
"Sa yang sabar ya?"
" Kamu harus kuat, suatu saat mama Rani akan tahu semua kebenarannya kok sa." Ujar Putri yang menenangkan Charissa.
" Put aku gak kuattt putttt." Jawab Charissa yang duduk melemas.
" Tidak kamu kuat kok sa, kamu harus kuat."
Jawab putri dengan memegang pundak Charissa dengan menguatkan.
" Aku bunuh saja bayi ini Put. Aku bunuh saja." hiks hiks hiks.
" Jangan sa kamu gak boleh gitu, istighfar."
...* * *...
Malam berganti pagi.
Klinnnggg pesan WhatsApp masuk.
"(Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Diberitahukan bahwa besok sudah bisa mengambil toga wisuda beserta undangan. Maka dimohon untuk calon wisudawan mengambil diruang TU.
Terimakasih
Wassalamu'alaikum wr wb)."
"(Sa besok aku jemput kalau mau ngambil toga)" Pesan WhatsApp dari putri.
" ( iya putri.)" jawab rissa.
Dia sangat bersyukur masih diberikan sahabat sebaik putri dan Miko.
...* * *...
"Paaaa?"
" Ada ap sih ma?" Jawab pak Tama yang sedang baca buku sambil menyandar ditempat tidurnya.
"Papa masih ingat sama Charissa kan?" Tanya buDewi.
" Yang nolong mama waktu kejadian dimall itu Ada Pa memangnya ma." Tanya pak Hutama.
" Iya pa."
" Dia hamil pa."
" Terus? Ya syukurlah kalau udah menikah ma, semoga kita juga segera dapat cucu dari Narendra ma."
" Papa benar sebentar lagi kita akan dapat cucu dari Rendra paaaa."
"Maksud mama, Narendra udah mau sama Susan ma?" Tanya pak Hutama dengan antusias.
" Bukan pa.Tapi bayi yang dikandung Charissa itu cucu kita pa anak Narendra."
" Maa kalau bercanda jangan berlebihan ?" Jawab pak Tama sambil menggelengkan kepala.
" Mama beneran pa." Pak Tama mencopot kacamata yang dipakainya dia tercengang dengan perkataan istrinya. Sambil menggertakan gigi bawahnya dengan memejamkan mata pak Tama masih gak percaya apakah yang dibicarakan istrinya itu benar atau tidak.
" Buat ulah apalagi sih maaaa Narendra?" Jawab pak Tama sambil memijit pelipisnya.
" Gimana ceritanya dia sampai kenal Narendra?"
Marah pak Tama.
" Dari awal papa udah curiga ma, wanita itu pasti ada maunya dia mau nolong mama tujuanya hanya untuk mendekati keluarga kita." Ujar pak Tama.
__ADS_1
" Bukan pa bukan." Saut Bu Dewi.
" Ini salah mama pa mama yang awalnya menyuruh Rissa mengantarkan bucket bunga keapartermennya Narendra, mama menyuruhnya agar membujuk Narendra, siapa tau waktu Narendra pergi dari rumah Narendra mau pulang, dan terjadilah seperti itu." Tangis Bu Dewi.
" Mama tau dari mana kalau ceritanya seperti itu? Bisa jadi Charissa yang mengarang cerita ma?"
" Tidak pa Charissa itu orang baik, mama udah 2bulan mencari keberadaan Charissa dan ternyata Charissa menghindari mama karena takut sendiri pa, dia sampai trauma pa." Bu Dewi menceritakan sambil menangis.
"Yang cerita mama itu putri sahabat Charissa." Tangis Bu Dewi sesenggukan.
" Ya ampun maaa, kok bisa begini sih." Pusing pak Tama sambil duduk dia menyenderkan kepalanya dikasur.
"Sebenarnya Charissa anak orang kaya paaa. sudah 5 bulan dia meninggalkan rumah."
"Tapi orangtuanya tidak mengetahui karena orangtuanya berada diluar negri alasan dia meninggalkan rumah karena saudara tirinya yang benci padanya."
"Kata Putri dia juga sering difitnah sama saudara tirinya agar mama kandungnya juga membencinya,"
" Bahkan Charissa pergi dari rumah juga untuk menghindari saudara tirinya paaa."
" Dan Minggu lalu Charissa baru mengetahui bahwa dirinya hamil, dia setres dia ingin bunuh diri paaa?"
" Gimana rasanya kalau semua itu dialami oleh Laras anak perempuan kita paaa, Charissa cukup menderita paa, terlalu berat yang dialaminya." Tangis Bu Dewi sambil menceritakan.
" Kasihan juga anak itu ma!"
" Papa tidak masalah jika papa punya menantu kaya atau bukan, tapi papa tidak rela jika calon cucu papa menderita seperti Charissa terlalu menyedihkan untuk Charissa maaa, kasihan dia, dia tidak bersalah." Iba pak Tama.
" Narendra harus mempertanggungjawabkan perbuatannya maaaa."
"Benar-benar nekat tu anak maaa, tidak direstui malah mencoreng nama baik kita." Sedih pak Tama.
" Dimana dia sekarang? akan kubantai dia." Marah pak Tama.
" Paaa Narendra tidak bisa dihadapi dengan kekerasan paaa."
jam 23:00
"Halo kamu dimana?"
" Masih dikantor ada apa?"
" Bisa pulang sebentar?"
" Ya ." ketus Narendra.
Belum kunjung akur, Narendra sudah membuat masalah lagi kepada orangtuanya,
setelah kejadian 2 bulan lalu Narendra yang meninggalkan rumah dia tidak pernah memanggilbya papa mereka berdua berbicara hanya seperlunya, begitupula dengan papanya, mereka berdua memang sama-sama keras kepala.
...* * *...
" Siapa wanita yang pernah kamu tiduri?Jawab Rendraaaaaa." Murka pak Tama.
" Gak ada"
" Jawab dengan jujur sambil menenteng kerah baju Narendra."
"Dia udah hamil 2 bulan." Ujar pak Tama Bu Dewi hanya menunduk menangis di kursi tamu, ya Narendra saat ini disidak oleh keluarganya.
"Maaaa.mama pasti dikasih tau wanita itu kan? maa dia cuman drama saja maaa, dia itu emang berniat ingin menjebak keluarga kita, agar dia bisa menjadi bagian keluarga kita banyak ma wanita yang ingin dipersunting oleh Rendra tapi mereka tidak seperti wanita itu, dia wanita licik dia mendekati keluarga kita dengan berbagai cara maa." Narendra membela dirinya dalam hatinya siapa tahu mamanya lebih memihak kepadanya.
" Cukup RENDRAAA." Murka sang papa.
" Alasan apa lagi yang kamu buat. Haaa?"
" Jadi benar kamu sudah menidurinya hingga membuatnya hamil?"
__ADS_1
" Ya memang Narendra menidurinya, tapi Rendra gak sadar, waktu itu Rendra mabuk berat pa, dan semua itu dimanfaatkan olehnya."
" Dimanfaatkan gimana? Jelas-jelas Charissa itu sudah kamu buat hancur, harapannya, cita-citanya semua pupus gara-gara kamu, bahkan dia mau bunuh diri setelah dia tahu kalau mengandung anak kamu."
" Halah itu cuman akal-akalannya saja pa, dia kan jago akting."
" Kamu itu sampai kapan seperti ini, bukan menyadari kesalahan malah menyalahkan, papa gak mau tau kamu harus bertanggung jawab apa yang sudah kamu perbuat."
" Paaaa papa jangan terjebaak dengan tipu muslihatnya, dia itu wanita jahat licik yang hanya menginginkan harta kita pa."
" Sudah papa gak mau tau pokoknya kamu harus menikahinya, setidaknya kamu harus belajar bertanggung jawab atas apa yang kamu perbuat."
" Kalau kamu gak mau, baiklah terserah kamu pergi dari sini keluar dari keturunan Hutama." Ujar pak Tama dengan tegas .
Pak Tama dan bu Dewi meninggalkan Rendra diruang tengah.
Rendra marah dengan membanting barang disekelilingnya.
" Haaaaa anj**** kenapa bisa seperti ini sih." dia mengacak-acak rambutnya.
...Pagi yang cerah Charissa meminum susu Prenagen Charissa mengelus-elus perutnya hatinya berkata anaknya harus tumbuh sehat, anaknya harus kuat tidak boleh lemah. dia sangat menyesal dengan tindakannya yang akan membunuh janin tersebut Charissa menangisi perbuatannya dia sangat menyesal, saat ini tujuannya cuma satu yakni janin yang dikandungnya harus lebih kuat dari dirinya, karena sekarang bayinya adalah satu-satunya harapan Charissa. Jangan sampai dia menderita seperti dirinya, dia berjanji akan selalu memberi kebahagiaan....
" Put kamu sampai mana?" Telpon Charissa pada putri
" Ini udah sampai depan kosanmu Sa."
" Ok aku akan keluar putri."
" Udah siap?"
"Iya Put " Jawab Risa sambil memasang sabuk pengaman.
" Put pulang kampus mampir kekantor mama ya?" Pinta Charissa.
"Mau apalagi Sa?"
" Mau nganterin undangan, untuk mama?"
" Kamu udah siap Sa ngadepin semuanya?"
" Siap gak siap aku harus menerima konsekuensinya, aku harus nerima semua Kenyataan ini Put. Ya harus gimana lagi mungkin ini udah jadi takdirku. tapi setiap kali aku mengingatnya aku masih takut bahkan sebenarnya aku takut berada di kosan sendiri." Ujar Charissa sambil berkaca-kaca.
" Charissa yang sabar ya Sa."
" Iya put udah gapapa kok, aku emang harus kuat, aku harus tetap berjuang untuk masa depan, karena ada dia yang harus aku perjuangkan." Jawab Charissa dengan tersenyum sambil mengelus perut yang masih rata.
" Semangat Rissa." Saut Putri.
...* * *...
" Kamu gak sarapan dulu nak?"
Tanya Bu Dewi.
" Malas maa."
Jawab Rendra.
" Papa harap kamu masih punya rasa malu, dengan perbuatanmu sendiri." Ujar pak Hutama.
Dan masih terdengar jelas ditelinga Narendra yang hendak berjalan keluar rumah.
Dalam perjalanan Narendra menyetir tidak fokus dia memikirkan ucapan papanya, dia masih bisa mengingat dengan jelas jika dia memang yang pertama meniduri wanita tersebut, dia teringat bahwasanya masih ada bercak darah yang menempel dispreinya menandakan bahwa wanita tersebut memang benar-benar masih per****.
" Ah tapi bisa jadi setelah itu dia tidur dengan banyak pria, aku kan juga gak tau" Batin Narendra.
"Dasar ja***g. Haaaaaa" Narendra berteriak sambil menyetir.
__ADS_1