Side The Away

Side The Away
8


__ADS_3

Sebenarnya Laura tidak ingin datang ke apartemen. Namun, dia membutuhkan pekerjaan dan biaya hidup di New York sangat tinggi. Dia tidak bisa mengandalkan orang lain untuk menopang hidupnya. Selama ini Laura mengandalkan diri sendiri agar tetap hidup di kota besar itu. Dia tetap berusaha dan mengesampingkan masalah pribadinya pada Gino. Apapun yang pernah terjadi semua itu hanya masa lalu.


Laura membuka pintu apartemen milik Gino dengan hati-hati. Dia takut laki-laki itu muncul secara tiba-tiba dan mengatakan omong kosong seperti kemarin. Tidak bisa berdamai dengan masa lalu biarkan saja Gino teguh dengan pendiriannya. Laura sudah berdamai dengan hal itu.


Lebih tepatnya mencoba untuk berdamai.


Apartemen itu kosong. Laura menarik napas lega tidak perlu menghadapi Gino dan menahan diri untuk tidak memaki laki-laki itu. Ketenangan yang dipelajarinya dari Jason ternyata cukup berguna. Tidak ingin berdebat dengan pikirannya. Laura segera melakukan pekerjaannya. Dia membersihkan seluruh ruangan dan mengepel lantai. Membuang sampah dan beberapa botol wine itu ke tempat sampah. Gino yang dikenalnya tidak mungkin menyentuh alkohol kecuali David pelakunya.


Ponselnya berbunyi ketika Laura berada di lantai bawah. Dia mengeluarkan ponselnya dan sebuah pesan baru dari nomor tidak dikenal. Laura menyipit melihat isi pesan itu.


La, aku mau makan gudeg. Kalau kamu nggak keberatan, aku ingin kamu yang masak. Gudeg buatan kamu pasti rasanya enak.


Laura membuang sampah itu pada tempatnya lalu menyimpan ponselnya.

__ADS_1


Gudeg?


Laura bahkan tidak pernah memasak. Sejak dulu hingga sekarang bagaimana mungkin dia bisa membuat gudeg. Meskipun makanan khas daerahnya, Laura tidak pernah membuatnya. Dia hanya melihat Rahma yang memasak hidangan itu dan Laura yang mencicipinya. Kini Gino memintanya melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. Kesal, Laura mengirim pesan balasan dan kembali ke apartemen. Dia duduk di ruang tamu sambil memperhatikan jam dinding. Gino berkata akan pulang saat makan siang dan meminta Laura menunggunya.


Bahkan sekarang masih pukul sepuluh pagi.


Gino pasti sengaja melakukannya agar Laura berada di apartemen itu lebih lama. Sepertinya gudeg hanya alasan laki-laki itu saja. Apa pun itu, Laura sama sekali tidak merasa kesal. Dia justru menunggu kedatangan Gino.


David berdiri di sana dengan senyum penuh misteri. Laura mendorong Gino menjauh lalu mengusap bibirnya. David melihat kejadian itu!


Belum sempat situasi itu teratasi, bunyi bel menyebabkan perhatiannya teralihkan. Laura bangkit dari duduknya ketika David membuka pintu dan melihat Lucy berdiri di sana. Saat itu, Laura menyadari keputusannya meminta Lucy untuk menjemputnya adalah pilihan yang salah.


"Orang brengsek ini juga di sini!" teriak Lucy keras.

__ADS_1


"Hei aku yang membawamu pulang malam tadi. Dan kau muntah di bajuku, kau gadis yang tidak bisa melihat kebaikan orang lain. Aku ini dewa penyelamatmu, jangan berteriak seolah aku kriminal!" ucap David tidak mau kalah.


"Kau pasti mengambil keuntungan dariku. Kau laki-laki brengsek, biarkan aku menghajarmu. Pantas saja tadi pagi aku bangun di tempat asing. Ternyata kau pelakunya. Brengsek kembalikan harga diriku!"


"Harga diri kepalamu itu. Kau berteriak seperti orang gila dan menimbulkan kekacauan di bar!"


"Aku tidak butuh bantuanmu brengsek!"


Laura melihat pertengkaran itu dengan canggung. Dia tidak menyangka Lucy berubah menjadi perempuan barbar setelah bertemu dengan David. Jika Jason melihatnya mungkin laki-laki itu akan mati berdiri. Laura hendak menghampiri Lucy namun Gino menahannya.


"Biarin aja La. Sekali-kali lihat pertunjukan opera gratis. Udah lama David nggak meledak-ledak seperti itu. Sahabatmu itu bukan orang biasa." ucap Gino lirih namun Laura masih mendengarnya.


***

__ADS_1


__ADS_2