Side The Away

Side The Away
Pernikahan Ajeng dan lamaran Gino


__ADS_3

Pesta pernikahan Ajeng sangat mewah. Laura menggandeng lengan Gino dan keduanya berjalan bersisian memasuki ballroom hotel. Tamu-tamu undangan terlihat elegan dengan pakaian mewah yang melekat di tubuh mereka. Laura merasakan telapak tangannya dingin akibat situasi itu. Terlebih beberapa pasang mata memperhatikan Gino yang berada di sampingnya. Di antara orang-orang itu, Laura merasa familiar dan jantungnya berpacu lebih cepat melihat tatapan mata yang menatapnya lekat.


"Rahma." ucap Laura lirih.


Perempuan itu memakai gaun panjang berwarna pink pucat, membungkus tubuhnya yang ramping. Wajah Rahma tidak banyak berubah dari terakhir kali Laura melihatnya, hanya ada yang berbeda dari perempuan itu.


Tatapan mata itu seolah merasa bersalah.


Laura menggeggam lengan Gino lebih erat untuk mencari kekuatan karena laki-laki itu tidak menyadari kepanikannya. Gino justru menyapa beberapa tamu sehingga Laura terpaksa memasang senyum canggung dengan alasan kesopanan. Beruntung, acara pernikahan itu segera dilangsungkan dan pembawa acara mulai berbicara. Laura tidak menyimak urutan acara pernikahan itu melainkan memperhatikan Rahma yang juga menatapnya. Merasa tidak nyaman, Laura melepaskan diri dari Gino dengan alasan ke toilet. Semoga Ajeng tidak membunuhnya melihat Laura meninggalkan tempat itu sebelum acara puncak. Mereka sudah bertemu sehari sebelum pernikahan dan Ajeng tidak berhenti berbicara. Sayangnya Laura tidak menyimak percakapan itu karena Malik terus merecokinya dan bertanya sejauh apa hubungannya dengan Gino. Pipi Laura memanas mengingat kejadian malam itu, tapi tidak mungkin mengatakannya pada Malik. Sementara Gino terus mengawasinya dalam diam. Namun, menuntut Laura untuk menyimpan rahasia itu.


Suara air mengalir menyadarkan Laura dari lamunan. Dia menoleh ke samping dan melihat Rahma sedang memeriksa riasan. Namun, Laura tahu Rahma hanya berpura-pura.


"La, apa kabar?"


Laura menatap Rahma melalui cermin, merasa jengah dengan pertanyaan itu.


"Baik." ucapnya singkat.


"Baguslah."


Bunyi ponsel menyelamatkan Laura dari situasi itu. Sepertinya Gino panik mencarinya karena begitu Laura keluar dari toilet, laki-laki itu sudah menunggunya. Gino memeluknya, mengabaikan beberapa pasang mata yang kebetulan melintas di tempat itu.


"Aku pikir kamu pergi La." ucap Gino lirih. Namun, tidak melepaskan pelukan itu. "Jangan ulangi lagi ya."


Terdengar kekanakan ketika laki-laki dewasa melarangnya pergi ke toilet dengan alasan takut kehilangan. Sikap Gino yang seperti itu menyebabkan Laura tersenyum kecil.


"Aku nggak kemana-mana No."


"Ayo kita kesana sebelum Ajeng ngomel lagi." ucap Gino lalu menarik Laura menjauhi tempat itu.


Kembali pada acara pernikahan yang semakin meriah. Nyanyian merdu yang dinyanyikan oleh artis tanah air menambah keramaian pesta pernikahan itu. Samar-samar Gino bernyanyi di sampingnya, Laura hanya diam mengawasi Gino yang hanyut dalam lagu itu. Rasanya seperti mimpi berada di Jogja setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan beberapa hari yang lalu. Kini, rasa lelah itu terbayarkan dengan kemeriahan pesta pernikahan itu.


"Oke, buat mbak yang berdiri di sana, dipersilahkan untuk bernyanyi bersama masnya."


Kaki Laura seolah melayang ketika Gino membawanya menuju mikrofon dan pembawa acara itu menyingkir. Para tamu undangan memperhatikan mereka berdua tidak terkecuali Ajeng yang mengacungkan kedua jempolnya. Sepertinya, ide menyanyi itu berasal dari Ajeng.

__ADS_1


"Malam hari ini, saya ucapkan selamat kepada kedua mempelai yang berbahagia. Semoga pernikahan kalian langgeng hingga maut memisahkan. Oke, cukup berbasa-basi langsung saja saya katakan." Gino mengambil sesuatu dari saku celananya kemudian meraih tangan Laura dan memasang cincin itu di jari manis gadis itu. "Mulai sekarang, Laura Oktaviana adalah nyonya Mahendra dan menghabiskan waktunya bersama saya hingga maut memisahkan. Untuk itu, apa kamu bersedia menjadi nyonya Mahendra di masa depan?"


Siulan dan tepuk tangan semakin meramaikan suasana itu. Laura mengangguk pelan kemudian musik berbunyi dan Gino mulai bernyanyi. Dia menyentuh cincin yang melingkar di jari manisnya dengan perasaan gembira. Berbeda sekali ketika menerima cincin pemberian Mario. Mungkin, cinta menyebabkan perbedaan itu.


"La, jangan pernah pergi lagi ya." ucap Gino setelah lagu itu berakhir.


"Terimakasih untuk masnya dan semoga lamaran ini berjalan hingga pernikahan." ucap pembawa acara lalu kembali meneruskan acara selanjutnya.


"Nduk, jangan ke Amerika lagi ya. Di sini saja temani ibu, masalah pernikahan jangan dipikirkan. Serahkan sama ibu dan ayah ya." ucap Mira disertai pelukan hangat.


"Sudahlah bu jangan ikut campur urusan anak muda. Ayo kita istirahat, dari kemarin ibu kurang tidur." ucap Gunawan, ayah Gino. "Kalian teruskan saja, tapi ingat jangan sampai minum alkohol. La, awasi Gino ya, kalau dia mabuk bilang sama ayah."


Laura tersenyum melihat keromantisan ibu dan ayah Gino. Tidak disangka jika keduanya telah merestui hubungan mereka dan menyebut diri sendiri dengan sebutan ayah dan ibu. Laura menggenggam erat tangan Gino, merasa bahagia dengan hidupnya saat ini. Memiliki keluarga lengkap adalah impiannya sejak dulu, akhirnya Gino memberikan kesempatan itu sekali lagi.


"Makasih No." ucap Laura.


Gino tersenyum. "Aku yang harusnya bilang makasih sama kamu La. Mulai sekarang, aku nggak akan biarin kamu pergi lagi. Aku akan pahami semua kesulitan kamu dan mencoba untuk dengar pendapat kamu."


"Ayo No, kita juga ikut rebut bunga pengantin."


"Rahma."


***


Satu jam setelah pesta pernikahan itu selesai, Ajeng berlari ke kamarnya masih memakai gaun pengantin. Laura tersenyum kecil melihat Ajeng yang panik hanya karena sikunya yang lecet. Luka ringan seperti itu, Ajeng sampai membawa dokter dan bertanya tentang kondisinya.


"Gino itu bodoh, jagain kamu aja nggak bisa!" ucap Ajeng kesal.


"Aku nggak apa-apa Jeng." ucap Laura lalu meminta dokter itu keluar dari kamarnya.


"Aku nggak sempat ganti baju karena khawatir sama kamu La. Cuma gara-gara bunga, kamu sampai terluka. Ujung-ujungnya kamu nggak dapat bunganya. Kenapa kamu malah biarin Rahma ngambil bunga itu?" tanya Ajeng.


"Aku nggak mau bahas soal itu Jeng."


"Balik ke kamar sana, malam pertama malah keluyuran ke kamar orang. Mas Malik panik cari kamu, dia pikir kamu kabur." Gino tiba-tiba muncul dan menarik paksa Ajeng keluar dari kamar itu. "Lala biar aku yang jaga."

__ADS_1


"Awas kamu No!"


"Sekalian bilang sama mas Malik ya Jeng. Aku minta pelayanan bintang lima terus gratis!" teriak Gino.


"Gratis kepalamu!" Ajeng mengumpat kesal di lorong hotel.


"Kamu suka banget godain Ajeng." ucap Laura.


"Dia mirip David, disinggung dikit aja udah ngamuk. La, mana yang sakit?" tanya Gino cemas.


Laura menunjukkan sikunya yang lecet, tadi dia sengaja menutupi luka itu saat Gino menggendongnya ke kamar. Insiden memalukan di pesta pernikahan membuatnya jadi pusat perhatian dan Laura memilih untuk menyingkir sebelum pesta berakhir.


"Aku nggak apa No, kamu kok mirip Ajeng sih."


"Karena aku khawatir sama kamu La. Bukan karena luka ini, tapi karena kamu ketemu Rahma. Aku lupa, dia juga teman Ajeng dan hubungan mereka baik-baik aja."


"Ajeng nggak ada hubungannya sama masalah itu No. Maaf, buat kamu malu di acara tadi."


"Tadi kecelakaan La, kamu harusnya cemas sama luka itu. Udah malam, kamu istirahat ya, aku masih ada urusan sama mas Malik." ucap Gino lalu mencium kening Laura. "Habis urusannya selesai, aku bakal temani kamu tidur."


"Di sini nggak boleh macam-macam. Kamu balik ke kamar kamu No." tolak Laura.


"Di sini nggak boleh, tapi di rumah boleh." ucap Gino.


"Nggak boleh, sampai kita nikah."


"Sabar ya La, aku bakal urus masalahku sama ayah terus kita bisa nikah dengan tenang. Kamu kan nggak mau tinggal di Jogja, jadi aku minta mas Malik terusin usaha ayah. Cuma masalahnya, ayah belum tentu setuju sama hal ini. Jangan khawatir, aku pasti bisa bujuk ibu dan ayah nggak bisa nolak permintaan ibu. La, aku serius sama kamu dan kedepannya kita bisa lewati masalah sama-sama, termasuk masalah kamu sama Rahma."


"Iya No." ucap Laura singkat.


"Intinya bukan masalah Rahma, tapi semua masalah kamu."


Laura mendorong paksa Gino keluar dari kamarnya, dia lelah mendengar omong kosong laki-laki itu.


***

__ADS_1


__ADS_2