
CEKLEK
Sesampainya dirumah Narendra langsung masuk kekamarnya dia melihat istrinya yang masih memainkan handphonenya dilihatnya jam ditangannya yang sudah pukul 23:00 tapi istrinya belum tidur .
" Kenapa belum tidur."
" Egghhh gak tau susah banget kalau diajak tidur badannya udah sakit semua." Jawab Charissa sambil bangun untuk duduk bersandar dikasur.
" Ya udah tidur lagi sana, ini sudah larut malam tidak baik tidur jam segini!" Ujar Narendra sambil membuka kancing bajunya
Charissa sudah terbiasa melihat pemandangan Narendra yang seperti itu hanya saja mereka berdua masih malu dan masih menjaga satu sama lain, bahkan mereka berdua jika berganti baju harus dikamar mandi dulu
" Kamu sudah makan?" Tanya Charissa sambil mengelus-elus perutnya.
" Sudah kok tenang saja." Jawab Narendra dengan beranjak kekamar mandi.
Dikamar mandi Narendra masih terngiang-ngiang ucapan Livia, bagaimanapun dia masih sedikit khawatir akan tentang Livia, apakah dirinya masih menaruh perasaan terhadap Livia, disisi lain dia sekarang sudah menjadi seorang suami yang sebagaimana tetap harus bertanggung jawab penuh untuk keluarganya kelak.
"Huh. mengapa seberat ini tuhan." Batin Narendra sambil memejamkan matanya dibawah air shower yang mengalir dari atas kepalanya.
" Bukankah ini yang aku mau, bukankah ini saatnya yang tepat, Charissa itu siapa dia hanya wanita yang rela menjebakku demi kasih sayang dari keluargaku, dia hanya wanita kesepian akan kasih sayang keluarganya, ya benar dia hanya wanita yang cuman mencari perhatian dari keluarga HUTAMA." Batin Narendra.
" Ini aku siapkan bajunya kalau gak cocok, kamu bisa kembalikan lagi kelemari."
" Tidak terimakasih." Jawab Narendra dengan cuek.
" Kenapa dia begitu baik bahkan dengan badan yang begitu berat masih perhatian."
" Sa?" Panggilnya.
" Iya."Jawab Charissa dengan lembut.
" Kamu jangan terlalu perhatian ya, takutnya nanti kamu berharap lebih dari aku karena pada akhirnya aku akan tetap kembali pada Livia." Ujar Narendra.
" Bodoh kenapa aku harus mengucapkan itu " Batin Narendra.
" Maaf aku hanya melaksanakan kewajiban aku sebagai istri saja, jika ini salah aku tidak mengulanginya lagi." Jawab Charissa mengangguk mengiyakan dan tidak menjawabnya lagi, dirinya beranjak kekasur lampu kamarnya dimatikan oleh Narendra, perut buncitnya yang diselimuti disentuhnya, dielusnya seketika Charissa tersadar rasanya ingin sekali menumpahkan air mata tapi tetap ditahannya.
Degh...
Seketika Narendra merasa bersalah sudah mengucapkan perkataan itu, seharusnya dirinya juga tidak usah mengucapkannya, seharusnya dia berfikir yang lebih matang lagi, apa benar keputusannya akan kembali lagi pada Livia itu sudah tepat? bukankah itu akan sangat menyulitkan dirinya, yah memang benar jika dia kembali pada Livia dia akan mendapatkan cintanya kembali, tapi sisi lain dengan Charissa apakah Charissa tetap akan disampingnya jika Narendra memilih Livia? bahkan orang tuanya pun, pasti tidak segan-segan mengusirnya dan tidak akan mengakui sebagi keturunan HUTAMA dan semua itu juga akan berdampak pada Karirnya yang sudah dibangun bertahun-tahun, sampai-sampai masa mudanya yang seharusnya bersenang-senang bersama sahabatnya, waktunya tersita disibukkan oleh perusahaan yang dibangunnya, akhir-akhir ini saja semenjak Narendra menikah dia baru sering ngumpul bersama sahabatnya, berarti dibalik pernikahannya juga terdapat hikmah kebaikan tersendiri.
" Kenapa kamu seperti ini Rissa, tenang sa kamu tidak boleh seperti ini bodoh sekali sih kamu, tenang itu semua kan memang bukan hakmu, kamu hanya berhak untuk bayi ini, kalian berdua hanya sebatas ikatan atas dasar rasa tanggung jawab dan gak boleh lebih dari itu, ingat sa sadar, jangan sampai kamu menaruh harapan kepadanya kamu tidak berhak kamu tidak pantas, dia udah menghancurkanmu, seharusnya kamu membencinya jangan malah menaruh harapan kepadanya." Batin Charissa.
Pagi ini Charissa terbangun dengan tubuh yang berat, perutnnya yang semakin membuncit membuatnya agak susah untuk terbangun dari kasur.
" Mau kemana?" Tanya Narendra sambil menahan pergelangan tangan Charissa yang ada disampingnya.
" Waktunya sholat subuh, mari bangun berjamaah."
" Oh ya udah duluan saja."
__ADS_1
"Mau nungguin apa lagi?" Tanya Cahrissa.
" Masih mengantuk Sa, kamu duluan saja ya?"
Rajuk Narendra yang masih memejamkan matanya.
" Kalau nunggu ngantuk terus, kapan sholatnya bisa-bisa waktunya sholat subuh sudah habis." Gerutu Charissa.
" Iya iya lima menit lagi." Jawab Narendra sambil menyelimuti badannya.
Charissa melipat sajadahnya dia segera membereskan mukenanya kembali, diliriknya Narendra yang masih tidur mengekor sambil melongo, Charissa yang melihat pemandangan tersebut pun senyum-senyum sendiri melihat ekspresi lucu wajah suaminya saat tidur.
" Kalau diluar saja sok-sokan dingin padahal kalau tidur saja sudah persis kayak cacing kepanasan." Batin Charissa.
Charissa mencoba membuka selimut Narendra dengan sangat pelan niatnya hanya ingin membangunkan akan tetapi dirinya tidak berani, karena sadar diri apa yang sudah diucapkan Narendra tadi malam membuat dirinya takut dan lebih menjaga perasaannya kembali.
Charissa yang hendak membangunkan diurungkannya kembali.
"Lebih baik dibiarkan saja."batin Charissa.
"Tapi nanti keburu siang dia malah tidak sholat." batin Charissa lagi.
Sretttt
Narendra memeluk Charissa yang hendak membuka selimutnya dengan sigap Narendra mendekatkan wajahnya tepat dihadapannya.
"Lepasin, ini jam berapa kamu belom subuh Lo?"
"Iya iya sebentar saja, dingin nih." Ucap Narendra dengan menelusupkan kepala Charissa dipundaknya.
Narendra yang mendengar Charissa merintih kesakitan reflek seketika langsung melepaskan pelukannya.
Charissa beranjak bangun dari pelukan Narendra.
"Kamu baik-baik saja kan?"
" AhhH sakit."
" Sa aku ambilkan air minum ya?"Ucap Narendra yang khawatir dia merasa bersalah gara-gara dirinya yang memeluk Charissa dengan menekan paksa perutnya sekarang istrinya merajuk kesakitan.
" Gak usah kamu ambilkan air dikamar mandi saja?" Rajuk Charissa dengan nada kesakitan.
" Iya iya iya aku ambilkan." seketika Narendra lari kekamar mandi untuk mengambilkan.
" Sekalian Wudhu." Teriak Charissa.
Narendra yang tersadar dia keluar dari kamar mandi dengan wajah bengong.
" Udah gak sakit.?"
" Siapa yang sakit." Jawab Charissa dengan tersenyum kemenangan.
__ADS_1
"Charissa." Ujar Narendra dengan pasang wajah mengantuknya kembali.
" Sudah cepetan sholat, keburu siang Lo." Teriak Charissa.
" Iya iya bawel."
" Pagi ma." Sapa Narendra dengan mood yang bagus.
" Pagi sayang, ini mama ambilkan ya?"
" Gak usah biar disiapkan Charissa saja ma."
" Udah gak mual lagi Ren?"
" Sepertinya udah jarang mual ma kalau pagi."
" Oh ya udah suruh ikut gabung makan bersama kesini Ren kalau gitu " Saut pak Hutama.
" Iya lagi beresin handuk Rendra tadi."
" Nah ini mantu mama, Sini sayang duduk sini." Ujar b.Dewi
"Iya ma, Pagi ma pa." Sapa Charissa pada kedua mertuanya.
" pagi juga sayang."
" Bisa ambilkan nasi goreng itu kan ." Charissa yang mendapat perintah dari suaminya langsung mengambilkan.
" Mau sama telor apa ayam?" Tanya Charissa.
" Dua-duanya." Jawab Narendra dengan singkat.
" Ma papa berangkat duluan ya."
" Hati-hati pa."
" Sa makanannya dihabiskan ya ?"
"Siap pa. Hati-hati dijalan pa."
"Rendra berangkat ya ma."
" Kamu jaga diri baik-baik dirumah ya." Ucap Narendra sambil mengecup dahi Charissa yang dilihat oleh b.Dewi Charissa tersipu malu jantungngya berdetak lebih kencang sisi lain dia mengingat perkataan Narendra tadi malam seketika Charissa tersadar.
" Sa sadar sa ingat kamu gak boleh merasa senang dia hanya perhatian pada sibayi." Batin Charissa yang menenangkan dirinya.
Cup
Charissa mengecup tangan yang disodorkan oleh suaminya.
" Assalamualaikum hati-hati dijalan." Ujar Charissa.
__ADS_1
" Siap waalaikumsalam." Jawab Narendra singkat sambil berjalan keluar dengan menenenteng jas yang belum dipakainya.
B. Dewi yang melihat pemandangan indah merasa sangat bahagia akhirnya menantu dan anak laki-lakinya akur juga Narendra juga sudah banyak berubah dan benar saja kata asisten rumah tangganya jika kehadiran Charissa membawa dampak yang positif untuk semua orang yang berada disini.