
...Narendra bersenang-senang dengan kekasihnya....
Tok Tok Tok.
Bu Dewi mengetuk pintu apartemen Narendra
Ting tung Ting tung.
Pak Tama juga memencet bel apartemen Narendra.
Berulang ulang mereka seperti itu, tapi tidak sedikitpun ada jawaban dari dalam kamar apartemennya, Bu Dewi mencoba telepon tapi tidak diangkat, hati Budewi tambah tak karuan takut anaknya kenapa- napa dan berpikiran yang aneh-aneh.
" Permisi pak, bapak cari siapa?" Tanya tetangga apartemen sebelah Narendra.
" Narendra mas. Masnya kenal ?"
" Oh pak Rendra?"
" Iya mas kenal?"
" Kenal pak saya juga salah satu karyawan pak Rendra, tapi saya tidak sekantor dengan pak Rendra."
" Mas tau Rendra kemana ya kira-kira?" tanya pak Tama.
" Pak Rendra sudah seminggu pergi liburan ke Bali pak." Jawab sang tetangga.
" Ke Bali?" Kaget pak Tama dan bu Dewi.
" Anda dipamiti sama Narendra?" Tanya pak Tama.
" Tidak pak saya pas lewat sepatu kamarnya pak Rendra gak sengaja mendengarkan percakapan mereka kalau mereka berniat mau liburan ke Bali hanya itu saja pak.
" Apa anda tau Narendra pergi bersama siapa ?" Tanya budewi, karena Bu Dewi tau Narendra gak akan liburan kalau gak bersama orang terdekat sedangkan orang terdekatnya tidak ada yang liburan budewi paham betul orang-orang terdekatnya Narendra, sedangkan Bu Dewi baru saja kemarin ketemu sahabat-sahabat Narendra, jadi tidak mungkin kalau Narendra pergi liburan bersama para sahabatnya.
"Sama wanita Bu yang udah beberapa hari juga menginap diapartemennya pak Rendra."
" Wanita cantik tinggi berpakaian sexy?"Tanya pak Tama.
" Iya pak betul."
" Sudah kuduga kan ma pasti itu siLivia!
papa gak abis pikir Rendra udah berani menentang papa."
" Saya permisi dulu ya pak?"
" Oh iya silahkan Terimakasih ya?" jawab Bu Dewi.
" Iya sama-sama." jawab pria tersebut.
" Ayo pulang ma, percuma kita disini, yang ada cuman buat darah tinggi papa naik saja." Ucap pak Tama.
__ADS_1
...* * *...
" Makasih sayang kamu udah nurutin semua yang kuinginkan liburanku diindonesia pasti akan lebih menyenangkan."
" Sama-sama sayang." ucap Narendra sambil mengecup dahi Livia.
" Halo ada apa ma."
" Sekarang juga kamu pulang, kalau kamu masih pengen lihat mama hidup pulang sekarang juga."
" Iya iya ma besok Narendra pulang pagi-pagi." Jawab Narendra diseberang sana dengan pelan dan Langsung dimatikan olehnya.
" Siapa sayang?" Tanya Livia
" Biasa mama." Jawab Rendra dengan jujur.
" Apa mama kamu masih belum merestui kita Ren?"
" Kata siapa ? Mama itu sangat sayang sama kamu."
"Mama tuh pengen kita cepat- cepat nikah."
" Vi sini ikut aku." Narendra mengajak Livia dengan menggandeng tangan Livia, hari ini Narendra akan melamar Livia dia sudah menyiapkan tempat untuk melamar Livia dia ingin segera menikahi Livia, dia sudah bosan dengan hubungan jarak jauhnya sudah capek menunggu Livia bertahun tahun dan hari ini hari dimana dia ingin melamar tambatan hatinya, dia merasa sudah cukup perjuangan nya dia sudah sukses membangun banyak perusahaan dan dia tidak peduli jika orang tuanya belum merestui, Narendra tetap yakin dengan pendiriannya bahwasanya suatu saat orangtuanya akan merestui hubungan mereka seperti waktu dulu Narendra mendirikan perusahaannya sendiri.
Malam begitu dingin ditepi pantai Bali yang berhiaskan lampu-lampu yang indah dengan pemandangan yang begitu asri dan alami, Livia duduk ditempat yang sudah disediakan.
Narendra duduk jongkok dibawah Livia dia mengeluarkan cincin dikotak kecil dia membuka dan menyodorkan didepan Charissa.
" Rendra."
" Livia, gapapa kok kamu jawab sesuai isi hati kamu saja Vi."
"Ren maafkan aku ya sebelumnya kasih aku waktu untuk berfikir karena aku masih ingin terus berkarir untuk sementara, beri aku waktu sedikit saja ren?
" Baiklah kalau itu mau kamu, aku hargai keputusanmu Vi." Jawab Rendra dengan penuh kecewa.
" Aku pamit kekamar dulu Vi."
Narendra kecewa karena dia benar-benar berharap jika kali ini Livia akan menerimanya dia berharap malam ini juga Livia bisa menjawab atas harapannya yang sudah ditunggunya selama bertahun-tahun.
"( Vi maaf aku terbang ke Jakarta duluan karena dari tadi malam mama sudah telpon terus-terusan.)" Pesan dari Narendra pada Livia
" ( Ok ren tidak apa-apa kok, semoga perjalananmu menyenangkan.)" Livia membalas dengan emoticon cium.
...* * *...
" Mama dimana bik?"
" Dikamar den." Narendra langsung masuk itu kamar Bu Dewi.
" Ren? Budewi sambil menangis.
__ADS_1
" Ada apa sih ma?"
" Mama sakit?"
" Iya mama sakit hati sama kamu, mama gak habis pikir kamu beraninya bohongin mama."
" Maafin aku ma, Rendra gak bermaksud bohongin mama tapi mama tau sendiri kan?"
" Tau apa?" Saut pak Tama.
" Udah ngerasa pinter? Udah ngerasa jadi orang paling hebat? iya?"
" Kamu beraninya bohongin kami, papa sudah ijinin kamu mendirikan perusahaan sendiri bukan berarti kamu seenaknya sama orang tua kamu, kamu anggap papa itu apa?" Marah pak Tama sambil teriak. Rendra cuman bisa menunduk.
" Dan asal kamu tahu papa sampai kapanpun gak Sudi punya menantu seperti Livia,!"
" papa jangan bawa-bawa Livia ya, papa juga jangan seenaknya ngatur-ngatur kehidupanku papa pikir semua yang dilakukan papa itu benar, papa itu hanya memikirkan rasa bersalah papa terhadap sahabat papa tapi papa gak pernah berfikir perasaan seorang anak yang ingin punya kebahagiaan sendiri, papa mikir nggakkkkk!" Teriak Rendra dihadapan pak Tama.
" Asal papa tahu ya Rendra kesini untuk yang terakhir kalinya dan rendra akan tetap pada pendirian Rendra, bahwasanya Rendra akan tetap menikahi Livia dalam waktu dekat ini jadi gak usah berharap dan bersusah payah berusaha menjodohkan Rendra dengan Susan pak Hutama yang terhormat." Kesal Rendra sambil membisikkan ditelinga pak Tama.
" Udah -udah kalian ini ribut terus." Tangis Bu Dewi
" Kalau begitu jangan pernah menginjakkan kaki dirumah ini selagi kamu masih berhubungan dengan wanita itu."
" Ok aku akan pergi dari sini."
" Ren Rendra jangan tinggalin mama ren renn." Cegah Bu Dewi Rendra tetap keluar dan segera membawa barang-barang yang berada dirumah pak tama.
" Ma ma udah ma biar buat peringatan sama dia."
" Tapi gak gini caranya pa."
" Udah ma, mama jangan belain dia terus ma. " Ujar pak Tama sambil menenangkan istrinya.
...Sudah 2 Minggu Rendra meninggalkan rumah, hari-hari Rendra kembali dingin seperti biasanya, kekasihnya Liviapun masih dibali akan tetapi Narendra tetap kepikiran orang tuanya sedikit banyak narendra tetap merasa bersalah karena dia merasa seperti anak durhaka yang pembangkang, tapi sisi lain narendra tetap ingin menikahi Livia dan berambisi akan berusaha menikahi Livia dalam waktu dekat ini....
" Pak besok ada pertemuan bersama klien-klien dihotel. Maharani" ujar rian sang sekretaris.
" Jam berapa?"
"Jam 18: 00 pak."
" Baik besok saya akan kesana tolong kamu temani ya. "
" Siap pak." Ucap rian.
...* * *...
Author:
...Untuk nama hotelnya itu kuberi nama lain mohon maaf soalnya author kurang tau nama hotel-hotel di Jakarta terimakasih sudah mau membaca sampai diepisode 13....
__ADS_1