
...Pagi yang begitu cerah Charissa yang semalaman nangis teringat jika dia mimpi buruk dan memeluk Narendra, dilihatnya tubuhnya yang masih dipeluk Narendra, dengan pelan-pelan dia melepaskan pelukan dari Narendra....
Charissa membantu memasak bik Mirna hobinya memasak mulai kambuh, akan tetapi jika Bu Dewi melihatnya pasti akan melarangnya.
" Bik Mirna ini tolong dicicipi bik kurang asin atau gimana bik?"
"Mmmm udah pas non, ini mah mantepppp non."
" Masak sih bik? bik Mirna ini bisa aja."
"Emang mantap non ini mah."
"Bik?" Panggil Charissa.
"Iya non."
"Bik Mirna udah lama kerja disini?"
"Sudah non sebelum Den Rendra belum lahir bibik udah disini bahkan sebelum pak Tama Belum kawin bibik juga udah disini."
" Wah udah lama banget berarti bik berapa tahun itu?" Tanya Charissa sambil menggoreng.
" Berapa tahun ya non lupa bibik."
" Gak usah diingat ntar pusing bik, terus anak bibik berapa?"
" Bibik belum nikah non bibik belum punya anak."
" Uhuk huk." Kaget Rissa.
" Maaf bik, bibik asli mana?"
" Gapapa non udah biasa, bibik asli Pekalongan, dulu itu sebenarnya bibik sudah pernah menikah tapi dijodohkan terus bibik kabur, soalnya bibik gak suka?"
" Loh kenapa begitu bi?"
" Yaaa bibik gak suka aja non, habisnya enak-enak kerja dsini, nyaman disini, disuruh pulang sama orang tua, tapi non jangan niru bibik ya, kalau gak suka Den Rendra jangan kabur non, gak patut dicontoh bibik non." Kekeh bik Mirna.
" Aku contoh saja ahhh bik, kabur aja kalau gak betah."
" Eh jangan non, jangan, nanti kasihan Den Rendra non." Jawab bik Mirna dengan penuh penyesalan karena sudah menceritakan masa lalunya dan takut Rissa menirunya.
" Nggak bibik, Rissa gak akan kabur kok, Rissa bercanda." Tawa Rissa.
" Beneran nih non? Non Rissa itu sangat beruntung dinikahi DenRendra!"
" Oh ya? Kok bisa begitu bik?"
" Iya non DenRendra itu baiiiiiiiiikkkk banget non, udah tampan pinter cerdas, kaya raya pula, banyak non wanita- wanita diluaran sana yang menginginkan Den Rendra sampai-sampai nih non majikan tetangga sebelah, yang ada dikomplek sini pada nanyain Den Narendra semua."
" Hmmm masak sih bik? Emang yang dapat Rissa juga gak beruntung nih?" Goda rissa.
" Malah beruntung banget non, non Rissa gak hanya cantik, pinter masak , baik pula sama semua orang."
" Emang bibik udah tau Rissa? "
" Kata nyonya Dewi sih non, hhhiihihihiihihi" Jawab Mirna.
" Mama sering cerita tentang aku bik."
" Iya non cerita banyak." Rissa mengangguk sambil mengiris daun bawang.
Mereka saling bercanda dan ternyata didengarkan oleh Narendra disamping dapur dia yang hendak mengambil air minum segera diurungkannya.
" Rendra kamu ngapain?"
" Eh anu enggak kuo ma tadinya Rendra mau ngambil minum tapi gak jadi."Jawab Narendra sambil menggaruk kepalanya.
" Mau ngambil minum apa ngintip Rissa?" Goda sang mama.
"Apaan sih ma." jawab Narendra sambil meninggalkan.
...* * *...
Hoekk hoekkkk hoekkk
Terdengar suara muntah dikamar mandi.
" Kamu kenapa?" Tanya Narendra dengan ketus.
"Gapapa kok udah biasa."
" Sarapannya udah siap, sana gih." Ujar Charissa sambil jalan menuju tempat tidur untuk membaringkan badannya yang lemas dan gemetar.
...Akhir-akhir ini Charissa sering mual, Indra penciumannya lebih sensitif dibanding beberapa bulan lalu yang hanya muntah, ...
...dan saat ini juga lebih sering pusing muntah-muntah apalagi jika mencium bau-bau yang sangat menyengat....
" Memangnya kamu gak sarapan?" Tanya Narendra, sambil menyemprotkan parfum lebih banyak.
__ADS_1
" Aku nanti aja."
" Kenapa? Gak baik untuk sibayi kalau sering telat makan." Jawab Narendra dengan mendekat kearah Charissa.
Hoekkk Hoekkk Hoeekkk
Charissa segera lari kekamar mandi, Narendra segera mendekat dengan khawatir karena melihat Charissa yang semakin pucat.
"Kamu baik-baik aja kan?"
" Jangan mendekat." Teriak Charissa.
Hoekkkkk
Charissa masih ingin tetap memuntahkan semuanya.
"Maaa mama?"Teriak Narendra pada BuDewi.
" Ada apa sih Ren, ayo sarapan dulu sini?"Jawab Bu Dewi.
" Ma bantuin Charissa gih, dari tadi muntah terus."
" Itu udah biasa Ren untuk ibu hamil."
" Kenapa gak kamu bantuin, kok malah ditinggal kesini, sana ma samperin." Saut Pak Tama.
"Iya pa." Jawab Bu Dewi sambil menuju kamar Narendra.
" Gak mau dibantu, yang ada malah diusir." Kesal Narendra.
" Hmmm paling-paling ya gara-gara kamu mangkanya Charissa gak mau." Teriak Bu Dewi yang masih didengar oleh Narendra.
" Charissa?"
"Kamu baik-baik aja kan nak?" Tanya Bu Dewi sambil memijat leher Charissa. Dilihatnya Charissa yang sangat pucat, Bu Dewi turut kasihan.
" Gak papa kok ma Rissaa hanya mual saja, karena mencium bau parfum." Jawab Charissa sambil dituntun Bu Dewi menuju tempat tidur.
" Hmmm sudah mama duga Sa, mama dulu juga begitu waktu mengandung Narendra."
" Mama ambilkan susu ya biar perut kamu enak, biar ada isinya perut kamu, kasihan nanti cucu mama kalau gak sarapan." Charissa mengangguk mengiyakan.
...* * *...
"Bik Mirna Bik?" Teriak Bu Dewi.
" Tolong ambilkan susu Rissa dimeja ya bik?"
" Siap nya."
"Loh kok habis?"Heran Bik Mirna.
" Cari apa bik?"
" Eh itu Tuan susunya non Charissa suruh ngambil, tapi kok sudah habis." Jawab Bik Mirna.
"Kamu yang minum Ren?" Tanya pak Tama.
" Ya habisnya disamping, aku kira ya buat Rendra."
" Lagian biasanya kamu gak doyan sama susu, kenapa jadi suka? Nyidam kok aneh-aneh, susu istrinya diminum." Ujar pak Tama sambil mengunyah makanannya.
"Apa apaan sih pa."
" Kalau begitu saya kedapur dulu Tuan akan saya buatkan yang baru lagi, DenRendra mau dibuatkan lagi den?" Goda Bik Mirna.
" Terimakasih bik" Jawab Narendra dengan ketus.
"Rendra berangkat dulu pa, sallam buat mama."
" Gak pamitan dulu sama istri?"Tanya pak Tama.
" Lagi buru-buru." Ketus Narendra.
...* * *...
Tok tok tok.
" Masuk bik." Seru Bu Dewi.
"Kok lama bik?"Tanya Bu Dewi.
" Maaf nya susu yang tadi dibuat non Charissa sendiri, sudah diminum Den Rendra."Jawab Bik Mirna sambil menyodorkan susu ke Bu Dewi.
"Beneran bik? Rendra kan gak doyan susu."
" Iya nya bibik gak bohong."
"Aneh banget siRendra, ayo sayang habiskan."
__ADS_1
"Terimakasih ya ma?"
" Sama-sama nak, nanti jadi periksa kandungan jam berapa sayang?"
"Biasanya jam 2 siang ma, tapi gak tau kalau nanti dia jadi nganter jam berapa."
" Memangnya gak bilang kamu tadi sa?"
" Enggak ma, kalau gak bisa jangan dipaksa ma, kan masih ada Miko atau putri kalau gak ya sama pak Karyo saja ma, atau Rissa bisa berangkat sendiri kok."
" Tidak bisa sa, kamu itu sudah bersuami jangan terlalu sering merepotkan sahabat-sahabatmu, bukanya mama melarang tapi mama sendiri juga sedang belajar menjadi seorang istri, apa saja kewajiban seorang istri, maaf ya kalau kata-kata mama nyakiti kamu, mama hanya mengingatkan, tidak bermaksud apa-apa kok sa, lagipula daripada kamu sendirian atau sama orang lain lebih baik mama yang nganter, tapi kalau Rendra bisa ya mama lebih seneng." Goda Bu Dewi.
" Mama." Seru Charissa, sambil cemberut.
" Udah kamu istirahat dulu, nanti mama telpon Rendra." Ujar Bu Dewi sambil menyelimuti Charissa dan mencium dahi Charissa.
...* * *...
"Halo Ren?"
"Ada apa sih ma Rendra lagi meeting nih?"
" Nanti jadi nganter Charissa periksa kan nak?"Tanya Bu Dewi disebrang sana.
" Jam berapa?"
" Jam 2 sayanggggg. Bisa kan nak?"
" Rendra sibuk ketemu clien ma, lain waktu aja lah ma?" Rajuk Narendra.
" Ya udah kalau nanti kamu gak bisa, biar dianter Miko aja soalnya katanya tadi udah janjian sama Miko."
" Iya iya Rendra usahain." jawab Rendra dengan marah-marah.
"Bilangin nanti kalau aku jemput, dia udah harus siap-siap, Rendra gak mau nunggu lama-lama, jangan buang-buang waktuku."
" Kenapa gak kamu telpon sendiri, nanti mama krimi nomor Charissa kalau kamu gak punya."
" Mama aja yang bilangin, apa susahnya sih?"
" La kan kamu suaminya nak?"
" La kan mama mertuanya."
" Rendraaa. Sudah gak ada alasan lagi, kamu sendiri yang harus WhatsApp atau telpon sana."
" Iya iya, udah ya Rendra tutup dulu telponya, gak enak ditunggu orang banyak diruang miting nih." Ujar Rendra.
" Iya sayang." Jawab Bu Dewi kegirangan.
...* * *...
" Sampai mana tadi? Ayo mari kita lanjut." Ujar Narendra saat memulai meetingnya kembali.
" Sampai tahap bagaimana membuat strategi-strategi yang menarik, melalui pasar impor tersebut pak." Jawab salah satu karyawan yang ikut serta berdiskusi.
" Baik silahkan lanjutkan." Ujar Narendra sambil mempersilahkan dengan tangan kanannya.
Kllunngggg. Suara Handphone Narendra, Baru saja dirinya menduduki kursi handphone nya sudah kembali berbunyi.
" Ren ini nomer mantu mama yang cantik 0857xxxxxxxxx"
" cepat langsung WhatsApp ya nak."
" Mama Mama" Batin Narendra sambil menggelengkan kepalanya.
"Baik sudah hampir beberapa jam rapat kita hari ini, jika sudah tidak ada yang ditanyakan lagi, bisa ditutup untuk meeting hari ini."
" Vina kamu tutup." Ucap Narendra pada salah satu staf-nya.
"Baik Terimakasih saya ucapkan,
Alhamdulillah acara demi acara telah selesai, saya selaku mc pembawa acara rapad kerja dalam rangka pembahasan perkembangan kerja tim dan produk baru dari NARENDRA GROUP.
Sebelum acara kita tutup saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Apabila perkataan saya kurang dikenan di hati bapak/ibu dan seluruh para Staff-staff kerja.
Mari kita tutup bersama acara pada kali ini dengan membacara Hamdallah."
" Riyan jam berapa saya ketemu clien?"
Tanya Narendra yang masih duduk diruang rapat, yang sudah ditinggalkan para staf-stafnya.
" Jam 1 lebih katanya pak." Jawab Riyan sang sekretaris.
" Tolong bilangin pertemuan kita hari ini ditunda dulu, dan ganti besok saja, karena saya ada keperluan mendadak."
"Baik pak siap saya akan langsung menghubunginya." Ucap Narendra sekaligus pamit undur diri.
" Selalu saja mendadak, pasti nanti marah-marah nih clien, untung saja cliennya yang butuh bapak, kalau pak Rendra yang butuh clien pasti gak akan mau kerja sama pak." Dumel Riyan pelan sambil menutup pintu meninggalkan bosnya sendirian diruang rapat.
__ADS_1