
Dilihatnya jam tangan Narendra yang masih pukul 12:00, masih ada waktu 2 jam untuk bertemu Cliennya.
" Sebentar aku coba telpon mama dulu Yan."
" Baik pak."
Tutttt Tutttt Tutt (Berdering )
📞" Halo Ren? Ada apa?"
📞" Ma, Rendra mau minta tolong, coba Mama lihat ada map warna biru diruang kerja Rendra masih ada gak?"
📞" Oke Ren." Jawab Bu Dewi sambil jalan ke ruang kerja prubadi Narendra.
📞" Map biru dari PT .ANGKASA RAYA ini bukan Ren?"
📞" Iya ma betul itu, tolong pak Karyo suruh nganterin ya ma."
📞" Yes siap."
Dalam hati Bu Dewi, lebih baik aku suruh Charissa aja yang nganterin biar dia juga tau kantor suaminya.
"Charissa?" Panggil Bu Dewi dari balik pintu.
CEKLEK.
" Ada apa ma?"Jawab Charissa sambil mengeringkan rambutnya dengan handuknya kelihatannya baru saja selesai mandi.
" Sa kamu gak sibuk kan sekarang? "nggak kok ma, ada apa ma?"
"Sa mama boleh gak minta tolong?"
"Apa ma?'
" Tolong anterin dokumen milik suamimu ya? Biar kamu juga tau kantornya."
" Sekarang ma?"
" Iya sayang, tapi kalau kamu capek ya gak usah nak, biar pak Karyo saja."
" Ya udah ma gapapa kok Rissa yang anter."
" Beneran nih sayang."
" Iya ma. dianter pak Karyo kan?"
" Iya dong sayang."
" Ini sayang dokumenya, hati-hati ya nak, biar cucu mama juga tau kantor papanya." Jawab Bu Dewi sambil mengelus perut Cahrissa yang sudah terlihat membuncit.
Kandungan Charissa sudah menginjak 5bulan perutnya memang sudah mulai membesar kelihatannya dia sudah mulai sering lelah akan tetapi jiwanya yang tidak bisa diam yang membuatnya selalu ingin mencari kesibukan, baginya cara menghibur dirinya yakni dengan menyibukkan diri sendiri.
"Permisi nona ada yang bisa saya bantu?"Tanya resepsionis.
"Saya mau bertemu pak Rendra mbak."
"Sudah ada janji dengan pak Rendra?"
" Tidak ada."Jawab Charissa.
" Hai rupanya wanita murahan juga ingin melihat kantor sang tuannya ya.?" Ujar Susan sambil menepuk kedua tangannya.
" Susan?" Jawab Charissa dengan heran.
"Bukanya dia tidak satu kantor dengan Narendra, kenapa ada disini siular piton ini." Batin Charissa.
" Hai ja****ng, kamu kesini Mau ngapain?."Tanya Susan dengan membisikkan ditelinga Charissa.
"Huh. Asal kamu tahu ya, saya bukan ja***g."Jawab Charissa dengan nafas panjang.
" Terus apa kalau tidak ja***g, PE****R Ha?" Jawab Susan dengan nada tinggi.
Charissa tidak menjawab dengan sepatah katapun dia hanya memejamkan matanya menahan sakit perkataan dari Susan.
" Apa tidak sekalian jual diri sama karyawan yang ada dikantor Narendra." Sambung Susan tetap dengan nada tingginya.
...Orang-orang yang ada disekitar melihat kearah mereka berdua tidak ada yang berani sama Susan, karena orang yang ada dikantor Narendra sudah sangat paham dan mengenal Susan, bahkan karyawan Narendra juga mengira jika calon istri Narendra dulu adalah Susan dan ternyata mereka salah dan sekaligus gembira karena Susan tidak jadi menikah dengan Narendra, sifat Arogan Susanlah yang membuatnya dibenci para karyawan dan staf dari Narendra....
PLAKKKK
Tampar Charissa dan tepat dihadapan para karyawan dan juga Narendra yang berada dibelakang Charissa.
"Jangan pernah bilang itu lagi."
"Bilang apa?" Teriak Narendra dari belakang.
" Ren, kamu tahu sendiri kan? istri kamu yang buat ulah bukan aku."Ujar Susan sambil mendekat dibahu Narendra.
"Oh itu istri pak Rendra?"
" Sangat cantik ya."
__ADS_1
"Iya imut pula." Cluit para karyawan Narendra.
"Pantesan pak Rendra kepincut, toh cantikan istrinya daripada sidia."
"Datang-datang membuat kegaduhan, gak malu apa? Buat kerumunan dilihat banyak orang?" Bentak Narendra yang sebenarnya juga sangat kesal jika ada wanita yang kasar apalagi membuat ulah kegaduhan dikantornya.
" Ini ! aku cuman mau nganterin ini, maaf aku yang salah." Jawab Charissa singkat dengan lirih menahan tangisnya dan langsung beranjak pergi.
...Dia berjalan dengan menyeka air matanya, sepanjang jalan dia menangis dia menangisi harga dirinya, dia sadar diri semenjak kejadian yang menimpanya, dia merasa harga dirinya sudah tidak berharga lagi, sakit hatinya, ini terlalu sakit baginya, dia malu dengan perkataan Susan, dia malu dihadapan orang banyak, dengan lantangnya Susan membuat harga dirinya dipermalukan dihadapan karyawan suaminya, bahkan suaminyapun yang harusnya menjadi garda terdepan tak sedikitpun ada niatan untuk membela maupun melindunginya....
MALAM PUN TIBA
Jalanan kota Jakarta sangat ramai meski sudah petang, Charissa sehabis sholat magrib, dia bergegas untuk bersiap diri mau bertemu keluarga besarnya, Charissa memakai Dress warna biru ceruty, dengan rambut yang dijepit kebelakang dia nampak begitu cantik dan anggun ditambah lagi dengan perut buncitnya yang sudah mulai membesar nampak begitu menggemaskan.
"Ma pa Charissa pamit dulu ya?" Ujar Charissa yang hendak pamit kemertuanya.
" Loh mau kemana Sa?"
Tanya pak Hutama sambil duduk diruang tengah.
"Sa kamu mau pergi sendirian?"
" Cuma sebentar kok ma, mama dan papa mengajak makan malam."
"Tidak sama Rendra nak?" Tanya Bu Dewi.
" Tunggu Narendra pulang dulu sa, biar Narendra juga ikut." Saut Pak Hutama.
"Tidak ma, pa kelihatannya mas Rendra tadi sangat sibuk, ini Charissa cuman sebentar kok."
"Kamu dijemput siapa sa?" Tanya pak Hutama.
"Emmmm ini pa, Charissa Uda pesan Gojek kok." Jawab Charissa sambil menunduk.
"Ya Allah sa, Gak baik malam-malam naik Gojek sendirian."
" Apalagi kamu sedang hamil lo sayang." Saut Bu Dewi sambil menggerutkan kedua alisnya karena rasa khawatirnya.
" Pak Karyo?" Teriak pak Hutama.
" Iya pak siap, ada apa pak.?" Jawab pak karyo sambil ngos-ngosan yang berlarian dipanggil oleh tuanya.
" Pak tolong antar Charissa ya, tolong jagain dia Sampek pulang nanti ya?" Ujar Bu Dewi.
" Oh iya nyonya siap." Jawab pak Karyo sambil hormat.
" Hati-hati Lo pak bawa menantu dan cucu saya." Saut pak Hutama.
" Siap pak. saya akan berhati-hati pak." Jawab pak Karyo lagi.
CAFE DISTRIC'
" Malam ma." Sapa Charissa pada Mama Rani sambil cipika cipiki.
" Charissa, Emmmm sini sayang duduk ayo nak." Jawab mama Rani sambil membuka kursi disampingnya untuk putri tercintanya.
" Terimakasih ma." Jawab Charissa sambil tersenyum bahagia sejenak Charissa sudah melupakan kesedihannya disiang tadi.
" Sa kamu sendirian sayang?"
" Eh. Iya pa anu tadi, Emmm mas Rendra sepertinya sibuk bertemu klien." Jawab Charissa kebingungan dan jawabannya hanya mengarang.
" Oh begitu, Yah memang seperti itulah Sa kerjaan suamimu, jarang punya waktu jadi kamu juga harus mengerti ya?" Ujar papa Roni.
"Ya sama kayak papamu juga." Saut mama Rani.
" Sampek-sampek Mama kamu ngintil terus sama papa Sa." Saut papa Roni lagi sambil menggoda istrinya.
" Hmmm Pa mulai." Jawab mama Rani.
"Gapapa kok ma, yang penting mama sama papa sehat kan?"
" Ya beginilah Sa Alhamdulillah."
"Kamu sendiri sehat kan nak?"
" Cucu mama gimana? dia gak rewel kan?" Tanya mama Rani penuh antusias.
" Alhamdulillah Ma, msih sedikit rewel tapi Charissa tetap sehat, Oh iya ini Charissa bawakan Cake kesukaan mama."
" Emmm terimakasih sayang." Jawab Mama Rani sambil memeluk.
"Mama kangen masakan kamu Lo nak."
" Masak sih ma."
"Iya sayang mama kangen dibuatin sup Iga."
" Kapan -kapan kalau Charissa main kerumah ya ma, pasti Charissa masakin kok." Jawab Charissa sambil memeluk mamanya yang berada disampingnya.
" Malam Papa, Mama." Ujar Shella yang baru datang bersama kekasihnya.
__ADS_1
"Maaf ya Shella telat "
" Shella habis dari mana nak?" Tanya Mama Rani.
" Ini sekalian nunggu Bryan ma, maaf ya ma nunggu Shella lama, Sudah dari tadi?"
"Gapapa kok sayang.Ya kita sudah agak lama Shell, Sudah-sudah kamu makan dulu pesanan kamu, Bryan ayo duduk sana."jawa papa Roni.
" Oh iya Om terimakasih." Jawab Bryan duduk berhadapan dengan Charissa.
"Mbk Charissa sendirian." Tanya Shella dengan menaikkan satu alisnya.
" Iya Shella Mbk sendirian, Suami mbk sibuk."
" Buat apa nikah muda mbk, kalau kita gak dapat kebahagiaan dari pasangan, UPS maaf nikahnya Mbk kan kecelakaan jadi mungkin terpaksa ya mbak ya ampun kasihan banget ya mbk y." seru Cahrissa dengan nada mengejek.
" Shella." Panggil Papa Roni dengan mata melotot.
" Tapi bener kan ma, Seharusnya kita itu bisa menjaga diri, daripada menikah cuman buat mainan, apalagi punya pasangan yang setiap hari mikirin pekerjaan tanpa memikirkan keluarga istrinya sedang hamil pula, mau dibawa kemana arah rumah tangganya, sayang besok kalau aku sedang mengandung tolong kamu temani aku terus ya sayang." Ujar Shella kepada sang kekasih.
Charissa hanya diam membisu tanpa mengucap sepatah katapun, Shella benar, bahkan mama Ranipun terlalu sibuk dengan pekerjaannya selama ini sehingga membuatnya gagal mendidik anaknya, sampai-sampai kecolongan Charissa.
" Sok-sokan arah rumah tangga kemana, memangnya arah jalanmu sudah bener?" Saut papa Roni.
" Maksud papa?"
" Urus itu kuliahmu yang bener biar cepet selesai lulus wisuda."
" Oh terus kalau udah selesai langsung nikah Kayak mbk Charissa, yang sekarang hidupnya cuman bergantung pada suaminya, percuma berpendidikan tinggi kalau hidupnya dibuat hancur sendiri, Lihat mbk Charissa sekarang malah menderita kan pa, dan Shella gak mau kalau masa depan Shella sesuram itu. "
Seketika mata Charissa berkaca-kaca ini yang kesekian kalinya seseorang menyakiti perasaannya.
Mama Rani tidak berani melihat Charissa disampingnya karena yang diucapkan Shella semuanya itu memang benar.
Sementara Narendra yang sedang berada diruang kerjanya sibuk mondar mandir dia memikirkan kejadian siang tadi dirinya merasa bersalah karena dengan mudah mempercayai Susan dan sudah berkata kasar kepada istrinya sejak pertemuan bersama cliennya Narendra sudah tidak fokus dengan pekerjaannya.
" Daripada bingung mending langsung pulang saja aku."
Dan tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya Narendra sampai dirumahnya.
" Loh kok kamu Dim yang bukain pintu kemana pak Karyo? Tanya Narendra yang masih didalam mobilnya.
" Oh anu Den, mang Karyo sedang nganterin nona Charissa."
" Nganterin? nganterin kemana?" Jawab Narendra dengan nada tercengang.
"Maaf Den kalau itu kurang tau soalnya tadi mang Karyo hanya bilang disuruh Tuan dan Nyonya nganterin non Charissa."
" Berarti gak bilang kemana?"
" Tidak Den."
"Ya ampun " lirih Narendra sambil memegangi kepalanya yang pusing memikirkan.
" Tadi malam kan dia memintaku untuk menemani makan malam bersama keluarganya."
Narendra teringat permintaan istrinya tadi mlam.
"Ya udah Dim, kamu tutup kembali gerbangnya." Ujar Narendra sambil menyetir mobilnya kearah keluar gerbang rumah.
" Siap pak hati-hati." Jawab Dimas salah satu satpam yang ada dirumah.
" KATA SIAPA MENDERITA?" Teriak seseorang dari depan pintu yang berjalan menuju meja mereka.
" Tidak akan kubiarkan jika istriku menderita, sekalipun yang menyakiti Charissa itu dari keluarga sendiri, akan kupastikan hidupnya lebih menderita jika berani menyakiti istriku." Ujar Narendra dengan lantang menantang Shella.
"Narendra silahkan duduk Ren." Ucap papa Roni.
" Sepertinya hari ini Rendra sangat capek Pa, Narendra kesini hanya untuk menjemput Charissa , jadi mohon maaf, ijinkan kami pulang duluan." Ujar Narendra sambil mengambil tangan Charissa yang diajaknya keluar.
" Tapi aku masih mau disini, kamu pulang duluan saja." Jawab Charissa.
" Bisa-bisanya ini anak udah disakiti kayak gini masih aja mau bersama mereka." Batin Narendra.
" Tidak baik jika tidak menurut pada suami." Ujar Narendra lagi, Charissa berdiri menuruti suaminya.
" Sa ikuti kata suami, besok waktu bersama mama masih ada lagi kok nak." Ujar mama Rani yang juga ikut merasakan kesedihan Charissa.
" Kami pamit dulu ma, mama gak usah sedih, selama Charissa disampingku akan kubuat dia bahagia ma." Ucap Narendra dibelakang mama Rani.
Charissa masuk mobil seketika tangisnya langsung ditumpahkan semuanya, dia sudah tidak bisa menahannya, dia menangis dengan sesenggukan, dia menangisi perkataan Shella memang semua benar dirinya saat ini sudah tidak berguna percuma selama ini menjadi anak yang pintar yang berprestasi dan tidak neko-neko tapi akhirnya dia malah menjadi hancur ingin sekali Charissa berteriak dalam batinnya.
hiks hiks hiks
Narendra yang masuk kedalam mobilnya langsung ingin memeluk menenangkannya, dia tahu istrinya pasti sangat tersakiti, Narendra juga sangat menyesal akan perbuatannya dikantor tadi.
"Udah tenang, ada aku disini." Ucap Narendra yang akan memeluk menenangkan tetapi ditepis langsung oleh Charissa.
" Kenapa sih kamu datang, apa salahku apa ? kenapa kamu selalu menggangguku ? Apa kamu belum puas menghancurkan masa depanku." tangis Charissa pecah penuh emosional selama ini yang dia pendam akhirnya bisa diutarakan.
" Maafkan aku, iya aku yang salah."
__ADS_1
Ucap Narendra mengalah, yang ikut merasakan kesedihan yang dialami istrinya, Charissa yang masih sesenggukan tetap dipeluk paksa olehnya, dia tahu jika wanita menangis bersedih, hanya pelukan yang membuat seorang wanita itu menjadi tenang, Narendra menghelai lembut rambut Charissa, tercium aroma shampo yang sangat wangi membuat Narendra enggan melepaskan pelukannya.
"Kita pulang ya, kamu butuh istirahat." Charissa melepaskan pelukannya dengan air mata yang masih menetes dia enggan berbicara sepanjang jalan, dia hanya melamun melihat jendela mobil terlalu banyak yang dipikirkan dia tidak menyangka dengan dirinya sendiri mengapa bisa seperti ini, kepergiannya dari rumah bukan malah membuat masalahnya bersama Shella selesai, malah membuatnya semakin menderita, pikir (Cahrissa sambil mengingat kejadian waktu dia pergi dari rumahnya.)