Side The Away

Side The Away
Sentuhan pertama Gino


__ADS_3

Restoran bintang lima di pinggiran kota Manhattan menjadi tempat pilihan Gino untuk merayakan hubungannya dan Laura. Awalnya dia menolak ketika Gino menawarkan restoran itu sebagai tempat kencan mereka yang pertama. Tempat mewah itu tidak cocok dengan seleranya yang sederhana. Namun, Gino bersikeras agar Laura memilih tempat itu. Alasannya agar Laura menikmati hidupnya seperti kebanyakan orang pada umumnya. Sedangkan Gino tidak tahu, Laura pernah menjalani kehidupan keras di New York sebelum mereka bertemu. Dan berada di restoran mewah, bukan lagi kesenangan Laura untuk menikmati hidup. Dia lebih senang berada di warung sederhana dengan makanan murah, tapi membuatnya nyaman. Dibandingkan tempat mewah dengan hidangan ala Perancis yang tidak sesuai lidahnya.


Laura menatap escargot di atas piring itu tanpa selera. Dia membayangkan hewan itu sering merayap di batang padi lalu memakan daun padi yang masih muda. Meskipun tidak sama persis, tapi tampilan kulit dan cangkang sudah cukup bagi Laura menahan rasa mualnya. Sementara Gino tampak lahap menyantap hidangan itu dengan gaya elegan. Mengabaikan Laura yang belum menyentuh apa pun atau merasakan sedikit hidangan Perancis itu.


"Enak No?" tanya Laura.


Gino mengangguk. "Enak banget, kenapa kamu nggak makan?"


"Aku nggak doyan siput." ucap Laura jujur.


"Maaf La, aku nggak tahu selera kamu." ucap Gino menyesal lalu memanggil pelayan untuk membawa hidangan lain. "Tunggu beberapa menit lagi ya." sahut Gino kemudian pelayan meninggalkan meja mereka.


Laura mengangguk. "Kamu pesan apa?" tanyanya curiga.


"Pasta." ucap Gino lalu meneruskan menyantap makanannya.


Pasta membuatnya teringat pada Mario. Dulu, laki-laki itu sering memasak pasta dan berharap Laura akan menyukainya. Meskipun dia sering protes karena membuatnya gemuk. Namun, Laura tetap menyantap hidangan itu dengan berat hati. Dan Mario tidak berhenti meminta maaf kemudian berjanji untuk memasak makanan lain. Laura sudah lupa mengenai kejadian itu. Mungkin empat tahun lalu, saat pertama kali mereka tinggal bersama.


Sekarang, pasta justru membuatnya teringat pada Mario. Bahkan laki-laki itu sudah berada di Aussie menemani Lucy menjalani terapi. Dia merindukan orang lain sementara ada Gino yang dicintainya. Terkadang manusia memang sulit untuk bersyukur.


"La?"


Laura menatap garpu yang disodorkan oleh Gino lalu beralih menatap laki-laki itu.


"Aku bisa makan sendiri." ucap Laura mengambil alih garpu dari tangan Gino. "Aku nggak biasa disuapin sama orang lain."


"Aku pacar kamu La, bukan orang lain."


"Maksudnya selain tangan aku sendiri No." ucap Laura lalu memasukkan pasta itu ke mulutnya. Dia mengernyit karena rasanya berbeda dengan pasta buatan Mario. Dengan enggan, Laura meletakkan kembali garpu itu. "Aku udah kenyang." ucap Laura kemudian bangkit dari duduknya.


Salju menyentuh rambutnya begitu Laura meninggalkan restoran itu dan melangkah menyusuri jalan. Dia tidak menunggu Gino mengambil mobil, rasanya tidak nyaman berada di tempat itu lebih lama. Bukan karena kemewahan di restoran itu. Melainkan pasta yang dicicipinya tidak sesuai seleranya.


Suara klakson mobil tidak menghentikan Laura. Dia terus melangkah hingga merasakan seseorang menahan lengannya.


"Kamu kenapa La?!" tanya Gino keras di antara suara klakson kendaraan.


Laura menggeleng kemudian melepas tangan Gino yang berada di lengannya.


"Aku mau sendiri No. Jangan ikuti aku."


"Kenapa aku nggak boleh ikuti kamu?!" Gino menghadang langkah Laura dengan merentangkan kedua tangannya. Dia menatap Laura dengan ekspresi heran. "Aku pacar kamu La, wajar kalau aku ikuti kamu." ucap Gino.


"Aku nggak bisa No."

__ADS_1


"Apanya yang nggak bisa?"


Laura menatap Gino sepenuhnya. "Jadi pacar kamu."


"Kamu ngomong apa sih La?!" tanya Gino mulai kesal dengan sikap Laura.


Laura menggeleng. "Aku mau pulang."


Selama perjalanan pulang hingga tiba di apartemen, Laura tidak mengeluarkan kalimat apa pun. Dia masuk ke dalam apartemen dan membiarkan Gino mengikutinya dari belakang. Laura melepas mantelnya dan menggantungnya di balik pintu. Kemudian beranjak menuju wastafel untuk mencuci wajahnya. Gino mengikutinya hingga ke dalam kamar. Laura tetap diam seolah tidak melihat keberadaan laki-laki itu di sana.


"Maaf La kalau kamu nggak nyaman sama suasana restoran itu. Maaf, udah maksa padahal kamu keberatan. Maaf, nggak tahu sama selera kamu dan nggak peka sama keinginan kamu." ucap Gino.


Laura duduk di tepi ranjang kemudian menatap Gino yang berdiri di pintu kamarnya.


"Kamu nggak salah." ucap Laura singkat.


"Terus kenapa kamu pergi dan buat aku serba salah?" tanya Gino.


"Aku nggak tahu No."


"Kenapa kamu nggak tahu?"


Laura menggeleng.


Air mata itu menetes tanpa peringatan hingga Gino memeluknya sambil mengucapkan maaf. Laura tidak tahu kenapa malam itu suasana hatinya memburuk setelah mencicipi pasta itu. Dia tidak bisa memberitahu Gino tentang hal itu atau laki-laki itu semakin kesal. Menghadapi sikapnya yang kekanakan, Gino pasti sudah kewalahan dan hampir melupakan amarahnya dalam diam.


"Maaf La, aku udah ngomong kasar sama kamu." ucap Gino di tengah pelukan itu.


"Aku juga minta maaf No."


"La, malam ini apa aku boleh tidur sama kamu?"


Laura belum menjawabnya karena Gino lebih dulu mencium bibirnya. Entah terbawa suasana, Laura membiarkan Gino terus menciumnya.


***


Satu jam yang lalu, Gino berada di luar kendali dan melakukan sesuatu yang melanggar prinsipnya. Dia lupa diri hingga melakukan hal itu bersama Laura dan gadis itu tidak mencegah tindakannya. Gino menyesali perbuatannya ketika melihat noda yang ada di ranjang itu. Laura bukan seperti yang dia pikirkan dan Gino sudah salah paham tentang gadis itu.


Di tengah pikirannya yang berkecamuk, ponsel milik Laura berbunyi. Khawatir membangunkan gadis itu, Gino memutuskan untuk melihat ponsel itu.


Mario?


Gino bangkit dari ranjang setelah meraih handuk untuk menutupi tubuhnya. Dia berjalan menuju balkon dan menempelkan ponsel itu di telinganya.

__ADS_1


"Lala, aku memasak pasta hari ini. Kau pasti merindukan pasta buatanku, Lucy bahkan menghabiskan dua porsi dan melupakan tubuhnya. Dia mirip seperti beruang sekarang, apa kau ingin melihatnya?"


Nada bicara Mario terdengar gembira. Gino hanya mendengarkan cerita laki-laki itu dalam diam. Dia belum bertanya pada Laura tentang hubungan mereka. Jika berakhir, seharusnya Mario tidak perlu menghubungi Laura begitu sering dan menceritakan keseharian laki-laki itu. Meskipun Lucy menjadi topik pembicaraan, tapi Gino tidak bisa menerima Mario mengganggu kehidupan Laura. Dia menarik napas dalam-dalam menyakinkan diri untuk membuka mulutnya agar Mario berhenti berbicara dari seberang sana.


"Mario, ini aku Gino."


Jeda cukup lama hingga akhirnya Mario membalas ucapannya.


"Kau bersama Laura?"


"Kami lebih dari sekadar bersama." ucap Gino tegas.


"Aku bahagia untuk kalian."


"Aku akan menikahinya, Mario jangan menghubungi Laura. Hubungan kalian sudah berakhir."


"Aku tahu, maaf aku tidak akan menghubunginya lagi."


Sambungan itu berakhir sepihak karena Mario memutuskan panggilan itu. Gino bernapas lega, masalah Mario teratasi. Dia menghapus kontak laki-laki itu lalu meletakkan ponsel Laura di atas meja. Gadis itu masih tertidur lelap seolah kelelahan dengan kegiatan mereka satu jam yang lalu. Gino berbaring di samping Laura dan menatap wajah terlelap gadis itu.


"Maaf La, aku harap kamu nggak menyesali hal ini." ucap Gino lirih.


Bayangan tentang kejadian itu melekat di benaknya. Gino tidak bisa melupakan ekspresi wajah Laura dan juga suara gadis itu. Sial, Gino sudah tercemar seperti David. Laki-laki itu pasti tidak berhenti menghujatnya jika mengetahui perbuatannya. Prinsip seumur hidupnya telah berakhir. Dan Gino bukan lagi laki-laki polos seperti dulu.


Semua itu karena perasaannya pada Laura.


"Mario."


Nama itu kembali disebutkan, seperti dulu saat pertama kalinya Gino mencium Laura tanpa izin. Kini, meskipun sudah menjadi miliknya gadis itu masih menyebutkan nama Mario.


"Jangan pergi!"


Napas Laura memburu dengan keringat mengalir deras di kening gadis itu. Gino masih terpaku di tempatnya ketika Laura meraih segelas air putih dan meneguknya. Dia hanya memperhatikan Laura dalam diam, antara tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Kenapa sama Mario?" tanya Gino curiga. Dia duduk bersandar pada penyangga tempat tidur memperhatikan Laura dengan seksama.


"Aku mimpi dia meninggal."


Sudah cukup bagi Gino membuang kecurigaan itu hanya karena sebuah mimpi. Dia berusaha menenangkan Laura dengan cara memeluk gadis itu hingga melupakan kejadian tadi.


Bahwa Laura bukan lagi orang yang sama.


***

__ADS_1


__ADS_2