SKIP

SKIP
PART 6


__ADS_3

Tidak ada orang tua yang membiarkan masa depan anaknya tenggelam dalam lubang kesalahan. Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak mereka. Hanya saja mungkin sebagian cara yang diambil para orang tua tersebut dinilai salah bagi anak mereka sendiri, sehingga menimbulkan beberapa perspektif yang membuat si anak menentang keras kemauan orang tua mereka.


-Author


Malam hari saat acara makan malam keluarga, Kinan, Kiran serta Hendra saling berdiam-diaman dan fokus dengan makanan mereka masing-masing.


Kejadian pagi tadi sungguh membuat Kinan dan Kiran semakin kikuk, kakak beradik itu sama-sama tidak tahu harus bertingkah seperti apa. Hendra yang melihat kedua putrinya saling diam-diaman berusaha untuk mencairkan suasana diantara mereka. Laki-laki yang dikenal memiliki sikap dingin dan tegas terhadap anak-anaknya itu berusaha mengobrol dengan salah satu diantara mereka.


“Bagaimana Kinan perkembangan hubunganmu dengan Arga?” pertanyaan Hendra langsung disambut dengan pelototan mata dari Kiran dan Kinan.


“Tidak bagaimana-bagaimana.” jawab Kinan.


“Apa kalian sudah bertemu kembali?”


Hendra semakin antusias, sedangkan Kiran hanya diam sambil meletakkan kedua tangannya diatas meja dan mendengarkan pembicaraan ayahnya dengan seksama. Kinan sendiri tidak begitu memperdulikan pertanyaan sang ayah, gadis itu hanya memberikan jawaban seperlunya dan terus menyuapi nasi ke mulutnya.


“Tidak.”


Sangat singkat jawaban Kinan berharap ayahnya tidak lagi bertanya-tanya perihal itu. Namun bukan Hendra namanya jika sudah puas dengan jawaban tersebut, dirinya terus memborbardir Kinan dengan berbagai pertanyaan yang lebih detail.


“Apakah kalian saling menghubungi lewat telepon? Kalian sudah bertukar nomor kan?” tanya Hendra lagi.


“Tidak.” jawab Kinan ketus, dia semakin jengah dengan sikap sang ayah.


“Lalu?” lanjut Hendra menyelidik.


“Apanya yang lalu?” kini Kinan sudah meletakkan sendoknya di piring dan memilih untuk menyudahi kegiatan makannya.


“Apa kalian tidak berniat untuk bertemu kembali? Bukannya kalian harus saling mengenal sebelum acara pertunangan itu dimulai?”


“Kami tidak akan bertunangan.” jawab Kinan santai.


“KINAN!!!”


Kini Hendra sudah tersulut emosi karena jawaban Kinan yang dirasa sangat kurang ajar kepadanya.


Kiran yang melihat amarah sang ayah akan meluap dan bersiap untuk melampiaskannya ke Kinan, segera mengambil peran sebagai penengah antara ayah dengan adiknya itu.


“Ayah tenang ayah, jangan terburu-buru emosi. Kita dengarkan dulu penjelasan dari Kinan.” ucap Kiran berusaha menenangkan Hendra.


“Baiklah, sekarang jelaskan ke ayah apa maksud ucapanmu tadi Kinan?” Hendra berusaha mengontrol emosinya.


“Bukankah sudah jelas ucapanku tadi? Apanya yang harus dijelaskan?” Kinan masih menanggapinya dengan santai, tidak peduli dengan ekspresi wajah sang ayah yang sudah merah padam.


“Dekk!!” ucap Kiran ikut menegur adiknya.


“Kenapa? Kau juga ingin mendukungnya kak? Kau masih tidak ingin jujur dengan kita semua? Baiklah, makan malamku sudah selesai, aku permisi. Masih banyak yang perlu ku kerjakan.” Kinan berlalu meninggalkan meja makan.


“Kinan!! Berhenti, ayah belum selesai bicara!!” teriak Hendra sehingga membuat Kiran yang berada di sampingnya sedikit meronjak kaget. Namun Kinan tidak peduli dan tetap melangkahkan kaki ke tangga menuju lantai dua kamarnya.


“Sudahlah ayah, mungkin Kinan masih syok dengan perjodohan yang terlalu mendadak ini. Dia masih belum terbiasa, apalagi dengan kejadian beberapa tahun silam. Kiran yakin, dia pasti akan cepat menerimanya cepat atau lambat.” Kiran berusaha memberi pengertian ke ayahnya.

__ADS_1


“Sekarang ayah tanya kepadamu Kiran, maksud ucapan Kinan tadi apa? Kamu tidak mau jujur apa? Apa ada yang kalian sembunyikan dari ayah yang ayah tidak ketahui?” tanya Hendra menginterogasi, ternyata ucapan Kinan sekilas tadi mampu mengusik fikirannya untuk beralih bertanya ke anak sulungnya.


“Ah i-itu, tidak ada ayah. Mungkin karena terbawa emosi saja Kinan berbicara seperti itu.” jawab Kiran gugup.


“Sungguh? Kau benar tidak sedang berbohong kan Kiran?” ucap Hendra tidak yakin.


“B-benar ayah, Kiran tidak berbohong.” Kiran mengalihkan pandangan ke arah lain agar sang ayah tidak semakin curiga.


“Baiklah, kali ini ayah akan mencoba percaya ke kalian. Tapi jika ayah tahu kalian menyembunyikan sesuatu dan berbohong ke ayah, kalian tentu tahu kan apa akibatnya?” ucap Hendra terdengar seperti ancaman untuk Kiran.


“I-iya ayah. Kiran permisi, masih banyak pekerjaan yang harus Kiran selesaikan.”


Kiran pun meninggalkan meja makan untuk menghindari pertanyaan ayahnya yang akan semakin menjalar kemana-mana jika terus ditanggapi.


💢💢


Di sisi lain di rumah keluarga Pradana, Alan Agung Pradana dan istrinya Arina Sari Pradana tengah berkumpul bersama di ruang keluarga membicarakan tentang perkembangan perusahaan serta anak tunggal mereka, Reyhan Aksa Pradana. Suami istri itu saling bercengkrama mengenai rencana pengangkatan Reyhan sebagai Direktur KA Group.


“Apakah Reyhan masih di kamarnya? Coba panggil dia kemari.” titah Alan kepada Arina.


“Iya, sebentar ya mas. Aku panggil dia dulu.” Arina pun bergegas ke lantai dua menuju kamar Reyhan.


Sesampainya di depan kamar Reyhan, Arina tidak lantas masuk karena ternyata pintu kamarnya dikunci. Sedangkan pemilik kamar sendiri tidak menanggapi saat dirinya terus menerus dipanggil dari arah luar.


TOK..TOK..TOK


“Reyhan, tolong keluar nak. Papa mu sudah menunggu di bawah, dia ingin bicara sama kamu Rey.” teriak Arina sambil terus menggedor-gedor pintu kamar Reyhan namun tetap tidak ada jawaban dari arah dalam.


Akhirnya pintu kamar pun dibuka, tampak sosok Reyhan yang memakai kaos hitam polos serta celana boxer selutut tengah berdiri di ambang pintu sambil memegang ponselnya. Terlihat jelas dari raut wajahnya jika dia benar-benar malas bertemu dengan siapapun dan tidak ingin diganggu.


“Ada apa?” tanya Reyhan datar.


“Rey, akhirnya kamu keluar nak. Itu papa mu manggil lho, dia ingin ngomong sesuatu sama kamu.” ucap Arina senang karena akhirnya Reyhan mau membuka pintu kamarnya.


“Apa? Bahas masalah perusahaannya lagi? Bilang ke dia, aku tidak mau.”


tolaknya.


“Tapi Rey, kamu itu kan anak tunggal papa mu nak. Siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan kalau bukan kamu?”


“Sudahlah, masih banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan. Sampaikan saja pesanku ini.” ucap Reyhan akan menutup pintunya kembali.


“Ayolah Rey, mama mohon nak.” Arina berusaha menahan pintu, namun sayang sebelum itu Reyhan sudah lebih dulu menutupnya.


Arina pun kembali menuju ruang keluarga dengan langkah lesu, dia sudah bisa membayangkan bagaimana kemarahan suaminya nanti jika anaknya tidak mau menuruti kemauannya. Wanita paruh baya itu berjalan pelan sambil terus memikirkan alasan yang akan diberikan untuk suaminya agar tidak marah ke Reyhan.


Saat dia sampai di ruang keluarga, terlihat Alan yang menyenderkan tubuhnya di sofa warna hitam sambil sesekali menggeser layar tablet yang ada di pangkuannya. Arina pelan-pelan mendekati Alan dan duduk di sampingnya.


“Mana Reyhan?” tanya Alan saat melihat Arina kembali sendiri tanpa membawa Reyhan bersamanya.


“Em.. I-itu, anu itu mas.” jawab Arina gugup.

__ADS_1


“Anu itu apa? Yang jelas kalau ngomong. Mana anak itu?” balas Alan tidak sabar.


“I-itu, Reyhan masih banyak pekerjaan katanya mas. Dia tidak bisa datang.”


“Kamu sudah bilang aku ingin membicarakan apa ke dia?”


“Sudah mas, tapi kan Reyhan masih sibuk dengan laporan skripsinya sekarang.”


“Tidak ada alasan lagi! Sudah beberapa kali alasannya selalu sama. Anak itu memang tidak bisa diajak bicara baik-baik.”


Alan langsung bangkit dari tempat duduk sambil melemparkan tabletnya ke sofa dan bergegas menuju kamar Reyhan, terlihat sangat jelas raut wajahnya menampakkan kemarahan.


TOK.. TOK.. TOKKK


“Reyhan, buka pintumu. Ini papa!” teriak Alan dari luar pintu, membuat Arina yang berada disampingnya langsung terperanjak kaget sangking kerasnya.


“Mas, pelan-pelan mas. Gak enak sama mbak-mbak di bawah.” ucap Arina berusaha menenangkan suaminya agar tidak semakin tersulut emosi.


“Reyhan!! Kalau kamu tidak mau membuka pintu, papa akan menyuruh Parjo untuk mendobraknya.” ancam Alan tidak peduli dengan ucapan istrinya.


Tak lama, pintu kamar pun terbuka kembali. Reyhan masih berdiri santai dan menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


“Ada apa lagi?” tanya Reyhan santai.


“Papa ingin bicara penting, kenapa kamu masih diam di kamar dan tidak mau menemui papa?”


“Penting apa? Masalah perusahaan kesayanganmu lagi? Itu tidak penting bagiku.”


Masih dengan nada datar, Reyhan berbicara tanpa mempersilahkan orang tuanya masuk ke kamar dan tetap berdiri di ambang pintu.


“REYHAN!!!” Alan sudah akan melayangkan tangan kanannya untuk menampar Reyhan, namun segera ditahan oleh Arina yang sedari tadi diam.


“Mas, hentikan mas! Jangan pakai kekerasan, kita bicarakan ini baik-baik.” ucap Arina sambil menahan tangan suaminya yang berada di udara.


“Kau masih saja membelanya. Lihat!! dia jadi makin kurang ajar seperti ini.” ucap Alan melepaskan tangannya dari genggaman Arina.


“Senin depan datang ke kantor! Kalau tidak, papa akan tarik semua fasilitas yang papa berikan untukmu.” ancam Alan agar Reyhan menurutinya.


“Terserah saja.” Reyhan seolah tidak peduli dengan ancaman papanya, dia lalu menutup pintunya kembali.


“Dasar anak tidak sopan! Orang tua sedang bicara, malah menutup pintu.”


Alan sangat marah besar dan hendak mendobrak pintu kamar anaknya. Namun lagi-lagi, Arina dengan cepat menahan dan mengajak Alan ke kamar mereka untuk beristirahat serta menenangkannya dari amarah yang sudah memuncak karena takut gula darah suaminya akan naik lagi.


Sedangkan di dalam kamar, Reyhan terus-terusan mengusap rambutnya kasar. Pria itu nampak sangat frustasi. Beberapa kali Reyhan mencoba untuk memikirkan kembali keputusan yang akan diambilnya. Namun semakin Reyhan memikirkannya, dirinya justru semakin sulit untuk membuat keputusan.


Bukan karena benar-benar tidak ingin menjadi penerus perusahaan papanya, tapi karena satu hal yang membuat Reyhan menjadi seperti sekarang dan menolak keras untuk mewarisi KA Group sekalipun dirinya adalah anak tunggal presdir.


***


HAPPY READING ALL💕

__ADS_1


Like, vote, dan beri saran serta kritikan kalian ya biar Author tambah semangat berimajinasi🖎


__ADS_2