
...Narendra keras kepala...
"Pagi ma. " Sapa Rendra sambil mencium pipi mama Dewi.
" Pagi sayang, ayo sarapan dulu sini."
"Rendra udah buru - buru nih ma, nanti aja Rendra sarapan dikantor."
" Udah gak usah alasan." Cegah mama Dewi sambil megang tangan Rendra.
" Ya udah, ya udah."
" Mau roti apa nasi goreng sayang?"
" Roti aja ma."
" Nihhh silahkan."
" Makasih ma."
" Pagi ma." Sapa papa Tama, sambil mencium Istrinya.
"Papa mau sarapan nasi goreng."
" Boleh." Jawab singkat pak Tama.
" Ini pa silahkan."
" Makasih mama.."
" Pulang jam berapa tadi malam Ren?" Tanya mama dewi.
" Jam 11 nganter Susan dulu."
" Tadi malam Susan mampir ke kantormu?" Tanya pak Tama.
" Iya dia sering mampir kekantor sehabis pulang dari kantornya."
" Ya baguslah kalau begitu, terus gimana rencana kedepan kalian?"
" Maksud papa."
" Ya papa harap kamu merencanakan pernikahan kamu dengan Susan dengan waktu cepat ini?"
" Papa apa-apaan sih dari dulu Rendra itu tidak pernah mencintai Susan, Susan itu udah aku anggap adik sendiri seperti Laras." Marah Rendra.
"Heh kalau ngomong hati-hati kamu, kamu itu tidak bisa ya menghargai perasaan Susan?"
" Terus apa kabar dengan perasaan anakmu sendiri pa?"
" Asal kamu tahu ya Ren, sampai kapanpun papa tidak akan pernah merestui hubungan kamu sama Livia, jadi jangan harap kamu bisa menikah sama Livia." Bentak pak Tama dengan nada keras.
" Udah -udah ayo sarapan dulu, papa ini apa -apaan sih bahasnya bisa lain waktu kan pa?"
" Males." Saut Rendra sambil bawa jasnya.
" Gak sopan banget dia ma, gak diajari sopan santun kamu." Ujar pak Tama.
"Emang papa pernah selama ini didik Narendra toh dari kecil Narendra selalu bersama Oma dan Opa, papa pernah gak ambil rapot Narendra gak pernah kan yang papa tau itu hanya perusahaan saja." Bentak Narendra yang beranjak pergi.
" Ini nih hasil dari didikan mama, yang terlalu dimanjain ya begitulah jadinya."
" Papa, kok papa bisa ngomong seperti itu, papa pernah gak peduli sama anak-anak papa sehingga merekapun tidak ada yang dekat sama papa, pernah gak papa perhatian sedikit saja sama mereka? papa sadar gak?" Bentak Bu Dewi sambil menangis meninggalkan pak Tama dimeja makan.
Pak Tama sedih sambil menutup wajahnya dia memang salah dari kecil dia tidak begitu dekat dengan anak-anaknya karena tidak ada waktu sedikit untuk keluarganya, hingga sekarang menjadikan anak-anaknya seperti itu, tapi semua yang dilakukan pak Hutama juga untuk keluarganya, agar keluarganya hidup bahagia berkecukupan, tetapi semua itu hanya sia- sia bagi anak yang kekurangan kasih dan sayang atau perhatian dari orangtuanya.
...* * *...
Tok Tok tok
__ADS_1
" Assalamualaikum?"
" Waalaikumslam!"
" Non Laras? masuk non." Bik Marni mempersilahkan.
" Mama dirumah bik?" Tanya Laras sambil menggendong bayinya vang berumur 1 tahun.
...Pernikahan Laras sudah berjalan 5 tahun akan tetapi baru dikaruniai seorang anak, Laras menikah sambil kuliah jadi dia menunda kehadiran seorang anak dan setelah selesai kuliah Laras langsung mengandung Micel, umur Laras saat ini 24 tahun....
" Iya non, dari tadi gak keluar, kedengarannya
menangis non."
" Kenapa lagi bik." tanya Laras sambil jalan menuju kamar Bu Dewi.
" Bik Marni kurang tau non."
" Ya udah dilanjut bik pekerjaannya, sama ini tolong bawa kedapur ya. Aku tadi bawain kue."
" Baik non." Jawab bibik sambil mengangguk dengan sopan.
CEKLEK.
" Maaaa?"
" Laras. hii iiii iiii." Tangis Bu Dewi
"Mama kenapa lagi sih?" Peluk Laras menenangkan.
" Papa kamu tuh, selalu aja marah- marah sama mama, sama kakak kamu." Ujar Bu Dewi sambil menggendong cucunya dari pangkuan Laras.
" Udah -udah jangan nangis." Ujar Laras sambil mengusap airmata Bu Dewi.
" Mungkin papa capek dengan pekerjaannya ma, atau kalau gak kadang ada masalah dikantornya makanya meluapkannya dimama sama kak Rendra!"
" Tapi papamu itu keterlaluan Ras, selalu aja bentak-bentak mama."
...Pak Tama juga sering marah-marah keanak-anaknya jika anaknya tidak menurut sama pak Tama, bukan hanya anak-anaknya, karyawan yang suka teledor atau tidak sengaja dengan kesalahannya pak Tama juga tidak segan-segan langsung memecatnya, ya karakter dan sifat pak Tama memang tidak jauh sama persis dengan Narendra....
...Beda lagi dengan Laras, Laras anak yang sangat periang tapi dia juga hobi shopping, dalam pikirannya cuma belanja belanja dan belanja untungnya suaminya selalu mencukupi kebutuhan Laras, suami Laras juga menjabat sebagai direktur utama diperusahaan papanya, karena Narendra sudah mempunyai perusahaan sendiri yang sekarang lebih besar dari PT. Pratama Sanjaya perusahaan pak Tama tersebut, makanya pak Tama memberikan jabatan tersebut kepada menantunya, bukan hanya itu saja karena ketekunan dan kerja keras dari Dio yang menjadikan bapak Tama sangat mempercayai menantunya tersebut, didalam perusahaan PT. Pratama Sanjaya juga ada sedikit saham dari Dio suami laras, maka dari itu pak Tama mau merestui dan mempercayai menantunya....
...Laras suka berbelanja semaunya sama persis seperti mamanya, Laras beda jauh dengan kakaknya Narendra, Laras anak yang manja dan suka menghambur- hamburkan uang, sedangkan Narendra tipe pekerja keras dan menggunakan uangnya seperlunya, akan tetapi Narendra sangatlah royal terbukti bahwasanya dia yang selalu menlaktir teman-temannya jika sedang makan bersama, dan juga dia sering memberikan bantuan-bantuan kepanti serta menjadi donatur- donatur disekolah dan kampus bahkan Narendra juga sering mensuplay bantuan untuk warga yang terdampak kemiskinan di luar kota....
...Waktu kejadian mamanya dirumah sakit gara-gara copet, sebenarnya Laras belum pulang liburan dari Italia. dan setelah dikabari oleh papanya esoknya Laras langsung pulang karena Laras anak yang begitu menyayangi kedua orangtua meski Laras terlihat bandel dan manja,tapi Laras lebih penurut dan masih takut dengan kedua orangtuanya beda dengan Narendra yang sangat keras kepala dan susah diatur bukan berarti tidak menyayangi kedua orangtuanya hanya saja jika Narendra sudah berkata A semua orang harus menurutinya A....
" Udah mama tenang gak usah nangis lagi, nanti Laras bicara sama papa."
" Gak usah Ras yang ada malah kamu dimarahi papa."
" Gak akan ma. Laras udah besar udah bisa menyikapi watak papa kok."
" Udah jangan nangis ya." Ucap Laras menenangkan mamanya.
" Micel cantik, cucu mama." Ujar mama Dewi sambil mencoel pipi micel, Micel pun cuek sibuk dengan mainan buahnya.
"Sini ikut Nenek." Ujar Bu Dewi dengan mengambil mucel dari gendongan Laras.
...* * *...
" Hai Laras apa kabar." Sapa Susan.
" Baik kok kak, Kaka sendiri gimana?"Jawab Laras .
" Aku juga baik kok Ras!" Jawab Susan dengan senyuman.
" Papa ada?"
" Ada Dio juga masih diruanganya kayaknya." ujar susan.
__ADS_1
" Ok thanks you."
"Yes you're welcome."
" Sayang ngapain kamu disini." Tanya Dio yang keluar dari ruangan pak Tama.
" Aku kesini mau menemui papa."
" Ada urusan Keluarga sedikit."
" Micel mana."
"Lagi main sama mama Dewi, oh ya nanti anterin aku pulang kerumah mama Dewi dulu ya sayang."
" La tadi kesini sama siapa."
" Sama pak Karyo." Karyo adalah sopir keluarga pak Tama.
"Terus kerumah mama Dewi diantar siapa?"
..." Papa agung."...
...Agung adalah mertua Laras...
...Laras memang sangat dicintai kedua orang tua Dio karena orang tua Dio yang tidak mempunyai anak perempuan sehingga Laras diboyong pindah kerumah keluarga Dio....
...Keluarga Dio tidak memperbolehkan Dio untuk tinggal dirumah pak Tama ataupun tinggal dirumah sendiri mereka sudah mempunyai apartemen tapi kedua orang tua Dio masih tidak memperbolehkan tinggal dirumah sendiri atau apartemen karena kedua orang tua Dio masih trauma dengan kehilangannya almarhum kakak Dio, Dio juga merupakan salah satu sahabat Narendra, ya itu sebabnya Narendra juga sangat mempercayai Dio untuk menjaga dan melindungi laras....
" Iya, iya nanti pulang kuantar."
" Makasih sayang." Ucap Laras sambil mencium pipi suaminya.
" Laras ini dikantor." Laras cuman membalas senyuman.
Tok tok tok
" Masuk."
" Hai pa. " Ucap Laras sambil cipika-cipiki.
" Ada apa sayang tumben datang kekantor, kamu gak bawa Micel?
" Micel sama mama dirumah?"
"Berarti ini tadi dari rumah papa? padahal papa kangen Lo sama micel."
" Yapz ya nanti Laras tungguin kalau papa pulang kerumah biar bisa main dulu sama micel."
" Ya baiklah, ayo duduk dulu, ada apa kamu?"
" Tumben tumbenan kamu datang kekantor."
" Kesini mau menemui Dio atau papa." Tanya pak Tama.
" Ya papa dong."
" Ya udah ada tujuan apa kedatanganmu kesini?"
" Papa kenapa lagi sih sama mama., aku datang-datang kerumah, mama udah nangis gitu aja."
" Ya pasti kamu tadi udah diceritain mama kamu sendiri kan?" Ujar pak tama.
" Pa, papa yang sabar ya ngadepin kak Rendra, kak Rendra itu memang keras kepala pa, jadi tidak semudah itu papa ngomong sama kak Rendra, yang ada malah bikin darah tinggi papa Lo, kan jadi ke mama sasarannya." Ujar Laras kepak Tama.
" Ya kakakmu itu memang yang keterlaluan Ras, masak sama papa sendiri gak punya sopan santun menggebrak-gebrak meja dengan marah-marah."
" Bukanya kak Rendra dari dulu seperti itu pa, susah dibilangin, dia tuh keras kepala cuman nuruti kemaunya sendiri."
" Ya gak bisa Ras Rendra itu siapa dia anak papa, harusnya Rendra yang nurut sama papa, sampai kapanpun papa gak akan merestui hubungan mereka."
__ADS_1
" Meski Rendra tidak mencintai Susan papa tetap akan menjodohkan mereka." Ujar keras pak Tama dan tidak sengaja Susan yang mau masuk keruangan pak Tama segere diurungkannya, Susan mendengar semua yang dibilang pak Tama Susan segera pergi dari situ sambil menyeka air matanya.