SKIP

SKIP
PART 1


__ADS_3

Bahkan tanpa kusadari, pertemuan itu terus berlanjut meski masing-masing dari kita sama-sama tidak menginginkannya. Sejujurnya banyak hal yang terbesit dalam fikiranku. Namun seberapapun itu menggangguku, aku akan berusaha keras untuk melenyapkannya.


-Kinan Putri Cantika.


 


\*BRUKKK


 


Tubuh Kinan jatuh tersungkur ke lantai dengan begitu kerasnya, begitupun dengan kertas-kertas laporan skripsi yang ia bawa di tangannya juga ikut berceceran di lantai koridor kampus. Gadis itu hanya meringis kesakitan sambil berusaha mengumpulkan kertas-kertas tersebut, tiba-tiba suara lembut berhasil menghentikan tangannya.


“Oh ya ampun!” wanita itu tampak sedikit teriak karena merasa kaget.


Kinan langsung menoleh ke sumber suara tersebut, seorang wanita cantik tengah berdiri di depannya sambil mengulurkan tangan dan tersenyum ramah ke arahnya. Namun bukan Kinan namanya jika langsung menerima uluran tangan tersebut, gadis yang memang sangat pendiam dan pemalu itu justru menundukkan kepala tanpa membalas tangan yang sedari tadi ingin menjabatnya.


Dalam hati Kinan terus merutuki dan menyesali tindakannya yang justru mengabaikan bantuan dari Diara. Ya, gadis cantik yang berada di depannya saat ini adalah Diara Felisya. Gadis cantik yang kerap menjadi sorotan di kampus mereka. Jelas tidak ada yang tidak mengenalnya, begitupun dengan Kinan. Selain itu Diara juga menjadi incaran banyak pria karena seluruh yang ada pada gadis itu hampir bisa dikatakan sempurna, bahkan beberapa pria yang sudah memiliki kekasih pun terkadang masih mencari kesempatan untuk mendekatinya. Hal itu tentu membuat iri banyak wanita, termasuk yang pacarnya secara terang-terangan menggoda Diara di depan mereka. Namun kembali lagi, karena sifat ramah Diara ke semua orang membuat wanita-wanita itu enggan untuk melabraknya. Terkadang mereka justru meminta bantuan ke Diara, dan dengan senyum khasnya yang menurut banyak orang itu sangat manis Diara pun membantu mereka dengan senang hati.


“Em maaf, apa kau tidak apa-apa?” tanya Diara takut tindakannya itu menyinggung Kinan.


Dia pun lantas berniat untuk membantu Kinan mengambil beberapa kertas yang berterbangan karena tiupan angin. Namun belum sempat gadis itu berjongkok dan membantu Kinan, sepasang tangan kekar tiba-tiba saja menarik tubuhnya.


“Kau ada tisu?” suara deep berat milik pria tiba-tiba saja mengagetkan Diara.


Diara langsung menoleh ke pemilik suara berat itu. Bukan hanya Diara, Kinan yang masih fokus mengambil kertas-kertasnya juga ikut menoleh ke arah suara itu. Alangkah terkejutnya Kinan setelah mengetahui pemilik suara itu ternyata adalah pria yang akhir-akhir ini banyak diperbincangkan, entah itu di kampusnya maupun di media. Dia adalah Reyhan Aksa Pradana, anak tunggal sekaligus calon penerus dari KA Group. Pria yang kerap disapa Rey itu sangat berbanding terbalik dengan Diara. Meskipun keduanya sering terlihat jalan bersama, namun sikap Rey sangat dingin terhadap semua orang. Tidak sedikit yang menganggap pria itu terlalu sombong karena tidak pernah tersenyum atau sekedar membalas balik jika ada orang menyapanya. Namun meskipun sikap Rey seperti itu, banyak wanita yang tergila-gila padanya bahkan rela mengantri untuk menjadi kekasih gelapnya. Entah mereka menyukai Rey karena ketampanan paripurna yang pria itu miliki serta kekayaan milik keluarganya atau karena memang mereka menyukai Rey dengan tulus.


Melihat tatapan dingin dari pria di depannya membuat nyali Kinan semakin ciut. Tapi sebelum Kinan menundukkan kepalanya kembali, pandangan gadis itu justru berpaling pada pakaian yang dikenakan Reyhan. Betapa terkejutnya Kinan setelah melihat pakaian itu sudah hampir tidak terlihat seperti warna aslinya karena jus yang tumpah akibat tabrakan cukup keras dengannya tadi. Tidak butuh waktu lama untuk Kinan segera bertindak, dia pun langsung mengambil sebuah sapu tangan berwarna peach yang selalu ia siapkan di dalam tasnya.


“Ini,” Kinan menyerahkan sapu tangan tersebut ke Reyhan.


Bukannya menerima pemberian Kinan, Reyhan justru bersikap acuh kepadanya dan terus menetapkan pandangan ke arah Diara yang sedari tadi masih berdiri mematung di sampingnya. Melihat tindakan Reyhan yang mengacuhkan bantuannya, hati Kinan bagai tersayat belasan pisau. Entah kenapa rasanya begitu sakit hingga Kinan pun memutuskan untuk menundukkan kepalanya kembali tanpa berkata sepatah kata pun. Diara yang melihat hal itu segera mencari barang yang dimaksud Reyhan, namun saat dia memeriksa tasnya ternyata tidak ada tisu di dalam tasnya.


“Ah, maaf Rey tisuku habis,” tangan Diara terus menggeledah isi tasnya namun tetap tidak menemukan selembar tisu pun.


“Arrrggghhh…”

__ADS_1


Reyhan mendengus kesal sambil mengusap-usap kaos putih dan kemeja warna navy yang ia kenakan namun sudah hampir seluruh bagiannya berwarna merah karena jus semangka yang tumpah.


“Rey, bagaimana jika kamu terima saja pemberiannya? Bajumu benar-benar kotor sekarang.” saran Diara yang melihat pakaian Rey bukannya bersih namun semakin kotor.


“Ehm maaf, namamu siapa?” imbuh Diara.


Merasa pertanyaan itu tertuju padanya, Kinan pun mendongakkan kepalanya sekali lagi. Gadis itu benar-benar harus behati-hati jika berhadapan dengan dua orang di depannya saat ini, karena yang Kinan tahu mereka sama-sama menjadi pusat perhatian entah dimanapun berada. Sehingga jika Kinan berbuat salah pada keduanya atau salah satu dari mereka, sudah bisa dipastikan jika ia akan menjadi bahan bullyan bagi banyak orang. maka hal yang paling aman untuk Kinan saat ini adalah tetap diam atau hanya menjawab sekedarnya saja.


“Kinan.” jawab Kinan singkat.


“Oh Kinan, maaf karena aku tidak mengenalimu sebelumnya. Aku Diara.” ucapnya dengan nada sangat lembut serta senyum manis yang bisa membuat siapa saja akan menyukainya.


“Emh.. Kinan, jika kau tidak keberatan apa boleh aku meminta barang yang ada di tanganmu itu?” imbuhnya.


“Maksudmu sapu tangan ini?”


“Hehe iya. Bolehkah?”


“Eeh, tapi..??”


Kinan tampak ragu-ragu dan melirik ke arah Reyhan, namun pria itu sama sekali tidak bergeming.


“Terimakasih Kinan,” Diara menerima sapu tangan itu dengan senyum ceria.


“Ini, pakailah Rey sebelum pakaianmu semakin kotor.”


Diara berusaha membantu Reyhan dengan hendak mengelap pakaian Reyhan menggunakan sapu tangan yang diberikan Kinan. Namun sebelum melakukannya, tangan Reyhan sudah lebih dulu merebutnya dan membawa sapu tangan itu pergi.


“Rey, kamu mau kemana?” teriak Diara yang melihat Reyhan sudah tidak berada di sampingnya.


“…….”


Tidak ada jawaban dari pria bertubuh tinggi itu, justru langkahnya seakan dibuat semakin cepat agar segera pergi dari tempat itu.


“Reeeyyy, tunggu!!” teriak Diara sekali lagi.

__ADS_1


“Maaf Kinan, aku pergi dulu. Senang bertemu denganmu.”


Diara pun meninggalkan tempat itu tanpa menunggu jawaban Kinan yang masih terdiam.


Kinan tidak menjawab dan membiarkan dirinya tetap mematung di tempat. Dia tidak memiliki keberanian untuk menatap dan bertindak lagi setelah melihat sikap Reyhan yang begitu dingin. Tatapannya begitu sendu, hingga tanpa sadar air mata tiba-tiba saja jatuh dan membasahi pipi mulusnya.


Ah Kinan, ada apa denganmu? Kenapa kamu begitu lemah? Haruskah kamu menangis seperti ini? Memalukan.


“Kinan, apa yang terjadi?” suara seorang pria yang sangat Kinan kenali membuyarkan lamunannya.


Kevin Fardiko, sahabat Kinan satu-satunya yang sangat peduli ke Kinan bahkan melebihi kepeduliannya pada keluarga sendiri. Bagi Kevin, Kinan merupakan satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya. Begitupun sebaliknya, bagi Kinan Kevin adalah seorang sahabat yang akan selalu ada saat dirinya membutuhkan bantuan. Seperti saat ini, sejujurnya Kinan sangat malu di depan semua orang yang dari tadi menatapnya dengan tatapan aneh.


“Hei Kia, kau menangis?” tanya Kevin ke wanita yang ia sering panggil Kia tersebut.


“Aghh sudahlah. Lebih baik kita pergi dulu dari sini.”


Merasa khawatir sahabatnya tengah menangis dan menjadi tontonan banyak orang, tanpa menunggu persetujuan Kinan tangan Kevin sudah lebih dulu membopong tubuh Kinan dan membawanya keluar dari situasi itu. Kinan pun hanya diam dan mengikuti arahan sahabatnya. Gadis pendiam dan penurut itu tidak bisa lagi berkata-kata selain diam dan menahan isak tangisnya agar tidak semakin keras.


“Sudah tidak ada siapa-siapa lagi Ki, sekarang cerita padaku apa yang terjadi?”


“Tidak apa-apa Vin, tidak ada yang terjadi.”


“Lalu kenapa kamu menangis? Jangan bohong Ki. Empat tahun kita berteman, aku tahu ada hal yang mengganggumu sekarang. Jujur saja Ki.”


“Aku sudah jujur Vin, sungguh.”


“Baiklah, aku takkan memaksamu lagi. Sekarang berhentilah menangis, oke?”


Tangan Kevin pun menuntun kepala Kinan agar bersender di bahunya. Sedangkan Kinan, seiring perlakuan Kevin yang berusaha menenangkannya dengan mengusap lembut ujung kepala Kinan.


Perlahan tangis Kinan pun mereda, gadis itu lantas mengajak sahabatnya untuk makan siang bersama. Tanpa berfikir panjang, Kevin langsung menyetujuinya agar sang sahabat tidak semakin sedih lagi.


***


Hello Readers,

__ADS_1


**Jadi novel ini merupakan karya pertamaku di sini. Semoga kalian suka.


*HAPPY READING ALL💜***


__ADS_2