
CEKLEK..
" Suami dari nyonya Charissa?" Tanya sang dokter. Semua orang saling melihat.
" Saya dok." Jawab Narendra dengan penuh percaya diri.
" Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Narendra.
" Kondisi bayinya sehat pak, akan tetapi dilihat dari kondisi ibunya yang terlalu sering pingsan, bisa jadi disebabkan oleh stres, yang terlalu banyak fikiran atau tekanan batin,dan saya sarankan agar bapak lebih hati-hati dalam menjaganya, karena jika kondisi bayi melemah itu rawan keguguran."
Seketika Narendra merasa bersalah dia sedikit mengkhawatirkan kondisi bayinya meski dia masih gengsi untuk mengakuinya.
" Boleh saya masuk dok?" Ucap mama Rani dengan begitu sedih.
" Silahkan. Harap 2 orang saja ya bu agar tidak menggangu ketenangan pasien."
" Baik terimakasih dok?"
" Sama-sama kalau begitu saya permisi dulu." Pamit dokter.
" Papa ngurus administrasi dulu ya ma?"
" Semua administrasi sudah saya urus."
Saut Narendra.
" Siapa kamu sudah lancang pada keluarga kami?" Papa Roni menenteng leher Narendra.
" Paaa paa udah paa." Ujar mama Rani dan langsung menuntun masuk suaminya kedalam kamar.
" Rennnn?" Ucap Bu Dewi yang menenangkan.
" Itu papa Ren?"
" Ada apa ini ma siapa yang sakit?"
" Charissa paa Charissa tadi pingsan."
" Coba kita masuk maaa?"
" Gak boleh paaa kata dokter, hanya boleh 2 orang saja yang jenguk."
" Gapapa cuma sebentar." jawab papa Roni.
Tok tok tok.
" Permisi. ?" pak Tama masuk.
Dan papa Roni menoleh kebelakang.
" Pak Tamaaaa?" Kaget papa Roni.
" Jadi pak Roni papanya Charissa?" Tanya pak Tama.
" Benar sekali pak."
" Maaa masukkk."Bu Dewi masuk dengan Narendra Dilihatnya Charissa yang masih belum sadarkan diri.
" Jadi dia anak pak Tama ?" Kaget papa Roni.
" Benar pak." Angguk pak Tama.
" Silahkan duduk bu." Ucap mama Rani mempersilahkan.
" Terimakasih bu Rani."jawab Bu Dewi.
" Begini saja pak langsung saja pada intinya, sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan anak saya tapi kami berjanji akan bertanggung jawab atas semua ini."
" Terus rencana kedepannya bagaimana.?" Tanya papa Roni.
"Dengan hati yang paling dalam saya meminta maaf terutama pada Charissa dan bapak ibu, karena saya telah berbuat tidak senonoh kepada Charissa, sejujurnya pada waktu itu saya khilaf saya tidak sadar dan saya mabuk, jika bapak ingin memenjarakan saya, saya siap untuk menanggung semua resikonya, dan jika bapak mengizinkan saya untuk bertanggung jawab, maka saya akan bertanggung jawab dengan menikahi Charissa." Ujar Narendra dengan tegas.
"Melihat kondisi Charissa yang saat ini belum memungkinkan alangkah baiknya kita bicarakan lagi besok pak Tama, karena kita masih tetap harus berbicara kepada Charissa terlebih dahulu saya tidak bisa membuat keputusan semata." Jawab papa Roni
" Baik pak Roni kalau begitu kami pamit duluuuu."
__ADS_1
" Iya pak hati-hati."
Sepanjang perjalanan mereka bertiga hanya terdiam, mereka memikirkan bagaimana nasib cucunya, bagaimana nasib Narendra jika Charissa tidak mau menikah dengan Rendra.
"Non mau sayurnya?" Tanya bik iyem.
" Udah bik pengen muntah?"
" Ya udah kalau gitu bik Iyem bersihkan dulu."
" Minum Sa ini?" beri Putri.
" Makasih put." bik Iyem keluar membereskan sisa makanan Charissa.
" Sa kamu gak kasihan sama bayi kamu?"
...Ya sepulang keluarga pak Hutama Charissa sudah sadar dan mama Rani menunggu Charissa dirumah sakit Hingga larut malam dia tidur dirumah sakit bersama bik iyem....
...paginya mama Rani mencoba membujuk Charissa mungkin traumanya yang begitu dalam sehingga dia bersi keras menolak pernikahan yang sudah dirundingkan bersama keluarga besar mereka berdua....
" Rendra kan sudah minta maaf dia berinisiatif baik Lo saaa?"
" Aku masih trauma Put aku takut!" Jawab Charissa sambil melamun mengingat kejadian waktu itu.
" Tapi nanti kasihan bayi kamu Lo sa dia kan juga butuh seorang ayah?"
" Tidak Putri kita masih bisa hidup berdua, kita pasti bisa melewatinya."
" Non Rissa tidak mudah non melewati hari-hari tanpa suami, apalagi jika kita menjadi seorang ibu, maaf non bukanya bik Iyem lancang memotong pembicaraan kalian, tapi bik Iyem memikirkan bayi yang ada dikandungan non Rissa suatu saat dia akan mencari ayahnya non, dia butuh seorang ayah, apa nona tidak ingat masa kecil non Rissa yang sangat menrindukan ayah Cahari?" Bibik sambil memeluk Rissa yang menangis dengan sesenggukan.
" Tapi Rissa takut bikkk. Rissa takut sama dia bik?" hiks hiks hiks.
" Ada aku sa ada Tante Dewi, dia akan melindungi kamu sa?"
" Yang terpenting semua untuk kebahagiaan bayi kamu, apa kamu tidak menginginkan rumah tangga yang bahagia, apalagi demi seorang anak, maaf sa sebelumnya apa kamu ingin anak kamu bernasib sama seperti kamu sa yang haus akan kasih sayang orang tua?" Saut Putri.
Rissa menangis sejadi-jadinya dipelukkan bik Iyem.
Putri memang benar dia tidak boleh egois memikirkan dirinya sendiri dia harus bangkit dari keterpurukan ini, jangan sampai anaknya bernasib sama seperti dirinya, yang haus akan kasih sayang orang tua apalagi merindukan sosok ayah kandungnya.
" Tapi kita tidak saling mencintai Put?"
...* * *...
Hari ketiga dirumah sakit kondisi Charissa sudah membaik, dokter menyarankan untuk pulang.
Narendra berjalan sendiri dilorong rumah sakit setelah pulang kerja dia langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui Charissa.
" Boleh saya masuk?" Tanya Narendra pada bik Iyem.
" Oh iya silahkan Den." Jawab bik Iyem.
Didalam ada Mama Rani yang sedang berbicara sama Charissa.
CEKLEK bunyi pintu.
"Maaa tolong disini saja ya." Ujar Charissa penuh ketakutan Tangannya pun semakin mendingin.
" Gapapa sayang ada mama disini nak?" peluk mama Rani menenangkan.
" Bolehkah kami berbicara sebentar Tan?" Tanya Narendra pada mama Rani.
" Sayang gapapa kan, aman kok nak, mama menunggu diluar saja ya sayang." Charissa mengangguk mengiyakan, dengan badan yang masih gemetar Charissa tidak ingin melihat pria tersebut dia melihat kearah jendela.
"Entah itu anak saya atau tidak, yang terpenting kita lakukan saja apa yang diinginkan orangtua kita." Ujar Narendra.
" Jika kamu hanya berbicara untuk merendahkanku, lebih baik pergi saja dari sini !" Jawab Charissa.
" Suatu saat bayi itu akan menanyakan siapa ayahnya, aku hanya ingin menawarkan, jika kamu mau menikah, kita bisa gunakan kesempatan ini, disini kita akan saling menguntungkan, kamu bisa mendapatkan seorang ayah dari bayi kamu, dan kamu juga akan dapat pengakuan dari ayah bayi kamu, begitupun dengan saya, saya tidak jadi dipenjara dan dijauhi sahabat maupun keluarga saya."
"Sayangnya aku tidak butuh pengakuan dari siayah bayi, aku bisa bertahan hidup bersama bayiku sendiri, tanpa hadirnya seorang ayah, aku pasti bisa merawatnya sendiri." Jawab Charissa dengan tegas.
" Benarkah? Suatu saat kamu akan membutuhkan kartu keluarga, terlalu kasihan jika sejak lahir bayimu tidak mempunyai seorang ayah, apa kamu mau jika anakmu akan dibully oleh teman-temannya kelak, apalagi jika ayahnya terlihat berkeliaran diluaran sana apa tidak membuatnya malu jika bayi itu tahu."
" Cukup." Bentak Charissa sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
" Baiklah kita menikah, tapi sampai bayi ini lahir setelah itu tolong jangan ganggu kami."
" Baik memang ini yang ku inginkan." Jawab Narendra dengan tersenyum penuh kemenangan.
...* * *...
" Tok tok tok."
" Masukkk."
" Hai put udah lama disini?" Tanya bu dewi.
" Udah agak lumayan Tan."
"Risaaaa sayanggggg?" Cium Bu Dewi.
"Tante bawain banyak makanan nih, Rissa mau apa cake? bolu pisang ada,?" Sambil mengeluarkan semua makanan dari kotak yang dibawanya.
" Sayur sup juga ada, makanan Padang ada, dan ini juga yang seger- seger sayang sayur asem daging?"
"Hoeeekkkk ." Rissa yang mencium bau daging langsung muntah, bik Iyem langsung mengambilkan ember.
" Kenapa sayanggg?" Tanya Bu Dewi.
" Rissa gak bisa makan daging Tan, tiap kali mencium aroma daging dia langsung muntah." Jawab putri.
" Oh begitu maaf sayang Tante gak tau?" jawab Bu Dewi.
" Jadi ini nyonya Dewi mamanya mas Rendra?"
Bik Iyem sudah mengetahui semua ceritanya dari mama Rani, bik Iyem disuruh menjaga Rissa 24 jam dan tidak diperbolehkan pulang hingga kondisi Rissa sudah sehat.
" Iya buk saya Dewi?"
" Panggil saya bik Iyem saja nyonya."
" Oh baik. Baik bik iyemmm." Jawab Bu Dewi dengan sangat ramah. Bik Iyem senang melihat Bu Dewi yang sudah begitu akrab dengan non Rissa, dalam hatinya berkata mereka berdua sangat cocok jika menjadi menantu dan mertua karena Bu Dewi yang ramah dan Rissa yang begitu baik bisa menjadi Keluarga yang bahagia untuk Charissa nantinya.
"Sa aku sama bibik mau keluar dulu yaaa.?"
" mau cari udara segar!"
" Iya puttt!" Jawab Rissa.
" Rissa mau cake? Tante suapin ya nak?"
Rissa mengangguk.
" Gimana keadaan kamu sayang udah enakan?" Tanya Bu Dewi.
"Udah mendingan kok tan, tidak lemes seperti kemarin,."
" Makannya gimana? masih doyan makan?"
" Awal-awal muntah terus Sekarang udah mendingan Tante!"
" Kamu masih enak Sa, masih doyan makan kalau mama dari awal hamil sampai melahirkan gak doyan nasi jadi makannya Tante cuman susu terus." Ujar Bu Dewi sambil menyuapi cake Charissa.
" Ini sayang tinggal satu suapan."
" Udah tannnn Rissa gak kuat pengen muntah." Jawab Rissa sambil mengunyah.
" Ya udah jangan dipaksa, sini Tante bersihin wajah kamu." Bu Dewi membersihkan wajah Charissa dia merawat Charissa dengan baik dan terakhir dia memakaikan liptin tipis-tipis dibibir Rissa, dia nampak begitu cantik meski beberapa hari tidak mandi.
" Tante pamit pulang ya sayanggggg."
" Emmmuuuacch" cium Bu Dewi didahi Charissa.
" Tan?" Panggil Charissa dengan menahan tangan budewi.
" Iya nak."
" Charissa mau menikah." Bu Dewi kaget seketika dia menangis langsung memeluk Charissa.
" Benarkah sayang?" Rissa mengangguk.
__ADS_1
" Terimakasih sayanggg tante janji akan merawat kamu dan cucu Tante dengan baik, Tante akan menganggap kamu seperti anak sendiri nak. tante yang akan melindungi kamu jika Narendra menyakiti kamu, ya Allah Rissa tante gak nyangka terimakasih sayang sudah mau menerima Narendra." mereka berdua menangis berpelukan. Bu Dewi menyeka air mata Charissa.
" Mulai sekarang panggilnya jangan tante lagi ya tapi mama?" Ujar ibu Dewi.