Side The Away

Side The Away
Penjelasan Rahma


__ADS_3

Jalan-jalan di sekitar Malioboro cukup untuk melepas penat dari pesta pernikahan Ajeng tempo hari. Laura tidak bisa menolak tawaran Mira menemani perempuan paruh baya itu berbelanja kain. Sejak Gino melamarnya, Mira memberikan perhatian berlebihan layaknya anak kandung sendiri. Sebenarnya, Laura tidak keberatan asal perempuan itu bersikap normal. Kata normal itu tidak menggambarkan Mira yang memesan seluruh kain motif terbaru hanya untuk Laura. Kemudian meminta penjaga di toko itu membawanya ke mobil yang terparkir jauh di depan. Dia merasa prihatin pada penjaga toko itu. Namun, tidak memiliki keberanian untuk membantu karena Mira tidak mengizinkan Laura menyentuh kain-kain itu.


"Menikah di Jogja ya nduk. Ibu sama ayah yang urus semuanya. Kamu sama Gino jangan khawatir, bocah itu sibuk ngurus bisnis ayahnya. Sebenarnya ibu keberatan Malik ngambil alih, tapi ibu nggak tega biarin Gino tertekan karena pekerjaan yang nggak sesuai bidangnya." ucap Mira setelah mereka berada di mobil dalam perjalanan pulang.


"Lala belum kepikiran buat nikah bu." ucap Laura merasa tidak nyaman dengan pembahasan itu.


"Kalau pas itu, ibu lebih tegas sama Gino. Kamu pasti nggak mengalami kejadian pahit itu nduk."


Laura hanya mendengarkan Mira bercerita tentang kematian orang tuanya dan juga Rahma yang tetap meneruskan pendidikan di Aussie. Mengabaikan ayah kandung perempuan itu yang sedang sakit keras. Laura mengangguk tidak menanggapi ketika Mira menawarkan untuk singgah ke pemakaman. Lima tahun lalu, dia melihat kedua orang tuanya meninggal dan hari ini kembali mendatangi tempat itu.


"Ibumu orang yang baik, semasa hidup dia sering membantu ibu sebelum usaha Gunawan berkembang. Sayang dia meninggal begitu cepat."


Laura tersenyum tipis, dia tidak takut lagi karena memiliki keluarga baru yang menyayanginya.


"Setelah ayah kamu meninggal, ayah kandung Rahma datang dan ngambil alih rumah keluargamu. Beruntung pas itu, ibu nggak terlambat. Ibu ngasih kabar ke Gino dan dia beli rumah keluargamu. Sebenarnya, Gino minta ibu simpan rahasia ini, tapi kamu berhak tahu kebenarannya."


Ternyata Gino tidak membiarkan kenangan masa kecil mereka hilang begitu saja dengan membeli rumah keluarganya. Bahkan setelah lima tahun dan bisnis keluarga laki-laki itu berkembang pesat. Kemudian pindah ke rumah baru, kenangan tentang rumah lama tidak hilang di telan waktu. Gino masih menjaga rumah keluarganya dan tidak mengizinkan siapa pun membelinya.


Kunjungan ke makam itu tidak berlangsung lama karena Mira memiliki urusan mendadak. Laura tidak bertanya mengenai urusan itu. Dia diam selama perjalanan pulang hingga tiba di rumah keluarga Gino dan Mira meninggalkannya disertai ucapan maaf tidak bisa menemaninya makan malam. Ternyata orang kaya memiliki urusan penting hingga larut dan membiarkan rumah mewah itu kosong tanpa seorang penghuni.


Kehidupan Gino berubah drastis, pantas saja laki-laki itu bisa membeli apartemen mewah dan juga mobil sekelas Ferrari.


"La?"


Laura belum sempat membuka pintu rumah ketika mendengar seseorang memanggilnya.


"Kamu punya waktu?"

__ADS_1


Mungkin sudah saatnya Laura menyelesaikan urusannya dengan Rahma. Dia mengangguk kemudian mengikuti perempuan itu masuk ke dalam taksi dan perjalanan itu hanya diisi dengan keheningan.


***


Mengurus bisnis lebih sulit dari menghadapi klien keras kepala seperti Jean. Seharian Gino hanya mendengar omong kosong ayahnya dan para pemegang saham di ruang rapat itu. Sementara Malik menatapnya prihatin seolah Gino makhluk menyedihkan yang duduk di kursi paling pojok. Pukul lima sore akhirnya rapat itu berakhir dan Gino bernapas lega kemudian memeriksa ponselnya. Namun, sebelum tangannya menyentuh benda itu. Gunawan merebut ponselnya dan meletakkan di atas meja. Dari raut wajah ayahnya, Gino tahu ada kemarahan di sana. Dia menatap Malik meminta bantuan dari laki-laki itu, tapi tidak berhasil karena Gunawan memblokir jarak pandangnya.


"Kamu cuma main-main selama rapat!" ucap Gunawan keras menggema di ruangan itu. Dia mengambil dokumen di tangan putranya dengan wajah merah padam. "Kamu lulusan Harvard, tapi memahami dokumen sederhana saja tidak bisa!" ucapnya lalu melempar dokumen itu ke atas meja dengan kasar.


"Aku pengacara bukan manajemen bisnis. Ayah tahu, aku berhenti dari pekerjaanku karena ibu." ucap Gino mencoba tidak terpancing emosi ayahnya.


"Pengacara, tapi kamu juga paham dengan dunia ini! Kamu pikir bisa hidup enak kalau bukan karena kerja keras ayah!"


"Kalau ayah mau aku terusin usaha keluarga, kenapa ayah nggak buka law firm?!" tanya Gino. Batas kesabarannya habis mendengar ucapan itu. "Dari kecil impianku jadi pengacara, kenapa ayah justru buka usaha penerbitan?!"


"Karena ayah suka dunia literasi." ucap Gunawan.


"Malik punya cita-cita jadi dokter, tapi berkorban demi keluarganya. Kamu satu-satunya anak ayah. Keinginan ayah cuma satu, jadi penerus keluarga kita. Dari dulu, ayah nggak minta apa-apa. Keinginan sederhana ini kamu juga nggak bisa penuhi."


Gunawan tersungkur ke lantai setelah mengatakan kalimat itu. Mira yang baru tiba di ruangan itu berteriak keras menyadarkan Gino dari lamunan.


"Ayah kamu punya riwayat penyakit jantung."


Malam itu, Gino harus memilih antara impian dan kenyataan.


***


Angkringan menjadi pilihan Rahma dan Laura hanya mengikuti perempuan itu dalam diam. Dia tidak memesan apa pun ketika Rahma menuliskan pesanan. Laura menatap pemandangan sekitar, suasana ramai seperti itu membuatnya teringat dengan masa lalunya.

__ADS_1


Ketika hubungannya dan Rahma masih baik-baik saja.


"Ayah kandungku udah meninggal, tapi aku nggak merasa kehilangan. Karena bagiku, dia cuma orang brengsek yang datang terlambat. Dari kecil, aku nggak tahu siapa ayah kandungku sampai ayahmu angkat aku jadi anaknya. La, aku nggak minta kamu lupa sama kejadian itu. Aku tahu,"


"Tahu apa?" potong Laura cepat.


"La, kasih aku kesempatan buat perbaiki masa lalu."


"Perbaiki, tapi nggak bisa buat mereka hidup lagi."


"Aku nggak maksa ayah sekolah di luar negeri, tapi aku dapat beasiswa itu La. Aku udah simpan formulir pendaftaran itu, tapi ayah nggak sengaja lihat dan aku nggak sempat jelasin karena ibu mulai salah paham. Mereka bertengkar hebat dan aku lupa bilang kalau mobil itu rusak. Aku coba hubungi ayah, tapi terlambat."


Rem blong menjadi penyebab kecelakaan orang tuanya seperti kisah dalam film-film. Entah, Rahma pelakunya atau murni kecelakaan. Polisi mengatakan kecelakaan itu bukan rencana pembunuhan. Dia tidak lupa, Rahma selalu mengendarai mobil itu dan ayahnya mengalah menaiki angkutan umum agar putri angkatnya tidak kesulitan berdesakan di bus. Selain perempuan itu, tidak ada orang lain yang memahami kondisi mobil itu karena Laura tidak bisa menyetir dan ibunya juga sama.


"Kalau mobil itu rusak, kenapa kamu masih hidup?" tanya Laura tidak percaya.


"Aku lupa ngasih tahu ayah karena Gino datang dan lihat pertengkaran itu. Aku panik karena ayah ngajak ibu cerai terus bawa ibu masuk ke mobil. Dan aku nggak sempat bilang kalau mobilnya rusak. Gino datang ke rumah dan bantu simpan rahasia mereka mau ke kantor pengadilan. Aku nggak tahu La, kalau kalian punya janji. Dan aku minta Gino ikuti mobil mereka, terus kecelakaan itu terjadi di depan mataku. Mobil mereka nabrak pohon dan aku,"


Hanya mendengar tentang kecelakaan itu, Laura kembali teringat dengan kondisi orang tuanya ketika melihat jasad mereka di rumah sakit. Dia datang terlambat karena menunggu Gino di perpustakaan dan laki-laki itu tidak datang. Lalu mengetahui kecelakaan itu dari Ajeng dan sahabatnya tidak mengatakan jika orang tuanya telah meninggal.


Lima tahun berlalu, tapi bayangan itu masih menghantuinya. Bahkan dokumen perceraian itu masih berada di dalam mobil. Laura tidak tahu, orang tuanya memiliki keinginan untuk bercerai sejak lama. Dia tidak tahu saat ibunya menanggung rasa sakit karena perlakuan ayahnya. Kemudian perceraian itu menjadi bukti ayahnya bukan laki-laki yang baik. Dan karena alasan itu, Laura menolak keras hubungan terikat seperti pernikahan. Dia tidak tahu isi hati seseorang dan cinta mungkin tidak selamanya berakhir bahagia seperti ayah dan ibunya.


"Aku mau pulang." ucap Laura lalu bangkit dari duduknya. Dia tidak menggubris ucapan Rahma dan perempuan itu terus mengikutinya dari belakang. "Anggap saja aku memaafkan kejadian itu, dan kamu nggak perlu datang lagi di hidupku."


Jogja, tahu keenam kepergian orang tuanya. Kini, Laura mengerti jika masa lalu seseorang seperti buku usang yang tersimpan di rak. Tidak perlu membersihkan debunya jika buku itu dalam keadaan tertutup.


Seharusnya Rahma mengerti jika penjelasan itu hanya menambah kebencian Laura.

__ADS_1


***


__ADS_2