Sincere Heart

Sincere Heart
Chapter 31 Acara 7 bulanan


__ADS_3

AUTHOR POV


Narendra memasuki ruangannya dilihatnya jam tangan yang sudah berada dipukul 5 sore dia mengelap keringatnya aktivitas hari ini sangat membuatnya begitu lelah sehari saja bisa bertemu 2 klien.


Tok tok tok.


" Masuk."


" Ini pak berkasnya tinggal anda tanda tangani."


" Sudah selesai semua Yan?"


" Sudah pak."


" Baiklah terimakasih." Jawab Narendra sambil mengecek berkas-berkas tersebut.


"Oh iya tunggu Yan?"


" Ada ap pak?"


" Gimana kamu udah dapat arsitektur buat renovasi pembangunan kafetaria?"


" Oh iya pak sudah kebetulan orangnya juga jadwalnya kosong katanya."


" Nah cocok berarti."


Tok tok Tok


" Masuk."


" Hai Ren aku mau ngabarin kamu nih."


" Duduk dulu San, kebetulan ini ada Riyan juga."


" Gimana rencana untuk tempat yang kamu tawarkan kemaren?"


" Oh iyaa Ren aku kesini juga mau bilang masalah ini sama kamu, dari pihak pemilik sudah fix dia milih kita katanya juga cocok dengan harga yang kita beri."


" Terus untuk status gedung dan tanahnya gimana?"


" Oh kalau itu sudah jelas semua dan bersertifikat nanti kalau kamu ada waktu kita temuin bersama gimana?"


" Maaf San kalau aku kemungkinan belum bisa karena pekerjaanku masih sangat banyak bagaimana kalau kamu sama Riyan dulu saja nanti biar kalau ada apa-apa Riyan tinggal hubungin aku aja?"


"Bukan begitu Yan?" Tambahnya.


" Siap pak ." Jawab Riyan.


" Mbak Susan nanti tinggal ngabari saya hari apa kita bisa mengunjungi kesana mbk." Tanya Riyan.


" Dan kata Riyan Arsitekturnya juga lagi kosong untuk bulan ini jadi alangkah lebih baiknya kalau bisa segera dipercepat ya San."


" Siap Ren." Jawab Susan sambil mengacungkan jempol.


"Bagus rencanaku bakal berjalan dengan mulus jika Narendra tidak mengetahui yang sebenarnya." Batin Susan dengan tersenyum licik.


...****************...


KEDIAMAN HUTAMA


Semua orang sibuk mempersiapkan acara tingkepan Charissa terutama Bu Dewi dia yang sangat antusias dalam acara ini karena memang Bu Dewilah yang meminta diadakannya acara 7 bulanan Charissa. Dan sebenarnya Narendra tidak setuju karena apa yang dilakukan mamanya sangatlah berlebihan dia hanya ingin acara 7 bulanan itu penuh kesederhanaan.


Orang-orang mendekorasi semua sudut ruangan ada yang bersiap-siap untuk memindahkan perabotan, ada juga yang memberikan hidangan untuk kru dekorasi.


" Semuanya udah siap bik?" Tanya Bu Dewi pada bir Mirna.


" Iya nya."


" Charissa dimana bik kok gak kelihatan dari tadi?"

__ADS_1


"Lagi dikamar nya istirahat mungkin nya."


Tok tok tok


" Sa kamu sehat kan nak?"


" Sehat kok ma ini aku tadi cuma pengen istirahat saja "


" Iya sayang gapapa, Mama cuman pengen tahu seberapa kesiapan kamu, kebayanya sudah dicoba kan Sa gimana cocok gak? "


" Iya ma bagus kok Charissa suka."


" Ya udah kamu istirahat aja ya, mama mau lihat kedepan lagi."


" Iya ma."


...Mitoni, tingkeban, atau Tujuh bulanan merupakan suatu prosesi adat Jawa yang ditujukan pada wanita yang telah memasuki masa tujuh bulan kehamilan. Mitoni sendiri berasal dari kata “pitu” yang artinya adalah angka tujuh. Meskipun begitu, pitu juga dapat diartikan sebagai pitulungan yang artinya adalah pertolongan, di mana acara ini merupakan sebuah doa agar pertolongan datang pada ibu yang sedang mengandung. Selain mohon doa akan kelancaran dalam bersalin, acara mitoni ini juga disertai doa agar kelak si anak menjadi pribadi yang baik dan berbakti....


...Dan sedikit banyak Bu Dewi memang masih keturunan dari orang Jawa itulah alasannya jiwa turunan Jawa yang masih sangat mengental menjadikannya untuk membuat acara seperti itu, bahkan saat hamil Narendra dan Laras BuDewi juga meminta acara tingkepan meski orang tua Bu Dewi sudah meninggal dia tetap tidak akan meninggalkan adat Jawa dalam naluri dirinya, mengingat anak pertama satu-satunya dulu juga tidak diadakan acara 7bulanan dirumahnya karena Laras sudah tidak serumah dengan Bu Dewi dan waktu laras hamil dulu sudah tinggal bersama mertuanya acara tingkepan Laraspun diadakan dengan sederhana, itulah alasannya kenapa Bu Dewi sekarang sangat menginginkan acara ini diselanggarakan dirumahnya....


...****************...


PAGI YANG PENUH BAHAGIA


Upacara mitoni atau tingkepan diawali dengan upacara sungkeman. Sungkeman dilakukan pertama-tama oleh calon ibu yakni Charissa kepada calon ayah (suaminya), kemudian Charissa dan Narendra, melakukan sungkeman kepada kedua pasang orang tua mereka. Intinya adalah memohon doa restu agar proses kehamilan dan kelahiran kelak berjalan dengan lancar dan selamat.


"Hati-hati bisa berdiri nggak?" Tanya Narendra sambil tertawa sedikit melihat istrinya yang kesusahan berdiri karena terhalang oleh perut buncitnya.


"Rendra tolongin dong istrinya."


" Jangan khawatir Ma, Ini dari tadi Rendra udah pegangin." Ucap Narendra Charissa melirik dengan mengerutkan kedua alisnya.


"Dingin?" Tanya pelan Narendra,


Charissa mengangguk dengan menyeka wajahnya, sesepuh berjalan mendekati guci yang didalamnya berisikan air terdapat bunga mawar lalu menyiramkannya pada Charissa.


Ada beberapa rangkaian upacara yang dilakukan dalam mitoni, yaitu salah satunya siraman sebagai simbol dan seperti yang sudah dilakukan oleh Charissa dan Narendra, acara tingkepan tidak dilakukan semuanya sesuai adat hanya prosesori beberapa saja dan setelahnya memasukkan telor ayam kampung ke dalam kain calon ibu oleh sang suami, ganti busana, memasukkan kelapa gading muda, memutus lawe/lilitan benang/janur, memecahkan periuk dan gayung, minum jamu sorongan, dan nyolong endhog (mencuri telur). Rangkaian upacara itu dipercaya sebagai prosesi pengusiran marabahaya dan petaka dari ibu dan calon bayinya.


Dan yang terakhir, mencuri endhog atau telur, dimana Narendra disuruh mencuri telor, dimana yang diartikan sebagai perwujudan atas keinginan calon bapak agar proses kelahiran berjalan dengan cepat, secepat maling yang mencuri.


" Putri, Miko." teriak Charissa dengan antusias sambil mengangkat roknya yang ingin berlari menghampiri sahabatnya.


" Sa hati-hati ingat kamu ini sedang membawa bayi dalam perut kamu." Ujar Narendra sambil menahan pergelangan tangan Charissa yang hampir saja membahayakan bayinya.


" Maaf." Lirih Charissa dengan mata berkaca-kaca.


" Ayo jalan pelan-pelan gak usah lari ." Ujar Narendra lagi sambil menggandeng tangan istrinya yang berjalan menuju sahabatnya.


"Putri? Miko?" Panggil Charissa kepada kedua sahabatnya dengan menepuk pundak mereka dari belakang.


"CHARISSA." Jawab mereka berdua dengan serentak.


" Aaaaaa Kangen." Sontak Charissa memeluk sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa, Narendra yang merasa dicuekin bergegas menjauh dari istrinya dibiarkannya istrinya untuk mengobati rasa rindunya kepada sahabatnya.


" Aku kesana dulu Sa." Charissa hanya mengangguk mengiyakan.


" Sambil dinikmati ya Put, Miko." Ujar Narendra sambil menepuk pundak Miko dengan beranjak pergi.


"Iya terimakasih." Jawab Putri, dan Miko hanya menjawab dengan tersenyum sinis.


" Iiiiihhh sejak kapan dia tau nama kita Put?" Ujar Miko.


" Ko udah udah gak usah dipikirin." Jawab Putri Charissa yang tau bahwasannya Miko masih membenci Narendra langsung mengalihkan suasananya.


" Ayo kita duduk disana saja." Ujar Charissa.


"Silahkan tuan Putri." Ujar Miko dengan penuh perhatian mempersilahkan Charissa duduk dan membukakan kursi yang akan ditempati.


" Emmmm terimakasih Miko." Jawab Charissa sambil merajuk manja.

__ADS_1


" Kalian udah makan semua."


"Udah Sa aku sudah mencicipi dawet disana tadi."


"Enak Put?" Tanya Charissa.


" Enak Sa Rujaknya juga Seger, Miko aja Sampek ambil banyak Lo Sa."


" Masak Put? ngalah"in orang hamil kamu Ko kalau makan rujak."


" Gapapa Sa, biar bisa ketularan kaya kamu."


Hahahaha


Sontak Charissa dan putri dibuat tertawa bersama oleh Miko.


Susan dan Shella menatap penuh kebencian, mereka memandangi dari kejauhan, mereka yang melihat pemandangan Charissa sedang tertawa dengan sahabatnya membuatnya semakin kesal kepanasan.


" Tenang aja Shel sekarang mereka boleh tertawa dengan bahagia tapi kita tunggu saja tanggal mainnya."Ujar Susan sambil memegang gelas yang ada ditangannya.


" Hahaha oke oke gue percaya Lo kok, sebenarnya gue juga udah muak melihat Charissa yang masih bisa tersenyum bahagia." Jawab Shella penuh kebencian.


"Sayang Mama pulang dulu ya nak." Ujar Mama Rani.


" Mama hati-hati ya ." Jawab Charissa sambil mencium pipi kanan kiri Mamanya.


" Kamu jaga diri baik-baik ya nak."


" Iya ma." Jawab Charissa dengan pelan.


" BuDewi nitip Charissa ya."


" Siap Bu Rani, Jangan khawatir Charissa ini udah aku anggap seperti anak sendiri Bu Rani gak usah khawatir Charissa disini juga banyak yang menyayangi.


" Terimakasih Bu." Saut Papa Rony.


" Nitip Charissa ya Ren." Ujar Papa Rony.


" Papa gak usah khawatir, akan kupastikan kalau Charissa disampingku pasti aman kok Pa."


"Terimakasih Ren, Papa percaya kok sama kamu."


" Mari pak Hutama." Ucap Papa Rony lagi sambil berpelukan pada pak Hutama.


" Hehehhe Terimakasih ya pak atas kehadirannya."


" Sama-sama pak ini kan juga acara cucu saya jadi tidak perlu berterimakasih pak." Jawab Papa Rony.


"Mari pak Bu." Ucap Mama Rani berpamitan ayo Shella.


"Iya ma, aku pamit dulu ya Mbak."


Charissa hanya mengangguk mengiyakan.


selesai sudah acara tingkepan 7bulanan Charissa sepasang calon ayah dan ibu istirahat dikamar dilihatnya jam sudah pukul.21:00.


" Kamu kenapa?Capek?" Tanya Narendra sambil bersiap membaringkan tubuhnya yang seharian begitu lelah diacara yang digelar oleh mamanya untuk bayinya.


" Enggak hanya saja punggungku terasa sakit." Jawab Charissa dengan memijat pundaknya.


" Sudah sini, tiduran aku pijitin." Charissa yang memang begitu merasa kelelahan menuruti ucapan Narendra.


" Aduh jangan keras-keras sakit."


" Ini udah pelan-pelan Sa."


" Sebelah sini." Jawab Charissa sambil menunjuk pinggangnya dengan memunggungi Narendra.


Narendra yang tau Charissa ketiduran segera diselimutinya dia menatap wajah cantik istrinya ditatapnya dengan intens semakin hari semakin cantik wajah istrinya. Batin Narendra.

__ADS_1


__ADS_2