Sincere Heart

Sincere Heart
Chapter 26 periksa kehamilan


__ADS_3

📞:"Halo? Siapa?"


📞:" Udah siap belom?" Rendra tak menjawab pertanyaan Charissa.


📞:" Sudah dari tadi." Jawab Charissa dengan ketus dia langsung tau siapa yang meneleponnya, dia sudah hafal dengan suara itu.


📞:"Oke 15 menit nyampek." Jawab Narendra, dan langsung ditutup oleh Charissa.


Dilihatnya handphone Narendra nampak foto profil Charissa yang terlihat begitu cantik dengan senyumnya, Narendra melihat dengan senyum-senyum sendiri.


...* * *...


CEKLEK.


"Ayo berangkat." Ajak Narendra dengan membuka pintu kamarnya yang ditempatinya bersama Charissa.


"Iya." Jawab Charissa dengan singkat.


"Mama Charissa berangkat dulu." Ucap Charissa dengan bersaliman.


" Iya sayang." Jawab Bu Dewi dengan mengecup kening menantu kesayangannya.


"Ren hati-hati ya nak? Jaga menantu mama sama cucu mama."


"Ck kayak mau pergi jauh aja."


" Rendra?" Saut Bu Dewi sambil melotot i Narendra.


"Punya pelet apa sih ni anak, bisa-bisanya mama dan papa lebih sayang dia daripada anaknya sendiri." Batin Narendra sambil berjalan dibelakang Charissa.


" Masuk!" Ujar Narendra membukakan pintu mobilnya dengan nada ketus, sambil diletakkannya tangannya diatas agar tidak mengenai kepala Charissa.


...Bu Dewi yang mengintip disebrang jendela senyum-senyum sendiri bersama Bik Mirna,...


...ini memang pertama kalinya Narendra jalan keluar rumah berdua bersama Charissa....


"Eh mau ngapain?" Tanya Charissa saat Narendra mau memasangkan sabuk pengaman.


"Nih aku pasangin." Jawab Narendra dengan ketus dengan mengambil sabuk pengaman disamping kiri Charissa, dia mencium bau Charissa yang begitu wangi, dan tidak sengaja tangannya sedikit mengenai perut Charissa yang semakin membuncit.


"Huftttt." Dengus Nrendra.


" Kenapa gak periksa pribadi aja sih, nanti aku teleponin dokter SPOG yang kamu inginkan?"


"Kalau gak ikhlas nganterin gak usah ngedumel."Marah Charissa.


"Yah bukanya ngedumel tapi kan lebih enak janjian sama dokter spesialis pribadi, nanti kita bisa atur waktu kita." Ujar Narendra.


"Dan biar gak ganggu jam kerja kamu gitu?" Sewot Charissa.


"Bukan gituuuu."


"Udahlah turunin disini saja aku, tahu begini aku malas, gak usah nganter-nganter aku." Jawab Charissa dengan marah-marah.


" Hihhhhh Emang susah ya musuh ibu-ibu hamil." Jawab Narendra dengan pelan yang lebih mengalah.


"Udah berhenti disini saja." Kekeh Charissa.


"Gak usah aneh-aneh bentar lagi nyampek, kamu mau aku dimarahin mama?" Sergap


Narendra, dan Charissa tidak menjawab hanya bibirnya yang dicemberutkan penuh kekesalannya.


...* * *...


...Orang-orang yang dirumah sakit semuanya pada melihat pasangan yang sangat serasi, Narendra yang memakai jas warna maroon nampak begitu terlihat semakin tampan, membuat para suami orang cemburu melihatnya, ditambah Charissa yang begitu cantik dengan berpakaian dress Ceruty bermotif bunga-bunga nampak begitu elegan, rambutnya yang dikuncir kebelakang membuatnya nampak semakin manis, Mereka berdua berjalan menuju tempat duduk menunggu antrian masuk ruang SPOG,semua mata melihatnya, mereka berdua layaknya seperti artis yang dilihat banyak orang, akan tetapi mereka berduapun cuek dengan keadaan disekitar mereka sedikitpun tidak merasa seperti yang mereka idamkan, layaknya suami istri yang benar-benar bahagia dan saling mencintai....


"Duduk dulu aku belikan minum." Ujar Narendra, yang tidak dijawab oleh Charissa.


"Sudah berapa bulan mbk?" Tanya ibu-ibu disebelahnya yang sudah setengah baya.


"Baru 4bulan kok Bu."


" Oh semoga sehat sampai lahiran ya mbak?"

__ADS_1


" Iya Bu terimkasih banyak doanya semoga ibu juga lancar ya Bu lahirannya." Jawab Charissa dengan begitu ramah.


"Sama-sama mb. ini aja kalau gak kebobolan niatnya udahan aja mbk, sebenarnya suami saya juga tidak menginginkan." Ujar ibu itu dengan membisikkan ketelinga Charissa.


" Anak itu rejeki Bu jadi disyukuri saja, diluaran sana banyak sekali Bu yang menginginkan seperti kita, dulu aku mikirnya seperti kayak ibu, tapi setiap mau tidur aku selalu mengucap syukur, karena aku yakin aku dikasih amanah seorang anak itu artinya Allah udah bener-bener ngasih kepercayaan untuk kita, percaya bahwa kita akan menjadi orang tua yang baik." Ujar Charissa sambil menatap ibu itu, dan menggenggam tangan ibu itu guna menenangkan, ternyata didengar jelas oleh Narendra yang juga sudah kembali membelikan minuman.


"Suaminya pasti sayang banget ya mbak?"


" Eheheh ya begitulah Bu, suami ibu juga pasti sayang buktinya itu masih perhatian mau bawain tas ibu." Jawab Charissa dengan tersenyum.


"Oh iy benar mbk... Ehehehe. "Jawab ibu itu lagi.


"Ini minum dulu." Ujar Narendra sambil menyodorkan minuman untuk Charissa.


"Makasih." Jawab Charissa dengan singkat.


"Yang sabar pak emang begini ibu-ibu hamil."


Ujar sang ibu tadi. Tidak lama dipanggil oleh sang suster.


Dan dijawab Narendra dengan senyumnya sambil menganggukkan kepalanya.


" Mari mbkkk." Pamit ibu-ibu yang disebelah Charissa tadi.


" Iya Bu hati-hati dijalan." Jawab Charissa senyum dengan menundukkan kepalanya.


"Pantesan semua orang menyukainya dia sangat care, ramah pada semua bahkan tidak punya rasa ilfel terhadap siapapun." Batin Narendra sambil melihat pasangan yang ada disampingnya yang masuk mendahuluinya.


Jika Charissa mau Narendra sedari tadi sudah bisa masuk ruang periksa, akan tetapi jiwa sosial Charissa yang begitu besar maka tetap akan patuh pada tata tertib dirumah sakit dan tetap mengantri layaknya ibu-ibu hamil lainnya Narendrapun juga harus menuruti keinginan Charissa bisa-bisa mengomel dan mengadu pada orangtuanya jika Narendra memprotes hal semacam itu.


"Nyonya Charissa?" Teriak suster.


"Silahkan masuk."


"Terimakasih." Jawab Charissa dengan berjalan masuk.


"Loh pak Rendra kok tidak telepon dulu pak?"


Tanya dokter Yasmine yang sangat akrab dengan Narendra.


" Tidak disangka ternyata Nyonya Charissa adalah Istri bapak?" Tanya dokter Yasmine sambil membuka perut Charissa.


"Iya dok." Jawab Narendra dengan senyuman.


"Sini pak, biar bapak bisa melihat perkembangan bayinya."


" Jangan mendekat." Cegah Charissa.


"Loh kenapa bu?" Narendra yang hendak berdiri dari tempat duduknya segera duduk kembali.


" Jangan nanti bisa lihat perut aku." Jawab Charissa dengan malu.


" Ibu Charissa ini lucu ya! ini sudah biasa Bu namanya juga suami istri, masak masih malu-malu sih Bu, udah gak apa-apa kok Bu?"


"Sini pak, mari?"Narendrapun berdiri melihat layar USG dilihatnya janin kecil yang masih dalam kandungan, dia terharu badannya sedikit gemetar dalam hatinya berkata.


"Tidak terbesit sekalipun dalam benakku jika aku akan menjadi seorang ayah, tapi benarkah itu anakku? Terlepas anakku atau bukan dia harus tumbuh sehat harus jadi anakku yang kuat, yang hebat, tidak boleh lemah." Batin Narendra.


"Nah ini bayinya nampak begitu sehat pak, dijaga dengan baik ya buk, jangan capek-capek dalam beraktivitas." Ujar dokter Kasih.


" Pak usahakan sering-sering dampingi istrinya saat periksa ? Dan jangan lupa dijaga perasaannya, ibu hamil rentan dengan kondisi psikologis yang mudah marah dan stress, jadi bapak yang harus berperan aktif mendampingi istrinya."


" Siap dok terimakasih." Ucap Narendra penuh semangat.


"Mari dok." Pamit Charissa dengan senyuman.


"Hati-hati." Ucap Narendra saat membukakan pintu mobil untuk Charissa dan dibalas dengan lirikan tajamnya.


...* * *...


"Berhenti." Ucap Charissa. Seketika Narendra ngerem mendadak.


"Ada apa sih?" Tanya Narendra dengan penuh kaget.

__ADS_1


"Ada escreamnya Mbah Darso." Jawab Charissa pelan dengan menunduk.


"Ngomong dong jangan langsung berhentiin kayak gini, bahaya tau? Kalau ada mobil dibelakang gimana?" Marah Narendra sambil memijat pelipisnya.


"Maaf." Jawab Charissa penuh ketakutan matanya sudah berkaca-kaca.


"Udah gak usah nangis kamu disini saja, gak usah ikutan keluar, jalanan sangat panas."


tidak membutuhkan waktu yang lama Narendra untuk mendapatkan escream tersebut.


"Ini habiskan." Ujar Narendra sambil menyodorkan escream.


"Terimakasih." Jawab Charissa dengan senyum puasnya.


" Kenapa?" Tanya Narendra yang juga ikut memakan es cream tersebut dengan ******* escreamnya dilihatnya Charissa yang sedari tadi masih melihat punya Narendra yang masih banyak, sedangkan punyanya sudah habis sedari tadi.


" Mau lagi?"


Charissa mengangguk.


"Jangan banyak-banyak nanti kamu mual lagi." Tutur Narendra.


"Ya udah itu aja yang kamu pegang!"


"Ini?" Tanya Narendra dengan keheranan, "Bisa-bisanya dia mau sisa yang aku makan." Batin Narendra.


Charissa mengangguk lagi tanpa banyak bicara.


"Ya udah nih makan." Ucap Narendra, dan langsung dilahap Charissa.


Ditengah perjalanan tiba-tiba Charissa merasa perutnya mual ingin mutah.


Hoekkkkk.


" Apa aku bilang? Dibilangin ngeyel sih!"


Hoekkkkk.


Charissa tidak mempedulikan Narendra dalam dirinya hanya ingin memuntahkan semuanya kepalanya semakin pusing.


Narendra memberhentikan mobilnya dipinggir jalan dia segera membukakan pintu Charissa dari dalam mobil, seketika Charissa memuntahkan semuanya dipinggir pintu mobil, Narendra membantu memijat leher Charissa dengan mengambilkannya tissue.


"Besok aku belikan escream yang banyak lagi harus dihabiskan semuanya ya?"


Charissa tidak menggubris omongan Narendra dia duduk kembali dijok mobil, dia begitu lega setelah memuntahkan semuanya akan tetapi badanya gemetar dan lemas kepalanya sedikit terasa pusing keringatnya bercucuran, Narendra yang melihatnya tak tega langsung diusapnya dahi Charissa yang penuh keringat bercucuran.


"Udah tidur yang relax dulu." Ujar Narendra sambil mengelap pipi Charissa, Narendra memandang lama wajah Charissa dilihatnya Charissa yang sedang memejamkan matanya karena kepalanya masih terasa pusing, dengan mengelap keringat Charissa dalam batinnya berkata.


"Mengapa akhir-akhir ini dia terlihat lebih mempesona, dengan perut bunncitnya membuatnya semakin kelihatan cantik, semua ini membuatku semakin susah melupakannya."


Tersadar Narendra dari lamunannya, dia segera meraih reclining seat, untuk menurunkan kursi Charissa agar badannya bersandar dengan tenang dan nyaman. Dikibasnya rambut Charissa kebelakang.


"Kita pulang ya?" Dan Charissa hanya mengangguk.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai dirumah dan ternyata Charissa ketiduran.


Dengan pelan dia membuka pintu mobilnya Charissa yang masih terlelap tidur dibopong Narendra secara pelan-pelan dia mengangkatnya dia berjalan menuju kamarnya.


" Loh Non Rissa tidur den?"Tanya bik Iyem.


"Sssstttt."Jawab Narendra.


"Tasnya masih dimobil tolong ambilkan sama mobil saya suruh markirin pak Karyo."Ujar Narendra dengan pelan.


"Siap den."


Narendra menidurkannya ditempat tidurnya, diraihnya selimut yang ada dibawahnya untuk menutupi badan Charissa, rambut Charissa yang terurai segera dikibaskanya kebelakang telinganya, dengan mata yang terpejam Charissa masih tetap saja terlihat sangat cantik, dilihatnya sudah jam5 sore.


Narendra membuka semua bajunya dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan badannya. Perlahan lahan guyuran air dari dalam shower membasahi semua badannnya diusap-usap rambutnya, Sambil memejamkan mata dia masih teringat jelas wajah cantik sang istri, dirinya masih tidak menyangka, jika sampai detik ini bisa bertemu Charissa orang yang belum pernah dia kenal sebelumnya, bahkan latarbelakang Charissa yang saat ini sudah menjadi istrinya pun hanya tahu dari beberapa orang saja apalagi dia akan menjadi seorang ayah dalam batinnya berkata "apakah aku bisa menjadi seorang ayah."


"HAAAaaaaaahhhh, perasaan macam apa ini?"


Marah Narendra sambil memegang i kepalanya yang diguyur shower dengan frustasi.

__ADS_1


Charissa bangun dari tidurnya dia mengingat terakhir kali bahwa dirinya tidur dimobil pada saat kepalanya terasa begitu pening dia tersadar ternyata sudah sampai kamar.


...* * *...


__ADS_2