
...Kepulangan Livia keindonesia...
...Seminggu setelah kepulangan Oma Narendra, dia tetap dingin kepada papanya, dia tau bahwasanya papanya juga akan bersi kokoh tetap menjodohkannya dengan Susan, sampai kapanpun dalam hati Narendra tetap hanya ada Livia dan sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa menggantikan Livia diruang hatinya....
" Halo sayang." Ucap Narendra yang sedang video call dengan kekasihnya yang memang begitu cantik dan sexy, pria mana yang tidak akan terpesona dengan kecantikan Livia, Livia wanita yang berparas cantik tingginya 177 bodynya yang begitu sexy itulah alasan yang membuat laki-laki langsung terpesona jika melihatnya, bukan hanya itu kecantikan Livia juga sudah dia bawa dari lahir hingga sekarang, memang sangat cocok dan pantas jika dia menjadi model kelas dunia.
" Halo. Sayang kamu sibuk gak hari ini?" Tanya Livia.
" Kalau buat kamu sih gak ada kata sibuk."
" Ada apa?"
" Sayang lihat dibelakangku."
" Kamu lagi dimana, dibandara?"
Livia mengangguk mengiyakan.
" Ok kamu disitu aja gak usah kemana-mana aku jemput Sekarang juga."
" Yes baby I'll wait."
...Narendra berlari keluar didepan kantor para karyawan terheran tidak seperti biasanya atasannya bisa tersenyum lebar bahagia sambil berlari gugup, Narendra masuk kedalam mobil sportnya, dia melaju kencang agar bisa sampai ke bandara dengan cepat dia senyum-senyum sendiri sambil nyetir gak disangka kekasihnya pulang tanpa memberitahunya, Narendra begitu bergembira hari ini, sudah 2 tahun dia tidak jumpa dan hari ini juga dia diberi kejutan kabar gembira jika wanita yang dirindukan ternya sudah menginjakkan kaki di Indonesia, sungguh kebahagiaan hari ini dia bisa menemuinya secara langsung Narendrapun masih tidak menyangka, mimpi apa semalam, batin Narendra....
Dengan membutuhkan waktu 45 menit akhirnya Narendra sampai di Soekarno Hatta dia langsung mencari sang kekasih dan dia masih paham betul postur tubuh kekasihnya, dia hafal postur tubuh Livia, dalam batinnya Livia tidak akan berubah menjadi gemuk, karena Livia adalah seorang model kelas atas jadi gak mungkin Livia berubah menjadi gemuk.
" Sayang." Sapa Narendra sambil menepuk pundak Livia
" Hai sayang." Jawab Livia
Nah benar Narendra masih hafal betul dan dia tidak salah dengan orang yang berada di depannya, Mereka saling berpelukan melepas rindu dan tidak mempedulikan sama orang yang disekitar.
" Maaf ya nunguin lama?"
" Enggak kok sayang."
" Ayo." Ucap Narendra
" Kamu udah makan." Tanya Narendra
" Udah kok sayang."
" Kamu mungkin yang belum makan."
" Kok tahu?"
" Aku sudah hafal kamu tuh susah banget kalau soal makan."
" Langsung keapartemen saja ya kamu capek kan?" Tanya Rendra.
__ADS_1
" Okay come on"
...Livia di Indonesia sudah tidak punya siapa-siapa karena keluarganya sudah diboyong semua ke Australia mungkin masih ada beberapa kerabat nya tapi Livia tidak begitu dekat, jika dia tidak bersama mamanya Livia juga tidak akan kenal dengan kerabatnya yang diindonesia, mama Livia asli orang Indonesia dan papa Livia asli orang Australia, Narendra sudah paham betul kehidupan Livia makanya Livia langsung dibawa pulang keapartemennya....
"Kenapa kamu pulang gak bilang-bilang?" Tanya Narendra sambil duduk santai diruang tengah bersama Livia.
" Aku pengen ngasih kejutan kekamu!"
" Gimana kabar mama papa kamu disana?sehat semua?."
" Ya begitulah, mama papa sehat hanya saja perusahaannya sedikit menurun."
" Terus? apa aku bisa bantu?"
" Aku akan terbang kesana jika memang dibutuhkan?"
" Gak usah repot-repot."
" Kamu tetap disini aja dulu ngembangin usaha-usaha kamu disini toh sekarang sudah mencapai tahap kelas dunia kan, bahkan sudah mengalahkan perusahaan papaku disana!"
" Ya gapapa kan lebih enak kalau kerjasama bareng calon mantu, itung-itung biar kita cepat nikah biar kita cepet-cepet dibolehin nikah."
" Tapi semuanya udah terlambat Ren." Batin Livia dalam hati.
" Kamu bisaaa aja jawabnya ." Ujar Livia sambil mencubit hidung Narendra, mereka bertatapan mereka memadu kasih Narendra semakin mendekatkan bibirnya dan mereka berciuman Dengan syahdu. Narendra sangat bernafsu ingin melakukan hingga kelewat batas akan tetapi Livia segera mencegahnya Livia masih sadar apa yang dilakukan Narendra itu tidak dibenarkan, dan mereka mengakhiri adegan itu, mereka saling diam satu sama lain.
" Gapapa kok." Jawab Livia dengan rasa bersalah.
" Ya sudah kamu tidur sana gih."
" Aku akan tidur di sofa saja."
Livia mengangguk.
"Selamat pagi pak?" Sapa para karyawan Narendra
" Pagi." Jawab narendra dengan penuh kebahagiaan, karyawan Narendra sangat senang karena ternyata atasannya bisa tersenyum lebar bahagia, mereka banyak yang heran karena sikap Narendra berbeda dengan hari - hari sebelumnya, yang selalu menampakkan wajah Judas dan arogannya.
" Ini pak yang harus ditandatangani." Ujar Rian sang sekretaris Narendra, Rian sekretaris Narendra yang sangat cocok untuknya, karena Rian adalah orang yang disiplin dan selalu menuruti apa yang diminta oleh narendra, Rian tidak pernah mengeluh dengan segala pekerjaan yang diberikan oleh Narendra, dan baru kali ini Narendra mendapatkan sekretaris yang bisa bertahan lama biasanya bisa satu taun ganti 10x.
" Rian hari ini jadwal miting jam berapa?"
" Jam 11 nanti pak, miting untuk persiapan proyek yang baru"
" Bisa dipercepat jam 9?" Tanya Narendra yang ingin cepat cepat segera pulang keapartemennya untuk segera bertemu sang kekasih.
" Baik pak nanti saya akan segera mengabari yang lainya."
" Ok terimakasih atas kerjasamanya."
__ADS_1
" Besok gaji kamu akan saya naikkan."
" Terimakasih banyak pak." Jawab Rian dengan senyum bahagianya.
Gak ada hujan gak ada angin Rian terheran karena bosnya udah 4 hari ini Selalu masang wajah senyum sumringah penuh kebahagiaan, apalagi akhir-akhir ini Rian juga jarang kena semprot ditambah lagi malah gajinya dinaikkan.
"Ya ini yang namanya buah dari kesabaran." batin Rian.
" Ma ?"Tanya pak Hutama pada Bu Dewi.
" Mama tau gak, kenapa Narendra gak pulang berhari - hari, apa iya dia masih marah sama papa?"
" Papa sih. Lain kali jangan seperti itu pa."
" Mama udah coba telepon?"
" Udah pa. Narendra beberapa hari ini menginap diapartemennya,"
" Ada teman yang dari luar negeri, katanya sih temanya sedang liburan dan gak punya kerabat disini."
" Beneran begitu ma."
" Mama jangan asal percaya jangan- jangan itu hanya akal-akalan dia saja Lo ma."
" La terus ngapain pa Narendra itu nginep diapartermenya, kalau gak ada temannya yang sepesial. "
" Sepesial?" Pikir pak Tama.
" Nah bener kan ma. Udah papa duga pasti si Livia itu pulang ke Indonesia."
" Ya ampun iya ya pa. Mama kok gak mikir sampai sejauh itu." Sedih Bu Dewi.
" La makanya. Sudah-sudah besok ayo kita langsung samperin keapartemennya saja."
Angguk Bu Dewi smbil memeluk suaminya.
" Narendra ya Allah nak kamu keterlaluan banget sih nakkkk, bikin mikir mama papa." Sedih Bu Dewi.
" Udah - udah jangan sedih. "
" Yang lebih sedih tu papa. Papa itu masih ingat sekali sama almarhum Antoni dia dulu sangat berjasa sama papa dia yang udah bantu papa dari perusahaan papa yang hampir jatuh ketitik terendah, untungnya ada Toni ma." Cerita pak Tama sambil mengingat kenangan bersama sahabatnya .
" Terus gimana lagi sih pa, Narendra itu susah sekali diatur kamu tau sendiri keras kepalanya seperti apa sampai-sampai dia mendirikan perusahaan sendiri gitu ."
" Ya karena dia orang yang gak mau diatur, ya begitulah anakmu itu ma." Ujar pak Tama.
" Papa." tangis Bu Dewi
"Iya iya iya maaf." Jawab pak Tama dengan menenangkan.
__ADS_1