
NARENDRA GROUP
POV
Jam 8 Pagi Narendra sudah sampai dikantornya seperti pagi biasanya para karyawan menyapa dengan ramah.
"Pagi pak."
" Pagi." Jawab Narendra.
" Pagi pak Rendra."
" Pagi." Jawab Narendra sambil menundukkan kepala sedikit.
" Selamat pagi pak Rendra."
" Pagi." Masih dijawab Narendra dengan cuek, dengan menuju ruangan Riyan sang sekertaris pribadi yang tepat ada didepan ruangannya.
" Yan habis ini langsung temui di ruangan saya."
" Baik siap pak."
Tok tok tok.
" Masuk."
" Selamat pagi pak Rendra, ada perlu apa pak ? dipagi hari saya udah dipanggil keruangan bapak?"
" hehe kamu gak usah tegang kayak gitu Yan, aku memanggil kamu kesini hanya mau menanyakan tentang perkembangan cafetaria dan butik untuk Charissa apa Minggu depan sudah bisa selesai "
" Oh itu pak, kelihatannya sudah pak kemungkinan 4 atau 5 hari lagi pak, dan semuanya yang mengatur adalah Bu Susan pak jadi yang lebih paham lagi Bu Susan."
" Oh begitu " Jawab Narendra sambil mengangguk-anggukkan kepala.
" Apa saya teleponkan Bu Susan dulu pak."
" Oh gak usah Yan nanti saya hubungi sendiri saja.
"Baik pak, hanya itu yang bapak tanyakan apa ada lagi pak yang bisa saya bantu."
" Udah cukup itu aja Yan, Berkas yang kemarin sudah beres?" Tanya Narendra.
" masih proses pak, karena kemarin ada yang terkendala dari beberapa data."
" Ya sudah tidak apa-apa kamu bisa kembali keruangan kamu."
" Baik pak siap."
...****************...
📞: "Halo Ren ada apa?"
📞: "Kamu sibuk nggak San hari ini? bisa kekantor sekarang?"
📞: "Emmm tidak kok, oke habis ini aku kesana."
📞: "Oke aku tunggu."
KEDIAMAN HUTAMA.
"Bik nanti wortelnya jangan dicampur ya?"
" Siap non."
" Bik mereka suka makanan yang pedas nggak." Mereka yang dimaksud disini adalah pegawainya bapak Hutama yang memang begitu banyak, bahkan mereka juga ada yang beberapa membawa keluarganya untuk bekerja dikediaman pak Hutama, biaya hidup mereka dicukupi oleh pak Hutama, anak-anak mereka juga disekolahkan oleh pak Hutama, mereka sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga pak Hutama karena pekerjaan mereka tidak terlalu berat akan tetapi dicukupi biaya hidupnya, mereka bisa pulang kampung hanya saat hari raya idul Fitri dan idul adha dan rata-rata mereka berasal dari kampung karena pak Hutama mengambilnya langsung dari kampung alasannya daripada orang kampung bekerja dikebon panas-panas lebih baik diajaknya kerumahnya untuk membersihkan rumah dan kebun atau taman yang kecil dipekarangan rumah, itupun pekerjaannya tidak berat karena asisten rumah tangganya yang begitu banyaknya menjadikan pekerjaan mereka menjadi ringan.
" Kalau mereka sih non, apa aja mau."
" Apa lagi masakannya non Charissa beh mantep non mereka sangat menyukai non."
"Masak sih bik?"
" Iya non bik Mirna mah GK pernah bohong non, Santi kemana bik?"
" Kelihatannya kurang enak badan non dari kemaren sering izin ke ibuk untuk istirahat."
" Huh sudah diperiksakan bik?" Tanya Charissa dengan nafas beratnya.
" Belum non Santi kan takut jarum suntik non makanya dia gak mau kalau diajak kedokter."
" Ya udah nanti kalau gak mau biar aku suruh dokternya kesini aja ya bik.?"
" Non gak usah, nanti bik Mirna belikan obat di apotik saja non."
" Bik alangkah lebih baiknya kalau diperiksa oleh dokter langsung bik, jangan menyepelekan sakit."
__ADS_1
" Ya Allah non kenapa non Charissa itu baiiiiik banget sih non, semenjak kedatangan non Charissa dirumah ini rasanya rumah ini tuh damai banget non."
" Udah bik jangan berlebihan begitu ah, tidak baik." Jawab Charissa dengan menepuk pundak bik Mirna.
...****************...
Tok tok tok.
" Permisi."
"Masuk aja San." Saut Narendra dari dalam yang hafal suara dari Susan.
" Duduk San, Aku telpon Riyan dulu."
" Gak usah Ren." Saut Susan dengan memegang tangan Narendra seketika Narendra melirik tangan yang dipegang Susan.
" Oh maaf." Ujar Susan.
" It's okey. Gimana San? apakah Minggu depan sudah bisa diselesaikan?"
" Sudah kuduga pasti kamu menanyakan itu Ren. Aku jamin kamu pasti akan puas dengan hasilnya."
"Oh ya." Jawab Narendra dengan tersenyum.
" Kalau aku sih, yang penting Charissa suka biar bisa buat aktivitas dia agar tidak jenuh dirumah terus."
" Tapi bukankah istrimu sebentar lagi melahirkan, kenapa tidak menunggu habis lahiran saja?"
" Semua itu sudah aku pikirkan dari awal San, ya gapapa itu terserah dia aku hanya berdoa semoga saja dia mau menerimanya."
" Apa kamu tidak takut jika akan menganggu kehamilannya." Tanya Susan.
"kalau masalah mengganggu kehamilannya kayaknya tidak karena yang aku lihat meski dalam keadaan perutnya buncit, dia masih saja tidak mau berdiam diri dikamar atau istirahat terus menerus, malah lebih sering mengerjakan sesuatu yang tidak berguna, ada saja yang dia lakukan."
" Ya semoga saja Charissa menyukai ya Ren?"
" Yah itulah alasannya aku buatkan dia cafetaria atau butik, biar bisa membuat dia menjadi orang yang sibuk tapi berguna, lagi pula tempatnya juga tidak jauh dari kediaman jadi dia bisa dengan mudah mengunjungi kesana."
" Oh sialan enak sekali sija****Ng baru saja jadi istrinya sudah dapat perhatian yang lebih dari Narendra sedangkan aku, aku yang bertahun-tahun menemaninya sama sekali tidak ada gunanya, sabar Susan sabar tunggu saja tanggal mainnya." Batin Susan sambil tersenyum licik.
" Kalau kamu gak sibuk hari ini, Mari kita lihat perkembangan renovasinya langsung kesana, gimana Ren?"
" Oke sepertinya sudah selesai semua." Jawab Narendra sambil membuka berkas-berkasnya.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka untuk sampai ditempat cafetaria.
" Wow amazing ini sangat bagus banget menurutku San, hebat baru Minggu lalu kayaknya aku baru dari sini udah sebagus ini bangunannya sudah jadi."
" Masak kamu gak percaya gue sih Ren."
" Oke aku acungin jempol deh." Ujar Narendra sambil menepuk pundak Susan dengan mengajaknya masuk.
" Ini sangat cocok banget San untuk anak muda jaman sekarang yang suka nongkrong nih."
" Yah lebih tepatnya cocok untuk semua usia lah Ren."
" Oh iya juga sih, ini juga cocok untuk meetup bareng keluarga juga San."
"Mari kita kesana Ren?"
" Permisi ya pak." Sapa Susan kepada sang pekerja yang sedang merenovasi tersebut.
" Oh iya buk hati-hati."
" Nah ini yang lantai 2 nya Ren.?"
" Kamu hebat San bisa menemukan arsitek seperti ini, terimakasih ya?"
"Bukan aku tapi lebih tepatnya dia."
Narendra melihat sosok wanita yang membelakanginya.
" Sepertinya saya tau siapa dia, Ya benar itu Livia kenapa dia ada disini?"
" Maksud kamu?"
"Livia." Panggil Susan sambil menepuk pundak sebelah kanannya dari belakang.
" Ren apa kabar?" Tanya Livia dengan senyuman.
" Livia Kenapa kamu ada disini?" belum menjawab Narendra melontarkan pertanyaannya.
" Ren aku yang mengajak Livia kesini, dan semua ini berkat Livia, Livia yang sudah mencari arsitektur mulai dari dekorasi dan yang lainnya itu semua Livia Ren."
" Benarkah Vi?"
__ADS_1
Livia mengangguk mengiyakan.
" Terimakasih atas bantuannya, lain kali kamu gak usah seperti ini." Jawab Narendra dengan acuh.
" Narendra bolehkah aku ngomong sama kamu."
" Emmmh Boleh, mari kita kesana saja."
" Permisi pak." Sapa Narendra kepada kuli bangunan.
" Hati-hati pak buk." Ujar sang kuli bangunan.
Drttttt Drtttt Drttttt
Telpon berdering bunyi dari hapenya Susan.
📞" Halo bik, iya ada apa bik?" Ujar Susan yang sedang telpon dengan asisten rumah tangganya yang menjauh dari Livia dan Narendra.
" Terimakasih Ren kamu masih mau memberi kesempatan aku untuk ngobrol."
" Langsung to the point aja Vi, apa yang kamu mau omongkan?"
"Narendra? Livia? aku pamit pulang duluan ya?" Ujar Susan.
" Kamu mau pulang sama siapa San?" Tanya Narendra.
" Maaf Ren ada keperluan mendadak dapat kabar dari rumah katanya Tante Jessica pulang dari Jerman."
"Oh terus kamu pulang sama siapa, aku antar ya?"
" Gak usah, gak usah Ren, kalian lanjutin aja ngobrolnya aku gapapa kok, aku nanti pesen Grab aja."
" Oh ya udah kalau begitu hati-hati San." Ujar Narendra.
" Susan makasih ya, hati-hati." Ucap Livia sambil cipika-cipiki.
" Iya sama-sama kok Vi." Jawab Susan.
"Akhirnya rencanaku berjalan dengan mulus, aku fotoin mereka berdua, aku simpan dihandphone dulu, nanti kalau sudah waktunya aku jadikan foto ini buat bomeerang untuk sija*****g, huh Jangan harap kamu bisa dapetin Narendra, ya Sa?" Ujar Susan dari kejauhan yang masih belum meninggalkan tempat itu.
"Ren maafin aku ya, aku sangat menyesal sekali, setelah kejadian itu, Michael langsung memutuskan hubungan kami, aku menyesal Ren aku telah menuruti orangtuaku yang hanya memikirkan harta, bisnis dan bisnis, aku capek Ren, aku stres, aku memilih pulang ke Indonesia sendiri, aku tidak tahu harus kemana, aku diusir papa Ren." Ucap Livia dengan mata berkaca-kaca.
" Sejak kapan kamu pulang ke Indonesia?"
"Sudah beberapa bulan yang lalu Ren, aku coba telepon kamu tapi tidak bisa, kata Susan kamu ganti nomor telepon."Narendra mengangguk mengiyakan sambil berpaling dari Livia.
" Ren tolong maafkan aku Ren, maafin aku, aku sangat menyesal Ren."Ucap Livia sambil menangis memohon.
" Iya Vi aku udah memaafkan semuanya, aku udah melupakan semuanya, kamu yang tenang ya udah jangan sedih lagi." Ujar Narendra sambil memegang tangan Livia untuk menenangkan.
" Ren bertahun-tahun aku memendam semua ini, aku ingin bebas dengan jalanku dengan kebahagiaanku, aku tidak ingin menjadi boneka mereka Ren, tapi aku takut sisi lain aku sangat menyayangi mereka." Hiks hiks hiks.Livia menangis sesenggukan mencurahkan seluruh isi hatinya yang bertahun-tahun dia alami.
" Aku tahu posisi kamu sekarang memang berat Vi, tapi kamu juga harus tahu mereka seperti itu juga untuk kebahagiaan kamu, kamu tidak boleh seperti ini, coba kamu bicara baik-baik pada mama kamu siapa tahu akan memberi solusi untuk kamu, tidak baik memberontak orangtua." Ujar Narendra lagi.
"Aku takut Ren, Aku takut aku tidak pernah membuat papa semarah itu sampai-sampai papa ingin membunuhku." Hiks hiks hiks Livia menceritakan dengan sesenggukan badannya gemetar.
Narendra yang tidak tega melihat Livia menangis seketika Iba seakan-akan hatinya mengingatkan memory mereka berdua yang dulu, disaat Livia sedih, disaat Livia ada masalah, dan disaat Livia menangis Narendra yang selalu ada untuk dirinya Narendra yang melihat Livia gemetar langsung dipeluk dalam dekapannya untuk menenangkan ketakutannya.
" Vi jangan nangis Vi, kamu yang tenang ya."Ucap Narendra sambil mengusap pundak Livia.
" Terimakasih Ren kamu masih ada untuk aku. Ren bisakah kamu memberi kesempatan untuk aku, untuk memperbaiki hubungan kita lagi." Ucap Livia.
Degh
Narendra yang mendengar ucapan Livia seketika kaget dan melepaskan senderah kepala Livia, dia tersadar dan begitu kaget mendengar ucapan Livia, dia bingung akan perasaannya, bukankah ini yang sudah dinantikan olehnya selama ini, berharap Livia datang meminta maaf dan kembali kepadanya sebenarnya ini adalah harapanya saat kehilangan Livia, disaat dirinya hancur dia masih berharap perasaannya kepada Livia, seketika dia teringat pada Charissa wanita yang sudah menjadi istrinya, yang selalu baik pada keluarganya, yang begitu perhatian pada dirinya dan yang saat ini juga, sedang mengandung anaknya, Narendra bingung, Narendra dilema perasaannya campur aduk
"Kenapa Livia datang disaat waktu yang tidak tepat." Batin Narendra.
" Vi apakah kamu tahu, kamu tahu saat ini aku adalah siapa, aku ini sudah beristri Vi dan sebentar lagi istriku melahirkan."
" Aku tahu Ren, aku tahu semua itu kok Susan sudah menceritakan banyak kepadaku, dan itu tidak berpengaruh buat aku, aku tidak apa-apa kamu punya istri yang penting aku masih bisa bersama kamu Ren, karena aku tahu kamu menikah dengannya juga hanya sebatas rasa tanggung jawab itu, dan maaf sebelumnya memang aku salah dan mungkin semua ini sudah menjadi balasan dari perbuatanku yang dulu terhadap kamu, tapi kamu juga harus perlu tahu satu hal dari aku Narendra aku ikhlas dan aku tulus, aku masih saaangat mencintai kamu Ren, aku sayang Ren dan aku sangat menyesal dulu pernah ninggalin kamu maafkan aku Ren." Ujar Livia sambil menangis.
Narendra terdiam dan tidak biasa berkata apa-apa lidah kelu dia tercengang seakan-akan tidak bisa bicara sepatah kata.
" Sepertinya ini udah larut malam Vi, tidak baik buat kamu malam-malam jam segini masih keluyuran, para pekerja juga sudah selesai melemburnya kasian nanti kalau mereka hanya nungguin kita berdua."
" Iya Ren Terimakasih ya Ren."
"Kamu tinggal dimana, nanti aku antar?"
" Aku masih tinggal dihotel Ren mau beli apartemen juga baru bekerja beberapa bulan."
" Kalau kamu mau, kamu boleh tempatin apartemen aku ini kartunya besok barang-barang kamu bisa kamu pindahkan."
"Terimakasih banyak Ren, aku yakin kok Ren kamu pasti belum melupakan aku perasaan itu masih ada untuk aku Ren, aku harap kamu mau memberikan aku kesempatan lagi Ren." Ucap Livia sambil tersenyum.
__ADS_1