
Malam itu, Laura tidak menyangka Mario kembali menemuinya di apartemen. Lucy tidak ada, artinya Mario tidak mengizinkan Lucy tinggal di apartemennya. Dengan canggung, Laura duduk di kursi seberang Mario sambil menekan telapak tangannya gugup. Tidak nyaman dengan situasi itu, terlebih Mario bersikap dingin sejak melihatnya bersama David.
"Aku akan meninggalkan New York." ucap Mario sontak menarik perhatian Laura sepenuhnya.
"Kenapa?" tanya Laura layaknya orang bodoh.
"Aku ingin melupakan kenangan tentang Jason, dan Lucy membutuhkan seseorang di sampingnya. Dia ingin aku menemaninya hingga perasaannya membaik. Sebenarnya bukan hanya Lucy, tapi aku juga membutuhkan ketenangan itu. Memikirkan semua hal yang telah terjadi, aku hampir gila dan memutuskan untuk meninggalkan pekerjaanku. Berhenti menjadi seorang penulis."
Laura tidak percaya dengan ucapan Mario, berhenti dari pekerjaan yang disukainya pasti karena laki-laki itu mulai lelah dengan kehidupan. Dan menjalani hari-hari tanpa tujuan pasca kehilangan orang terdekatnya. Menyadari hal itu, Laura merasa bersalah hingga sudut hatinya terasa sakit.
Kenapa dia tidak bisa mencintai Mario?
Tanpa sadar, air matanya menetes dan Laura merasakan Mario menghapus air mata itu dengan sentuhan lembut.
"Laura, jangan menangis, aku tidak suka melihatmu seperti ini." ucap Mario lirih nyaris seperti bisikan.
"Mario, aku minta maaf."
"Aku sangat mencintaimu dan hampir gila karena mengakhiri hubungan ini, tapi apa yang bisa aku lakukan?" tanya Mario dengan senyum getir, ekspresi wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam. "Aku tidak bisa memberikan apa-apa selain kebohongan. Lala, kau berhak mendapatkan yang terbaik karena aku tidak cukup baik untukmu. Empat tahun bersamamu, aku sangat bahagia meskipun kenyataannya kita tidak berjodoh. Semoga Tuhan memberikan seseorang yang lebih baik dari Gino dan kau bisa menyembuhkan lukamu." ucap Mario.
"Mario, aku," Laura tidak melanjutkan kalimatnya karena air matanya mengalir deras dan dia kesulitan untuk bernapas. Kesedihan itu berasal karena kehilangan seseorang yang dulu memperhatikannya, menjaganya dengan penuh cinta.
"Aku pergi. Laura, jaga dirimu baik-baik."
Mario hampir menuju pintu sebelum Laura menahan laki-laki itu dengan cara memeluknya dari belakang. Dia egois karena menginginkan Mario dan Gino secara bersamaan, kesendirian itu membuatnya takut seperti kehilangan kedua orangtuanya dan Laura tidak memiliki siapa pun untuk bersandar.
"Jangan pergi." ucap Laura.
"Laura, aku tidak bisa melepasmu jika kau seperti ini."
"Aku tidak memiliki siapa-siapa, aku takut sendiri lagi seperti dulu."
Laura menangis, membiarkan air matanya membasahi punggung Mario, dia tidak bisa menahan kesedihannya dan mengabaikan Mario yang juga terluka.
Hingga Laura merasakan Mario memeluknya dan meletakkan kepalanya di dada laki-laki itu. Memberikan ketenangan seperti dulu, saat Laura hampir menyerah dengan hidupnya.
"Jangan sedih, aku tidak suka melihatmu menangis." ucap Mario.
"Bagaimana keadaan Lucy?" tanya Laura setelah tangisnya mereda, dia masih berada dalam pelukan Mario karena laki-laki itu tidak ingin melepasnya.
"Dia membutuhkan waktu, hubungannya dan Jason dimulai sejak kecil. Kehilangan itu, aku mengerti karena aku juga merasakannya. Jason orang yang baik, tapi tidak beruntung karena mencintai adikku yang bodoh. Sebenarnya kami berdua sama, mencintai seseorang yang mencintai orang lain. Namun, aku lebih beruntung karena tubuhku sehat sebelum kecelakaan itu. Sementara Jason harus berjuang dengan satu ginjal dan akhirnya menyerah karena Lucy mulai mengabaikannya. Dia merahasiakan kondisi itu bukan hanya pada Lucy, tapi pada semua orang termasuk aku. Kepergiannya menyisakan banyak luka karena aku tidak melakukan apa-apa untuk membalas kebaikannya."
"Jason pasti bahagia melihat kalian semua mengingatnya, aku tidak ingin kau sedih karena kepergiannya." ucap Laura.
"Lala, aku senang kau mulai membuka diri dan Gino memiliki peran penting dalam perubahan itu. Aku yang berada di sampingmu bahkan tidak tahu kesukaanmu sebelum dia datang di hidupmu."
"Gino akan menikah dengan sahabatku, namanya Ajeng."
"Jika kau mencintainya, jangan biarkan dia menikah dengan orang lain." ucap Mario lalu melepas pelukannya, dia mengusap rambut Laura. "Karena aku tidak ingin melihatmu sedih."
"Aku tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka." ucap Laura lirih.
"Laura, aku sungguh tidak rela melihatmu bersama orang lain."
Terlambat menyadari bahwa Mario sudah mencium bibirnya dan mendorongnya menuju dinding. Laura kesulitan bernapas dengan tindakan Mario yang terburu-buru itu. Dia belum pernah melakukan kontak fisik selain berciuman dan malam itu, Mario terlihat berbeda dari biasanya. Laura kesulitan melepaskan diri dari ciuman itu karena Mario memeluknya dengan erat. Cukup lama Mario menciumnya hingga dia merasakan kehadiran seseorang di apartemennya.
Gino berdiri di sana dengan ekspresi wajah kaku, seolah memergoki pasangannya sedang berselingkuh. Laura tidak bisa memahami situasi itu karena Mario terus menciumnya dan tidak menyadari keberadaan Gino.
Laura memalingkan wajahnya ketika ciuman itu berakhir dan Gino sudah meninggalkan apartemennya dengan raut wajah kecewa.
"Gino melihatnya." ucap Laura lirih.
"Aku tahu."
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Laura kecewa.
"Karena aku tidak ingin kau bersamanya. Sikapmu barusan mengartikan kau tidak ingin aku meninggalkanmu. Laura, jangan bersikap ambigu dan membuatku salah paham. Jika kau mencintainya maka lepaskan aku karena aku tidak bisa bersama seseorang yang mencintai dua orang secara bersamaan." Mario menjauhkan diri lalu mengusap wajahnya kasar. "Aku mencintaimu Laura, tapi aku tidak ingin dijadikan pilihan. Kejar dia sebelum aku berubah pikiran." ucap Mario lalu mendorong Laura menuju pintu.
Langkahnya yang tergesa-gesa menyebabkan Laura hampir tersandung tatkala melihat Gino yang berjalan meninggalkan gedung apartemen. Dia mempercepat langkahnya hingga akhirnya berhasil mendekati Gino dan berjalan di samping laki-laki itu.
"No?" panggil Laura disertai napas tersengal.
Gino menoleh. "Capek?" tanyanya.
"Kenapa kamu datang?" Laura balas bertanya.
"Mau ambil ponsel, David sialan itu malah ngerjain aku. Maaf La, ganggu waktu kalian, David bilang kamu sendirian di apartemen. Jadi aku balik kesini tanpa nekan bel karena aku punya kunci apartemenmu. Tadinya mau buat kejutan ternyata malah aku yang dikejutkan." ucap Gino terus melangkah tanpa tujuan.
__ADS_1
Laura tidak menanggapi ucapan Gino dan mensejajari langkah lebar laki-laki itu menggunakan kakinya yang pendek. Mereka sudah jauh meninggalkan gedung apartemen dan berada di jalanan khusus pejalan kaki.
"No?"
Gino memasukkan tangannya ke dalam saku celana, enggan menoleh ke samping dan lebih memilih melihat keramaian di jalanan itu. "Kenapa?" tanyanya.
"Kamu cemburu?" tanya Laura.
Gino menggeleng. "Nggak."
Laura menghentikan langkahnya dan membiarkan Gino terus melangkah jauh ke depan. Ternyata benar, Gino dan Ajeng memiliki hubungan serius. Tidak ada gunanya Laura bertanya pada sesuatu yang mustahil dirasakan oleh seseorang yang akan menikah. Meskipun, saat itu Gino menyukainya, tapi posisi itu sudah tergantikan oleh orang lain.
Dan orang itu adalah Ajeng.
***
Bayangan akan kejadian tadi terus melekat di benaknya, Gino menghempaskan tubuhnya di sofa begitu tiba di apartemen. Ponselnya sudah tergeletak di meja dan David tidak menunjukkan batang hidungnya. Kebodohan mempercayai ucapan David berbuah pada kesialan dan harus melihat adegan Laura bersama Mario. Sepertinya mereka akan melakukan sesuatu dan kedatangan Gino mengacaukan semuanya.
Heh!
Gino tersenyum kecut, wajar saja bagi sepasang kekasih yang tinggal bersama melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar berciuman. Tidur berdua dalam satu ruangan bukan hal aneh di Amerika dan gaya hidup liberal itu bukan tipe Gino. Namun, mengapa harus Laura?
Di tengah pikirannya yang kusut itu ponselnya berbunyi. Panggilan yang berasal dari Indonesia. Gino meraih ponselnya lalu menempelkan benda itu di telinga, menunggu seseorang di seberang sana mengeluarkan suara.
"Tahun depan kamu harus pulang."
Nada bicara ayahnya masih tetap sama.
"Gino nggak mau pulang." tolaknya cepat.
"Sepupumu mau nikah kok nggak mau pulang, nggak enak sama budemu itu. Pulang ya, ibu kangen sama kamu."
Suara ibunya dengan logat jawa yang kental itu terasa menenangkan di telinga Gino. Beruntung ayahnya membiarkan ibunya yang berbicara, jika tidak maka Gino bersiap untuk bertengkar di tengah emosinya yang memuncak pasca kejadian tadi. Namun, mendengar suara ibunya yang lembut, perasaan hangat mengalir begitu cepat meredakan emosi yang tersisa.
"Gino juga kangen." ucap Gino jujur, terakhir kali dia meninggalkan rumah dengan nada bicara yang begitu keras pada ibunya. Kini dia menyesali hal itu.
"Pokoknya kamu harus pulang sekalian bawa Laura, dua tahun pasti udah ketemu. Jangan cari alasan nggak mau nikah sebelum ketemu sama Laura. Ibu udah tahu semuanya, kamu nggak pintar simpan rahasia le."
Percakapan itu mengarah pada Laura dan keinginan ibunya agar gadis itu menjadi istrinya. Gino tidak sempat menjelaskan tentang Laura yang memiliki kekasih dan kemungkinan untuk menikahinya sangat mustahil.
Sambungan itu berakhir setelah ceramah panjang dari ibunya tentang menjaga diri. Gino bukan anak perempuan dan pesan itu tidak berlaku jika suatu hari, dia mulai tertarik dengan kehidupan liar di New York. Karena kelihatannya Laura juga mulai terpengaruh dengan gaya hidup bebas itu sehingga Gino tidak perlu repot-repot menjaga dirinya sendiri.
Sial.
Prinsip itu tidak boleh hilang hanya karena kekecewaannya pada Laura. Meskipun begitu, Gino tidak boleh mengotori dirinya sendiri dengan melakukan one night stand bersama orang asing.
Malam yang panjang itu, Gino habiskan dengan berdiri di balkon menatap salju turun dalam kegelapan. Suhu yang dingin serta angin bertiup menyebabkan Gino menggigil, tapi dia tidak beranjak dari sana. Membiarkan hawa dingin itu membawa jauh rasa kecewanya pada Laura.
Mungkin sudah saatnya, Gino melepaskan perasaannya untuk Laura. Karena gadis itu sudah menemukan orang yang tepat dan tugas Gino menjaga gadis itu sudah selesai.
Termasuk menjaga perasaannya untuk Laura.
Pukul tiga dini hari, Gino masuk ke dalam kamarnya dan melihat David sudah terlelap di ranjangnya. Dia berbaring di samping David dengan pandangan fokus pada langit-langit kamarnya. Apartemen yang dibelinya lima tahun lalu karena sebuah kebetulan, mungkin sudah saatnya Gino menjual apartemen itu.
Pada David.
Gino ingin meninggalkan New York, melupakan semua tentang Laura dan tentu saja tidak akan menetap di Indonesia. Jogja memiliki banyak kenangan tentang gadis itu, setiap sudut Malioboro, atau alun-alun Jogja yang melegenda. Bahkan mereka pernah berlibur ke candi Prambanan dan mengabadikan momen itu dalam bentuk foto. Sayang sekali, Gino tidak menemukan foto-foto itu karena Laura telah membawanya pergi. Bersama kekecewaan itu.
Lima tahun lalu.
Perasaan yang dirasakannya selama bertahun-tahun sudah tahap akhir untuk bertahan. Gino rela melepasnya karena Laura berhak bahagia dan itu bersama Mario, laki-laki yang Laura cintai.
Dengan berat hati, Gino bangkit dari ranjang lalu mengeluarkan kopernya dari lemari. Dia mulai memasukkan baju-bajunya ke dalam koper, menyusunnya dengan rapi bersama dengan barang-barangnya yang lain.
Pukul lima subuh pekerjaan itu selesai dan David terbangun dari tidurnya lalu duduk di sampingnya. Menatapnya prihatin seolah memahami kegelisahannya.
"Hubungan Laura dan laki-laki itu sangat baik." ucap David.
"Aku sudah melihatnya, Laura memang menyukainya. Aku saja yang terlalu berharap pada hubungan ini, sejak awal tempatku sudah diperjelas. Namun, aku masih berusaha dan berakhir seperti pecundang. David, aku ingin kau membeli apartemenku karena aku memutuskan untuk meninggalkan New York." ucap Gino. "Lusa." tambahnya lagi.
"Bagaimana dengan kasus yang sedang kau tangani?"
"Aku sudah menyerahkan kasus itu pada orang lain."
"Masa kerjamu belum berakhir." ucap David tidak percaya.
"Masalah itu, kau tidak perlu khawatir. Aku pekerja yang bertanggung jawab." ucap Gino menepuk bahu David.
__ADS_1
"Laura pasti sedih, kau harus mengucapkan kalimat perpisahan."
"Tentu saja." ucap Gino lirih.
Percakapan itu mengalir begitu saja, mungkin setelah meninggalkan New York, Gino tidak akan bertemu David dan menghabiskan waktunya berbincang di musim dingin yang kelabu. Berat, tapi memang harus dilakukan karena hanya itu, satu-satunya cara untuk melupakan Laura.
***
Kembali ke apartemen dan menemukan Mario masih menunggunya di ruang tamu. Laura tersenyum getir, dia sudah melakukan kesalahan dengan membiarkan laki-laki itu menciumnya lalu Gino melihat kejadian tadi. Kebodohan itu membuatnya berada dalam masalah, antara ingin melepaskan, atau bertahan dalam hubungan karena balas budi.
"Kau sudah bertemu Gino?" tanya Mario.
"Dia salah paham."
"Maaf,"
Laura menggeleng. "Aku yang salah dengan menahanmu di sini dan Gino melihatnya. Tidak apa-apa, lagipula Gino akan menikah dengan orang lain. Perasaan itu cepat, atau lambat harus berakhir sebelum melukai orang lain."
"Kau belum rela melepasnya." ucap Mario.
"Terpaksa direlakan karena dia menikahi orang lain."
"Jika begitu, aku juga akan merelakanmu bersama orang lain. Sudah malam, Lucy pasti menungguku. Besok sore kami akan meninggalkan New York, sebelum itu dia mengajakmu bertemu dengan ibuku. Kejadian ibu menghinamu di restoran dan rumah sakit, aku sungguh minta maaf. Laura, hiduplah dengan baik bersama orang yang mencintaimu dan kau juga mencintainya." Mario bangkit dari duduknya lalu menghampiri Laura, memberikan pelukan terakhir dan kecupan singkat di kening. "Selamat malam."
Sekarang, kisahnya dan Mario sudah berakhir. Laura hanya melihat punggung Mario yang menjauh hingga menghilang ke dalam lift. Kesunyian di apartemen itu menjadi teman bagi Laura, menyadarkan diri dengan kebodohan. Dia yang memilih hidup dalam kesepian dan melepaskan mereka yang dulu memperhatikannya.
Tidak apa-apa, semua akan membaik dengan waktu sebagai jawaban.
Apartemen itu memiliki banyak kenangan bersama Mario. Laura memutuskan menyewa apartemen lain dan besok, dia akan memulai hidupnya yang baru tanpa Mario dan Lucy.
Sungguh, kehidupan yang pahit.
***
Sesuai permintaan Mario semalam, Laura menemui Lucy dan Jean di restoran tempat mereka dulu bertemu. Dia menolak ketika pelayan menyerahkan buku menu, kedatangannya ke tempat itu bukan untuk menikmati hidangan. Meskipun sebenarnya perutnya berbunyi sejak dalam perjalanan menuju restoran itu.
Lucy datang bersama Jean, keduanya duduk di kursi seberangnya. Laura tidak melihat senyuman di wajah Lucy dan perempuan itu berpura-pura sibuk dengan ponsel. Kehilangan Jason menyebabkan kepribadian Lucy berubah dan Laura tidak menyadarinya.
"Aku dengar hubunganmu dan Mario berakhir." ucap Jean membuka percakapan.
Laura mengangguk.
"Maaf, jika sikapku membuatmu tersinggung. Aku sudah mendengar semuanya dari Mika, dia juga menyembunyikan rahasia hubungan kalian. Untuk hal itu, aku anggap sudah berlalu dan kau bisa menjalani hidupmu seperti biasa. Aku juga tidak memaksa Mario untuk menikahi Mika, dia bisa bersama siapa pun yang dicintainya. Namun, Mario menolak dan memilih meninggalkan New York bersama Lucy. Apa pun keputusannya aku hanya bisa mendukung karena Lucy membutuhkan Mario di sampingnya. Laura, aku sungguh minta maaf atas kejadian itu." ucap Jean menyentuh telapak tangan Laura dengan ekspresi tulus.
Ternyata Jean bukan orang jahat.
Laura tersenyum tipis. "Nyonya Jean, seharusnya aku yang minta maaf." ucap Laura.
"Mendengar kau berkata seperti ini, aku merasa seperti orang yang jahat."
"Ibu, pergilah. Aku ingin bicara dengan Lala." ucap Lucy menarik tangan Jean dari Laura. "Pacarmu sudah menunggu di luar."
Pacar?
Ternyata Jean tipe perempuan yang mudah melupakan orang lain setelah perceraian.
"Laura, datanglah berkunjung ke rumahku saat kau luang. Dan ajak Gino ikut serta, dia tahu alamat rumahku di Queens." ucap Jean sebelum berlalu.
"Lala, aku ingin melupakan kenangan tentang Jason."
Laura menatap Lucy, ada rasa kehilangan di mata perempuan itu. Namun, menjauh dari kenangan menyakitkan itu tidak akan menyelesaikan masalah karena Laura sudah mengalaminya. Dia melukai seseorang yang mencintainya demi menjaga perasaannya untuk Gino. Meskipun akhirnya Laura tidak bisa memiliki salah satu dari mereka.
Tapi, dia dan Lucy berbeda.
"Lakukan sesuai kata hatimu, aku mendukung semua keputusanmu." ucap Laura.
"Lala, kau sahabat terbaikku. Saat perasaanku membaik, aku akan kembali menemuimu."
"Beri kabar di mana pun kau berada."
"Tentu saja, Lala kau tidak akan kehilangan kami meskipun Mario telah memutuskan hubungan kalian." ucap Lucy yakin, dia tersenyum kecil. "Karena kau sudah menjadi bagian dari kami, seperti Jason yang tidak akan dilupakan."
Pelukan dari Lucy terasa berbeda dari Mario malam itu, ketakutan akan kehilangan orang terpenting perlahan sirna. Lucy masih menganggapnya sebagai sahabat terbaik dan Laura bersyukur bertemu dengan mereka.
"Sampaikan salamku untuk Mario, katakan padanya aku merindukan sup buatannya." ucap Laura yang dibalas anggukan oleh Lucy.
***
__ADS_1