
Klien yang Gino tangani kali ini bukan perempuan cerewet seperti Jean. Namun, seorang ibu muda yang memiliki seorang putri dan sialnya Gino diminta untuk menjaga anak itu. Di sebuah toko pakaian anak-anak milik kliennya, Gino hampir menolak permintaan itu jika tidak mendengar ponselnya berdering dan atasannya meluapkan kemarahannya dari seberang sana. Meminta Gino untuk mengambil kasus itu karena ibu muda yang menjadi kliennya putri seorang pengusaha besar. Tidak ingin dianggap gila, Gino akhirnya menerima permintaan itu. Meskipun menjaga anak berusia lima tahun bukan keahliannya dan kesialan itu belum berakhir, saat anak itu menunjuk lantai tepat di mana kakinya berpijak.
Genangan air itu membuat Gino terpaku, bukan air sungguhan melainkan berasal dari anak perempuan yang berdiri di depannya itu. Lima menit berlalu Gino masih mematung tidak tahu harus melakukan apa selain melihat pemandangan mengerikan itu. Jika kliennya itu kaya, seharusnya memiliki seorang pengasuh untuk menjaga putrinya. Bukan menitipkannya pada orang asing dan Gino bukan seorang pengasuh.
"Papa."
Beruntung ayah dari anak itu sudah kembali sehingga Gino tidak perlu repot-repot mengganti popok. Setelah memastikan laki-laki itu sungguh ayah kandung dari anak itu. Gino berpamitan dan memutuskan untuk mengisi perut sebelum kembali ke perusahaan. Dia melihat sebuah restoran cepat saji tidak jauh dari toko pakaian itu. Gino sengaja meninggalkan mobilnya di apartemen dan menaiki angkutan umum untuk mengurangi polusi. Alasan tepatnya, enggan mengemudi di jalanan yang dipenuhi salju.
Hanya ada seorang pengunjung ketika Gino memasuki restoran itu. Siluet yang terlihat tidak asing saat perempuan itu membalikkan badan, Gino tidak bisa mengontrol detak jantungnya menyadari Laura yang ada di sana. Masih ada kekesalan mengingat percakapan di mobilnya dan juga ekspresi Laura yang menganggapnya seperti orang jahat. Gino urung memesan makanan dan melangkahkan kakinya meninggalkan restoran itu. Untuk saat ini dia tidak ingin bertemu Laura sebelum gadis itu menyelesaikan masalahnya dengan Mario.
__ADS_1
Udara dingin itu menyebabkan Gino menggigil saat menunggu angkutan umum yang akan membawanya kembali ke perusahaan. Dia mengerutkan kening saat sebuah mobil berhenti di depannya. Mercedes Benz keluaran terbaru berwarna mencolok itu bukan milik David. Dia tidak ingat laki-laki itu memiliki mobil selain Ferrari miliknya yang dirampas secara paksa.
"Brengsek, cepat masuk sebelum kau mati kedinginan di sana!"
Rupanya Lucy, sebagai seorang putri konglomerat wajar saja menaiki mobil sekelas Mercedes Benz.
"Tidak perlu." tolak Gino cepat.
Entah sandiwara apa lagi, Gino terpaksa mengikuti keinginan Lucy dan duduk di kursi penumpang mengabaikan serentetan kalimat umpatan karena menganggap perempuan itu sebagai sopir. Telinganya hampir tuli mendengar ocehan Lucy tiada henti, mirip sekali dengan Jean. Ibu dan anak memiliki persamaan, gen memang tidak berbohong.
__ADS_1
"Sudah?" tanya Gino setelah perempuan itu tidak bersuara lagi.
"Lala kecewa karena aku menyimpan rahasia hubungan Mario dan Mika. Dia tidak pernah mengatakan isi hatinya dan aku terluka melihatnya seperti itu. Mungkin kau bisa membujuknya agar melupakan kejadian ini. Lala berhak bahagia dan aku tahu dia bahagia saat bersamamu. Sikapnya berbeda saat berada di sampingmu, aku sudah mengenalnya selama lima tahun dan sikap itu tidak pernah ditunjukkan pada Mario. Aku tahu Lala mencintaimu dan kau juga mencintainya, aku tidak bodoh untuk melihat hal sejelas itu. Gino, aku ingin kau menemuinya dan meminta maaf. Bagaimanapun juga kau membantu Mika menyimpan rahasia itu."
Gino tampak berpikir. "Laura menyukai kakakmu, tidak ada hubungannya denganku."
"Kau bukan Jason yang membiarkan orang yang dicintainya bersama orang lain." ucap Lucy lirih.
"Urusan kalian aku tidak ikut campur, aku juga memiliki masalahku sendiri, antar aku ke perusahaan sebelum atasanku murka."
__ADS_1
"Apa kau ingin melihatnya bunuh diri?" tanya Lucy.
***