
2 bulan kemudian
...Charissa tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya, semenjak kejadian 2 bulan lalu dia langsung memutuskan keluar dari toko tersebut, dia mengganti nomor WhatsAppnya sehingga Bu Dewi sudah tidak bisa mencarinya lagi bahkan Rissa juga pindah dari kos-kosannya yang dulu....
...Sudah 2 bulan semenjak kejadian itu Bu Dewi juga selalu bertanya-tanya ada apa dengan Charissa kenapa dia menjauhinya, bukankah tugas dia sudah selesai setelah membujuk anaknya agar bisa pulang kembali kerumahnya, Bu Dewi ingin sekali menemui Charissa dia ingin berterimakasih kepadanya karena dikira berkat Charissa Narendra mau kembali kerumahnya....
...Padahal Narendra pulang kerumah juga agar tidak mengingat kejadian pada malam itu dikamar apartemennya, narendra tidak menyesali perbuatannya hanya saja dia benci pada wanita tersebut, yang sudah lancang masuk kedalam apartemennya padahal ia sama sekali tak mengenalnya....
...Narendra berasumsi bahwa wanita tersebut bukanlah wanita baik, dia pasti hanya berpura - pura polos dia pasti hanya memanfaatkan kebaikan mamanya apalagi notabenenya ibu Dewi memang orang yang begitu baik, orang yang humbel dan ramah pada semua orang....
Tok tok tok
" Sa. Rissa ini aku Putri?" Teriak putri dari luar kosan.
" Putri, ad apa put ganggu orang tidur saja."
" Rissa ini jam berapa?Jam segini kok tidur gak baik tau rawan penyakit." Ujar putri sambil melihat jam tangannya, dilihatnya masih jam set10.
" Abisnya ngantuk banget Put gak tau nih."
" Ayo masuk !"
" Rissa aku udah belanja banyak nih ayo masak rendang."
" Kukira bawa yang udah Mateng, taunya malah suruh masak." Dumel Rissa.
" Udah gapapa nanti kita masak bersama, karena aku sudah ingin sekali makan rendang buatanmu, sreeeppppp mmm lezatnya." Ujar putri sambil membayangkan.
" Ya udah ayo."
" Itu dagingnya digodok dulu yang lama." Ujar Charissa sambel mengulek bumbu rendang.
" Ok siap."
" Sa ini tadi aku juga beli bumbu rendang instan dicampur aja ya biar sedeep."
" Ehhh gak usah kalau aku gak usah pakai yang instan, semuanya buat sendiri aja, tambah sedep abisnya aku juga gak suka yang instan-instan Put kalau kamu suka juga gapapa pakai itu aja." Jawab Charissa.
" Aku malah gak bisa masak Sa jadi aku gak tau."
" Ngomong-ngomong kamu jago masak Lo Sa. siapa yang ngajarin? kenapa gak buat restoran sendiri aja Sa."
" Aku dari kecil senang ikut memasak bik Iyem put, makanya sampai sekarang hafal sama yang namanya bumbu -bumbu apalagi aku juga hobi masak, jadi sering buat masakan sendiri sesukaku, aku gak mau buka restoran Put, ntar Miko kalah saing malah nangis."
" Ahhaabhahahhaha" Mereka tertawa bersama.
" Biarin tuh Miko sibuk dengan sekripsinya, Alhamdulillah kalau aku udah lega banget Sa, tinggal nunggu wisuda bareng kamu, makasih ya Sa udah dibantu."
" Sama-sama Put, seharusnya Miko juga udah selesai tapi dianya aja yang terlalu mengulur-ulur waktu. Ya salah sendiri." Saut Charissa.
" Biasa Sa dia kan orang malas hobinya kalau gak rebahan ya dandan."
" Kemarin gue seharian juga main kerumahnya put, masak dia habis mandi terus dandan langsung tidur, kukira mau kencan atau pergi kemana gitu, eh cuman mau tidur padahal dia udah siap banget dari make-upnya yang tebel dan pakai baju rapi banget pula, ternyata malah tidur dan gue dibiarin gitu aja ngerjain sekripsinya."
" Oh ya. Beneran Sa." Heran putri.
" Tuh anak emang gila ya Sa."
Kira-kira sekarang lagi ngapain ya Sa?gak rame kalau gak ada Miko."
" Hahahaha iya dia ratu menghebohkan sejagad raya." Mereka tertawa bahagia bersama.
" Kamu cemplungin bumbunya Put, aku ajarin masak biar Nanti pinter kalau dirumah mertua." Ehehhee.
" Kamu kalau ngomong persissssss kayak mamaku Sa, Putri sini masak bareng mama kamu itu wanita harus jago masak, biar nanti kalau kamu sama mertua udah pinter." Ujar putri sambil memasukkan bumbu yang telah dibuat Charissa.
__ADS_1
" Hoekkkkkkkk. hoekkkkkkkk." Perut Charissa tiba-tiba mual kepalanya pusing mencium bau aroma rendang.
"Kamu kenapa Sa." Kaget putri.
" Kamu sakit Sa atau masuk angin kali."
"Enggak kok Put, aku baik-baik aja."
" Hoekkkkkkkk Rissa memuntahkannya lagi dikamar mandi."
"Sa kamu sakit? Aku antar kedokter ya." Tawar Putri sambil memijat lehernya.
" Gak usah Put. Aku istirahat dulu saja ya Put."
" Iya sa kamu istirahat aja dulu, biar aku yang masak."
Putri merasa khawatir pada Rissa.
"Apa ini ada hubungannya dengan 2bulan lalu waktu dia jemput Charissa." Batin putri langsung menebak Kejadian itu karena Putri masih penasaran dengan kejadian tersebut yang belum sama sekali diceritakan Charissa.
...Setelah kepulangan Putri dari kosanya, Charissa dengan gemetar melihat kalender kecil yang ditaruh diatas kulkas, benar yang dilihatnya kalender tersebut belum ada tanda silang, dia teringat setelah kejadian itu, Dia juga tak kunjung datang bulan, Charissa takut akan sesuatu hal yang akan terjadi pada dirinya, Charissa memberanikan diri mampir keapotik yang sejalan dengan arah dia pulang, dia mampir keapotik yang buka dengan 24 jam. Dengan mengumpulkan semua niatnya Rissa memberanikan diri untuk membeli alat tersebut dia masuk kedalam apotik sambil memejamkan mata sebentar, berdoa dalam hati berharap tidak akan ada sesuatu yang akan terjadi lagi pada dirinya....
Esok harinya Rissa mencoba menggunakan alat tersebut dia benar-benar berharap jika hasilnya negatif, hanya butuh 1 menit dia segera tahu hasilnya.
...Harapannya pupus semuanya hancur dia seperti dihantam bebatuan , tubuhnya gemetar memegangi alat itu, dia harus menerima kenyataan jika dia mengandung seorang bayi, bayi dari hasil malam yang membuatnya begitu hancur pada dirinya, Charissa menangis meratapi nasibnya, kepergian dari rumahnya untuk menghindari adik tirinya malah membuat hidupnya semakin hancur, apalagi yang dibanggakan untuk orangtuanya dari Charissa, dia merasa menjadi anak yang tak berguna, jika orangtuanya tahu dia akan mencoreng nama baik Keluarga Roni dan Rani serta akan merusak nama baik keluarga almarhum papanya CAHARI....
" Mama maafin Rissaa Maaaa." Tangis Charissa.
" Charissa tok tok tok." Teriak putri.
" Ko coba deh kamu telpon, tuuuuttt tuuttt"
"gak diangkat Putri."
" Kemana si Rissa." Ujar Miko yang begitu panik.
" Pasti dia ada didalam ko."
" Rissaa." Teriak miko.
" Gak ad jawaban dari sana Koo. Jangan - jangan Rissa pingsan Koo, dari kemarin Rissa begitu pucat dan dia mual-mual."
" Benarkah ? dia waktu dirumahku juga sering mual-mual dia mengeluh kepalanya pening."
" Kooo jangan- jangan ada sesuatu yang terjadi pada Rissa Koo."
" Kamu ngerasa gak kalau dia akhir-akhir ini sering ngelamun sendiri."
" Iya aku kira hanya aku saja yang merasa seperti."
" Ah sudahlah yang penting kita cari Rissa sekarang."
" Coba kamu dobrak pintunya Koo."
" Aaaauuu gak kuat Putttt."
" Kamu kan cowok Kooo pasti kuat ayo dobrak buruan ."
" Satu dua tiga braaakkkkk."
Dengan tenaga prianya akhirnya Miko bisa mendobrak pintu tersebut, putri langsung mencarinya dikamar, dan benar dugaannya Rissa mau bunuh diri dia sudah memegang pisau ditangannya dan segera Putri membuangnya.
" Rissa kamu apa- apaan?" Teriak Putri.
" Biarin aku mati Put biarinnnn." Hikz hikz hikz Rissa terisak ingin mengambil pisau itu lagi dan langsung dibuang jauh oleh Miko.
__ADS_1
" Kamu kenapa Rissa. ya Allah." Miko ikut menangisi.
" Biarin aku mati sajaaaa aku kotor aku gak pantas hidup." Isak Charissa.
" Jangan ngomong seperti itu, kamu gak lihat kita, hei kamu lihat aku, disini masih ada kami aku dan Miko akan selalu ada di sampingmu Rissa." Peluk putri menenangkan.
" Miko ambilkan minum."
" Ini put."Putri memberikan air putih pada Rissa dan rissa tetap tidak mau.
" Aku tidak kuat, aku tidak kuat dengan semua ini." Dan akhirnya dia pingsan seketika.
" Miko cepat panggil dokter Hana Tante kamu, mungkin dia belum berangkat kerumah sakit siapa tau dia mau kesini."
" Iya iya tenang dong Put, kamu jangan bikin aku khawatir." Jawab Miko sambil badannya dihentak - hentakan dengan rasa khawatirnya.
" Aku kekamar mandi dulu Put, dari tadi udah nahan nih."
" Hmmmmmm cepat pergi sana." Jawab putri sambil mengelus-elus rambut Charissa sembari menyenangkan.
" Charissa Charissa cobaan apa lagi yang datang kepadamu, kenapa kamu gak nyritain semuanya kepada kami?"
"Putrrriiiiii." Teriak Miko dengan begitu kaget melihat alat tespek yang ada dikamar mandi Rissa.
" Apaan sih ko?" Bikin kaget aja sih kamuuuu."
" Put ini apa put."
" Koo ini." Putri tercengang dia kaget sambil menutup mulutnya putri gemetar seketika.
" Jangan-jangan Rissa." Ujar dengan kompak mereka berdua.
"Tok tok tok permisi " Ucap dokter Hana.
" Miko, siapa yang sakit?" Tanya dokter Hana.
" Ini tan Charissa. Tiba-tiba dia pingsan, dan saya menemukan ini tan."
"Dok bukankah itu alat untuk mengetes kehamilan?" Tanya putri.
" Benar putri dan ini hasilnya positif, putri hamil?"
" Bukan dok bukan saya." Jawab putri.
" Jadi siapa yang mau saya periksa." Tanya dokter.
" Oh iya ini teman saya tan mari masuk dok."
" Gimana dok." Tanya putri
kepada dokter yang masih memeriksa.
" Miko, apa kamu yang membuatnya hamil?" Tanya dokter dengan wajah khawatir karena dokter Hana adalah tantenya Miko saudara mamanya.
" Tidak Tan enak saja, Miko gak suka sama wanita mana mungkin Miko naf***u." Ujar Miko.
" Miko temanmu ini sedang mengandung sepertinya umur bayinya masih sekitar 1/2 bulan."
" Kenapa dia belum bangun-bangun dok." Kawatir Putri, ya Putri memang sudah kenal dengan Tante Hana karena Putri juga sering memeriksakan mamanya kedokter Hana, dokter Hana bukanlah dokter spesialis kandungan melainkan dokter umum yang bertugas dirumah sakit besar dijakarta.
" Tidak apa-apa Putri, dia mungkin pingsan beberapa jam hanya saja dia tidak diperbolehkan untuk bekerja yang membuatnya lelah atau mengangkat yang berat-berat."
" Terimakasih dokter Hana."
" Sama-sama jaga baik-baik kondisi temanmu ya Ko, kamu dan Putri tetap harus mensupportnya jagan malah menjauhinya dan ini Tante kasih obat mual biasanya diawal kehamilan dia sering mual selanjutnya antarkan temanmu kedokter spesialis kandungan ya atau ke bidan setempat biar bisa mengontrol kondisi ibu dan bayinya setiap bulannya." Ya memang benar Charissa akhir-akhir ini sering mual-mual, Putri dan Miko masih tercengang tidak percaya.
__ADS_1
" Siap tante makasih banyak ya tan ." Ucap Miko yang mengantar dokter Hana kedepan kosan.