
Insiden malam itu, menjadi mimpi buruk bagi Laura. Belum lagi pertanyaan Lucy mengenai hubungannya dan Russell lalu alasan Laura membiarkan laki-laki itu menyentuhnya. Dia tidak akan menjelaskan bahwa Russell membuatnya tertarik dan mengakui kejadian malam itu merupakan keinginannya. Laura hanya mendengarkan ocehan Lucy sementara pikirannya melayang entah kemana. Makanan yang mereka pesan dianggurkan begitu saja. Pertemuan mingguan itu David tidak hadir karena alasan pekerjaan dan Jessica berada di rumah Jean sementara Mario justru duduk manis di kursi seberangnya. Menyeruput kopi sambil memperhatikan Laura dengan ekspresi sulit diartikan.
"Lala, apa kau akan menikah dengan laki-laki itu." tanya Mario setelah meletakkan cangkirnya di atas meja.
"Aku tidak akan menikah." ucap Laura.
"Lala sudah dewasa, biarkan dia menentukan pilihannya. Ibu ingin kau kembali ke Queen's. Rambutnya hampir memutih akibat merindukanmu setiap malam." sela Lucy.
"Aku ingin membawa Lala." ucap Mario.
Laura menatap Lucy, pasti bagian dari rencana licik perempuan itu agar Mario bersamanya. Namun, bertemu Jean setelah hubungannya dan Mario berakhir rasanya tidak nyaman. Apalagi Mario sudah memiliki dua orang anak dengan Rahma.
"Aku tidak bisa." tolak Laura.
"Apa karena laki-laki itu?" tanya Mario memastikan.
Laura menggeleng. "Kau sudah menikah, aku tidak ingin istrimu cemburu."
"Istrinya tidak akan cemburu." ucap Lucy ketus.
"Kau masih tidak menyukainya?" tanya Laura.
__ADS_1
"Aku tidak bisa mengatakan alasannya karena Mario memintaku tutup mulut. Sudahlah, aku pergi menjemput Jessica. Kalian lanjutkan saja." Lucy meraih tas kecilnya. "Mario, antar Lala pulang."
"Ada rahasia apa antara kau dan Lucy?" tanya Laura setelah Lucy meninggalkan tempat itu.
"Rahasia antara saudara kandung." ucap Mario santai.
Laura hendak mengambil sepotong kue ketika mendengar seseorang menyebutkan namanya.
"Laura,"
Sosok Russell berdiri menjulang di samping Mario. Tanpa dosa menarik kursi dan duduk di samping Laura dengan senyum lebar.
"Kita memiliki ikatan yang kuat." ucap Russel.
***
"Aku merindukanmu."
Dewa cinta sedang berpihak kepada Laura sehingga seseorang yang telah menikah pun merindukannya.
"Kau sudah menikah." Laura mengingatkan.
__ADS_1
"Pernikahan?" Mario tertawa kecil.
"Tidak ada yang lucu." ucap Laura merasa Mario sedang gila.
"Saat itu aku mengambil keputusan yang salah dengan melepasmu bersama Gino. Seandainya aku lebih erat memegang tanganmu, tidak goyah pada perasaanku, aku tidak akan menjalani kehidupan pernikahan. Laura, aku menyesal telah melepasmu bahkan saat ini, aku masih mencintaimu. Menganggap kita masih bersama, menghabiskan waktu tanpa kehadiran orang lain, aku yang pertama kali melihatmu bangun di pagi hari. Merawatmu saat sakit dan mencium bibirmu setiap saat. Kenangan itu melekat dalam ingatan dan aku tidak bisa menghapusnya."
"Aku sudah berubah, kau pun tahu itu."
"Aku tahu, tapi bersedia menjadi sandaran kapan pun kau membutuhkanku."
"Seseorang pernah mengatakan kalimat yang sama." Laura tersenyum tipis. Dia menoleh ke samping untuk menyembunyikan air matanya yang hampir jatuh. "Tapi akhirnya melepasku."
"Aku tidak akan melepasmu jika saat itu kau tidak mencintainya. Laura, aku tidak akan bersikap seperti pecundang jika kau mencintaiku meski hanya satu detik. Faktanya, aku bersikap bodoh dengan terus merindukanmu setiap malam. Sementara aku tidak pernah ada dalam ingatanmu."
"Aku tidak pernah melupakanmu, hanya saja aku tidak bisa mencintaimu. Maaf, aku memang tidak mencintai siapa pun saat ini. Rindu yang kau katakan seharusnya kau simpan untuk istrimu. Dulu, aku pernah merebutmu dari Mika, kali ini aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Mario, sebelum mengatakan sesuatu sebaiknya kau jujur pada dirimu sendiri. Kenangan-kenangan itu menjadi hantu di kepalamu karena kau tidak berniat untuk melupakannya. Seharusnya kau ingat, waktu adalah obat terbaik untuk melupakan." ucap Laura mengeluarkan semua keluh kesah yang disimpannya selama ini.
Mario tersenyum sedih. "Bahkan setelah dua tahun, aku masih tidak bisa bersaing dengan Gino."
"Gino hanya masa lalu, aku tidak akan terjebak dengan perasaan itu lagi."
Benar, Gino hanya masa lalunya. Laura sudah melupakannya sejak Gino melepasnya dua tahun lalu.
__ADS_1
***