik ke New York." tambahnya lagi.


"Kamu udah capek La?" tanya Gino penuh penekanan. Nadanya dibuat setenang mungkin. Namun, emosinya meluap mendengar ucapan itu.


"Aku nggak mau lihat kamu tertekan karena pekerjaan dan juga keinginanku."


"La, aku bisa atur pekerjaan karena ada mas Malik, tapi aku nggak mau kamu balik ke New York sebelum kita menikah. Sekali ini coba berdamai sama masa lalu, apa kamu nggak bisa La?" tanya Gino hampir kehilangan kesabaran.


"Aku belum siap menikah No. Kamu juga paham sama alasan ini." ucap Laura.


"Kejadian itu udah lama banget La. Kenapa kamu masih takut dengan pernikahan?" Gino mengepalkan tangannya di kemudi mobil kuat-kuat. Dia tidak ingin melampiaskan kemarahannya saat ini. "Apa karena Mario?" tanyanya memastikan.


Atmosfir di antara mereka semakin mencekam. Laura keluar dari mobil untuk menjernihkan pikirannya. Dia duduk di ayunan masa kecilnya dengan air mata menetes. Laura terisak hingga bahunya bergetar hebat. Dia lupa membawa obatnya, mungkin obat itu tertinggal di apartemen. Kini, dia membutuhkan obat itu untuk menghapus kecemasannya. Bayangan masa lalu itu berkelebat di pikirannya. Laura menjambak rambutnya kuat-kuat disertai teriakan keras. Kondisi mentalnya memburuk jika mengingat kejadian itu. Suasana hatinya semakin kacau ketika melihat Gino berdiri di depannya. Laki-laki itu mencoba memeluknya. Namun, Laura menolak dan mendorong Gino menjauh darinya.


"Pergi!" teriak Laura.


"La, aku minta maaf."

__ADS_1


"Pergi No, biarin aku sendiri." ucap Laura lirih. Dia kesulitan mengendalikan emosinya melihat Gino di sana.


Laura memerlukan waktu satu tahun untuk pulih dari luka masa lalunya. Menjalani pengobatan di panti rehabilitasi atas permintaan Lucy. Dia sempat dianggap gila oleh beberapa orang. Dan hanya Lucy yang bersedia menemaninya dalam keadaan tersulit itu. Sebelum akhirnya Laura bertemu Mario dan laki-laki itu menjaganya dengan baik.


Namun, itu dulu.


Sekarang Laura harus berjuang seorang diri untuk pulih. Dia tidak bisa menjalani kehidupan yang menjadi ketakutan terbesarnya seperti menikah.


Kenapa Gino tidak bisa memahaminya?


Ternyata cinta tidak selalu membuatnya bahagia. Nyatanya setelah bersama Gino, bayangan masa lalunya terus hadir. Menyebabkan dua orang yang saling mencintai harus terluka karena ego masing-masing. Seandainya permintaannya sederhana dan Gino tidak menjadi pewaris serta tidak ada pernikahan. Laura akan lebih bahagia dengan hal itu. Namun, semua itu hanya keinginannya saja.


Laura harus memilih antara pernikahan atau kehilangan semuanya.


***


Perjalanan pulang memakan waktu lebih cepat karena Gino sama sekali tidak berbicara. Bahkan laki-laki itu tidak menatap Laura ketika memasuki rumah. Dan melewatinya lalu masuk ke dalam kamar. Gino marah, Laura tahu itu. Namun, dia tidak bisa menghibur karena emosinya sedang tidak stabil. Laura benar-benar membutuhkan obat.


"Jeng, kamu bisa datang ke sini?" tanya Laura melalui sambungan via telepon.


Laura teringat dengan ucapan Gino siang tadi. Sepertinya Ajeng mengantar Rahma ke bandara karena hubungan mereka berdua masih terjalin dengan baik. Merasa tidak nyaman, Laura memutuskan sambungan itu. Dia bisa membeli obat itu di apotik. Namun, sebelum Laura melangkah menuju pintu, Gino menahan lengannya.


"Ayahku meninggal."


Kabar itu seperti mimpi buruk bagi Laura terlebih Gino yang tampak pucat.


"Malam ini jenazah ayah langsung dimakamkan. La, aku nggak sanggup lagi."


Gino merosot ke lantai setelah mengucapkan kalimat itu. Laura mengusap wajah Gino dengan air mata mengalir deras.


"No, jangan buat aku takut."

__ADS_1


***


Manusia diuji dengan berbagai cobaan agar menjadi lebih kuat dan menerima segala bentuk ujian itu dengan lapang dada. Gino mencoba ikhlas dengan kepergian ayahnya, meskipun di dalam hatinya masih ada perasaan tidak rela. Pertengkaran mereka sore itu terakhir kalinya Gino berbicara dengan ayahnya. Kalau saja Gino bisa menahan emosinya dengan cara menuruti keinginan ayahnya. Maka penyesalan itu tidak terlalu besar ketika melihat tubuh ayahnya terkubur di bawah sana. Namun, semua itu sudah terlambat. Gino tidak bisa mengembalikan waktu sekaligus menarik ucapannya.


Tangisan ibunya terdengar menyayat hati menyebabkan Gino tidak bisa menahan air matanya menetes. Pertama kalinya dia menangis di depan umum. Kali ini Gino tidak peduli pada tatapan Laura meskipun gadis itu berusaha menenangkannya. Entah kenapa, Gino kehilangan simpati setelah percakapan mereka siang itu.


"Jeng, bawa ibu pulang." ucap Gino pada Ajeng yang berdiri di sampingnya. "Ibu capek bolak-balik dari Singapura ke Indonesia. Kamu temani ibu biar mas Malik yang nyetir."


Para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Kini hanya ada Gino dan Laura di tempat itu. Malam yang sepi di pemakaman menyebabkan Gino memahami satu hal. Dia tidak bisa memaksakan keinginannya jika keinginan itu bukan keinginan Laura.


"Kamu bisa balik ke New York." ucap Gino.


Hening.


"Aku paham kamu nggak bisa lupa sama kejadian itu. Dan aku nggak bisa maksain keinginanku meskipun aku ingin. La, kamu nggak perlu nikah sama aku kalau kamu nggak siap. Kamu bisa jalani kehidupan bebas di New York seperti dulu. Dan aku tetap di sini."


"Kamu nggak balik ke New York?" tanya Laura.


Gino menggeleng. "Nggak La. David udah beli apartemen sama mobilku. Aku juga udah resign dari pekerjaanku. Kedepannya aku bakal kerja di perusahaan ayah, meskipun bukan bidangku."


"Terus hubungan kita?"


Gino menuju mobilnya yang terparkir di sisi jalan. Dia menarik tangan Laura agar duduk di atap mobil. Keduanya duduk bersisian sambil menatap bintang.


"Kita pernah lihat bintang di tempat berbeda. Meskipun begitu, bintangnya nggak berubah dan tetap bersinar di langit malam." ucap Gino lalu menoleh ke samping. "Sama seperti perasaanku ke kamu La."


"Aku tahu No." ucap Laura lirih.


"Permintaan ayah sederhana, tapi sulit karena aku nggak bisa nerima sesuatu yang bukan keinginanku. Sama seperti kita, keinginan berbeda dan berharap saling memahami. La, jalan hidup seseorang sudah ditentukan dan salah satu mimpiku nikah sama kamu, tapi keinginanku bukan keinginanmu. Kita nggak akan bahagia meskipun saling mencintai. Hubungan bukan cuma tentang cinta, tapi saling memahami dan percaya pada pasangan. Selama ini aku terlalu naif, menganggap cinta udah cukup. Nyatanya hidup nggak melulu soal teori dan perasaan. La, aku nggak bermaksud nyakiti kamu, tapi ini satu-satunya cara supaya kamu bahagia. Hidup sama aku nggak akan bahagia karena dari awal pemikiran kita udah berbeda. Maaf La, aku nggak bisa jadi pacar yang baik buat kamu."


Malam itu, Gino hanya mendengar tangisan Laura. Selain kehilangan ayahnya, dia juga harus kehilangan Laura.

__ADS_1


"Maaf La." ucap Gino lirih.


***


__ADS_2