
Narendra pergi begitu saja meninggalkan mama papanya dimeja makan.
" Aku heran ma sama dia, Sampai kapan sih bisa berubah."Ujar pak Tama.
" Mama gak tau paaa capekkk." Sambil memegang dahinya yang pusing memikirkan Narendra.
...* * *...
" Beneran sa kamu gapapa nih masuk sendiri?"
" Gapapa kok Put aku udah siap dengan reaksi mama, apapun itu aku terima." Jawab Charissa dengan senyum sedihnya.
"Nona Charissa ada yang bisa dibantu non?" Tanya salah satu karyawan dari PT. ARORA GROUP dulu memang perusahaan mama Rani dan papa Roni pisah, pada waktu perusahaan PT CAHARI dipegang mama Rani perusahaan tersebut merosot derastis, alhasil langsung dijadikan satu dengan perusahaan pak Roni dan sekarang dinamakan PT.ARORA GROUP. singkatan dari Roni Rani.
" Mama ada?"
" Ada Non silahkan masuk."
Charissa memasuki lift menuju lantai 6
dia ingin memberikan undangan wisudanya jika mamanya tidak datang dia sudah pasrah karena Charissa sendiri merasa bersalah pada kedua orangtuanya padahal kalau dilihat seharusnya bukan Charissa tapi mamanya aja yang selama ini memang tidak mempedulikannya.
" Terimakasih.?" Charissa menundukkan kepala.
Tok tok tok
" Masukkk."
" Charissa silahkan masuk sayang!" Ucap papa Roni yang sudah melupakan kejadian Minggu lalu.
" Mungkin kalian butuh waktu untuk bicara, papa keluar dulu ya ma?"
" Silahkan masuk Sa," Ucap papa Roni yang masih menyapanya dengan ramah.
" Terimakasih pa."
" Mama tidak ada waktu banyak bicara sama kamu."
" Ini maaa Charissa mengantarkan undangan untuk wisuda Charissa besok."
" Untuk apa? Untuk mempermalukan kami? kalau sudah tidak ada yang dibicarakan, sekarang bisa keluar." Usir mama Rani.
Ingin sekali rasanya Charissa memeluk mamanya dia butuh mamanya, dia sangat merindukan sosok ibunya, dia butuh dukungan mamanya, dia ingin sekali dipeluk mamanya, begitu pilu yang dirasakan, begitu sakit dalam hatinya, dirinya sudah hancur ditambah lagi mamanya, yang pada akhirnya bukan mendapatkan kasih sayang itu lagi malah hanya akan membuatnya semakin membencinya, Charissa menangis dalam batinnya.
" Baik ma." Jawab Charissa sambil menyeka air matanya.
Mama Rani seketika menangis lemas duduk dilantai, dia menangisi putrinya, mengapa putri yang dibanggakan bisa mempermalukannya seperti ini.
Tok tok tok.
" Farel silahkan masukkk."
" Lo gak sibuk kan?"Tanya Dion yang masuk kedalam ruangan kerja Narendra bersama Farel dan Zayn.
" To the poin aj Ren, kedatangan kita bertiga mau ngomong tentang permasalahan Lo yang sekarang."Ucap Farel.
"Maaf nih kita gak bermaksud mencampuri urusan pribadimu tapi semua ini sangat disayangkan kamu membuat kecewa kita Ren."
" Maksud kalian apa sih.?" Tanya Narendra dengan kebingungan.
" Tadi Laras cerita sama gue."Ujar Zayn.
" Heh kalian itu, jangan percaya sama omongan orangtua gue, kenapa kalian gak minta cerita sama gue terlebih dulu, dia itu wanita murahan sama dengan wanita yang kalian bicarakan kemaren."
" Lo tega ya Ren? BUGHHH." pukul Farel
" Gue gak nyangka. Lo sepengecut ini, BUGHHH." Tambah Dion
__ADS_1
" Lo apa-apaan sih gue ini sahabat kalian kenapa kalian malah ngebelain tu cewek haaa?"
" Kita gak ngebelain tu cewek Ren,tapi dari dulu dalam prinsip kita jangan ada yang menyakiti perempuan apa lagi melecehkan sampai hamil dan kamu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatanmu ha?" Marah Dion dengan menambahkan pukulanya.
" Brengsek Lo, setidaknya Lo mengakui kesalahan Lo, emang pengecut Lo, BUGHHH." Ujar Zayn Rendra terjungkal lagi dibawah mejanya.
" Kalau Lo masih pengen persahabatan kita utuh tolong hargai kita dan kamu harus punya inisiatif untuk bertanggung jawab sama tuh cewek." Ujar Farel sambil menenteng kerah baju Narendra.
" Jangan salahkan kita kalau 13 tahun persahabatan kita bubar gara-gara sifat arogan dan pengecut kamu. " Ujar Dion yang meninggalkan Rendra begitu saja.
" CAMKAN ITU." Tambah Zayn sambil menepuk pundak Rendra.
" Pak Rendra pak Rendra tidak apa-apa kan?" Kaget Rian yang datang keruangan melihat atasannya sudah babak belur.
" Ambilkan obat dibawah meja sana ?"
" Baik pak saya obati." Jawab Rian.
Sambil diobati Rian Narendra terngiang-ngiang perkataan sahabatnya dia punya rasa khawatir jika sahabatnya meninggalkannya, ditambah lagi ancaman dari papanya yang akan menghapus namanya dari daftar keluarganya.
"HAH BRENGSEK." marah Narendra dengan membuang benda yang ada sekitarnya. Seketika Rian juga begitu kaget Narendra yang masih kesakitan dia meluapkan amarahnya dengan mengobrak-abrik meja kerjanya.
...* * *...
...Acara wisuda telah selesai, dan orang tua Charissa ternyata tidak datang, Charissa menyandang predikat mahasiswa terbaik di tahun ini betapa bangganya jika orang tuanya datang tapi semua itu hanya bayangan bagi Charissa, Charissa ingin sekali orang tuanya tahu melihat kerja kerasnya selama ini, tapi apalah daya orangtua Charissa terlanjur kecewa, Charissa juga menyadari semua itu....
...Dilihatnya seorang laki-laki memakai jas hitam dengan tampilan yang sangat rapi, Rissa melihat sosok itu dia melihat seorang pria yang yang sudah membuatnya hancur, sekilas Rissa langsung teringat dia diundang secara khusus oleh pihak kampus, karena Narendra adalah salah satu donatur terbesar dan setia diuniversitas tempat Charissa kuliah....
"Rissa foto bertiga dulu yukk?" ucap siMiko.
karena sibuk dengan foto-foto Putri dan Miko tidak menyadari jika wajah Rissa sudah sangat pucat meski memakai makeup tipis,
Ya Narendra semakin mendekat dia hanya akan lewat, semua itu membuat Rissa menjadi gemetar dan sedetik kemudian penglihatanya kabur badanya melemas dia pingsan tepat didepan Narendra.
"Rissaaaa. Rissaaaa?" Teriak putri dan Miko.
" Baik pak." Rian berlari duluan dari atasannya.
" Miko ada apa dengan Rissa ko?" Para wisudawan dan orangtua tercengang melihat Charissa pingsan dibopong oleh Narendra.
" Bukankah ini wanita yang pada malam itu?" batin narendra dengan mengingat kejadian-kejadian itu.
" Ko kamu hubungi mama Rani ya Ko."
" Aku akan hubungi Tante Dewi."
"Mama. Putri anterin Rissa dulu ya ma?"
" Iya sayang kamu temani Rissa." Jawab mama Putri.
" Terimakasih ma pa" cium Putri pada orangtuanya.
" Sus apakah ada pasien yang memakai baju toga.?"
" Oh iya mbak sudah dipindahkan keruang VVIP NO. 8"
" Baik terimakasih sus. "
" BRENGSEK YA LO. JADI LO KAN YANG UDAH MENGHAMILI RISSA ." teriak Miko dengan menonjok wajah Narendra, tapi langsung ditahan oleh sang sekretaris sekaligus asisten.
" Miko Miko Miko udah Ko." Tahan Putri.
" Dia itu pengecut Put, percuma jadi orang terpandang tapi hati seperti BAJ*****. " Ujar Miko dengan kemarahannya. Narendra terdiam dia memang tidak membalas Miko karena dia juga sadar apa yang udah diperbuat terhadap Charissa.
" Narendra kamu kok disini?"
" La Mama sendiri ngapain disini?"
__ADS_1
" Mama mau menemui cucu mama." Ketus bu Dewi pada Rendra.
...* * *...
" Apa papa bilang ma? dari tadi udah papa ajak berangkat, mama sih ada aja alasannya, meski seorang anak itu salah jangan sampai kita membencinya maaa, seharusnya kita yang tetap mendampinginya, bisa jadi semua ini ada yang salah dari kita." Ujar papa Roni.
" Mama gak pernah membenci Rissa pa, mama hanya kecewa paa?"
" Tapi gak kyak gini caranya maa." Jawab papa Roni sambil menyetir menuju rumah sakit.
" Charissa aaa. hikz hikz hikz." Tangis mama Rani, dia menangisi penyesalan tapi juga sekaligus kecewa.
...* * *...
" Nak Rissa , kamu udah sadar sayang?" Tanya tante Dewi.
" Tante Dewi Tan. maaf Rissa mau pergi dari sini Rissa udah gapapa kok Tan, Put Miko ayo kita pergi dari sini aku udah gapapa kok." Jawab Rissa sambil mencopot kabel infusnya yang dipergelangan tangannya.
" Rissaaaa Rissa Rissa maafkan tante nakkkk." Ujar tante Dewi yang langsung memeluk Rissa.
" Maafin tante sayang, tante janji bakal mempertanggungjawabkan atas apa yang diperbuat oleh anak tante." Rissa menangis sejadi-jadinya.
Putri dan Miko melihat dengan terharu.
" Maafkan tante ya sayang." Ujar Bu Dewi sambil menyeka air mata Charissa.
" Rissa janji ya naaakkk jangan pergi dari Tante Rissa janji jangan sedih lagiii, ada anak kamu yang harus kamu jaga, cucu Tante." peluk mereka berdua dengan sesenggukan.
Tok tok tok
"Permisi?" Masuk mama Rani beserta pak Roni. Orangtua Charissa melihat Narendra yang sedang menunggu diluar tapi mereka tak mempedulikannya, dalam hati mama Rani hanya ingin bertemu Charissa dia hanya khawatir dengan keadaan Charissa.
Narendra sedang bingung entah pikirannya kemana-mana dan gak karuan, dia menyandarkan tubuhnya ketembok disamping pintu kedua tangannya dimasukkan sakunya dia meemejamkan mata entah apa yang dipikirkan sekarang.
"Charissaaaa."
" Sayang maafkan mama nak maaf, gak seharusnya mama seperti ini sama kamu maafkan mama ya nakkkk." Peluk mama Rani yang sangat menyesal dengan tidak mempedulikan anaknya , karena rasa kecewanya yang begitu besar terhadap Charissa.
" Mama Rissa rindu maa?" Tangis Charissa sejadi-jadinya.
Bu Dewi yang melihatnya ikut menangis terharu bukan hanya buDewi Putri dan Mikopun juga ikut menangis.
" Sayang. maaf kalau papa tidak sopan bolehkah papa bertanya siapakah pria yang sudah membuat Charissa seperti ini, kalau boleh tau papa akan membawa masalah ini kejalur hukum, jika memang pria itu tidak mau bertanggung jawab." Tanya papa Roni dan membuat semua orang terkaget.
" Tidak paaa, Charissa berniat akan membesarkan anak ini sendirian, Caharissa insyaallah sanggup kok pa." Jawab Charissa. dan masih terdengar jelas oleh Rendra yang berada diluar.
" Tidak bisa sa, papa gak terima anak papa dibikin seperti ini." Marah papa Roni.
" Saya yang sudah membuatnya hamil, jika bapak ingin memperkarakan saya, saya siap tapi sebelumnya dengan hati yang paling dalam saya meminta maaf, terutama pada Charissa maaf atas perbuatan saya yang telah merugikan kamu, saya berjanji akan bertanggung jawab atas kesalahan saya." Jawab Rendra yang begitu tegas.
Seketika Charissa takut dan gemetar putri yang tau keadaan Charissa, langsung memeluknya menenangkan.
" OHHH BRENGSEK KAMU ." Tonjok papa Roni.
" Paaaa papa udah pa." Teriak mama Rani yang menenangkan dan Rendra ditahan oleh mama Dewi.
" Sudah paa Udah biarin dulu dia, yang terpenting untuk sekarang ini, kita fokus pada kesehatan Charissa dulu." Jawab mama Rani.
" Charissa. sa bangun sa." Teriak putri Charissa pingsan kembali.
" Jangan dekati anak saya." Teriak papa Roni pada Narendra yang hendak ikut melihat keadaan Charissa.
" Tolong semuanya bisa keluar, pasien butuh ketenangan." Ujar sang dokter.
Pak Roni berjalan sambil memijat pelipisnya, dia gak habis pikir, dia sangat percaya jika Charissa adalah anak yang baik jadi dia tidak akan berani berbuat hal-hal seperti itu, semua itu pasti ulah lelaki tersebut, pasti dia dipaksa. Batin papa Roni.
Mama Rani hanya bisa menangis di pelukan sang suami.
__ADS_1
Sedangkan Bu Dewi sibuk menelepon suaminya agar datang menemui langsung kedua orang tua Charissa.